Home Blog Page 6000

Profil Video Wisata Kota Medan Terbaik Nasional

foto-foto pemko medan for sumut pos Sekretaris Dinas Pariwisata Said Chaidir didampingi Kepala Bidang Destinasi Wisata Lilik SH menerima penghargaan video terbaik pada kategori profil pariwisata Nusantara dalam ajang Toraja Film Festival 2018 di Lapangan Bakti Rantopao, Toraja Utara.
foto-foto pemko medan for sumut pos
Sekretaris Dinas Pariwisata Said Chaidir didampingi Kepala Bidang Destinasi Wisata Lilik SH menerima penghargaan video terbaik pada kategori profil pariwisata Nusantara dalam ajang Toraja Film Festival 2018 di Lapangan Bakti Rantopao, Toraja Utara.

Pemko Medan melalui Dinas Pariwisata Kota Medan berhasil mengukir sejarah penting bagi dunia pariwisata dan ekonomi kreatif secara nasional. Sebab, video profil pariwisata Kota Medan yang diproduksi tahun 2017 dihargai para sineas film sebagai Video Profil Terbaik se-Nusantara pada ajang Toraja Festival Film 2018 di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Video profil pariwisata Kota Medan merupakan satu dari 107 file video yang masuk ke panitia Toraja Film Festival tahun 2018. Para pesertanya dari seluruh propinsi se-Indonesia dan ada beberapa peserta berasal dari luar negeri seperti Malaysia dan Palestina.

Berdasarkan seleksi ketat dari sejumlah dewan juri tingkat nasional, video profil pariwisata Kota Medan akhirnya dinyatakan sebagai Video Profil Pariwisata Terbaik se-Nusantara.Video profil pariwisata Kota Medan hasil karya sutradara muda Onny Kresnawan dan produser Chairul Huda berhasil mengalahkan video profil pariwisata dari daerah lainnya.

Atas keberhasilan itu, Pemko Medan pun mendapatkan penghargaan dari panitia Toraja Film Festival. Penghargaan itu diberikan panitia kepada Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi diwakili Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Medan Said Chaidir MSP dan Kepala Bidang Destinasi Wisata Lilik SH di Lapangan Bakti Rantopao, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Jumat (31/8).

Usai menerima penghargaan yang diserahkan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Toraja Utara, Said Chaidir mengatakan, penghargaan ini merupakan suatu pencapaian yang baik bagi industri pariwisata di Kota Medan, di mana video profil yang dilahirkan lewat tangan kreatif produser Chairil Huda dan sutradara Onny Kresnawan akhirnya diakui se-Nusantara menjadi yang terbaik.

“Kami berharap video yang terbaik ini mampu menjadikan banyak orang ingin melihat secara langsung bagaimana potret video pariwisata di Kota Medan sesungguhnya, mulai dari wisata kuliner, religi, budaya, lingkungan dan masih banyak lainnya. Ayo raon-raon (jalan-jalan) ke Medan,” ajak Said di hadapan Bupati Toraja Utara, Sekda Sulawesi Selatan serta sejumlah pejabat dari kementerian pendidikan dan Badan Ekonomi Kreatif serta Lembaga Sensor Film (LSF).

Sementara itu, sutradara video profil pariwisata Kota Medan, Onny Kresnawan memaparkan, video yang dihasilkan merupakan video yang super lengkap secara komposisi, misalnya isinya ada talent/sosok wisatawan berkunjung ke sejumlah destinasi wisata seperti wisata religi ke Masjid Raya, gereja, kuil, vihara.

Di samping itu, tambah Onny, untuk makanannya ada Ucok durian, markisa serta sejumlah tempat lainnya dengan pendekatan budaya ke Istana Maimun dan rumah peninggalan Tjong Afie hingga wisata lingkungan seperti sungai, hutan mangrove dan kebun binatang.

“Wisata di Kota Medan memang lengkap, jadi kami ambil semua potretnya sebaik mungkin dengan teknis pengambilan gambar serta alat maksimal yang kami miliki. Kami sangat berterima kasih kepada Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin dan Kadis Pariwisata Drs Agus Suriyono yang banyak mendukung industri film sebagai bagian memajukan pariwisata Kota Medan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Presiden Toraja Film Festival Bello Tarran mengatakan, Toraja Film Festival ini hadir untuk menghidupkan film daerah. Walaupun untuk menghidupkan film daerah, tapi seluruh jurinya berasal dari Jakarta dan diakui secara nasional.

Sehingga ajang film ini menjadi kelasnya nasional, ditambah dukungan yang banyak dari kementerian. “Jumlah peserta tahun ini cukup banyak hingga 107 file film dengan berbagai kategori, antusias para penggiat film ternyata semakin banyak dari seluruh propinsi,” ucap Bello Tarran.

Di kesempatan yang sama, Bupati Toraja Utara Kalatiku Paembonan menyampaikan, Toraja Film Festival ini digelar sudah yang ke 2. Pihaknya secara daerah akan menetapkannya sebagai bagian kegiatan setiap tahunnya dan berjumlah akan masuk sebagai kalender even Sulawesi Selatan dan lebih berjuang lagi sebagai ajang tahunan secara nasional.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi selatan yang dibacakan Sekda Sulsel Taototo Tanaranggina mengatakan, Pemprov Sulawesi Selatan sangat mengapresiasi festival film ini. Pemprov melihat melihat ada pembangunan Kabupaten Toraja Utara dalam industri kreatif perfilman dan sektor pariwisata.

“Saya berharap ajang ini bukan sebagai bagian perayaan mengejar kemenangan melainkan sebagai forum edukasi masyarakat khususnya dalam meningkatkan pariwisata dan menjaga budaya,” ungkap Taototo. (ris/ila)

Jack Ma: Saya Tunggu Kalian di Hangzhou

INASGOC/why Jack Ma mengajak warga Indonesia datang ke Tiongkok untuk saksikan Asian Games  2022.
INASGOC/why
Jack Ma mengajak warga Indonesia datang ke Tiongkok untuk saksikan Asian Games  2022.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Pendiri sekaligus Bos Alibaba Group, Jack Ma, hadir pada saat acara closing ceremony Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), pada Minggu (2/9). Jack Ma tampak setelah penyerahan bendera Olympic Council of Asia (OCA) sebagai simbol bahwa pada 2022 Tiongkok akan menjadi tuan rumah Asian Games ke-19. Dia muncul di tengah-tengah para penyanyi dan penari Tiongkok.

“Saya menunggu kalian di Hangzhou, di tempat tinggal saya,” kata Jack Ma kepada ribuan penonton di SUGBK.

Jack Ma mengenakan baju tradisional khas Tiongkok berwarna abu-abu. Dia ditemani seorang gadis kecil berkostum khas Tiongkok berwarna merah.

Dery Ridwansah/JawaPos.com
Jack Ma sangat antusias dengan Asian Games 2018 di Indonesia.

Asian Games berikutnya pada 2022 akan diselenggarakan di Kota Hangzhou, Tiongkok. Kota tersebut merupakan lokasi kantor pusat Alibaba.

Sosok berjuluk Manusia 570 Triliun itu sudah berada di Indonesia dan menyaksikan final sepak bola putri Asian Games 2018 antara Tiongkok dan Jepang pada Jumat (31/8). Jack Ma juga sempat bersua dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. (iml/JPC)

Bonus Asian Games Cair, Lindswell: Terima Kasih Pak Jokowi

Atlet wushu Indonesia Lindswell (tengah) menerima ucapan selamat dari Presiden Joko Widodo (kanan) dan Ketua Umum PB Wushu Indonesia Airlangga Hartarto usai menyelesaikan nomor Taijijian Putri Wushu Asian Games 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (20/8/2018). Lindswell mempersembahkan emas kedua bagi kontingen Merah Putih usai berlaga dalam nomor Taijijian, meraih nilai tertinggi dengan total skor 9,75.
Atlet wushu Indonesia Lindswell (tengah) menerima ucapan selamat dari Presiden Joko Widodo (kanan) dan Ketua Umum PB Wushu Indonesia Airlangga Hartarto usai menyelesaikan nomor Taijijian Putri Wushu Asian Games 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (20/8/2018). Lindswell mempersembahkan emas kedua bagi kontingen Merah Putih usai berlaga dalam nomor Taijijian, meraih nilai tertinggi dengan total skor 9,75.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Atlet peraih emas kedua Indonesia di ajang Asian Games 2018, Lindswell Kwok, senang bukan kepalang setelah meraih penghargaan dari Presiden RI Joko Widodo.

Di area atlet yang terdapat di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pewushu Putri itu mengungkapkan kebahagiaannya pada Minggu (2/9) sore.

Selama tampil di Asian Games, Lindswell mengaku sudah tiga kali mengikuti ajang olahraga terbesar Asia ini. Menurutnya, pencairan bonus pada Asian Games 2018 ini adalah yang tercepat.

“Ini bonus tercepat yang saya rasakan. Belum penutupan Asian Games sudah dikasihkan. Pemerintah luar biasa, ini bonus terbaik,” katanya.

Tak hanya dalam pencairan, jumlah Rp 1,5 miliar untuk peraih emas menurutnya sangat luar biasa. Membuat atlet semakin termotivasi dan ingin berprestasi tinggi setelah mendengar janji dari pemerintah.

Dibandingkan Asian Games 2014 misalnya, peraih emas mendapatkan hanya Rp 400 juta. Proses pencairannya pun tak selama 2014 lalu, yang memakan waktu beberapa pekan.

Lindswell sendiri meraih perak pada 2014 lalu, dia pun berhak mengantongi Rp 200 juta.

“Terima kasih banget karena perhatian banget pemerintah, terima kasih Pak Presiden Jokowi sangat perhatikan kami ini. Ini memang benar menjadi motivasi besar atlet,” ungkap pewushu 27 tahun tersebut. (dkk/jpnn)

Dimas Anggara Menyesal Setelah Menikahi Nadine

Dimas Anggara dan Nadine Chandrawinata.
Dimas Anggara dan Nadine Chandrawinata.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Aktor Dimas Anggara akhirnya mau terbuka terkait kehidupan rumah tangganya dengan Nadine Chandrawinata.

Pemain film London Love Story itu mengaku menyesal tidak menikahi Nadine Chandrawinata sejak lama. “Pokoknya nyesel kenapa enggak dari dulu (nikah),” kata Dimas Anggara sambil tersenyum.

Salah satu alasannya karena Nadine pandai memasak. Menurutnya, semua masakan buatan sang istri menjadi kesukaannya.

“Apa saja yang dimasakin mah saya makan saja. Semua favorit saya,” tuturnya.

Terkait momongan, Dimas Anggara mengaku tidak menundanya. Dia bersama sang istri menunggu rezeki yang diturunkan padanya.

“Sedapatnya. Kalau rezeki enggak kemana ya, nunggu rezekinya aja,” ujarnya. (mg7/jpnn)

GFNY Samosir, 800 Pegowes Adu Cepat di Dua Kelas

Prayugo Utomo/JPC Para pegowes dari dalam dan luar negeri sudah bersiap di garis start event Gran Fondo New York (GFNY) Championship Asia di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Minggu (2/9).
Prayugo Utomo/JPC
Para pegowes dari dalam dan luar negeri sudah bersiap di garis start event Gran Fondo New York (GFNY) Championship Asia di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Minggu (2/9).

SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Para pegowes dari dalam dan luar negeri sudah bersiap di garis start event Gran Fondo New York (GFNY) Championship Asia yang digelar di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Minggu (2/9). Padahal, waktu masih menunjukkan pukul 05.00 WIB.

Garis start berada di gerbang masuk ke kawasan Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo. Ada 800 pegowes yang ambil bagian dalam event internasional tersebut.

Dari total keseluruhannya, 40 persen adalah peserta dari luar negeri mulai dari Malaysia, Singapura, hingga beberapa negara di Eropa. Sedangkan peserta dari Indonesia datang dari berbagai daerah. Mulai dari Sumut, Pekanbaru, Kalimantan, Jakarta, Bali hingga Papua.

Bupati Samosir yang langsung melepas start para atlet pada pukul 06.30 WIB. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Annas tampak mendampingi di podium. Bersama Direktur Utama Badan Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo, Ketua GFNY Indonesia Axel Moeller dan beberapa pejabat lainnya.

Begitu bendera start diangkat, para pegowes memacu tunggangannya. Mereka adu cepat. Menyusuri jalan lingkar Samosir.

Ada dua kelas yang diperlombakan dalam GFNY Championship Asia kali ini. Medium Fondo dan Granfondo. Yang membedakan kedua kelas adalah jarak tempuhnya.

Untuk kelas medium pegowes akan menempuh jarak 103 km. Sedangkan Granfondo jaraknya sepanjang 142 Km.

Sepanjang perjalanan, para pegowes dihadapkan dengan jalanan datar, tanjakan terjal dan turunan yang cukup memacu adrenalin.

“Untuk persiapan semuanya lancar. Kendalanya hanya hujan tadi malam. Jadi jalanan sempat berdebu. Tapi langsung dibersihkan sama pihak Pemerintah Kabupaten. Mereka sangat support even ini,” ujar Tene Permatasari, Organizer GFNY Indonesia di sela event.

Direktur Utama BPODT Arie Prastmetyo mengatakan, pihaknya memberikan dukungan penuh kepada GFNY. Karena gelaran bertaraf internasional ini berpeluang mendatangkan wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dia juga mengapresiasi seluruh panitia yang sudah bekerja keras untuk menyukseskan GFNY.

“Perlu kita tingkatkan lagi. Kalau akan diadakan lagi, akan kita gelar lebih baik. Tapi overall persiapannya sudah bagus,” ujarnya.

Selama perjalanan, para pegowes disuguhkan keindahan bentang alam  Samosir. Daerah yang dicanangkan menjadi Geopark Kaldera Toba (GKT) itu, memang punya pesona alam yang memukau. Pegowes bisa bersepeda sambil menikmati keindahan Danau Toba dari atas bukit.

GFNY sebelumnya digelar di Bali. Nantinya para pemenang GFNY akan dibawa ke Amerika Serikat. Mereka akan bertanding dengan ribuan pegowes roadbike dari seluruh dunia.  (pra/JPC)

Tambang Emas Martabe Dorong Kesejahteraan Petani dan Ketahanan Pangan

Foto: Corcomm Martabe Berfoto bersama seusai pembukaan Gelar Karya Tani Mandiri 2018. Ini merupakan kali kedua Tambang Emas Martabe bekerja sama dengan Dinas Pertanian Tapanuli Selatan menggelar GKTM.
Foto: Corcomm Martabe
Berfoto bersama seusai pembukaan Gelar Karya Tani Mandiri 2018. Ini merupakan kali kedua Tambang Emas Martabe bekerja sama dengan Dinas Pertanian Tapanuli Selatan menggelar GKTM.

BATANGTORU, SUMUTPOS.CO – PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, bekerja sama dengan Dinas Pertanian Tapanuli Selatan kembali  menyelenggarakan Gelar Karya Tani Mandiri 2018 bertemakan  “Merengkuh Asa Petani Untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan”, 1-2 September 2018 di Sopo Daganak, Batangtoru.

Kegiatan yang bertujuan mendorong peningkatan kesejahteraan para petani, serta kemandirian dan ketahanan pangan di Batangtoru dan Muara Batangtoru ini digelar dalam bentuk seminar dan program peningkatan kapasitas bagi sekitar 500 orang petani.

Senior Manager Community, Pramana Triwahjudi, menuturkan 70 persen dari masyarakat Batangtoru memiliki mata pencarian bertani. Keberadaan para petani tidak dapat lagi dipandang sebelah mata karena kehadiran mereka sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional. Kendati demikian, keberhasilan para petani juga tak dapat dilepaskan dari peran para pemangku kepentingan.

“Di GKTM 2018 kami memberi penekanan pada pentingnya peranan dan kesamaan sudut pandang para pemangku kepentingan terkait seperti pemerintah daerah dan setempat, akademisi, dan lainnya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyamakan visi para pemangku kepentingan demi mewujudkan ketahanan pangan, merumuskan strategi kemitraan multi pihak yang berkelanjutan, dan menjadi media interaksi antara petani dengan pemangku kepentingan” jelas Pramana.

Foto: Corcomm Martabe
Seminar bertema “Peran Pemangku Kepentingan dalam Upaya Penguatan Rantai Usaha Tani”. Para pembicara berasal dari UPT Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara, Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan, PT BISI International Tbk., dan Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara, Padangsidimpuan serta PT Agincourt Resources.

Para pembicara seminar yang mengambil tema “Peran Pemangku Kepentingan dalam Upaya Penguatan Rantai Usaha Tani” berasal dari UPT Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara, Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan, PT BISI International Tbk., dan Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara, Padangsidimpuan serta PT Agincourt Resources.

Program peningkatan kapasitas petani mengusung tema “Petani SUPRA (Sukses, Produktif dan Aktif)”. Adapun, petani sukses berarti petani mampu menerapkan pola kemandirian dan profesionalisme. Produktif menandakan petani yang terampil dalam budidaya dan inovasi yang menunjang produksi. Sedangkan aktif berarti keluwesan petani dalam memperkuat jaringan dan berpartisipasi aktif di masyarakat.

Adapun, sasaran dari GKTM 2018 yakni untuk mengupayakan kepastian rantai usaha tani yang berkelanjutan dengan terus meningkatkan daya saing teknologi dan ekonomi, mendorong semangat usaha tani untuk meningkatkan perekonomian domestik serta penyegaran mental dan jasmani para petani.


Foto: Corcomm Martabe
Para peserta Gelar Karya Tani Mandiri 2018 bersemangat meneriakkan Petani SUPRA (Sukses, Produktif, dan Aktif).

Selain para petani dari berbagai kelompok di Batangtoru dan Muara Batangtoru, GKTM 2018 juga mengundang kelompok usaha mitra dampingan Tambang Emas Martabe, dan perwakilan kelompok tani dari Sentra Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan meliputi dari Batang Angkola, Tana Tombangan dan Sayur Matinggi.

“Kami selalu membuka kesempatan luas untuk meningkatkan kapasitas para petani. Ini sangat penting untuk mendukung program pemerintah, yakni mampu menunjukkan kekuatan Indonesia sebagai salah satu negara agraris di dunia. Kedaulatan pangan telah menjadi salah satu visi pemerintah Indonesia untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pencapaian visi ini tentu tidak bisa lepas dari peran tiap daerah untuk mendukung cita-cita nasional sehingga menciptakan pergerakan positif secara menyeluruh,” tutup Pramana. (rel)

Tabung Gas Meledak, 11 Warga di Kuala Tanjung Terbakar

BATUBARA, SUMUTPOS.CO – Tiga bocah mengalami luka bakar serius akibat ledakan tabung gas dari salah satu rumah di Dusun II Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara, Sumut, Sabtu (1/9) malam.

Selain itu, 8 warga lainnya juga turut menjadi korban. Bocah dan warga yang mengalami luka bakar langsung dilarikan ke klinik terdekat guna mendapat perawatan intensif.

Informasi dihimpun Sabtu (1/9/2018), ketiga bocah yang menjadi korban kebakaran antara lain Sisi (3) luka bakar tangan dan kaki, Kevin (5) serta Lutfi (6) luka bakar di kaki.

Sedangkan 8 orang warga, yaitu Ilfian (25) luka bakar wajah, kaki dan tangan, Andi Syahputra (33) luka bakar kaki dan tangan, Neni Fitriani (42) luka bakar kaki dan tangan, Gito (51) luka tangan dan kaki, Ilham Fahmi (20) luka bakar di punggung, tangan dan kaki, Ridwan (53) luka bakar punggung, paha kiri dan kanan, Sri Astuti (47) luka bakar di bagian tangan serta Sahkiem (47) luka bakar tangan.

Musibah terjadi ketika salah seorang warga bernama Iyan hendak menggantikan tabung gas 3 kg yang sudah kosong dengan yang baru.

Namun nahas, saat hendak memasang tabung yang baru dan hendak disambungkan ke slang, ternyata gasnya bocor sehingga mengeluarkan semburan.

Iyan pun panik dan spontan menutup gas yang bocor menggunakan tangan. Belum lagi gas tertutup, ternyata api dari kompor sebelah menyambar tabung yang bocor.

Ledakan hebat pun terjadi, sehingga melukai sejumlah orang yang berada di lokasi kejadian. Sejumlah warga yang mendengarkan ledakan dan jeritan korban langsung turun memberikan bantuan dan menghubungi pihak kepolisian terdekat.

Kini, para korban masih menjalani perawatan. Sementara, polisi masih melakukan penyelidikan dengan mengamankan tabung yang terbakar. (fir)

Promosi Marsudin & Wahyu Batal

Bukti tidak cukup, KPK telah melepas Ketua Pengadilan Negeri (PN) Medan, Marsudin Nainggolan, dan Wakil Ketua PN Medan, Wahyu Prasetyo Wibowo, dalam Operasi Tangkap Tangan kasus suap dari pengusaha Tamin Sukardi, Rabu (29/8). Namun demikian, kerusakan telanjur terjadi. Promosi jabatan yang sudah di depan mata, dibatalkan. Keduanya malah dimutasi ke Mahkamah Agung (MA).

SEBELUMNYA, Marsudin akan dipromosikan sebagai hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar, Bali. Jadwal serah terima jabatannya bahkan sudah sempat ditetapkan, yakni 5 September 2018 mendatang. Sedangkan Wahyu akan dipromosikan menjadi Ketua PN Serang.

“Kabar terbaru yang saya ketahui seperti itu. Mereka dimutasi ke pusat, ke kantor MA. Sebentar lagi SK-nya turun,” ungkap Humas PN Medan, Djamaluddin, kepada wartawan di PN Medan, Jumat (31/8) sore. Selain keduanya, hakim anggota kasus Tamin, Sontan Merauke Sinaga juga ikut dimutasi ke Mahkamah Agung.

Djamaluddin mengaku tidak mengetahui penyebab batalnya promosi jabatan kedua pimpinan di PN Medan tersebut. “Saya baru dapat kabar. Bukan ditarik ya bahasanya, tapi dimutasi. SK mutasi ketiga hakim itu untuk penempatan dinas di MA. Jadi bukan seperti jadwal sebelumnya (promosi sesuai jadwal sertijab, Red),” terangnya.

Sebelumnya, Mardusin akan digantikan Djaniko Girsang sebagai Ketua PN Medan. Sedangkan Wahyu rencannya digantikan Abdul Aziz.

Pada Kamis (30/8), Tim Badan Pengawas (Bawas) MA turun ke PN Medan, memeriksa ketiga hakim dimaksud bersama seorang panitera bernama Oloan Sirait. Sejumlah saksi ikut diperiksa, terkait OTT KPK di Gedung B PN Medan itu.

“Pemeriksaan sudah berakhir kemarin. TIM Bawas MA ingin melihat apakah ada pelanggaran kode etik hakim oleh ketiga hakim tersebut. Hasilnya kita belum tahu. Mekanismenya nanti, tim Bawas MA akan mengkaji dan memutus investigasi pemeriksaan. Hasilnya akan diberitahu kepada pribadi-pribadi hakim tersebut dan juga akan dipublikasi di website atau laman Dirjen Badan Peradilan Umum (Badilum) pada laman MA,” jelas Djamalludin.

Terkait status hukum perkara perkara penjualan tanah eks HGU PTPN II, dengan nilai penjualan lebih dari Rp132 miliar, yang menjerat pengusaha Medan Tamin Sukardi sebagai terdakwa, menurut Djamaluddin, masih terus diproses. Pasalnya, kuasa hukum Tamin menyatakan banding setelah Tamin divonis hukuman 6 tahun penjara oleh majelis hakim PN Medan yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo, Senin (27/8) lalu.

“Karena banding, proses pemeriksaan putusan PN Medan akan dilakukan hakim PT Medan, meski pihak penasehat belum melampirkan memori banding. Hal yang sama juga dilakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Salman SH dari Kejagung, yang menangani perkara penjualan tanah negara yang dilakukan Tamin Sukardi kepada Mujianto.

“Kalau tak ada memori banding, apa yang mau dibuat JPU soal kontra memori bandingnya? Tapi memang sistem acara pidana kita tidak mewajibkan penasihat hukum membuat memori banding. Jadi tetap diproses,” jelasnya.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sumut, Sumanggar Siagian, belum mengetahui apakah Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus Tamin Sukardi, akan banding atau tidak. “Nanti saya tanya dulu ya,” ucapnya via telepon seluler.

Sebelumnya, OTT KPK menangkap 8 orang terkait dugaan suap terhadap hakim di PN Medan. Mereka adalah Ketua PN bersama tiga hakim yang menyidangkan kasus Tamin Sukardi, dua panitera, dan dua pihak swasta. Tapi hanya hakim anggota Merry Purba dan panitera Helpandi yang ditetapkan sebagai tersangka. Dan dua orang lainnya dari pihak swasta, yaitu Tamin Sukardi dan pengacaranya Hadi Setiawan.

Merry dan Helpandi diduga menerima suap SGD 280 ribu atau Rp 3 miliar lebih. Suap diduga diberikan Tamin ke Merry, melalui orang kepercayaannya bernama Hadi Setiawan. Tujuannya untuk mempengaruhi putusan hakim kasus korupsi dengan terdakwa Tamin Sukardi. Merry duduk sebagai hakim anggota bersama Sontan Merauke Sinaga dengan ketua majelis hakim Wahyu Prasetyo Wibowo.

Merry dan Helpandi selaku pihak yang diduga penerima suap disangkakan Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tipikor yang diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi.

Sementara, Tamin dan Hadi selaku pihak yang diduga pemberi suap disangkakan dengan Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001.

Pascaditetapkan sebagai tersangka, hakim ad hoc Pengadilan Negeri (PN) Medan, Merry Purba, diberhentikan sementara dari jabatannya. Jika putusan telah tetap, ia akan langsung diberhentikan tetap. Nasib serupa juga ditimpakan pada Helpandi yang merupakan panitera pengganti PN Medan. Dia juga ditetapkan KPK sebagai tersangka.

MA Kesulitan Mengawasi
Terkait kasus ini, Mahkamah Agung (MA) mengakui kesulitan mengawasi tindakan para hakimnya di luar pengadilan karena berkembangnya teknologi komunikasi. Hal itu diduga menjadi penyebab masih adanya perilaku hakim culas yang menerima suap.

“Dengan perkembangan teknologi orang bisa berhubungan dengan alat komunikasi yang canggih,” kata juru bicara MA, Suhadi di kantornya, Jakarta, Kamis kemarin.

Suhadi mengatakan, saat ini Mahkamah Agung baru mampu mengawasi tindakan hakim di dalam pengadilan dengan adanya pelayanan terpadu satu pintu. Sistem itu, dia klaim mampu meminimalisir kontak antara hakim dan orang yang berperkara. “Kami sudah mampu mencegah adanya kontak antara pejabat pengadilan dengan pencari keadilan,” kata dia.

Namun, di luar pengadilan, kata dia, pengawasan itu sulit dilakukan. Dia mencontohkan dalam OTT KPK kemarin transaksi antara Merry dengan penyuap diduga dilakukan saat di perjalanan memakai mobil. “Pemberian itu dilakukan di perjalanan. Nah ini badan pengawas sulit mengejar,” kata dia.

Suhadi mengatakan karena itu pihaknya mendukung upaya penindakan KPK terhadap hakim yang terbukti melakukan korupsi. Di lain sisi, dia mengatakan pihaknya akan tetap mengevaluasi sistem pengawasan internal lembaganya. “Pasti kami evaluasi,” kata dia.

Komisi Yudisial (KY) ikut menyoroti soal pelanggaran hukum dilakukan hakim saat menegakkan hukum. Juru Bicara KY, Farid Wajdi mengatakan lebih dari 17 tahun reformasi peradilan berjalan, beberapa output telah dihasilkan mulai berupa dua cetak biru sampai dengan ratusan instrumen seperti PERMA/SEMA/Juknis dan seterusnya.

“Harus diakui, beberapa capaian telah memenuhi target sekaligus membawa dampak perubahan di banyak aspek, seperti keterbukaan informasi, sistem manajemen perkara, pelayanan satu pintu yang menjadi contoh utama,” ucap Farid kepada wartawan di Medan, Jumat (31/8).

Farid menilai untuk capaian dimaksud bukanlah tanpa cela. Sejak ide perubahan dan perbaikan itu ada, sejak itu pula beberapa peristiwa yang jadi tones negatif tidak pernah benar-benar berhenti. Peristiwa OTT yang dilakukan oleh KPK di Medan adalah contoh paling aktual.

Terkait hal itu, KY mendorong penegak hukum, dalam hal ini KPK, untuk mengelola kasus ini secara proporsional dan profesional. “Usut siapapun yang terlibat, jangan ada rantai yang terputus”Sebaliknya, rehabilitasi yang jelas tidak terlibat. Tidak dibenarkan desakan opini atau stigma publik mempengaruhi kerja penyidikan,” sebut Farid.

Menurutnya, kepercayaan publik harus kembali dimenangkan. Ia harus direbut bukan dengan membela diri dari semua tuduhan, melainkan dengan keterbukaan dalam melakukan bersih-bersih secara total. “Dimulai dari atas/pimpinan sampai bawah/pelaksana,” tandasnya.

19 Hakim Terjerat Kasus Suap
Dalam kurun waktu 13 tahun belakangan, KPK sudah menjerat 19 orang hakim, yang diduga menerima suap terkait perkara yang ditanganinya. Dari 19 hakim tersebut, terdapat 10 hakim ad hoc Tipikor, dan sisanya 3 hakim PN, 1 Hakim Pengadilan Tinggi (PT), 4 Hakim PTUN, 1 Hakim ad hoc PHI.

“KY sangat menyayangkan bahwa 10 dari 19 hakim yang terjerat OTT oleh KPK pada 2005-2018 merupakan hakim ad hoc Tipikor. Hakim yang seharusnya bertugas memeriksa, mengadili, dan memutus perkara korupsi, justru melakukan korupsi,” tutur Farid.

Hal ini menurut Farid perlu diperhatikan secara serius. Karena jangan sampai orang yang diduga melakukan korupsi bisa bebas dari jeratan hukum atau mendapatkan hukuman yang jauh lebih ringan karena hakim yang memeriksa perkara tersebut menerima suap.

“Sebagai langkah pembenahan, maka perlu diperhatikan dengan serius terkait proses rekrutmen dan pengawasan terhadap hakim ad hoc Tipikor. KY menegaskan pentingnya melakukan cek integritas dengan mendalami rekam jejak calon. Faktor ini harus menjadi fokus dan prioritas dalam proses seleksi,” kata Farid.

Untuk dalam hal pengawasan, Farid mengungkapkan maka perlu untuk mengawasi setiap perkara korupsi. Tidak hanya proses sidangnya, tapi juga soal kegiatan-kegiatan hakim di luar kegiatan dinasnya. (gus/bbs)

Peduli Lombok, Jamaah Kloter 11 Himpun 3.408 Riyal

MEDAN – Jamaah haji Provinsi Sumatera Utara yang tergabung dalam Kloter 11/MES menggalang dana untuk korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)n
TPHI Kloter 11/MES Julkarman Tanjung mengatakan, dana yang terkumpul dari jamaah haji Kloter 11/MES berjumlah 3.408 Riyal.

Dana itu diserahkan kepada Kepala Sektor 4 Raudhah H Solikhin, Jumat (31/8), untuk selanjutnya disalurkan kepada korban gempa Lombok.

“Jamaah haji Kloter 11/MES turut berduka cita atas musibah gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang terkena musibah di Lombok. Kita berharap dana yang dikumpulkan dapat meringankan beban para korban gempa.

Di sini kita mendoakan semoga saudara-saudara yang terkena musibah tetap tawakal dan sabar menjalani cobaan ini,” ungkapnya.

Jemaah haji Kloter 11/MES merupakan gabungan jamaah haji dari Kota Medan, Kabupaten Madina dan Kabupaten Asahan.

Dari Tanah Suci dilaporkan, jemaah haji gelombang dua mulai bergerak dari Mekah ke Madinah, Jumat (31/8). Sebanyak 6.194 jemaah haji diberangkatkan dari ke kota nabi tersebut.

Pemberangkatan jamaah dilepas oleh tim Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), dipimpin Kepala Daker Mekah Endang Jumali. Kloter MES 8 dari Sumatera Utara menjadi yang pertama bergerak ke Madinah.

Sebanyak 144 bus disiapkan untuk mengangkut ribuan jemaah itu. Kendaraan akan melintasi Jalan Raya Mekah-Madinah yang melewati Masjid Aisyah di Tan’im dan terus menuju Madinah.

“Jumlah jemaah yang diberangkatkan mencapai 6.194 orang,” kata Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Subhan Cholid.

Kadaker Mekah Endang Jumali mengatakan, secara psikologis jemaah berada dalam kondisi yang lebih rileks. Itu terkait dengan telah dilaksanakannya prosesi puncak ibadah haji. “Pergerakan jamaah ke Madinah lebih santai. Jemaah juga lebih tenang, karena mereka sudah melaksanakan inti ibadah di Tanah Suci. Jadi beban mereka sudah tak ada,” kata Endang.

Jemaah akan berada di Madinah selama delapan hari atau lebih. Durasi waktu tersebut dianggap cukup bagi jemaah yang ingin melakukan Arbain, salat 40 waktu di masjid Nabawi. (man)

Petani Siap Belajar Budi Daya Ikan KJA

TRIADI WIBOWO/SUMUT POS KERAMBA: Petani ikan keramba jaring apung di Danau Toba.
TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
KERAMBA: Petani ikan keramba jaring apung di Danau Toba.

MEDAN – Kematian 180 ton ikan emas dan ikan nila yang dipelihara di keramba jaring apung (KJA) masyarakat di perairan Danau Toba di wilayah Pangururan, membuat para petani tekor sekitar Rp5 miliar. Tak mau rugi berulang, para petani siap belajar cara budi daya ikan KJA yang baik di danau Toba.

“Rencananya, Pemkab Samosir akan menyosialisasikan rencana pengosongan KJA dari ikan selama dua bulan. Setelah sosialisasi, pengosongan dieksekusi. Kemudian, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumut bersama instansi terkait di Samosir, akan memberikan pembinaan kepada 18 kepala keluarga (KK) pemilik KJA di Kecamatan Pangururan,” kata Kadis DKP Sumut, Mulyadi Simatupang kepada Sumut Pos, Jumat (31/8).

Menurutnya, pembinaan itu atas permintaan para petani ikan. “Selaku pembina dan fasilitator, DKP Sumut siap membantu cara budidaya ikan KJA yang baik kepada nelayan di sana. Pembinaan ini atas permintaan para petani ikan keramba,” katanya .

Mulyadi menjelaskan, ada sejumlah kabupaten yang warganya membangun KJA di perairan Danau Toba. Yakni Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Humbanghasundutan, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, dan Dairi.

“Dalam sosialisasi nanti, akan disampaikan cara budidaya ikan dengan baik. Soal letak KJA strategis dan cocok untuk budidaya ikan pada KJA. Misalnya, sesuai Perpres Nomor 81 tahun 2014 tentang RTRW Danau Toba, kedalaman KJA minimal 30 meter. Nah, faktor-faktor seperti ini harus dipahami pemilik KJA di sekitaran Danau Toba,” katanya.

Melalui sosialisasi dan pembinaan yang akan dilakukan, nelayan atau pemilik KJA diharapkan lebih baik dalam bisnis budidaya ikan. D imana sebelum memulai usaha budidaya, letak KJA sudah melalui ketentuan dan kajian matang. Dengan demikian kejadian ikan mati sebanyak 120 ribu ton dapat diminimalisir.

“Sebagai contoh di Kecamatan Pangururan itu sebenarnya diperbolehkan membuat KJA. Namun letak KJA-nya yang harus diperhatikan agar strategis. Baik soal kedalaman, PH (derajat keasaman) air, dan lainnya. Sehingga keberlangsungan budidaya ikan masyarakat menjadi lebih baik. Kita akan mengevaluasi semua letak KJA melalui instansi setempat,” paparnya.

Terkait KJA yang mengalami kematian ribuan ekor ikan, menurutnya terletak di lokasi tidak strategis. Yakni di lokasi yang terjadi pendangkalan dan arah angin yang begitu kuat. “Kemarin setelah kita turun ke lapangan, melakukan observasi dan mengambil sampel, diketahui bahwa kawasan itu sering terjadi angin kencang. PH dan ukuran KJA di sana banyak yang tidak sesuai dengan aturan, sehingga membuat oksigen larut sangat rendah,” ujarnya.

Berdasar hasil observasi yang dilakukan, PH air di kecamatan Pangururan hanya 2,3 mm/liter. Idealnya untuk KJA 5 mm/liter. Begitupun dengan kedalaman KJA yang tidak sampai 10 meter.

“Jarak pantai ke KJA juga cuma lima meter. Harusnya berdasarkan peraturan 100 meter jarak dari pantai ke KJA. Ini salah satu mengapa ikan-ikan disana banyak yang mati,” ungkapnya.

Cara budidaya ikan yang tidak baik, katanya, disertai dengan faktor cuaca dan angin, membawa bahan-bahan organik seperti amoniak yang ukurannya sudah melebihi ambang batas. Akibatnya, dari faktor-faktor tersebut menimbulkan racun dan pengurangan oksigen.”Satu KJA itu idealnya 5.000 ekor ikan. Yang kita lihat disana berdasar laporan nelayan KJA, satu petak ada 15.000 ekor ikan. Faktor-faktor ini belum diketahui oleh nelayan di sana,” ujarnya seraya menyebut permintaan pembinaan dan tambahan wawasan soal budidaya ini dari nelayan sendiri.

Seperti diketahui, DKP Sumut mencatat 180-200 ton ikan di Kecamatan Pangururan Danau Toba mati mendadak. Kematian ratusan ton ikan tersebut merugikan para nelayan KJA hingga Rp 6 miliar.

Sistem Zonasi KJA Tak Pernah Dieksekusi
Terkait kematian ikan-ikan KJA ini, anggota Komisi B DPRD Sumut Richard P Sidabutar, menyebutkan sebenarnya sudah banyak kesepakatan yang dihasilkan untuk membenahi Danau Toba. Namun tidak ada langkah lanjut untuk merealisasikannya.

“Kita terlalu banyak melahirkan kesepakatan dan menggelar rapat koordinasi, buat peraturan tapi mandul eksekusi. Contoh kecilnya, soal pengaturan zonasi keramba jaring apung (KJA). Sampai sekarang tidak ada eksekusinya. Bagaimana kita mau bicara strategi memajukan pariwisata kalau kita masih sibuk berdebat soal aturan dan perijinan.

Padahal aturannya sudah jelas Perpres No 81 tahun 2014 tentang rencana tata ruang kawasan Danau Toba. Makanya saya bilang kita ini terlalu banyak wacana eksekusi tak ada,” kata Richard, kemarin.

Dari kondisi tersebut, menurut Richard, anggapan bahwa pemerintah tidak serius mengembangkan pariwisata khususnya di Sumut, terlebih Danau Toba, sulit dibantah.

Dirinya juga mempertanyakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1/1990 tentang Penataan Kawasan Danau Toba sampai saat ini tidak diketahui realisasinya, baik berupa Peraturan Gubernur (Pergub) maupun peraturan-peraturan lain.

“Kita tidak tau kawasanan destinasi wisatanya apa saja. Hal ini tentu juga memperumit saat bicara tata kelola anggarannya. Mana kewenangan pemerintah pusat, mana kewenangan Provinsi, Kabupaten/Kota tak jelas. Bagaimana mau bicara memperkuat koordinasi dan sinerjisitas? Akhirnya masing-masing berjalan sendiri,” kata Politisi Partai Gerindra ini.

Ia juga melihat kinerja Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT) masih sebatas sosialisasi dan membuat seminar. Masih berkutat pada pewacanaan. “Belum pada tahap membangun gagasan membangun pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal, yang sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar,” pungkasnya. (prn/bal)