Home Blog Page 5874

Banjir Bandang Landa Simalungun

bambang/sumut pos HANYUT: Warga menyaksikan rumah yang hanyut terseret banjir di Kabupaten Simalungun, Rabu (10/10)
ist for sumutpos
HANYUT: Warga menyaksikan rumah yang hanyut terseret banjir di Kabupaten Simalungun, Rabu (10/10)

RAYA, SUMUTPOS.CO – Selain di Medan, Langkat, dan Tebingtinggi, banjir bandang juga melanda puluhan rumah, dan merusak jembatan dan jalan di Kabupaten Simalungun, Rabu (10/10) dini hari. Banjir berasal dari luapan air yang datang dari arah areal perkebunan sawit milik Perkebunan Sawit PT Perkebunan Nusantara IV Unit Kebun Marihat Jalan penghubung kecamatan di Kabupaten Simalungun dan penghubung menuju Kabupaten Asahan, tepatnya di Jalan Lintas Umum Pematangsiantar-Tanah Jawa Km 10, tepatnya di perbatasan Nagori Parbalogan dan Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, nyaris putus.

“Jalan raya selebar 4 meter rusak dan ambruk, akibat derasnya air yang datang dari areal PTPN IV Kebun Marihat. Banjir bandang diduga membuat bendungan tadah airnya jebol,” kata Danramil 10/Balimbingan Kapten Inf Leo Sianturi.

Leo mengatakan, pihaknya juga mendapat laporan banjir merendam pemukiman di Huta 3, 4, 5 Nagori Totap Majawa & Huta Hite Tano Nagori Bah Jambi 2, Kecamatan Tanah Jawa.

Banjir bandang juga terjadi di beberapa Kecamatan di wilayah Simalungun, di antaranya di Kecamatan Siantar, Kecamatan Gunung Malela, Kecamatan Hutabayu Raja, Kecamatan Panei, dan Kecamatan Bandar. Bahkan beberapa rumah dan akses jembatan rusak akibat terjangan banjir bandang. Data kerusakan belum diketahui.

“Nagori kita yang terdampak bencana yakni Dolok Hataran, Dilau Malaha, Matihat Baris, Silau Manik dan Siantar Estate. Tidak ada korban jiwa maupun terbawa air. Hanya saja 8 rumah terendam banjir di Dolok Hataran. Kalau di Silau Manik hanya saluran air dan saluran irigasi yang rusak,” terang Camat Siantar Daniel Silalahi.

“Lahan pertanian termasuk kolam ikan banyak yang jebol dan rusak. Saat ini kami masih melakukan pendataan di lapangan. Selain itu, kita masih melakukan pendataan dan pembenahan dengan cara bergotong royong bersama warga,”tambah Daniel.

Camat Gunung Malela Jayamin Sipayung mengatakan, di kecamatannya ada beberapa Nagori yang terimbas bencana banjir. Yakni Nagori Bangun, Nagori Marihat Bukit, dan Nagori Sahkuda Bayu. Namun yang lebih parah adalah Nagori Sahkuda Bayu. Korban jiwa sebanyak 2 orang.

“Sesuai arahan dari Wakil Bupati Simalungun, kami mengimbau warga yang tinggal dekat sungai Bah Bolon, agar tetap waspada di tengah cuaca yang belum bisa diprediksi,” kata Jayamin.

Pangulu Sahkuda Bayu Suyatno menjelaskan, lahan kolam petani seluas kurang lebih 50 hektare mengalami rusak total. “Petani ikan kami merugi. Taksiran saya mencapai miliaran rupiah,” terang Suyatno, dengan nada berat dan sedih.

Camat Bandar, Samsul Pangaribuan SH Msi, mengatakan di Nagori Pematang Kerasaan Rejo ada jembatan rusak sepanjang 60 meter, yang menghubungkan ke Kecamatan Hutabayu Raja. “Di Marihat Bandar tadi pagi ada 13 rumah terendam banjir, karena air sudah melewati jembatan. Saat ini sudah surut,” kata Samsul.

“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian terjadi. Karena sekitar pukul 06.00 WIB, warga sudah kita evakuasi. Selain itu lahan pertanian juga banyak yang rusak. Ini masih kita data. Saat ini kita sudah mendirikan tenda darurat dan dapur umum di Nagori Marihat Bandar. Kita juga masih siaga bencana susulan,” tambahnya.

Untuk di Kecamatan Pematang Bandar dan Bosar Maligas, tidak ada dampak akibat banjir bandang dan luapan sungai Bah Bolon. Namun beberapa hari sebelumnya, Kecamatan Pematang Bandar sudah lebih dahulu mengalami luapan banjir besar Sungai Bah Bolon juga, mengakibatkan dua jembatan kecil putus.

“Sabtu kemarin ada dua jembatan yang putus dibawa derasnya arus sungai Bah Bolon. Sudah kami perbaiki dengan cara bergotong-royong,”terang Camat Pematang Bandar Juriani Purba.

Putra-Putri Sumut Masuk Final

logo MTQ
m iqbal/sumut pos
3 BESAR: Kafilah Sumut yang masuk 3 besar kategori Kaligrafi Kontemporer dan Hiasan Mushaf memamerkan karyanya.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kafilah asal Sumatera Utara (Sumut) masuk tiga besar pada perlombaan kategori golongan seni kaligrafi Kontemporer dan Hiasan Mushaf berdasarkan penilaian dewan hakim. Meskipun berdebar, peserta tuan rumah yakin akan dapat menghadapi babak final dan meraih juara.

Untuk Hiasan Mushaf putri, nama Millah Hayati mendapat nilai 257,5 serta menempati posisi kedua dari tiga besar lainnya yakni Nisfa Juwita asal Banten (267,5) dan Irma Puspitasari asal DKI Jakarta. Sementara lomba kaligrafi kontemporer putra, Ahmad Subhan memperoleh nilai 271, mengungguli Hendra Saputra asal Kepri dengan nilai 259, serta Yudhi Dwi Arifianto (Yogyakarta) yang mendapat nilai 282 di posisi atas.

“Saya pun nggak menyangka bisa masuk tiga besar. Ya mungkin berkat doa, dukungan dan berusaha selama pelatihan di Jawa Barat (Lembaga Kaligrafi Alquran) tiga bulan, tanpa disangka saya masuk final,” ujar Ahmad Subhan usai pengumuman nilai oleh Dewan Hakim, Rabu (10/10) siang.

Putra Langkat ini mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan karya seninya, karena sesuai dengan apa yang dipelajari selama pelatihan. Meskipun begitu, dirinya tetap berdebar menunggu pengumuman, mengingat para pesaingnya dari 33 provinsi juga punya karya yang sangat bagus. Karena itu pula, segala persiapan akan dilakukan menjelang babak final hari ini, Kamis (10/10). “InsyaAllah kita akan persiapkan hasil yang terbaik untuk Sumut,” sebutnya.

Selain itu, tiga besar untuk Sumut juga diraih Mira Mustika untuk kategori lomba Kontemporer putri, dengan nilai 264,5. Sedangkan pesaingnya Suci Melati asal Kalimantan Selatan memperoleh nilai 274 serta Jauhara Sa’adati (DI Yogyakarta) dengan niali 255,5. “Alhamdulillah, puji syukur Kepada Allah SWT. Juga (terimakasih) kepada orang tua dan teman-teman se-kafilah atas dukungannya. Ya saya nggak nyangka bisa masuk final,” kata putri asal Tebing Tinggi ini.

Menanggapi hasil karya para peserta, Dewan Hakim H Muhammad Faiz Abdul Razaq menyebutkan nilai keindahan dan kualitas saat ini hingga empat kali lipat lebih baik dibandingkan sebelumnya. Bahkan kesemuanya sudah pantas dibandingkan dengan karya dari Turki, Mesir dan Brunei Darussalam. Sebab selain lukisan yang sangat indah, perbedaannya juga tidak terlau jauh dan harus diperiksa secara mendetail.

“Kami-kami ini dewan hakim dibuat gila. Semua karyanya luar biasa, jadi peningkatannya itu empat kali loncatan, sangat indah sekali. Jadi satu sama lain itu betul-betul mendetail, sampai kepada titik kita harus bisa bedakan. Jadi antara juata itu perbedaannya satu digit saja,” jelas Faiz.

Dengan hasil tersebut menurutnya, sudah banyak kemajuan dari seni kaligrafi Indonesia. Untuk itu nantinya di babak final, peserta akan bersaing untuk menentukan juara dari tiga besar. (bal)

Rizki Maulana Sujud Syukur dengan Mata Berkaca-kaca

Pran Hasibuan/sumut pos DIPELUK: Rizki Maulana dipeluk sahabatnya usai tampil nyaris sempurna di cabang Hifzh 10 Juz MTQN XXVII/2018, di Gedung Jabal Nur, Asrama Haji Medan, Rabu (10/10).
Pran Hasibuan/sumut pos
DIPELUK: Rizki Maulana dipeluk sahabatnya usai tampil nyaris sempurna di cabang Hifzh 10 Juz MTQN XXVII/2018, di Gedung Jabal Nur, Asrama Haji Medan, Rabu (10/10).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Suasana haru terlihat setelah Rizki Maulana Siregar berhasil tampil nyaris sempurna pada Cabang Hifzh 10 Juz Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXVII/2018, di Gedung Jabal Nur, Asrama Haji Medan.

Dia pun sujud syukur usai tampil dengan mata berkaca-kaca PADA hari ketiga perlombaan cabang tersebut, Rizki hampir tidak ada kesalahan saat tampil dan bisa menjawab tepat soal yang diajukan dewan hakim. Remaja 17 tahun dan masih kuliah semester pertama di Fakultas Ushuludin dan Studi Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) ini, sujud syukur usai tampil.

Dengan mata berkaca-kaca, dia memeluk pendampingnya Ustaz Irham Taufiq. Mereka pun saling berpelukan. Tak hanya itu, satu- persatu baik teman, kerabat dan masyarakat yang hadir juga mendatanginya memberikan ucapan selamat dan pelukan.

Rizki menuturkan, ini merupakan kebanggaan menjadi duta MTQN dari provinsi tempat ia tinggal. Namun, juga menjadi tanggung jawab yang berat karena Sumut selaku tuan rumah punya target yang serius pada ajang MTQN tahun ini. Karena punya tanggung jawab yang berat, Rizki yang merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara ini rela ekstra latihan selama 6 bulan sebelum lomba.

Empat Tersangka KM Sinar Bangun akan Diadili

Teddy Akbari/sumut pos DIAMANKAN: Keempat tersangka kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba saat diamankan di Polda Sumatera Utara.
Teddy Akbari/sumut pos
DIAMANKAN: Keempat tersangka kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba saat diamankan di Polda Sumatera Utara.

SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Empat tersangka tersebut yakni Poltak Saritua Sagala selaku nakhoda KM Sinar Bangun, Golpa F Putra selaku Kapos Simanindo. Kemudian Karnilan Sitanggang, pegawai honor Dishub Samosir yang menjadi anggota Kapos Pelabuhan Simanindo, dan Rihad Sitanggang selaku Kabid Kepala Bidang Angkutan Sungai dan Danau Perairan Dinas Perhubungan Samosir.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejatisu, Sumanggar Siagian mengatakan penyerahan keempat tersangka dan barang bukti setelah berkas keempatnya dinyatakan lengkap (P21).

“Keempat tersangka diterima oleh jaksa dari Kejari Samosir yang tadi dipimpin oleh Kasi Pidum Jhonkey Siagian pagi tadi,” ujarnya, Rabu (10/10). Sesuai ketentuan yang berlaku, persidangan keempat tersangka akan digelar di Pengadilan Negeri Tobasa. Dan saat ini keempatnya dititip di Lapas Samosir.

“Keempat tersangka itu ditangani oleh dua tim jaksa,”bilang Sumanggar.

Sementara, untuk Kadis Perhubungan Samosir Nurdin Siahaan, yang turut ditetapkan sebagai tersangka, masih ditangani penyidik Polda Sumut.

“Berkasnya masih P-19, masih ada kekurangan yang harus dilengkapi oleh Polda Sumut,” ungkap Sumanggar.

Sebagaimana diketahui, KM Sinar Bangun bermuatan 200 orang dan puluhan sepedamotor, tenggelam dalam pelayaran dari Simanindo, Samosir, menuju Tigaras, Simalungun, Senin (18/6) sore.

Sesuai data dari Basarnas, hanya 24 orang yang ditemukan terkait tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Sebanyak 21 orang dinyatakan selamat, sedangkan 3 penumpang meninggal dunia. Sementara 164 orang lainnya dinyatakan hilang. (man/han)

DPRD dan Pemkab Samosir Tidak Bahas P-APBD Samosir TA 2018

EDWIN/SAMOSIR TANDATANGANI: Anggota DPRD dan Pemkab melakukan penandatanganan persetujuan bersama Ranperda tentang APBD Samosir belum lama ini.
EDWIN/SAMOSIR
TANDATANGANI: Anggota DPRD dan Pemkab melakukan penandatanganan persetujuan bersama Ranperda tentang APBD Samosir belum lama ini.

SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Masyarakat di Kabupaten Samosir sangat menyayangkan kinerja DPRD dan Pemda. Bagaimana tidak, pembahasan P-APBD tahun 2018 yang seyogyanya sudah selesai tidak melakukan pembahasan Perubahan APBD dilakukan.

Apalagi penyebabnya, karena DPRD dan Pemkab Samosir terlambat melakukan pembahasan, seperti yang disyaratkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.13 Tahun 2006.

Warga Pangururan, Pardamean Sijabat, Rabu (10/10/2018), menyebutkan bahwa P- APBD harusnya dibahas, karena menyangkut kebijakan anggaran yang perlu dipertanggungjawabkan. Jika tidak dibahas, maka substansi dari penambahan atau pengurangan anggaran akan lepas dari peran penting tugas dan fungsi DPRD.

Menurutnya, tidak dibahasnya P-APBD oleh DPRD dan Pemkab Samosir, menunjukkan eksekutif dan legislatif tidak punya persamaan pandangan untuk membangun Samosir lebih baik.

”Agenda tetap pembahasan APBD/P-APBD selama 14 tahun berdirinya Kabupaten Samosir berdiri, baru di Tahun 2018 ini P-APBD tidak disahkan menjadi Perda. Ini menunjukkan ada kelemahan di Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Samosir yang tidak intens dengan tugas-tugasnya, sehingga lalai membahas dan mengesahkan Perda P-APBD 2018,”ungkap Pardamean.

Padahal, lanjutnya, siklus anggaran setiap tahun tidak mengalami perubahan dan undang-undang juga sudah mengaturnya. “Kedua, APBD/P-APBD masih sebagai alat politik yang lebih banyak tujuannya untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok.

Mungkin APBD bukan dipandang sebagai instrumen mensejahterakan rakyat. Terbukti mereka lalai waktu membahas masalah APBD, terutama masalah kemiskinan, pemerataan pembangunan dan sebagainya,” pungkasnya.

Diduga eksekutif dan legislatif lebih mengutamakan agenda internal yaitu perjalanan dinas ke luar Samosir, sehingga P-APBD 2018 terlupakan.

Sebelumnya, Senin-Rabu (1-3/10), DPRD Samosir bersama TAPD menggelar rapat pembahasan finalisasi dan penandatanganan bersama kebijakan umum – prioritas plafon anggaran sementara (KUA-PPAS) P-APBD.

Namun agenda itu tertunda, karena TAPD tidak bisa memenuhi jadwal rapat untuk melakukan penandatanganan bersama antara Pimpinan DPRD dan Bupati Samosir.

Diketahui pembahasan P-APBD sudah melewati ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, maka P-APBD tidak dibahas lagi, dimana salah satu pasal dalam Permendagri itu menyebutkan pengesahan P-APBD paling lambat dilakukan pada tanggal 30 September setiap tahunnya, jika tidak maka tidak akan dieksaminasi oleh pemerintah atasan. (mag-8/han)

156 Mahasiswa IAIDU Diwisuda

ist WISUDA: Sebanyak 156 wisudawan/wisudawati Institut Agama Islam Daar Uluum mengikuti prosesi wisuda di Gedung Serbaguna Kisaran, Jalan Mahoni Sibogat, Rabu (10/10).
ist
WISUDA: Sebanyak 156 wisudawan/wisudawati Institut Agama Islam Daar Uluum mengikuti prosesi wisuda di Gedung Serbaguna Kisaran, Jalan Mahoni Sibogat, Rabu (10/10).

ASAHAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 156 mahasiswa dan mahasiswi Istitut Agama Islam Daar Uluum (IAIDU) Kisaran Angkatan XXIV Tahun Ajaran 2018 diwisuda di Gedung Serbaguna Kisaran, Jalan Mahoni Sibogat, Rabu (10/10).

Dari 156 wisudawan tersebut terdiri dari 3 Fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah 125 orang, Fakuktas Syariah 22 orang, dan Fakultas Dakwah 9 orang. itu dihadiri Wakil Bupati Asahan dan dibuka Rektor IADU Kisaran, Drs.H. A. Muin Isma Nasution.

Rektor IAIDU Kisaran, Drs H A Muin Isma Nasution mengharapkan para wisudawan dan wisudawati tersebut dapat mengaplikasikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat.

“Terima kasih kepada Bupati Asahan atas program-program keagamaan yang telah dibuat dan menjadi prioritas di Pemerintahan Kabupaten Asahan,”katanya.

Disebutkan A Muin, program keagamaan itu antara lain, program Imtaq, Pemberdayaan zakat dan infak, pembagunan sarana keagamaan seperti Masjid Agung H Bakrie Kisaran dan gedung Tahfidz Alqur’an.

Sementara itu, Wakil Bupati Asahan H Surya yang hadir mengatakan, bahwa wisuda jangan dipandang sebagai akhir dari proses belajar mahasiswa dan mahasiswi, tetapi langkah awal untuk dihadapkan pada realitas masyarakat dan lingkungan kerja yang amat kompleks.

“Perlu mempersiapkan diri dengan bekal kemampuan akademis yang diperoleh dibangku perkuliahan,”katanya. Surya berharap, agar wisudawan dan wisudawati tidak terpaku dengan paradigma lama yang menyatakan, bahwa setiap lulus dari bangku kuliah harus bekerja di kantor atau perusahaan.

“Tentulah pola pikir ini harus dirubah dengan pola pikir yang lebih maju dan terbuka, yaitu berupaya mandiri, dan menciptakan lapangan pekerjaan melalui sektor usaha yang dikuasai pada masa perkuliahan,”bilangnya.(omi/han)

Terkait Rencana Evaluasi Pelepasan Lahan Eks HGU PTPN II, Dewan Nilai Pemprovsu Tak Transparan

.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua DPRD Sumut H Wagirin Arman mendesak Pemerintah Pusat menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk mengambil alih penyelesaian kasus tanah Eks HGU PTPN II. Persoalan yang sejak puluhan tahun lalu itu tidak kunjung terselesaikan, bahkan dengan pembentukan tim yang dinilai hanya menghabiskan anggaran.

Hal tersebut disampaikan Wagirin terkait adanya permintaan eksekutif kepada pemegang saham agar membatalkan daftar nominatif usul penghapusbukuan 2.200 hektar lahan Eks HGU PTPN II oleh Gubernur Sumut periode sebelumnya. Sebab menurutnya, baik DPRD Sumut maupun Pansus tidak mengetahui perihal itu.

“Kita minta pada gubenur, setiap surat penting yang berkaitan dengan rakyat harus ada tembusannya ke DPRD. Supaya kita tidak bertanya-tanya. Ini Membingungkan rakyat dan DPRD. Tidak boleh ada yang tidak transparan, masa gubernur buat surat penting, DPRD tidak tahu. Minimal kami mau tahu kenapa dibatalkan,” katanya.

Begitu juga peruntukan pelepasan 2.200 hektar lahan yang disampaikan Erry Nuradi saat menjabat Gubernur, pihaknya kata Wagirin tidak mengatahuinya. Karena itu pihaknya menuntut Pemprov Sumut transparan atas persoalan tersebut. Pasalnya Pansus DPRD Sumut sendiri telah bekerja dan selalu menerima aspirasi masyarakat. Untuk itu dirinya menekankan, Lembaga legislatif berhak dilibatkan dalam penyelesaiannya.

“Masalah tanah ini sensitif, sudah banyak korban. Jadi langkah paling tepat adalah, Presiden ambil alih persoalan ini. Dibentuk Keppres masalah tanah di Sumut agar diselesaikan presiden. Bukan saya tak percaya pada gubenur, BPN atau lainnya, tapi ini sudah belasan tahun, tidak ada langkah konret. kalau tidak ditangani Presiden, ini akan meledak dan membahayakan rakyat Sumut,” tegasnya.

Bahkan lanjut Wagirin, pihaknya bersama Pansus tanah DPRD Sumut telah menemui Menkopolhukam Wiranto dan meminta agar masalah tersebut ditangani Presiden. Dirinya menyebutkan Wiranto akan menangani dan mengundang pihak berkompeten.

“Bentuk-bentuk tim saja hanya menghabiskan uang rakyat. Kita (DPRD Sumut) setiap hari menerima demo masyarakat soal ini, tapi tidak dilibatkan, bahkan tidak tahu menahu. Kita hanya mendengar-dengar saja. Makanya pansus tanah eks HGU PTPN II diperpanjang hanya untuk memanggil gubernur,” katanya.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) sebelumnya dengan BPN Sumut, Binjai, Langkat dan Deliserdang diungkap, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyurati pemegang saham PTPN II dan Dirut PTPN II untuk membatalkan daftar nominative usul penghapusbukuan tanah Eks HGU PTPN II. Namun tidak dijelaskan permintaan pembatalan tersebut.

Ketua Pansus, Fernando Simanjuntak dan anggota, Sarma Hutajulu dan juga mengungkapkan surat usulan dari Gubernur Erry Nuradi sebelumnya telah diproses dalam rapat pemegang saham PTPN II dan sudah disetujui untuk penghapusbukuan pada Agustus lalu. Sehingga permintaan pembatalan dari Gubernur Edy Rahmayadi membingungkan Pansus. “Sejak dulu, gubernur itu keputusannya harus sama, tidak boleh ada tarik menarik atau mencabut sembarangan. Walaupun dalam keputusan surat itu ada kekeliruan akan ada perbaikan, bukan begitu caranya,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi membenarkan kalau dirinya meminta pemegang saham untuk membatalkan daftar nominatif usulan penghapusbukuan 2.200 hektare lahan eks PTPN II. Mengingat kondisi permasalahan di lahan ini memerlukan penanganan dan penyelesaian secara serius tanpa berlarut-larut lagi. “Jadi kami akan segera rapat untuk membahas masalah ini lagi. Jika kami mengetahui ada masalah di lokasi eks (lahan) perkebunan tersebut, maka kami akan segera bentuk tim lagi. Setelah itu, kami akan segera melaporkannya kembali kepada pemerintah pusat,” kata Edy Rahmayadi kepada wartawan di kantor Gubsu, kemarin (9/10).

Edy membenarkan kalau dirinya meminta pemegang saham untuk membatalkan daftar nominative usulan penghapusbukuan 2.200 hektare lahan eks PTPN II. Mengingat kondisi permasalahan di lahan ini memerlukan penanganan dan penyelesaian secara serius tanpa berlarut-larut lagi.

Pihaknya, sambung dia, yang pasti harus mencari solusi dengan cepat terkait penyelesaian lahan tersebut. Pihaknya juga pasti akan segera menertibkan jika ada permasalahan-permasalahan yang ditemui di lahan eks perkebunan itu. “Jadi kita akan segera melakukan rapat dengan pihak-pihak terkait (termasuk PTPN II) untuk masalah ini. Demikian juga tentang usulan gubernur sebelumnya, kita harus harus mengevaluasi dan memelajarinya kembali, karena ini untuk kepentingan orang banyak,” kata mantan Pangdam I/BB dan Pangkostrad itu.

Seperti diketahui, ada sekitar 5.873 hektar lahan eks HGU PTPN II di Provinsi Sumut. Lahan tersebut tersebar dibeberapa daerah, antara lain Binjai, Deliserdang dan Medan. Mayoritas lahan tersebut diketahui dikuasai oleh masyarakat maupun mafia tanah. Selain itu, lahan eks HGU sering menimbulkan konflik antara masyarakat dan pengembangan yang ingin mengambil alih lahan. Sesama masyarakat juga tidak jarang berkonflik karena masalah tanah.

Saat Pemprovsu dipimpin Gubsu HT Rizal Nurdin, telah merekomendasikan ke Menteri BUMN untuk melepas 5.873 hektar lahan eks HGU PTPN II itu, di antaranya untuk masyarakat adat, dan pensiunan PTPN II. Namun hingga kini belum ada keputusan dari pusat soal status lahan eks HGU itu.

“Ini yang mau kita pelajari dulu, evaluasi kembali, karena inikan untuk kepentingan banyak orang. Itu ada sekitar 5.700 hektar lebih,” imbuh Edy.

Menindaklanjuti permasalahan yang tak kunjung selesai ini, Pemprovsu pada Selasa kemarin telah menggelar rapat tertutup dan menyiapkan tim khusus untuk masalah tersebut. Rapat itu dipimpin Gubsu Edy Rahmayadi didampingi Sekdaprovsu R Sabrina dan dihadiri instansi serta stakeholder terkait lainnya.

Sekdaprovsu R Sabrina menambahkan, pihaknya akan kembali melaksanakan rapat secara keseluruhan dengan mengundang berbagai stakeholder terkait termasuk penghapusbukuan 2.200 hektare eks lahan PTPN II. “Tentunya kita akan bahas lagi masalah itu. Sekaligus bilamana ada info-info yang berkembang lainnya akan kita bicarakan lagi secara keseluruhan,” ujarnya. (prn/bal)

Medan-Berastagi Lumpuh 9 Jam akibat Lakalantas Maut di Sibolangit

istimewa for SUMUT POS RINGSEK: Truk bermuatan eskavator ringsek setelah tabrakan dengan truk Fuso di Desa Sumbul, Sibolangit, Rabu (10/10).
istimewa for SUMUT POS
RINGSEK: Truk bermuatan eskavator ringsek setelah tabrakan dengan truk Fuso di Desa Sumbul, Sibolangit, Rabu (10/10).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) di Jalan Djamin Ginting Kilometer 39-40, tepatnya di daerah Desa Rumah Sumbul, Kecamatan Sibolangit, Deliserdang, menewaskan tiga orang. Akibat kecelakaan maut ini, arus lalu lintas dari arah Medan menuju Berastagi sempat lumpuh sekitar 9 jam, Rabu (10/10).

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja melalui Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat (Kasubbid Penmas) AKBP MP Nainggolan menyebutkan, lakalantas maut itu terjadi pada Selasa (9/10) malam sekira pukul 23.00 WIB. Truk Fuso BK 8819 LW dihantam truk tronton berplat BB 9014 LY bermuatan eskavator dari arah Berastagi, Kabupaten Karo.

Tidak hanya itu, mobil Kijang Innova BK 1794 AM juga ringsek akibat kecelakaan itu. Sopir kedua truk naas itu pun tewas di tempat. Sedangkan sopir dan penumpang mobil Kijang Innova mengalami luka-luka dan seluruh korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik Medan.

Lakalantas maut ini berawal saat truk BK 8819 LW bermuatan eskavator melaju kencang dari arah Berastagi menuju Medan. Saat melintas di lokasi kejadian, sopir truk itu ingin menyalip mobil Kijang Innpva yang berada di depannya. Namun naas, saat hendak menyalip, tiba-tiba truk lain datang dari arah berlawanan dengan kecepatan penuh. Akibatnya, tabrakan tidak terelakkan dan masing-masing sopir truk dinyatakan tewas di tempat.

“Menurut hasil cek TKP, truk ini (BK 8819 LW) keluar dari jalurnya, masuk ke jalur kanan. Di saat bersamaan, melintas truk BB 9014 LY yang dikemudikan Sapril Hutasoit, warga Jalan Sisingamangaraja Bawah, Kecamatan Sidikalang, Dairi, dari arah Medan menanjak di tikungan. Di situlah terjadi hantaman keras,” ungkap MP Nainggolan.

Truk yang dikemudikan Sapril pun terdorong ke belakang lantaran kuatnya hantaman truk BK 8819 LW. Sementara mobil Kijang Innova yang dikemudikan Syafriman warga Aceh Singkil, ikut dihantam kedua truk tersebut. Beruntung, Syafriman hanya mengalami luka ringan.

Demikian juga dengan enam penumpang mobil Innova lainnya yakni Mulyadi Soli (44), mengalami luka robek di bagian kening, Fitriono (30), Subianto (30), Anisah (45), Suparman (56), Tengku Nanda P Utama (35) dan seorang lagi luka ringan yang belum diketahui identitasnya.

Semua korban baik yang selamat dan meninggal dunia, langsung dievakuasi ke RSUP Haji Adam Malik Medan untuk mendapatkan pertolongan.

Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik, Rosa Simanjuntak ketika dikonfirmasi Sumut Pos menjelaskan, korban pertama yang masuk atas nama Mulyadi Soli, warga Desa Gunung Legan, Aceh Singkil, sekitar pukul 01.32 WIB. Setelah luka lecet di tangan dan kaki korban ditangani tim medis, dia diizinkan pulang sekitar pukul 09.08 WIB.

Selanjutnya, jelas wanita yang akrab disapa Ocha itu, sekira pukul 10.30 WIB, 3 orang korban kembali tiba di RSUP H Adam Malik. Namun, diakui Ocha ketiganya sudah dalam keadaan meninggal dunia. Disebut Ocha, 3 korban meninggal dunia itu atas nama Andareas Karokaro (25), dengan kondisi luka di kepala dan dada serta kaki patah. Kemudian Safril Pandapotan Hutasoit (27), dengan kondisi luka di kepala dan dada serta Sofyan (43), dengan kondisi luka di kepala dan tangan patah.

“Untuk korban atas nama Andareas Karokaro dan Safril Pandapotan Hutasoit sudah dijemput keluarganya pukul 14.00 WIB. Begitu juga dengan korban atas nama Sofyan sudah dijemput keluarga sekira pukul 19.00 WIB, “ ungkap Ocha.

Lebih lanjut dijelaskan Ocha, sekira pukul 13.38 WIB, Lima korban kembali diantar ke RSUP H Adam Malik. Kelimanya disebut Ocha diantar secara berangsur. Mulai dari korban atas nama Suparman (55), Subianto (30), Syafriman (30), Anisah (44), dan Fitriono (34). Disebut Ocha, kelima korban begitu tiba, langsung ditangani intensif di IGD RSUP H Adam Malik.

“Untuk korban atas nama Suparman, Syafriman dan Annisa sudah pulang pukul 17.00 WIB dan dinyatakan berobat jalan. Untuk korban atas nama Fitriono pulang atas permintaan sendiri. Saat masuk, kelimanya dalam keadaan sadar dengan luka lecet di sekujur tubuh serta nyeri di kepala dan pinggang akibat benturan, “ tambah Ocha.

Sementara untuk korban atas nama Subiato, diakui Ocha masih berda di IGD RSU H Adam Malik. Dikatakan Ocha, pasien itu direncanakan operasi karena mengalami luka fraktur di lengan kiri.

Terpisah, Kepala Satuan Lalulintas Polrestabes Medan, AKBP Juliani Prihatini yang dikonfirmasi menyebutkan, akibat kejadian tersebut, kemacetan parah mulai dari arah Medan ke Kabupaten Karo, demikian sebaliknya. Hal ini terjadi akibat kendaraan yang mengalami tabrakan menutup badan jalan.

Namun ketika ditanya, apakah truk pengangkut eskavator itu dalam kondisi laik jalan, perwira berpangkat dua melati emas ini tidak memberikan jawaban. (dvs/ain)

Jatuh dari Ayunan, Balita Tewas Tenggelam

Banjir Tebingtinggi
Banjir Tebingtinggi

SERGAI, SUMUTPOS.CO – Sementara banjir yang melanda warga Dusun 3 Kampung Madailing, Desa Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah, Serdangbedagai (Sergai), memakan korban jiwa. Seorang balita ditemukan tewas terapung dalam rumahnya, Kamis (10/10) sekira jam 08.30 WIB. Salsabila Nadhifa, balita yang masih berusia 1,5 tahun ditemukan neneknya terapung di bawah ayunan dalam rumahnya di Dusun 3 Kampung Madailing.

Informasi yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan, peristiwa tragis itu bermula ketika sang bocah tidur di ayunan sekira pukul 10.00 WIB. Saat itu neneknya Misrawati yang biasa menjaga bayi itu pergi mengantarkan anaknya ke sekolah tidak jauh dari rumah mereka.

Namun saat kembali, Misrawati tidak lagi menemukan korban didalam ayunan. Namun ia masih tenang karena menduga korban diambil oleh kakeknya bernama Sapar.

Ia baru tersadar akan musibah tersebut setelah Sapar mengaku tidak mengambil balita malang itu dari ayunan. Keduanya kemudian melakukan pencarian dan menemukan korban terapung pada banjir yang menggenangi pemukiman mereka. “Korban ditemukan neneknya sudah terapung dalam air tidak jauh dari ayunan,” kata Adek, seorang warga setempat.

Korban sempat dibawa ke rumah sakit namun ternyata sudah meninggal dunia. Peristiwa ini akhirnya dilapirkan kepada pihak kepolisian. Selanjutnya jenazah korban disemayamkan dirumah orang tuanya di Dusun III Desa Sei Rampah. “Diduga korban waktu terjatuh banyak minum air membuatnya tewas,” imbuhnya.

150 Rumah Kena Banjir di Tebingtinggi

Banjir Tebingtinggi
Banjir Tebingtinggi

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 150 rumah di Kelurahan Bandar Utama, Kecamatan Tebingtinggi, terendam banjir kiriman dari Sei Padang, Rabu (10/10) sejak pukul 06.00 WIB pagi. Banjir terjadi karena wilayah hulu sungai, tepatnya di Kecamatan Sindaraya Kabupaten Simalungun, diguyur hujan deras pada malam hari.

Meski banjir, warga Kelurahan Bandar Utama memilih tidak mengungsi ke wilayah lain, karena menduga banjir akan surut pada siang hari.

Kepala BPBD Kota Tebingtinggi, Wahid Sitorus, menyatakan pihaknya terus memantau kondisi banjir. Laporan sementara, ratusan rumah terendam banjir. Tidak ada laporan korban jiwa.

“Sudah kita pantau kondisi banjir Sei Padang. Kita harapkan banjir surut pada sore hari. Meski demikian, kita tetap waspada. Karena bila di hulu terus diguyur hujan, banjir bisa lebih besar,” kata Wahid.

Camat Tebingtinggi Kota, Manda Yulian, mengatakan pihaknya bersama pihak kelurahan Bandar Utama Kota, terus sudah menerima laporan ada sekitar 150 rumah terendam banjir di Kelurahan Bandar Utama.

Salah seorang warga Kelurahan Bandar Utama, Anto (44), mengatakan banjir kiriman mulai merendam rumahnya mulai pukul 05.00 WIB pagi. Air datang dengan cepat, sehingga banyak barang yang tidak terselamatkan.

“Di rumah saya, kedalaman banjir mencapai pinggang orang dewasa. Karena kami tinggal dekat bibir sungai, kami beresiko terkena banjir kiriman,” kata Anto.

Anto berharap, Pemko Tebingtinggi mengorek Sungai Sei Padang yang sudah puluhan tahun mengalami pendangkalan akibat endapan sendiman pasir dan lumpur. “Jika dikorek, sungai akan sanggup menampung debit air besar dari hulu,” sarannya.(*)