Home Blog Page 6190

Tandatangani Petisi, Massa KMAB Minta KPK Bebaskan Irwandi

Seribuan massa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Aceh Bersatu (KMAB),melakukan aksi damai di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Aceh, Senin (9/7).

ACEH, SUMUTPOS.CO – Seribuan massa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Aceh Bersatu (KMAB), Senin (9/7), melakukan aksi damai di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Aceh.

Dalam aksinya, massa dari berbagai daerah ini menuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membebaskan gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf.
Aksi unjuk rasa ini merupakan bentuk protes atas penahanan terhadap Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, oleh KPK terkait kasus dugaan suap ijon proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh Tahun Anggaran 2018.
“Kita menuntut KPK dan pemerintah pusat untuk mengembalikan Gubernur Irwandi ke Aceh,” kata Fahmi Nuzula selaku koordinator lapangan dalam orasinya.
Massa juga meminta KPK untuk melakukan penangguhan penahanan terhadap Gubernur Irwandi Yusuf. Menurutnya, ada kejanggalan dalam penangkapan orang nonor satu di Aceh tersebut. Karena, kata dia, penangkapan yang dilakukan KPK dinilai penuh dengan unsur politik.
Pantauan wartawan, aksi yang dikawal ketat oleh petugas Kepolisian tersebut berjalan tertib.
Selain melakukan orasi, peserta aksi juga menandatangani petisi bebaskan Irwandi Yusuf pada tiga lembar kain putih yang disediakan.
Diketahui, Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf diamankan oleh KPK Selasa (3/7) malam lalu. Irwandi ditangkap KPK bersamaan dengan Bupati Bener Meriah Ahmadi serta dua orang lainya dari pihak swasta yang disebut-sebut orang terdekat Irwandi.
Dalam kasus ini, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf diduga menerima suap Rp 500 juta dari Bupati Bener Meriah Ahmadi. Diduga uang itu bagian dari commitment fee sebesar Rp 1,5 miliar yang diminta oleh Irwandi kepada Ahmadi.(zal)

Mendagri Lantik Nova Iriansyah Jadi Plt Gubernur Aceh

Nova Iriansyah

ACEH, SUMUTPOS.CO – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, melantik Nova Iriansyah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh.

Pelantikan dan penyerahan surat penugasan Plt Gubernur Aceh tersebut, berlangsung di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (9/7).
Selain menyerahan surat tugas Plt Gubernur Aceh kepada Nova Iriansyah, Mendagri juga turut menyerahkan SK pelaksana tugas Bupati Bener Meriah kepada Syarkawi.
Keduanya dilantik sebagai Plt pasca Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf dan Bupati Bener Meriah nonaktif Ahmadi,ditahan oleh KPK usai ditetapkan sebagai tersangka korupsi suap terkait pengalokasian dan penyaluran dana Otonomi Khusus Aceh Tahun Anggaran 2018.
Keduanya ditangkap oleh KPK pada Selasa malam (3/7/2018) di Aceh. Selain Irwandi dan Ahmadi, KPK juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka yakni Syaiful Bahri dan Hendri Yuzal.
Mereka ditangkap dengan barang bukti uang tunai senilai Rp500 juta dan bukti transfer ke sejumlah nomor rekening Bank Mandiri dan BCA senilai Rp50 juta, Rp190 juta dan Rp173 juta.(zal)

Drama Remaja Dalam Gua

Oleh: Dahlan Iskan

Ini seperti kisah-kisah petualangan remaja ala Enid Blyton. Sejumlah anak remaja masuk gua. Terjebak di dalamnya. Berhari-hari. Orang tua mereka cemas. Pahlawan tidak segera datang.

Tapi ini sungguhan. 12 remaja beneran ini sudah dua minggu terjebak dalam gua beneran. Terperangkap.

Minggu kemarin lebih 1.000 wartawan beneran berkumpul di depan gua. Sejak beberapa hari sebelumnya. Tagihan tilpon saya pasti membengkak. Kisah ini terlalu dramatik untuk dilewatkan. Saya harus menuliskannya. Dari jarak jauh. Dari Samarinda.

Drama ini bermula tanggal 23 Juni lalu. Hari Sabtu. Saat Korea Selatan melawan Mexico. Di babak penyisihan Piala Dunia Russia.

Saat itu satu tim sepakbola remaja di pedalaman Thailand giat berlatih. Kampung mereka di pegunungan. Sulit dijangkau. Di perbatasan antara Thailand dan Myanmar. Dekat kampung mereka ada gua terkenal: Tham Luang.

Panjangnya 10 km. Bercabang. Berbelok. Mulut guanya kecil. Di dalamnya melebar-menyempit. Dasar guanya naik-turun.

Pelatih 12 anak itu lagi absen. Hari itu tim diasuh asisten pelatih berumur 25 tahun: Ekapol. Nama panjangnya sulit dieja: Ekapol Chanthawong.

Sebelum sesi latihan Ekapol mengajak anak asuhnya rekreasi sambil bertualang: masuk gua. Ini penting. Untuk pembentukan kekuatan mental  pemain sepakbola.

Salah seorang remaja itu, Pheeraphat, dipesani khusus oleh orangtuanya: habis latihan agar cepat pulang. Malam itu adalah malam ulangtahunnya yang penting: sweet seventeen. Umurnya 16 tahun. Tapi dihitung 17 untuk tahun Thailand. Yang punya kalender sendiri.

Orang tua Pheeraphat sudah masak-masak. Dan beli kue ultah. Juga sudah mengundang kerabat.

Tapi sampai matahari tenggelam Pheeraphat belum pulang. Tamu mulai berdatangan. Kepanikan mulai muncul. Ditelepon tidak ada nada sambung.

Sesama orang tua saling terhubung. Sama-sama bingung. Sama-sama gagal kontak. Satu-satunya anggota tim yang bisa tersambung mengecewakan: hari itu ia tidak ikut latihan.

Pelatih utama tim sepakbola desa itu ikut panik. Tapi juga gagal mengontak asistennya. ”Sejak pagi saya sudah berpesan padanya agar hati-hati. Agar naik sepedanya di posisi paling belakang. Untuk bisa mengawasi anak asuh,” ujar sang pelatih pada para orang tua.

Sampai tengah malam tidak ada kabar. Usia anak-anak itu antara 11 sampai 16 tahun. Kepanikan kian tinggi. Hujan deras tidak henti-hentinya. Pegunungan itu kian mencekam.

Bulan Juli-Agustus adalah musim moonson. Kita, di negara tropis, hanya mengenal musim kemarau dan musim hujan. Dunia belahan utara dan selatan hanya mengenal empat musim: dingin, semi, panas, gugur.

Tapi di belahan dunia tertentu mengenal musim moonson: India, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Tiongkok bagian selatan. Yakni di wilayah antara dua musim dan empat musim.

Di musim moonson seperti ini hujan, badai, banjir dan taifun hampir terjadi setiap hari. Simaklah berita tv. Selalu ada banjir besar di negara-negara itu.

Musim moonson adalah musim yang paling tidak enak di wilayah-wilayah tersebut. Kebalikan dari kenyamanan di Sumba. Bukan saja terlalu basah. Tapi udaranya juga sangat humid. Sumuk. Kemringet. Hen men. Swety. Jangan ke Thailand dan sekitarnya di musim seperti ini. Ke Sumba saja.

Sampai sekian hari itu tidak ada yang tahu kalau anak mereka sebenarnya terjebak di dalam gua. Tidak ada yang mendengar rencana ke gua. Tidak ada yang menyangka anak mereka diajak ke gua di musim moonson.

Keesokan harinya keberadaan mereka masih gaib. Hujan masih tercurah dari langit yang hitam. Hari-hari berikutnya tetap gaib. Satu negara iikut heboh. Mistis ikut mewarnai.

Akhirnya ada yang menemukan sepeda mereka. Di mulut gua. Yang tergenang air.

Sepasang sepatu bola tergeletak di dekat sepeda di mulut goa Tham Luang (Image via AP /AP)

Hampir dipastikan 12 remaja dan satu asisten pelatih itu ada di dalam gua. Kalau begitu masihkah mereka hidup? Bagaimana cara memasuki gua yang mulutnya tertutup air? Apakah mereka punya makanan? Seberapa jauh mereka memasuki gua?

Diskusi publik pun beralih: dari di mana mereka ke bagaimana cara menolong mereka. Tiap hari berita di Thailand didominasi drama gua ini. Seperti tidak ada piala dunia di sana. Tim Prancis, tim Inggris kalah populer dengan tim sepakbola desa pegunungan ini.

Ketika drama ini menjadi berita internasional tim penyelamat dunia turun tangan. Memperkuat tim penyelamat bentukan pemerintah. Anggota tim umumnya para penyelam. Dari angkatan laut. Dan profesional.

Seorang mantan penyelam angkatan laut Thailand jibaku. Akan masuk ke mulut gua itu. Pemerintah mengijinkan. Atas dasar reputasi orang ini.

Nama: Saman Kunan.

Umur: 38 tahun.

Prestasi: Juara 4 kali lomba petualang. Selalu ikut kejuaraan petualangan. Peraih tropi menyeberangi sungai Kwai.

Dengan oksigen cukup Saman memasuki air di mulut gua. Membawa banyak oksigen untuk para remaja itu.

Satu hari ditunggu. Tidak ada kabar dari Saman. Ternyata Saman meninggal. Kehabisan oksigen. Drama pun bertambah seru. Satu pahlawan telah ikut jadi bintang.

Penyelamat dari berbagai negara tertantang. Mereka berdatangan. Menawarkan pertolongan. Terkumpul tim penyelamat dari sembilan negara: Tiongkok, Australia, Inggris, Russia, Amerika dan sebagainya. Bahkan bos besar Tesla ikut turun tangan: Elon Musk. Ia menawarkan alat pendeteksi. Bagaimana keadaan alam di dalam gua. Juga menawarkan mega baterai.

Hari silih berganti. Jalan keluar tidak segera ditemukan. Publik gemes. Orang tua mereka pada lemes.

Akhirnya didatangkan pompa raksasa. Untuk menguras air di mulut gua.

Pompa bekerja 24 jam sehari. Air yang dipompa kelua sudah mencapai 128 juta liter. Mulut gua tidak juga terbuka. Hujan moonson tidak kunjung berhenti.

Maka muncul ide melakukan pertolongan dalam bentuk lain: mengebor gunung di atas gua itu. Tujuannya: agar ada udara masuk. Siapa tahu mereka kekurangan oksigen. Yang akan membuat mereka mati lemas.

Satu tim pendahuluan mencari lokasi pengeboran. Mereka menaiki terjalnya gunung. Kendaraan mereka tergelincir. Masuk jurang. Semua mengalami cedera. Meski tidak ada yang tewas.

Pada hari kesepuluh datang pahlawan baru: dua penyelamat dari Inggris. Nama mereka: Richard Stanton dan John Volanthen. Umur 50 dan 40 tahun. Yang satu petugas pemadam kebakaran. Satunya lagi teknisi internet. Tapi keduanya kompak: lebih menyukai petualangan dan penyelamatan.

Keduanya menjauh dari wartawan. Ketika banyak yang ingin populer, keduanya tidak mau diwawancara. ”Saya ke sini untuk berbuat. Bukan untuk bicara,” katanya singkat.

Lalu menyelam.

Memasuki mulut gua.

Lenyap ke dalam kegelapan.

Berhasil!

Keduanya menemukan 12 remaja itu. Dan asisten pelatih mereka.

Setim sepakbola ditemukan selamat setelah terperangkap 9 hari di dalam goa (Image via EPA)

Mereka itu terjebak di rongga ketiga di dalam gua itu. Duduk-duduk di atas tanah yang agak tinggi. Dikelilingi genangan air. Luas tanah gundukan itu hanya sekitar 10m2. Sangat sempit. Gelap. Pengap.

Mereka masih hidup. Semua. Masih tidak kelihatan lemah. Atau frustrasi. Atau panik. Padahal sembilan hari sudah. Terjebak di dalam gua. Tanpa tahu apakah akan ada jalan keluarnya.

Dua orang itu membawa makanan. Juga membawa harapan. Keberadaan mereka direkam. Masing-masing menyampaikan pesan kepada orang tua. Dalam bentuk rekaman video.

Mereka juga diminta menulis surat. Untuk masing-masing keluarga. Tapi umumnya hanya menulis pendek. Mengabarkan keadaan mereka baik-baik saja.

Sang asisten pelatih menulis agak panjang: berjanji akan terus bersama anak asuhnya, memperhatikan mereka dan yang utama meminta maaf pada semua orang tua mereka.

Semua itu dibawa ke luar gua. Kegembiraan lantas melanda seluruh negara. Hujat dan caci  berganti puja dan puji.

Publik sepakat: mental anak-anak mereka kuat berkat asisten pelatih itu. Asisten itulah yang terus mengajarkan optimisme pada anak asuhnya. Mengajarkan sabar. Mengajarkan doa.

Mengajarkan tenggang rasa. Membagi makanan yang ada sehemat-hematnya. Secara merata. Agar tidak ada yang rebutan makanan. Atau yang kuat dapat makanan lebih banyak.

Makanan itu sangat terbatas. Hanya yang dibeli untuk mengulangtahuni teman mereka: Pheeraphat. Sebelum masuk gua sang asisten membeli makanan kecil untuk ulang tahun itu.

Asisten pelatih ini memang bukan pemuda biasa. Ia ditinggalkan mati ayahnya. Saat umurnya baru 10 tahun. Lalu memutuskan untuk mengabdi di jalan Tuhan: sekolah bikhu Budha. Lalu tumbuh menjadi bikhu remaja.

Tapi ibunya sakit keras. Ia harus merawat ibunya. Ia pamit meninggalkan pagoda. Untuk sembahyang yang sebenarnya: melayani ibunya. Sampai ibunya meninggal dunia.

Lalu jadi pembina remaja di kampungnya.

Publik percaya di dalam gua itu sang asisten terus menguatkan anak-anaknya.

Tim penyelamat Inggris itu justru melihat sang asistenlah yang fisiknya lemah. Diduga ia yang paling sedikit mengambil jatah makannya. Selama sembilan hari itu sang asisten lebih banyak puasa.

Minggu kemarin ribuan orang berkumpul di depan gua. Wartawannya saja lebih seribu orang. Sudah dua hari ini tidak ada hujan. Hanya mendung menggelayut seperti tersangkut jaring superman.

Kemarin adalah hari terbaik untuk penyelamatan akhir. Kalau tidak, mendung itu akan runtuh. Musim moonson belum lewat. Air dalam gua bisa-bisa naik lagi. Mengancam daratan kecil yang dihuni para remaja itu.

”Mereka berada 1,5 km dari mulut gua,” ujar penyelam Inggris itu. ”Saya harus menyelam di air sekitar separo dari jarak itu,” tambahnya.

Akankah hari Minggu kemarin menjadi hari kemerdekaan mereka? Kita tunggu beritanya sekarang ini. Saat Anda menjadi pembaca pertama Disway.id Senin subuh ini. (dis)

Warga Pulau Raja Kembali Hadang Truk PT VSC

Enam mobil tanki milik PT Varem Sawit Cemerlang (VSC) kembali dihadang warga, Sabtu (7/7).
Enam mobil tanki milik PT Varem Sawit Cemerlang (VSC) kembali dihadang warga, Sabtu (7/7).

ASAHAN, SUMUTPOS.CO  – Perseteruan antara warga Kebun Pulu Raja, Kec. Pulau Rakyat dengan PT Varem Sawit Cemerlang (VSC), Sabtu (7/7) berlanjut. Enam mobil tanki milik perusahan kembali dihadang warga.

Penghadangan tersebut dilakukan dengan melintangkan mobil kijang Innova warna hitam BK 1129 UB di badan jalan dengan roda depan sebelah kiri mobil tersebut dalam posisi terlepas.

Aksi penghadangan sudah terjadi sedikitnya tujuh kali sejak perusahaan tersebut terlibat pertikaian dengan masyarakat dari tahun 2016. Warga ngotot agar perusahaan memenuhi janjinya kepada warga.

Dalam satu aksi penghadangan terakhir, terjadi keributan yang berujung tewasnya Mismar (84) alias Nek Butet yang merupakan orang tua dari Rosita, salah seorang mantan Humas eksternal PT VSC.

Noy, selaku Manager PT VSC kemudian memberikan keterangan kepada awak media, terkait persoalan yang dihadapi perusahaannya kepada warga.

“Awal mulanya hal ini terjadi karena Rosita, salah satu warga lingkungan VI Desa Aek Kuasan yang dihunjuk sebagai Humas antara perusahaan terhadap masyarakat secara external bukan internal,” kata Noy.

Akan tetapi status Rosita bukan berarti karyawan dari perusahaan, melainkan mitra penghubung antara PT VSC dengan masyarakat. Namun, belakangan Rosita dianggap tidak menjadi sebagai penghubung yang baik antara masyarakat dengan perusahaan.

Menurut Noy, selama perusahaan beroperasi, ada beberapa bantuan terhadap masyarakat berupa pembangunan parit dan santunan anak yatim piatu. Namun pembangunan parit terpaksa dihentikan karena terjadi perselisihan dengan warga.

“Karena perselisihan ini, kami pihak perusahaan telah menanggung kerugian sekitar Rp12 miliar selama perusahaan tidak beroperasi kurang lebih satu setengah bulan demi untuk menutupi gaji dan THR 100 orang karyawan,” ujarnya.

Terpisah, Satreskrim Polres Asahan menduga PT Vareen Sawit Cemerlang (PT VSC) melanggar Pasal 406 ayat 1 dan 2 KUHP Tentang Pengerusakan.

“Hal itu usai kita menerima laporan warga dengan bukti Laporan Polisi (LP) Nomor : LP-B/320/VI/2018/SU/Res Ash tertanggal 2 Juni 2018, dimana sebagai terlapor adalah PT Vareem,” jelas Kasat Reskrim Polres Asahan, AKP M Arif Batubara S.IK didampingi Kanit Tipiter, Ipda Erwin Syahrizal, Minggu (8/7) siang.

Dijelaskan Arif, dalam laporannya, warga menyebut mengalami kerusakan bangunan yang diakibatkan truk bermuatan CPO milik PT VSC.

Sementara, informasi lain diperoleh, berdirinya perusahaan pabrik pengolahan kelapa sawit PT VSC awalnya membuat gembira warga khususnya warga yang bermukim di Kecamatan Aek Ledong maupun Aek Kuasan.

Warga berharap berdirinya pabrik pengolahan buah kelapa sawit tersebut dapat menyerap tenaga kerja di kawasan itu. Namun apa yang terjadi sejak awal berdirinya pabrik pengolahan buah kelapa sawit tersebut di tahun 2016 hingga kini, apa yang diharapkan warga  bertolak belakang dari harapan warga masyarakat.

Seperti yang dituturkan Lukman (57), Kepala Desa Aek Loba Afdelling I. Dia mengatakan awalnya sebelum berdiri PKS VSC ini, kerabat dari Aan Manurung warga turunan pemilik perusahaan tersebut sangat manis memberikan janji-janji kepada warga masyarakat.

Lukman mengatakan, Adlin, adik dari Aan Manurung selaku pemilik perusahaan tersebut juga minta kepada dirinya untuk dapat membeli tanah milik Ribut Santoso seluas 17,5 hektar untuk tapak pembangunan pabrik.

“Kembali mereka berjanji akan memberikan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan kepada warga masyarakat di sekitar desa dan kelurahan ini, namun kenyataaannya janji pengusaha PT VSC itu tidak lebih dari janji seorang pembual, dan itu juga pernah saya coba untuk memasukan anak kandung saya untuk dapat kerja di pabrik tersebut, namun juga ditolak dengan alasan tidak ada lowongan pekerjaan, dan bila mau bekerja hanya ada di unit SPSI dengan membayar uang sebesar Rp5 juta untuk dapat diterima sebagai pekerja di unit SPSI yang ada di dalam pabrik tersebut,” urainya.

Mawar De Jongh Kurang Bule

SUMUTPOS.CO –  Meski berstatus pendatang baru di dunia film, Mawar De Jongh memberanikan diri untuk memerankan Annelies dalam drama berlatar belakang sejarah yang legendaris. Bumi Manusia.

Waktu diumumkan, Iqbaal Ramadhan yang memerankan Minke langsung jadi sasaran hujatan. Terutama dari kalangan pembaca bukunya. Dia dianggap tidak pantas memerankan Minke.

Bagaimana dengan Mawar? Sorotan kepada dirinya tidak sebesar Iqbaal. Namun, tetap saja terdengar suara miring. Kurang cantik lah, kurang bule lah.

Mawar menyadari, tuntutan peran itu sangat berat. Baik dari sutradara Hanung Bramantyo, pembaca novel, maupun penikmat film. “Ini tantangan buat aku supaya melakukan yang terbaik untuk banyak orang. Pokoknya harus pede dan semangat,” katanya.

Saat kali pertama dipanggil untuk screen test April lalu, Mawar mengaku belum mengetahui film dan perannya. Setelah itu, dia kembali dipanggil untuk tes make-up dan look.

Sepekan kemudian, Mawar dikabari bahwa dirinya akan bermain dalam film Bumi Manusia. “Jujur, saya belum baca novel itu. Setelah tahu dapat peran Annelies, langsung baca dan terkagum-kagum,” tutur pelajar kelas XI SMA Toga Terang, Bekasi, tersebut.

Dia belajar dari penampilan Chelsea Islan yang memerankan Annelies dalam pertunjukan teater. “Tapi, saya akan menggali Annelies dalam film, bukan teater, untuk mencari inspirasi sendiri,” ujarnya.

Mawar juga punya banyak PR. Di antaranya, belajar bahasa Belanda dan menguruskan badan. “Sebab, meski saya berdarah Belanda, sehari-harinya nggak pakai bahasa Belanda,” ucapnya, lantas tersenyum.

Meski tergolong pendatang baru, Mawar punya modal kuat untuk memerankan Annelies. Yakni, mata. Hanung menuturkan, di novel, Annelies digambarkan seperti kristal. Cantik, tapi memiliki sisi rapuh. Dan, kerapuhan itu kali pertama tampak lewat mata.

“Begitu melihat Mawar, dia memiliki mata yang mengandung dialog panjang sekali tentang tragedi,” terang Hanung.

Akting Mawar juga dinilai bagus. Karena itu, Hanung dan produser sepakat memercayakan karakter Annelies kepada gadis 16 tahun tersebut, menyisihkan beberapa nama yang lebih populer. Bulan ini syuting Bumi Manusia dimulai. Good luck ya, Mawar! (nor/c18/na)

Rano Karno Ziarah ke Makam Benyamin

SUMUTPOS.CO – Jelang penayangan pada 2 Agustus mendatang, seluruh pendukung film Si Doel The Movie, berziarah ke makam Benyamin dan Pak Tile. Rano Karno dan Suti Karno mendatangi makam para bintang serial Si Doel Anak Sekolahan.

“Hari ini kami nyekar ke beberapa orang yang telah mengisi kehidupan kami, mungkin hampir 20 tahun,” tutur Rano, saat ditemui di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Jumat (6/7) lalu.

“Yakni Babeh Sabeni yang enggak bisa kita lupain, beliau wafat 1995. Artinya 3 tahun setelah Si Doel ada. Ini adalah bukti, kita terus menjaga silaturahim. Setelah ini, kami akan ke makam engkong, Pak Tile. Setelah itu, kami akan ke makam Mas Karyo. Selain berziarah, mengirimkan doa, kami juga memohon doa semua masyarakat Indonesia, agar almarhum Benyamin, Pak Tile, dan Mas Basuki, semoga diterima Allah SWT, diampuni semua dosanya. Ini inti kedatangan kami hari ini,” tambahnya.

Kedatangan Rano dan beberapa pendukung film Si Doel The Movie, tak hanya dalam kepentingan film. Ia pun juga kerap berziarah ke para bintang Si Doel Anak Sekolahan di waktu yang berbeda. “Ya sebetulnya kunjungan kita ziarah bukan hanya hari ini saja, tapi dalam kaitan film ini menjadi kegiatan ziarah. Tapi sebetulnya kita juga tiap tahun juga ziarah. Dan kita berdoa semoga hajat kita 2 Agustus, yakni Si Doel The Movie, bisa diterima,” pungkas Rano. (dtc/saz)

Chikita Meidy-Indra Adhitya Resmi Menikah

SUMUTPOS.CO – Chikita Meidy dipersunting kekasihnya Indra Adhitya, Minggu (8/7). Nuansa adat Minang terasa dalam pernikahan mantan artis cilik tersebut.

Chikita menjalani proses akad nikah di masjid komplek Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, sekira pukul 16.00 WIB. Prosesi tersebut berlangsung secara khidmat.

Indra tampak gagah dengan memakai baju adat koto gadang berwarna biru-silver. Ia mengucapkan ijab kabul dengan lancar.

“Saya terima nikah dan kawinnya Chika Cecilia Oktavianny Meidy binti Tofna Meddy MD, dengan mas kawin tersebut, tunai,” tutur Indra dengan lantang, sambil menggenggam tangan ayah Chikita.

Chikita dinikahi Indra dengan mas kawin seperangkat alat salat, dan perhiasan emas seberat 25 gram. Setelah akad nikah, Chikita dan Indra akan melangsungkan resepsi pada malam harinya.

Beberapa waktu lalu, Chikita sudah menjalani pengajian dan malam bainai. Ia menikah pada Syawal, dalam kalender Islam, karena dirasa baik. (dtc/saz)

Nikita Mirzani Batal Gelar Pesta Nikah

Nikita Mirzani dan Dipo Latief

SUMUTPOS.CO – Pasangan artis Nikita Mirzani dan Dipo Latief belum juga menggelar resepsi pernikahan. Padahal, Nikita pernah sesumbar akan mengadakan pesta megah.

Lalu mengapa sampai saat ini ia belum menggelar pesta nikah? Menanggapi pertanyaan tersebut, Nikita sadar diri, resepsi pernikahan bukan hal utama, terlebih keduanya juga pernah merasakan momen indah itu dengan pasangan mereka terdahulu.

“Kenapa enggak ada resepsi? Karena buang-buang uang, karena gue tau cari uang itu susah,” jawab Nikita.

Terkait kabar orangtua Dipo yang tak setuju dengan hubungan anaknya dengan Nikita, ia enggan menanggapi. Hal itu pula disebut-sebut yang membuat Dipo belum menggelar pesta pernikahan dengan Nikita. “Terserah orang mau bilang apa. Karena gue kan enggak nikah dengan orang yang umur 30 tahun ya. Yang harus ada pesta pernikahan,” pungkas Nikita. (chi/jpnn/saz)

Video Baru Via Vallen Sepekan Tembus 7 Juta Views

SUMUTPOS.CO – Lagu baru yang dinyanyikan Via Vallen, berjudul Meraih Bintang, sukses mencuri perhatian. Sejak dirilis pekan lalu, klip lagu tema untuk Asian Games 2018 itu, bahkan sempat menjadi trending di YouTube.

Tak sampai di situ, kini video Via telah ditonton sebanyak lebih dari 7 juta kali. Angka tersebut terbilang luar biasa untuk sebuah video musik.

Video Meraih Bintang disutradarai Rukiki Mariana, dan diunggah ke akun 18th Asian Games 2018. Selain mendapat 7 juta views, klip itu juga memperoleh puluhan ribu like dari netizen.

Video musik Meraih Bintang ini berdurasi 3 menit 8 detik. Dalam video ditampilkan, Via bernyanyi dengan mengenakan busana merah. Terdapat juga sejumlah penari latar dengan pakaian bertema sporty. Mereka lincah mengikuti musik yang menggabungkan nuansa musik elektronik dengan musik dangdut.

Sebagai lagu tema untuk Asian Games 2018, Meraih Bintang merupakan karya ciptaan produser Pay Siburian, bersama Rastamanis, dan Rustam. Nama Via yang terus meroket ditunjuk sebagai satu penyanyi pengisi di Asian Games tahun ini.

“Sudah pada nonton video music official theme song Asian Games 2018 Meraih Bintang belum? Yo, yo ayo,” ungkap Via mempromosikan lagu barunya beberapa waktu lalu. (mg3/jpnn/saz)

Resepsi Nadine Chandrawinata-Dimas Anggara Serbaputih

SUMUTPOS.CO – Teka-teki soal hubungan Nadine Chandrawinata dengan Dimas Anggara, akhirnya terjawab. Pasangan kekasih itu baru saja menggelar resepsi untuk pernikahan mereka, Sabtu (7/7) lalu.

Resepsi pernikahan Nadine-Dimas digelar di pinggir pantai kawasan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari berbagai foto yang beredar, Nadine dan Dimas memilih nuansa serbaputih pada hari penting mereka. Satu di antaranya adalah momen yang diunggah fotografer Rzbyphotography. Keduanya tampak memakai gaun serta jas putih.

Tamu yang menghadiri resepsi itu, juga kompak memakai busana sewarna dengan Nadinde dan Dimas. “This is it. Today is the momentous day, and its the happiest I’ve been. Congratulations love birds @nadinelist @dimsanggara,” tulis akun @Rzbyphotography.

Seperti diketahui, selama ini Nadine dan Dimas sangat tertutup soal rencana pernikahan mereka. Namun, pada resepsi itu ada pemutaran video pernikahan keduanya di Bhutan pada Mei 2018 lalu.

Hingga saat ini Nadine dan Dimas banjir ucapan selamat dari netizen. Sejumlah penggemar ikut mendoakan kebahagiaan mereka dalam berumah tangga.

Sebelum ramai posting-an di Lombok, Nadine dan Dimas ternyata telah menikah di Bhutan. Pernikahan mereka disebut berlangsung pada 5 Mei 2018.

Dalam live Instagram akun @like**airunnisa, Nadine bercerita soal pengalaman menjalani pernikahan dengan Dimas. Di situ, ia merasa tak mungkin melangsungkan pernikahan di Bhutan. “Pertama kali kita memilih Bhutan sebagai tempat untuk ucap janji kita, itu sepertinya hal yang tidak mungkin. Tapi kamu meyakinkan aku, ayo bisa. Dan memang pada saat kita menjalankan, itu terjadi dan sangat mudah,” ujar Nadine, dalam video tersebut.

Nadine dan Dimas memang benar-benar unik memilih tempat di Bhutan sebagai tempat mengikrarkan hubungan. Keduanya juga mesti menanjak dan melewati sarang harimau sebagai bagian perjuangan untuk bisa menikah. “Karena pilihan kami sedikit unik, apalagi ditambah H-1 kami naik ke tiger’s nest dan kami tahu pasti akan pegal banget. Karena H-1 yang mana perjalanannya 9 jam, 10 kilometer, untuk sampai ke bawah lagi itu akan sangat melelahkan, tapi kami memilih itu. Kenapa? Perjalanan menuju ke atas itu bukan hanya sekadar tracking, tapi kan kami bilang pasti ada sesuatu dan memilih H-1 untuk jalan,” ungkapnya.

“Saat kami lagi menuju ke atas, kamu selalu jalan lebih cepat dari aku. Tapi kamu tidak pernah lupa untuk melihat aku ke belakang dan pelankan langkahmu. Dan kamu bukan hanya melihat aku, tapi kamu menanyakan keluarga, kamu menanyakan Bhutan udah semua? Aman? Di situ aku jatuh cinta ama kamu,” lanjut Nadine.

Karena momen itu, Nadine makin cinta dan yakin dengan Dimas. Bagi Nadine, Bhutan mengajarkan arti kebahagiaan. “Maksudnya tambah jatuh cinta. Dan aku yakin kamu orang yang tepat. Kenapa? Kamu di situ mengajarkan aku jangan pernah lupa kamu berjalan dengan siapa, dan bukan hanya kita tapi ada keluarga. Dan Bhutan mengajarkan kami kebahagiaan. Kami kejar dan rangkai kebahagiaan itu,” katanya. (mg3/jpnn/saz)