Home Blog Page 6088

Pudarnya Ideologi Parpol plus Tren Cari Voter Getter

Artis jadi caleg
Artis jadi caleg

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Fenomena bakal calon legislator (bacaleg) yang pindah partai untuk mencoba peruntungan terpilih dan duduk sebagai wakil rakyat, dinilai sebagai ‘barang lama’ dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Beberapa faktor disebutkan menjadi pemicu. Yakni pudarnya nilai ideologis atau garis perjuangan, hingga tren sekedar cari figur untuk mendulang suara.

Pengamat Politik UISU, Irawanto menilai bahwa dalam kondisi banyaknya bacaleg yang menyeberang dan mencari perahu (partai) lain, bukan baru saja terjadi. Banyak faktor yang menurutnya bisa dilihat sebagai penyebab, kenapa seakan begitu mudahnya orang ‘mengganti baju’ agar bisa mendapatkan ambisi menjadi anggota legislatif, baik tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten/kota.

“Ada beberapa faktor yang membuat fenomena ini terus terjadi dan trend sejak pasca reformasi lalu. Pertama pudarnya nilai ideologi partai. Sehingga partai lebih mementingkan mengusung figure yang memiliki nilai jual daripada figure yang jelas memiliki kesamaan ideologi (garis perjuangan) dengan partai,” ujar Irawanto.

Faktor kedua, yakni adanya semacam kegagalan kaderisasi partai. Sehingga anggota atau kadernya sangat mudah untuk melompat dan berpindah ‘perahu’ dari satu partai ke partai lain. Karena menurutnya organisasi peserta Pemilu ini hamper tidak mensyaratkan adanya proses pengkaderan yang tuntas khususnya kepada bacaleg.

“Ketiga, adalah karena kebutuhan bacaleg itu sendiri untuk mendapatkan perahu. Karena mungkin saja jika dia masih memilih untuk tetap bertahan di partai yang lama, tidak mendapat porsi yang besar dari pimpinan partai karena adanya proses pergantian ketua misalnya. Sehingga biasanya orang itu tidak mendapat nomor urut yang sesuai keinginan, seperti nomor urut satu,” katanya yang menyebutkan bahwa nomor urut juga berpengaruh bagi bacaleg sebagai modal untuk kampanye.

Berikutnya lanjut Irawanto, dari segi kontestasi partai. Baik partai lama maupun baru tentu menginginkan memperoleh kursi semaksimal mungkin di setiap daerah pemilihan (dapil). Sehingga kebutuhan dimaksud adalah bagaimana mendapatkan vote getter, yang diartikan sebagai seseorang yang cukup terkenal atau berpengaruh. Dengan begitu, simpati masyarakat pemilih diharapkan akan tertuju pada sosok bacaleg tersebut.

“Yaitu figur terkenal yang diprediksi dapat mendulang suara banyak dari pemilih saat Pemilu. Ini fenomena lama. Sejak penyederhanaan partai politik zaman orde baru, kemudian penerapan azas tunggal, parpol dipaksa untuk meninggalkan ke-khas-an ideologinya,” jelasnya yang mengatakan bahwa masa itu, hanya tiga partai yang menjadi peserta Pemilu selama puluhan tahun.

Begitu juga pasca reformasi kata Irawanto, semangat kebebasan berorganisasi juga tidak membangkitkan nilai dasar perjuangan sebuah partai politik. Sebab menurutnya partai-partai sudah tidak dibangun atas dasar akar ideologi, tetapi atas dasar kepentingan politik elektoral semata.

“Maka kekuatan finansial, kemampuan menarik figur terkenal menjadi faktor terpenting dibandingkan melakukan pengkaderan berjenjang untuk bacalegnya,” katanya.

Pun begitu, ada beberapa partai menurut Ira yang terlihat masih melakukn proses pengkaderan baik berjenjang maupun tidak. Setidaknya meskipun nilai dasar perjuangan tidak begitu tampak, baginya proses kaderisasi merupakan satu kunci agar bacaleg tidak mudah untuk berganti baju.

“Dalam hal ini mungkin PKS bisa dikecualikan, karena mereka masih melaksanakan perkaderan berjenjang itu. Mungkin juga PDIP dan Gerindra. Tetapi mereka tidak ketat menyeleksi dan mengharuskan kelulusan pengkaderan berjenjang. Namun masih me terlihat melaksanakan pengkaderan,” katanya. (bal)

Mobil Mewah Pejabat Pemprovsu Diduga Plat Bodong

Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos PARKIR: Mobil dinas pejabat Pemprovsu diduga berplat bodong terparkir di area parkir khusus eselon II Kantor Gubsu, Jl. P Diponegoro Medan, Senin (30/7).
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos
PARKIR: Mobil dinas pejabat Pemprovsu diduga berplat bodong terparkir di area parkir khusus eselon II Kantor Gubsu, Jl. P Diponegoro Medan, Senin (30/7).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Para pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) sepertinya tidak memberikan contoh yang baik pada masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya kendaraan dinas di Pemprovsu yang diduga menggunakan kendaraan plat bodong.

Informasi yang berhasil Sumut Pos himpun hingga Rabu (1/8), mayoritas kendaraan dinas berplat bodong itu dipakai pejabat eselon II dan eselon III Pemprovsu. Kendaraan tersebut juga diduga sudah sering seliweran di Kantor Gubernur Sumut, Jalan P Diponegoro Medan.

Bahkan berdasar amatan pada Senin (30/7) kemarin, sejumlah mobil mewah dan keluaran tahun tinggi tanpa nomor seri plat itu, terparkir rapi di area parkir khusus pejabat eselon II.

Antara lain mobil yang terpakir dan diduga memakai plat bodong yakni Toyota Fortuner BK 37, Mitsubishi Pajero BK 74 dan mobil lainnya yang juga cuma memakai dua angka pada nomor polisinya tanpa seri. Kondisi plat kendaraan tersebut juga tampak polos seperti tidak keluaran resmi dari Samsat.

Kepala Bagian Aset pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Setdaprovsu, Suryadi, terkesan tak ingin dikonfirmasi wartawan perihal ini. “Sebelum saya jawab konfirmasi ini, saya harus tahu dulu dari mana sumber informasi tersebut,” tanya dia balik.

Saat diterangkan bahwa wartawan punya dokumentasi sejumlah mobil diduga berplat bodong itu terparkir di Kantor Gubsu, dirinya lalu terdiam. Ia lantas menjanjikan untuk ketemu langsung supaya bisa melihat foto mobil seperti yang wartawan sampaikan. Sayangnya, saat hendak ditemui di ruangannya dan dihubungi lagi, Suryadi tidak berada di tempat serta tak mau mengurus sambungan komunikasi wartawan.

Asisten Administrasi Umum dan Aset Setdaprovsu, Zonny Waldi, saat dikonfirmasi seolah menampik kondisi peredaran mobil yang diduga memakai plat bodong di kalangan pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemprovsu. “Oh iya, nanti kita informasikan kepada mereka (pengguna mobil) bahwa itu tidak boleh. Apalagi jika tidak ada dasar hukumnya, jangan (dipakai, Red),” katanya, Rabu (1/8).

Menurut dia, kendaraan seperti tidak sepantasnya dipakai oleh pejabat Pemprovsu. “Iya tidak bolehlah. Kecuali memang berseri. Seperti L, K, J yang biasa dipakai,” katanya.

Terpisah, Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman mengaku akan segera memanggil Kepala BPKAD Agus Tripriyono atas kondisi ini. “Saya banyak mendengar informasi seperti ini dari kawan-kawan wartawan. Jadi untuk menjawab dan mengklarifikasi hal tersebut, sebagai lembaga pengawasan eksekutif kami akan memanggil bidang aset Pemprovsu. Menanyakan kebenaran kabar tersebut,” katanya.

Ia menyebut, selain persoalan plat bodong kendaraan dinas pihaknya juga akan mempertanyakan mobnas yang sebelumnya ditarik pemprov dari legislatif, diperuntukkan kemana. “Ini yang nanti akan kita klarifikasi supaya clear. Karena untuk mobil dinas anggota dewan, memang sekarang tidak diberikan lagi oleh negara. Nanti melalui komisi terkait kami akan panggil pejabat berwenang dalam waktu dekat,” pungkasnya. (prn/ila)

Dua Bacaleg di Tebingtinggi Pindah Parpol

Anggota Komisioner KPU Tebingtinggi Wal Ashri. (Sopian/Sumut Pos)
Anggota Komisioner KPU Tebingtinggi Wal Ashri. (Sopian/Sumut Pos)

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Di di Kota Tebingtinggi, dua anggota DPRD yang masih aktif dari Partai PKPI, pindah parpol saat pendaftaran Bacaleg. KPU mengatakan, belum menerima surat pengunduran diri mereka dari parpol lama.

Komisioner KPU Kota Tebingtinggi Divisi Teknis, Wal Ashri, mengatakan, kedua anggota DPRD tersebut adalah Samsul Bahri dan Edi Saputra. Samsul sudah dua priode menjadi anggota dewan, dan sekarang menjabat badan kehormatan dewan di DPRD Kota Tebingtinggi. Saat mendaftar bacaleg, ia mendaftar melalui Partai Amanat Nasional (PAN).

Sedangkan Edi Saputra, juga masih menjadi anggota DPRD dari PKPI, mendaftar bacaleg melalui Partai Hanura.

“KPU sudah melayangkan surat kepada pihak terkait yaitu pimpinan Parpol dan Ketua DPRD Tebingtinggi, untuk memberikan pernyataan surat pengunduran diri mereka dari parpol lama. Berkas pengunduran diri mereka masih diproses. Apabila sampai pada penetapan Daftar Calon Tetap (DCT) belum ada, nama keduanya bisa dicoret alias batal menjadi caleg,”terang Wal Ashri.

Sebelumnya, Edi Saputra menyatakan dirinya siap di-PAW karena pindah parpol saat mendaftar bacaleg. Menurutnya, ia pindah karena selama ini PKPI di pusat terbagi dalam dua kepengurusan.

Pengurus Partai PKPI Tebingtinggi, O Silalahi, menyatakan pihaknya segera melayangkan surat ke pusat memberitahukan dua anggota DPRD dari PKPI, pindah parpol saat mendaftar bacaleg di KPU untuk Pileg 2019. (ian)

Parpol di Sumut Klaim Daftarkan Kader Murni

Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tanjung.
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tanjung.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jumlah bakal calon legislatif yang ‘lompat pagar’ alias pindah partai untuk didaftarkan sebagai peserta Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, dinilai meningkat dibanding bacaleg lompat pagar pada Pileg 2014 lalu. Namun sejumlah partai politik di Sumatera Utara mengklaim, tidak ada bakal calon legislatifnya yang ‘lompat pagar’ alias pindah partai untuk Pileg 2019 mendatang.

Sejumlah parpol menyatakan, orang-orang yang sudah didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), merupakan kader murni mereka. Seperti penuturan Plt Ketua Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, yang menyebut bahwa mulai dari penjaringan sampai pendaftaran bacaleg pihaknya tidak ada mengambil bacaleg dari parpol lain. Melainkan murni kader Golkar Sumut.

“Alhamdulillah, dari proses pada 14-17 Juli dan tadi malam berakhir (31 Juli), semua yang kita calonkan kader murni Golkar,” katanya kepada Sumut Pos, Rabu (1/8).

Apalagi, kata Doli, meski diakui bahwa sistem rekrutmen pencalegan periode ini sangat rumit dibanding sebelumnya, pihaknya masih punya banyak stok kader potensial yang bisa diusung untuk Pileg mendatang. “Tapi ternyata alhamdulilah stok kader kita masih banyak. Saya bisa pastikan terutama 100 orang yang kita daftarkan untuk DPRD Sumut, itu adalah kader-kader Golkar,” katanya.

Senada, Ketua Partai Hanura Sumut, Kodrat Shah mengatakan untuk tingkat I tidak ada bacaleg Hanura yang eksodus ke parpol lain. Justru bacaleg dari parpol lain yang pindah ke Hanura, tetapi untuk tingkat kabupaten/kota. “Kita tidak perlu orang-orang yang tidak setia dengan Hanura. Tapi yang lompat ke kita ada, cuma angkanya saya gak ingat pasti, lebih dari 10 orang. Itu pun di tingkat kabupaten/kota,” katanya.

Sekretaris PKS Sumut, Abdul Rahim Siregar juga mengklaim hal serupa. Menurutnya, PKS tetap akan memprioritaskan kader sendiri maju sebagai bacaleg, ketimbang memakai orang dari parpol lain. “Semuanya yang maju adalah kader PKS. Baik di tingkat provinsi sampai kabupaten dan kota,” katanya.

Bahkan sejumlah nama diakuinya ada yang ‘naik kelas’. Di mana sebelumnya mencaleg dari kabupaten/kota, kini mencoba peruntungan di tingkat provinsi. “Ya, ada beberapa nama. Seperti Salman Alfarisi, Jumadi dan lainnya,” katanya.

Sekretaris Partai Gerindra Sumut, Robert Lumbantobing juga mengungkapkan, bahwa pihaknya lebih dominan menempatkan kader-kader potensial sendiri, daripada memakai sosok di luar partai. Adapun bacaleg yang pindah dari parpol lain dan bergabung ke Gerindra, seperti Subandi, eks kader PAN yang juga pernah mencalon sebagai Wakil Bupati Deliserdang, menurutnya sudah lama terjadi. “Tapi itu pun dia sudah hampir lima tahun menjadi kader Gerindra. Jadi memang kita utamakan kader sendiri yang maju,” ujarnya.

Demikian halnya dengan PKB Sumut yang juga murni mendaftarkan para bacalegnya dari kader sendiri. “Ya, kita pakai kader sendiri diri saja. Apalagi kan pemilih PKB itu rata-rata kader kita juga. Jadi tidak ada dari luar,” katanya.

Partai Demokat Sumut juga mengungkapkan hal senada. Menurut Plt Ketua Demokrat Sumut, Herri Zulkarnain, pihaknya mayoritas memanfaatkan kader-kader dari dalam ketimbang sosok di luar parpol. Meski begitu, ia belum mengaku belum mengetahui adakah dari kadernya sendiri yang mencaleg dari parpol lain. “Kalau ada tentu harus menyertakan surat pengunduran diri. Tapi sejauh ini saya belum teliti lagi,* katanya.

PAN Sumut sedikit berbeda dengan lima parpol lain. Mereka mengakui ada eks kader parpol lain yang mendaftar dari PAN untuk tingkat DPRD Sumut. “Salah satunya untuk bacaleg kita di provinsi, memang ada eks kader Demokrat, yakni Srijati Pohan. Dia berbaring di dapil 9 eks Tapanuli Utara, Tapteng dan Sibolga. Beliau juga mantan anggota DPRD Medan,” ungkap Ketua PAN Sumut Yahdi Khoir.

Ia mengatakan untuk komposisi bacaleg mereka tingkat provinsi, mayoritas menempatkan kader sendiri ketimbang parpol lain. Diakuinya juga untuk tingkat bacaleg kabupaten dan kota ada diambil dari parpol lain, terkhusus di wilayah seperti Kepulauan Nias. “Persentasenya saya tidak hafal, tetapi untuk di provinsi itu tidak ada. Di daerah-daerah yang kemungkinan ada. Misalnya di Tebingtinggi dan Nias,” terangnya. (prn)

Truk Parkir Sembarangan, Jalan KL Yos Sudarso Macet

Foto: Fachril/Sumut Pos Truk-truk parkir sembaraban di Jalan Yos Sudarso, Medan.
Foto: Fachril/Sumut Pos
Truk-truk parkir sembaraban di Jalan Yos Sudarso, Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sejumlah truk kembali parkir sembarangan di sepanjang Jalan KL Yos Sudarso di Kecamatan Medan Deli dan Medan Labuhan, Rabu (1/7). Akibatnya, truk – truk yang parkir sembarangan di pinggir bahu jalan, mengganggu aktivitas lalu lintas bagi kendaraan lain.

Truk yang umumnya bermuatan pupuk dan bahan keperluan pabrik, parkir di pinggir bahu jalan sudah berulang kali mengundang kecelakaan lalu lintas. Harapan masyarakat, agar truk yang parkir di akses Medan – Belawan segera ditertibkan.

“Sudah lama truk – truk parkir seperti ini, mereka parkir untuk bongkar muat, jadi seenaknya parkir di pinggir jalan. Bahkan, parkirnya sampai bermalam, kalau tidak nampak, bisa terjadi kecelakaan,” kata Fransiskus warga sekitar.

Menanggapi itu, anggota DPRD Kota Medan, Surianto menegaskan, pihak terkait (Dishub dan Polantas), harus melakukan tindakan tegas. Sebab, sangat bahaya yang ditimbulkan dari truk yang parkir dibahu jalan, sebab jalan atau badan jalan bukan untuk menjadi tempat parkir.

Kecuali, kata anggota dewan akrab disapa Butongg ini, truk bisa parkir di pinggir jalan, bila dalam keadaan darurat seperti rusak atau mogok, itupun pemilik kenderaan harus memasang tanda lalu lintasnya.

“Badan jalan meliputi jalur lalu lintas, tanpa jalur pemisah dan bahu jalan. Setiap orang dilarang memanfaatkan ruang jalan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan hingga berkurangnya kapasitas jalan dan kecepatan lalu lintas. Jadi, instansi terkait untuk segera melakukan tindakan,” tegas Butong.

Sebelumnya, Kasat Lantas Polres Pelabuhan Belawan, AKP MH Sitorus mengatakan, pihaknya sudah melakukan tindakan, bahkan ada beberapa truk yang sudah ditindak langsung (Tilang).

Untuk itu, perwira berpangkat tiga balok emas ini berjanji akan melakukan tindakan bagi truk yang masih parkir sembarangan. “Akan kita cek, bila terbukti ada truk yang masih parkir sembarangan, akan kita tindak,” tegas MH Sitorus. (fac/ila)

Imunisasi MR Serentak di 13 Daerah di Sumut

File/SUMUT POS - Petugas Puskesmas Glugur Darat memberikan vaksin imunisasi polio kepada seorang balita, di Jalan Pendidikan, Kec Medan Timur, Jumat (11/3) lalu. PIN Polio bagi balita ini, dilakukan serentak di seluruh Indonesia dari 8-15 Maret 2016 mendatang.
File/SUMUT POS – Petugas Puskesmas Glugur Darat memberikan vaksin imunisasi polio kepada seorang balita, di Jalan Pendidikan, Kec Medan Timur, Maret lalu. Pada Rabu (1/8), Dinkes Sumut menggelar Imunisasi Measles (campak) dan Rubella serentak di 13 daerah di Sumut.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Imunisasi Measles (campak) dan Rubella Fase II untuk Pulau Sumatera serentak dilaksanakan Rabu (1/8). Di Sumut, setidaknya ada kurang lebih 4 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun target penerima imunisasi program nasional atas inisiasi World Health Organization (WHO) ini.

Kepala Seksi (Kasi) Imunisasi Dinkes Sumut, Suhadi, menerangkan, setidaknya 13 kabupaten/kota di Sumut melaksanakan imunisasi MR per awal Agustus. Seperti yang sudah direncanakan imunisasi akan menyasar peserta didik yang akan dilaksanakan di sekolah-sekolah dan selanjutnya akan berlanjut di sejumlah fasilitas pendidikan September nanti.

“13 Kabupaten itu di antaranya Tapanuli Utara (Taput) sebanyak 99.856 anak, Dairi 96.236, Deliserdang 612.754, Langkat 295.066, Pakpak Bharat 17.322, Serdang Bedagai 177.098, Batubara 126338, Nias Barat 31.825, Kota Tanjung Balai 54.621, Kota Tebingtinggi 43.261, Kota Medan 552.869, Kota Binjai 70.809, Kota Gunung Sitoli 44.943,” ungkap Suhadi kepada Sumut Pos, Rabu (1/8).

Dinkes Sumut sudah memantapkan segala keperluan agar pelaksanaan program ino berhasil. Namun, ada tantangan lain yang harus mereka hadapi, isu negatif dampak imunisasi. “Jadi masih ada penolakak dari pihak sekolah. Seperti kita ketahui, banyak menyebar teori konspirasi bernada negatif tentang yang namanya imunisasi,” terangnya.

Isu yang berkembang di masyarakat ada soal terkait teori konspirasi yang menyebutkan bahayanya imunisasi. Mulai soal dikaitpautkan dengan agama akan haram imunisasi, ada pula kabar tidak benar yang menyatakan imunisasi menyebabkan autis bagi si anak.

“Padahal sudah ada fatwa dari MUI yang memperbolehkan soal imunisasi, kemudian isu negatif yang menyatakan imunisasi menyebabkan autis itu tidak sepenuhnya benar. Saya berani tegaskan, vaksin yang kami gunakan ini aman, sudah diuji oleh BPOM,” terangnya.

Hari Ini Relokasi Pedagang Pasar Timah

Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PASAR TIMAH: Suasana pasar timah beberapa waktu lalu. Para pedagang menolak untuk pindah dari lokasi pasar.
Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
PASAR TIMAH: Suasana pasar timah beberapa waktu lalu. Para pedagang menolak untuk pindah dari lokasi pasar.

MEDAN, SUMUTPOS.CO Relokasi para pedagang di Pasar Timah oleh Satpol Kota Medan dikabarkan akan dilakukan hari ini, Kamis (2/8). Relokasi dilakukan untuk melanjutkan proyek revitalisasi bangunan pasar tersebut.

Sekretaris Satpol PP Kota Medan Rahmad Harahap yang dikonfirmasi enggan membocorkan waktu relokasi. Namun, Rahmad mengakui memang akan melakukan relokasi pedagang di pasar itu. “Kalau kabar akan direlokasi besok (hari ini, Red) saya kurang tahu. Tapi yang jelas, suratnya sudah masuk dan waktunya pada pekan ini,” kata dia, Rabu (1/8).

Diutarakan Rahmad, relokasi dilakukan berdasarkan hasil RDP di Komisi III DPRD Medan yang telah disepakati. Dalam RDP itu, dihadiri Pemko Medan dan pengembang.

Sementara, Anggota Komisi III DPRD Medan, Dame Duma Sari Hutagalung mengatakan, sudah seharusnya Satpol PP melakukan proses pengosongan lahan Pasar Timah. Artinya, harus bersikap tegas kepada pedagang.

“Jangan hanya karena penolakan dari pedagang maupun pihak-pihak tertentu, program revitalisasi yang sudah bertahun-tahun ini menjadi tidak jalan. Makanya, Pemko harus tegas,” ujarnya.

Dikatakan Dame, sebelumnya Pemko Medan telah menyurati Satpol PP untuk segera merelokasi pedagang pada 27 Juli lalu. Akan tetapi, tidak dilakukan karena pedagang menolak dengan alasan berulang yaitu sedang dalam gugatan.

“Gugatan pedagang yang dilakukan hanya sebatas administrasi dan tidak ada hubungannya dengan proses hukum yang berkaitan langsung dengan pembangunan. Sebab, yang digugat pedagang mengenai masalah IMB tempat relokasi bukan gedung pasarnya,” ujar anggota dewan dari fraksi Partai Gerindra ini.

Dame menilai ada keanehan atau kejanggalan dari penolakan yang dilakukan pedagang. Dengan kata lain, ada aktor atau oknum dibalik penolakan pedagang. “Aneh rasanya tempat berjualan pedagang mau dibuat cantik tapi kok ditolak, ada apa ini sebenarnya. Makanya, ada oknum di balik penolakan pedagang,” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Medan yang juga Anggota Komisi III, Hasyim, meminta Pemko Medan untuk tidak menindaklanjuti rekomendasi yang dikeluarkan terkait relokasi Pasar Timah.

“Kemarin (Senin, 30/7) Komisi III menggelar RDP terkait Pasar Timah dengan pengembang dan perwakilan Pemko Medan. Namun yang anehnya kenapa pedagang sendiri tidak diundang dalam RDP itu, ada apa ini? Selain itu, saya juga tidak diundang padahal saya juga anggota Komisi III, apa ada kepentingan lain,” ungkap Hasyim.

SAR Medan dan Malaysia Latihan Tanggap Bencana

Foto: M Idris/Sumut Pos Kepala Kantor SAR Medan Toto dan SAR Malaysia M Ishaq (kemeja putih) sedang melakukan koordinasi dalam latihan bersama tanggap bencana wilayah perbatasan kedua negara, Rabu (1/8).
Foto: M Idris/Sumut Pos
Kepala Kantor SAR Medan Toto dan SAR Malaysia M Ishaq (kemeja putih) sedang melakukan koordinasi dalam latihan bersama tanggap bencana wilayah perbatasan kedua negara, Rabu (1/8).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Badan SAR Nasional (Basarnas) melalui Kantor SAR Kota Medan menggelar latihan bersama dengan SAR Malaysia, di Kantor SAR Medan Jalan Jamin Ginting, Rabu (1/8). Latihan itu digelar untuk mengasah kemampuan tanggap bencana di wilayah perbatasan.

Dalam latihan bersama tersebut, selain Kantor SAR Medan, Basarnas dan SAR Malaysia, turut serta dari BMKG, TNI, Polri dan instansi terkait.

Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Didi Hamzar mengungkapkan, latihan ini digelar sejak 30 Juli hingga 3 Agustus mendatang. Kebetulan, sekarang digelar di Medan atau Sumut karena terdapat wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Menurut Didi, latihan bersama antar kedua negara ini untuk menguji atau mengasah kemampuan personel SAR yang selama ini sudah berlatih. Dengan begitu, sewaktu-waktu ada bencana bisa langsung tanggap.

“Walaupun sudah terlatih tetapi perlu diuji kemampuan tanggap bencana, baik itu secara internal maupun eksternal. Latihan uji kemampuan ini dalam hal perencanaan mempersiapkan operasi SAR, penggunaan peralatan dan prasarana serta mampu berkoordinasi dengan negara tetangga,” ungkap Didi didampingi Humas Basarnas M Yusuf Latief dan Kepala Kantor SAR Medan Toto.

Diutarakan Didi, melalui latihan ini diharapkan memudahkan pengerahan unsur-unsur operasi SAR. Apabila terjadi kecelakaan pada batas kedua negara, maka masing-masing negara harus membuat security clearence yang nantinya diurus oleh duta besar atau kementerian.

“Jadi ketika terjadi kecelakaan di wilayah perbatasan yakni Selat Malaka, maka unsur SAR terdekat kita yaitu di Tanjung Balai-Asahan langsung terjun ke lapangan. Selain personil, peralatan seperti helikopter, kapal dan lainnya dikerahkan juga setelah dilakukan perencanaan sebelumnya,” terangnya.

Kepala Kantor SAR Medan Toto menambahkan, dengan adanya pelatihan bersama ini ke depannya sudah terbiasa untuk tanggap bencana pada wilayah perbatasan. Artinya, bisa lebih cepat memberikan informasi dan menggelar operasi SAR bersama dalam mengatasi bencana karena sudah saling mengerti apa yang harus dilakukan.

“Kami ingin sinergi kedua negara ini semakin membaik, meningkat dan efektif. Sebab, semakin cepat informasi yang kita sampaikan dalam layanan operasi SAR, maka semakin besar peluang korban terselamatkan. Namun, jika semakin lama waktu informasi yang disampaikan maka semakin kecil peluang korban diselamatkan,” jelasnya.

Toto mengatakan, pada pelatihan ini disimulasikan telah terjadi loss contact terhadap pesawat ATR 72 dengan rute penerbangan Kualanamu Internasional Airport (KNIA) menuju Subang. Pesawat tersebut diperkirakan kehilangan kontak dengan pihak ATC Bandara Kualanamu di Selat Malaka, perbatasan wilayah Indonesia-Malaysia.

“Dari informasi yang diterima pihak bandara, kita menggali kembali dengan menanyakan dimana lokasi, kronologi, data penerbangan dan lainnya. Setelah itu, dilakukan ploting atau kroscek lokasi kejadian di peta. Ternyata, hasilnya diketahui terjadi di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia,” paparnya.

Oleh sebab itu, lanjut Toto, langkah selanjutnya melakukan koordinasi dengan pihak SAR Malaysia. Sebab, sesuai kesepakatan apabila terjadi kecelakaan di wilayah perbatasan kedua negara, maka dilakukan operasi bersama.

Sementara, mewakili SAR Malaysia M Ishaq mengatakan, latihan bersama ini sangat bermanfaat tentunya bagi kedua negara dalam menghadapi bencana terutama di wilayah perbatasan. “Latihan bersama tanggap bencana ini bukan kali pertama dilakukan, melainkan sebelumnya sudah terjalin. Akan tetapi, dengan latihan ini dapat lebih memperkuat kemampuan dan koordinasi kedua negara,” ujarnya. (ris/ila)

Tren Bacaleg ‘Lompat Pagar’ Meningkat di Sumut

FOTO: IQBAL/SUMUT POS EVALUASI: Wagubsu Dr Hj Nurhajizah Marpaung saat menyampaikan perkembangan Geopark Kaldera Toba (GKT) pada evaluasi bersama sejumlah Kementerian di Aula Mess Pora-Pora Tengku Rizal Nurdin, Parapat, Kamis (17/5).
FOTO: IQBAL/SUMUT POS
Dr Hj Nurhajizah Marpaung di  Parapat, Mei lalu. Nurhajizah pindah dari Partai Hanura ke Partai NasDem.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tren bakal calon legislatif yang ‘lompat pagar’ alias pindah partai untuk didaftarkan sebagai peserta Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, dinilai meningkat dibanding bacaleg lompat pagar pada Pileg 2014 lalu. Kkecenderungan ini disebabkan kehadiran parpol baru peserta pemilu, hingga 4 parpol. Termasuk di Sumatera Utara.

Angka pasti soal tren penyeberangan caleg ini, sesuai statistik memang belum diketahui. Tetapi mengambil basis analisis dari ketidakjelasan code of conduct partai-partai baru peserta pemilu, tren itu diperkirakan muncul.  Parpol baru dimaksud antara lain Partai Perindo, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Garuda, dan Partai Berkarya.

“Hari ini, ada sejumlah parpol baru di mana nyaris tidak punya orang untuk direkrut dalam perspektif kader original. Juga belum punya pengalaman berpolitik seutuhnya. Maka diyakini tren ‘lompat pagar’ caleg akan lebih banyak dari sebelumnya,” kata Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Ansor Siregar, kepada Sumut Pos, Rabu (1/8).

Hal kedua, lanjut dia, disebabkan faktor konflik di internal organisasi parpol sendiri. Antara lain saat parpol tersebut melakukan musyawarah penentuan pengurus baru di semua level. “Jadi ketika tidak terpilih, dia dan rezimnya keluar karena tidak dipakai oleh pengurus yang baru. Nah kalau di level nasional, konflik penentuan pengurus itu bisa menghasilkan parpol baru, seperti NasDem dan Perindo,” ungkapnya.

Oleh karenanya, hemat Shohibul lagi, kedua peristiwa yang saling berkaitan ini pulalah yang kerap menjadi garis besar dari penyebrangan para bacaleg itu. “Saya kira angka ataupun kecenderungan penyeberangan bacaleg akan meningkat di pemilu mendatang. Dan itu berpulang kepada parpol-parpol bersangkutan sesuai sistem politik tanah air kita,” imbuhnya.

Ia menyebut, idealnya setiap parpol punya kader yang harus dijejali dengan ideologi partai yang kuat. Di mana apabila ingin menyebrang ke parpol lain, tidak diperbolehkan dalam jangka waktu minimal tiga tahun. Tapi fakta yang ada, di Indonesia tidak bisa terjadi hal yang demikian. Terlebih semua parpol pasti ada penyokong dana dibelakangnya sehingga partai tersebut mampu berjalan sampai sekarang.

“Kalau nggak dari mana uangnya. Semuanya kan butuh pendanaan,” pungkasnya.

Di Sumatera Utara, fenomena bacaleg lompat pagar antara lain Nurhazizah Marpaung (mantan Wagubsu), sebelumnya dari Hanura, sekarang mencalon dari Partai NasDem.

Eks kader Demokrat, Srijati Pohan, melompat ke PAN. Eks Caleg PAN lompat ke Partai Gerindra Sumut, atas nama Subandi.

Godfried Effendi Lubis pada Pemilu 2014 lalu mendaftar dari Partai Gerindra, yang mengantarkannya duduk di DPRD Kota Medan. Sebelumnya pada pemilu 2009, Godfried duduk di DPRD Medan dari Partai Kesatuan Demokrasi Indonesia (PKDI). Sebelumnya, ia pun pernah bergabung di Partai Damai Sejahtera (PDS) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Pada Pileg 2019, Godfried mendaftar dari Perindo.

Politisi Lainnya adalah Landen Marbun. Dia sudah enam kali masuk-keluar parpol. Awal sekali di Golkar. Menjadi anggota DPRD Medan tahun 1999 dari Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI). Periode 2004 ia pindah ke Partai Patriot. Periode 2009 ia pindah ke Partai Damai Sejahtera (PDS). Dan 2014 lalu ia ke Hanura.

Pileg 2019, Landen mendaftar dari Partai Nasdem.

Wakil Gubernur Sumut pengganti antarwaktu periode 2013-2018, Nurhajizah Marpaung juga pindah partai. Semula kader Partai Hanura, kini Nurhajizah pindah ke partai Nasdem.

Caleg lainnya yang juga lompat pagar yakni Rony Situmorang, sebelumnya dari Partai Demokrat, kini mencalon dari Partai NasDem. Syahrial Tambunan dari Partai Demokrat juga pindah ke Nasdem. Sementara Januari Siregar lompat pagar dari PKPI, ke partai baru Perindo.

Masih banyak nama bacaleg yang lompat pagar di Sumut. Belum terhitung bacaleg di tingkat kabupaten/kota. (prn)

Penduduk Miskin di Sumut 1,3 Juta Jiwa, Turun 16 Ribu

Foto: TRIADI WIBOWO/SUMUT POS Sejumlah anak melintas di sisi rel perlintasan kereta api jalan Padang Mandala Medan, belum lama ini. Penduduk miskin di Sumut tahun ini mencapai 1,3 juta jiwa.
Foto: TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
Sejumlah anak melintas di sisi rel perlintasan kereta api jalan Padang Mandala Medan, belum lama ini. Penduduk miskin di Sumut tahun ini mencapai 1,3 juta jiwa.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sampai Maret 2018, angka kemiskinan di Sumut berjumlah 1.324.980 jiwa, atau 9,22 persen dari total 15 juta penduduk di Sumut. Pengeluaran masyarakat miskin ini sebesar Rp435.970 per kapita per bulan.

“Angka kemiskinan di Sumut mengalami sedikit penurunan, dari 9,28 persen pada September 2017 menjadi 9,22 persen Maret 2018. Pada September 2017, jumlah masyarakat miskin di Sumut sebanyak 1.325.570 jiwa. Atau hanya berkurang sekitar 16 ribu jiwa dalam satu semester terakhir pada tahun 2018,” jelas Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Mukhamad Mukhanif, dalam jumpa pers di Kantor BPS Sumut di Medan, Rabu (1/8) siang.

Mukhamad mengatakan, persentase kemiskinan di daerah perkotaan pada Maret 2018 sebesar 9,15 persen, atau mengalami sedikit kenaikan dibanding pada September 2017 sebesar 8,96 persen. Berbeda dengan perkotaan, penduduk miskin di daerah pedesaan justru turun, dari 9,62 persen pada September 2017, menjadi 9,30 persen di bulan Maret 2018.

“Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi garis kemiskinan,” tuturnya.

Mukhamad menjelaskan, faktor-faktor yang diduga mempengaruhi penurunan tingkat kemiskinan di Sumut pada periode September 2017 hingga Maret 2018, pertama secara umum inflasi relatif terkendali, yaitu sebesar 1,72 persen. Kedua, harga eceran komoditas penting relatif stabil.

“Ketiga, beras sejahtera (Rasta) telah lancar disalurkan ke rumah tangga. Keempat, tingkat pengangguran terbuka mengalami sedikit penurunan, yaitu 5,60 persen pada Agustus 2017 menjadi 5,59 persen pada Febuari 2018. Terakhir, pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan dari 4,50 persen pada triwulan I 2017 menjadi 4,73 persen pada triwulan I 2018,” tutur Mukhamad.

Sementara itu, untuk pengeluaran masyarakat miskin di Sumut sampai Maret 2018 sebesar Rp435.970 per kapita per bulan. Untuk daerah perkotaan, pengeluarannya sebesar Rp448.363 per kapita per bulan.

“Dibandingkan September 2017, pengeluaran masyarakat miskin di Sumut naik sebesar 2,90 persen atau Rp 423.696 per kapita per bulan. Untuk perkotaan, pengeluaran naik 2,16 persen yaitu sebesar Rp 435.970 per bulan. Sedangkan pedesaan naik 3,54 persen atau Rp421.586 per bulan,” katanya. (gus)