Home Blog Page 6338

Menyesal, Dosen USU Ambruk

Foto: Gusman/Sumut Pos DOSEN DITANGKAP: Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan Atmaja memaparkan tersangka ujaran kebencian, Himma Dewiana Lubis, yang merupakan dosen USU di Mapolda Sumut, Minggu (20/5).
Foto: Gusman/Sumut Pos
DOSEN DITANGKAP: Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan Atmaja memaparkan tersangka ujaran kebencian, Himma Dewiana Lubis, yang merupakan dosen USU di Mapolda Sumut, Minggu (20/5).

SUMUTPOS.CO – Unggah postingan di akun Facebook yang menyebut aksi teror bom di Surabaya sebagai pengalihan isu, dosen Ilmu Perpustakaan di Universitas Sumatera Utara (USU), Himma Dewiyana Lubis alias Himma, ditangkap aparat Poldasu. Ia pun diperiksa secara intensif. Mengaku menyesal, dan diduga syok karena tak menyangka akan terjerat hukum, dosen ini pun ambruk usai diperiksa polisi.

“Saya sangat menyesal. Karena sebetulnya saya cuma mengcopy, itu bukan tulisan saya. Kalau bisa pesan saya kepada siapapun… jangan asal membagikan status orang lain. Karena dengan ini yang menyeret saya menjadi tersangka,” ujar Himma terbata-bata, Minggu (20/5).

Usai menyesali perbuatannya, dosen USU ini pun ambruk hingga harus mendapatkan pertolongan.

Himma ditangkap personil Dirkrimsus Poldasu dari kediamannya di Jalan Melinjo II Kompleks Johor Permai, Medan Johor, Sabtu (19/5).

Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, pascaserangan bom bunuh diri pada Minggu (13/5) di Surabaya, Himma menulis di akun facebooknya, bahwa ledakan bom itu skenario pengalihan yang sempurna dari ganti presiden tahun 2019.

Postingan itu kemudian menjadi viral dan mengundang beragam reaksi dari masyarakat.

Setelah postingannya viral, Himma yang juga diketahui bergelar Magister ini pun langsung menutup akun facebooknya. Namun, postingannya telanjur discreenshoot netizen dan dibagikan ke media daring. “Himma ditangkap dalam perkara dugaan pelanggaran tindak pidana ujaran kebencian, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat 2 UU ITE, yang menyebutkan setiap orang dengan sengaja menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)..

Sakit, Turis Kapal Pesiar asal Jepang Dievakuasi

Masao Kurabayasi (92), turis Jepang yang sedang mengelilingi Eropa dengan kapal pesiar Panama Ocean Dream, dievakuasi Tim SAR Aceh karena sakit, Minggu (20/5) sore
Masao Kurabayasi (92), turis Jepang yang sedang mengelilingi Eropa dengan kapal pesiar Panama Ocean Dream, dievakuasi Tim SAR Aceh karena sakit, Minggu (20/5) sore

ACEH, SUMUTPOS.CO  –  Seorang turis asal Jepang yang sedang mengelilingi Eropa dengan menumpangi kapal pesiar berbendera Panama Ocean Dream, Minggu (20/5) sore, terpaksa di evakuasi oleh Tim SAR Aceh.

Turis Jepang yang dievakuasi bernama Masao Kurabayasi (92). Ia dievakuasi karena kritis akibat sejumlah penyakit yang dialaminya.

“Saat dievakuasi, korban dalam keadaan kritis dengan kondisi sesak nafas. Korban adalah penumpang kapal pesiar Ocean Dream dari Singapura bertujuan berkeliling Eropa,” ujar Kakansar Banda Aceh, Hari Adi Purnomo.

Proses evakuasi dilakukan setelah adanya permintaan dari kapal pesiar Ocean Dream. Dari informasi itu, tim SAR bersama pihak imigrasi, bea cukai, karantina dan sejumlah instansi terkait lain langsung bergerak melakukan medivac.

“Evakuasi medis dilakukan menggunakan kapal SAR KN Kresna 232 yang dinahkodai Kapten Supriadi. Kapal berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh sekira pukul 16.00 WIB,” katanya.

Titik evakuasi sendiri, sambung Hari, dilakukan di Selat Benggala, tepatnya di perairan sekitar Pulau Weh, Sabang yang jaraknya sekitar 17 mil laut dari Pelabuhan Ulee Lheue. KN Kresna 232 tiba di kapal pesiar Ocean Dream sekitar satu jam kemudian.

“Saat dievakuasi, korban dalam keadaan sadar dan lemah. Korban didampingi perawat bernama Mutsumi Sato (40), warga Jepang. Dari riwayat kesehatannya, korban mengalami sejumlah penyakit kronis,” ungkap Kakansar.

Setelah pemeriksaan, tim SAR akhirnya mengevakuasi Masao ke KN Kresna 232. Selanjutnya, korban dibawa ke Pelabuhan Ulee Lheue dan tiba sekitar pukul pukul 17.40 WIB.

“Dari Pelabuhan Ulee Lheue yang bersangkutan dibawa ke rumah sakit di Banda Aceh menggunakan ambulans karantina, untuk tindakan medis lebih lanjut,” pungkasnya. (zal)

Sebut Teroris Hanya Fiksi, Satpam Bank di Simalungun Ditangkap

Tangkap-Ilustrasi
Tangkap-Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tak hanya Himma, Amaralsyah Dalimunthe seorang satpam Bank Sumut, juga ditangkap terkait ujaran kebencian. Amaralsyah ditangkap Polres Simalungun juga di kediamannya di Jalan Karya Bakti, Serbelawan, Kecamatan Batu Nangar, Simalungun, Jumat (18/5).

Amaralsyah dalam akun facebook miliknya memposting, di Indonesia tidak ada teroris, itu hanya fiksi, pengalihan isu.

Polres Simalungun yang mendapat info tersebut, melakukan penelusuran dan menangkap Amaralsyah setelah sebelumnya Polisi membuat laporan terlebih dahulu. “Status itu telah melukai perasaan polisi dan juga keluarga korban terorisme,” kata Kabid Humas Poldasu AKBP Tatan Dirsan Atmaja dalam keterangan persnya di Mapoldasu Jalan Sisingmangaraja, Medan, Minggu (20/5/2018).

Oknum satpam berinisial AD (46) itu kini sudah ditetapkan menjadi tersangka. “Tersangka kini sudah ditahan,” jelas Tatan. Dari tangan tersangka, petugas berhasil menyita barang bukti HP dan flashdisk milik tersangka. (gus)

Sebut Bom Pengalihan Isu, Dosen USUDicopot

Foto: TribrataNews Polda Sumut Dosen USU, Himma Dewiyana Lubis, Ditangkap Karena Sebar Hoax soal Bom Surabaya.
Foto: TribrataNews Polda Sumut
Dosen USU, Himma Dewiyana Lubis, Ditangkap Karena Sebar Hoax soal Bom Surabaya.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Universitas Sumatera Utara (USU) mendukung Polda Sumut mengusut tuntas kasus Himma Dewiyana Lubis alias Himma yang menyebut bom Surabaya pengalihan isu. Himma juga dicopot sementara dari jabatan kepala arsip.

“Kita tegas. Artinya itu kan masih dalam pemeriksaan, tapi walaupun dalam pemeriksaan, kebetulan karena yang bersangkutan ini ada tugas tambahan yang kita berikan dia sebagai kepala arsip, saya sudah sampaikan kemarin ke sekretaris universitas untuk segera menerbitkan surat pemberhentian sementara dari kepala arsip itu,” kata Rektor USU Runtung Sitepu, Minggu (20/5/2018).

Runtung menuturkan kinerja Himma sebagai kepala arsip, bagus. Himma juga masuk dalam pengurus komunitas arsip tingkat nasional.

“Kalau kinerjanya dia menangani kepala arsip ini, bagus kerjanya. Bahkan dia juga ikut salah satu pengurus, ada istilahnya komunitas arsip tingkat nasional, dia ikut di dalam itu. Dan menyusun arsip kita juga tertib semua, maka saya terkejut dengan berita itu,” ucapnya.

Terkait status dosen Himma, Runtung mengatakan pihaknya masih menunggu putusan pengadilan terkait kasus ini. Namun, dia memastikan ada sanksi jika kasus ini terbukti.

“Kalau untuk statusnya sebagai dosen, kita harus menunggu putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Kalau sudah berkekuatan hukum tetap baru kita menjatuhkan sanksi administrasi sesuai peraturan yang berlaku pada aparatur sipil negara gitu, ada kesalahan berat, sedang dan ringan. Tapi kalau terbukti di pengadilan apa yang disangkakan sekarang ini, saya kira itu sudah sanksi berat. Cuma kita menunggu,” ujarnya.

Pihak USU menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada proses hukum. Runtung menegaskan tidak akan melindungi dosennya jika memang terbukti bersalah.

“Kita gini aja, artinya tentu kan polisi yang memahami unsur-unsur dari kasusnya ini, artinya kita mendukung sepenuhnya yang dilakukan kepolisian menangkap yang bersangkutan dan memeriksa dan tentu bukan hanya itu, untuk diajukan ke pengadilan kalau memang unsurnya terpenuhi dan berikan hukuman yang setimpal kepada yang bersangkutan. Tidak pernah melindungi orang yang seperti itu, sama sekali tidak,” tuturnya.

Himma ditangkap di rumahnya di Jalan Melinjo II Komp Johor Permai, Kota Medan, pada Sabtu (19/5) sekitar pukul 16.00 WIB kemarin. Penangkapan ini karena ada laporan warga terkait status Facebook Himma soal bom di tiga gereja Surabaya.

“Skenario pengalihan yg sempurna… #2019GantiPresiden” tulis akun facebook Himma Dewiyana.  (idh/dtc)

Sebut Teroris Fiktif, Satpam Bank di Simalungun Ditangkap

Tangkap-Ilustrasi
Tangkap-Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Oknum satpam di salah satu bank swasta di Simalungun, Sumatera Utara, diamankan terkait postingannya di media sosial. Mirip dengan kasus dosen Universitas Sumatera Utara (USU), si satpam ini juga menulis status skeptis soal teroris.

“Polres Simalungun ada mengamankan oknum satpam bank yang diduga menyebarkan isu dengan memposting di media sosial miliknya,” kata Kabid Humas Poldasu AKBP Tatan Dirsan Atmaja dalam keterangan persnya di Mapoldasu Jalan Sisingmamgaraja, Medan, Minggu (20/5/2018).

Oknum satpam berinisial AD (46) itu kini sudah ditetapkan menjadi tersangka. Dia juga ditahan.

“Tersangka di tangkap kamis lalu, dan di kini sudah ditetapkan dan sudah ditahan,” jelas Tatan.

Tatan menuturkan AD memposting: “bahwasanya Indonesia tidak ada teroris, semuanya hanya fiktif dan itu hanyalah pengalihan isu.” Dari tangan tersangka, petugas berhasil menyita barang bukti HP dan flashdisk milik tersangka. (tor/dtc)

Mayat Wanita asal Aceh Besar Mengapung di Krueng Aceh

Foto: Masrizal/Sumut Pos Sesosok mayat perempuan ditemukan mengapung di Krueng Aceh, Jumat (18/5).
Foto: Masrizal/Sumut Pos
Sesosok mayat perempuan ditemukan mengapung di Krueng Aceh, Jumat (18/5).

ACEH, SUMUTPOS.CO – Sesosok mayat perempuan ditemukan mengapung di Krueng Aceh, tepatnya di kawasan Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Jumat (18/5).

Kapolresta Banda Aceh, AKBP Trisno Riyanto melalui Kapolsek Kuta Alam, AKP Dheni Firmandika, Jumat (18/5) malam mengatakan, mayat yang belakangan diketahui bernama Nurfatimah (38), warga Gampong Lamceu, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, pertama ditemukan oleh warga sekira pukuk 12.20 siang.

“Mayat perempuan itu ditemukan sekira pukul 12.10 WIB tanpa identitas. Saat ditemukan, memiliki ciri-ciri fisik yang terlihat gemuk hitam, mengenakan baju jins hitam merk Rolling, celana lejing hitam dan jilbab model kerudung warna abu-abu putih,” ujar Kapoksek.

Kata dia, berdasarkan keterangan Mulyadi seorang nelayan yang merupakan saksi mata, mayat perempuan itu ditemukan mengapung dari arah Peunayong.

“Pada saat duduk di belakang kapal Boat, saksi melihat mayat terapung dibawa arus sungai Kreung Aceh dari arah Gampong Peunayong,” kata Dheni.

Mengetahui hal itu, mayat yang ditemukan ini langsung dilaporkan kepada aparat kepolisian. Tak lama, polisi dibantu warga setempat langsung mengevakuasi mayat yang dibawa ke RSUDZA Banda Aceh guna proses lebih lanjut.

“Pukul 21.00 WIB, datang seorang lelaki yang mengaku mencari kakak kandungnya yang sejak pagi pergi dari rumah dan belum kembali,” ujar Kapolsek.

Lelaki itu bernama Gunawan (35), warga Gampong Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. “Gunawan datang melihat jenazah yang sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh itu bersama dua orang saudaranya. Setelah melihat jenazah, diakui bahwa itu adalah kakaknya yang hilang sejak pagi tadi sekira pukul 09.00 WIB,” terang Kapolsek.

Untuk penyebab kematian korban, sambung Kapolsek, tidak diketahui pasti. Namun diduga korban yang bermain di dekat sungai terpeleset sehingga tenggelam dan terbawa arus sungai yang memang saat itu tengah deras.

“Menurut keterangan pihak keluarga, memang korban ada mengalami sakit (gangguan jiwa). Jenazah sudah divisum namun belum keluar hasilnya, tidak ditemukan adanya tanda kekerasan pada jasad korban. Korban saat ini sudah dibawa pulang pihak keluarga untuk dikebumikan,” pungkasnya. (zal)

Hingga Mei, 146 Laporan Pilkada Diterima Bawaslu

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PENJAGAAN_Seorang petugas kepolisian berjaga di kantor Bawaslu Sumut Jalan H adam Malim Meddan, Jumat (04/5)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
PENJAGAAN_Seorang petugas kepolisian berjaga di kantor Bawaslu Sumut Jalan H Adam MaliK Meddan, beberapa waktu lalu.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hingga awal Mei 2018, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumatera Utara sudah menerima sebanyak 147 laporan pelanggaran  pemilihan kepala daerah (Pilkada) di wilayah Sumut. Kabupaten Deliserdang dan Dairi menjadi daerah tertinggi terjadinya pelanggaran tersebut.

Anggota Bawaslu Sumut Herdi Munthe mengatakan, mayoritas pelanggaran pemilu berada di daerah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah. Yakni seperti Deliserdang, Dairi, Humbang Hasundutan, Padanglawas, dan Tapanuli Utara.

“Ya, hingga awal Mei total pelanggaran pemilu sebanyak 146 yang masuk, ditangani dan kita diproses. Tertinggi terjadi di Deliserdang dan Dairi. Ada juga di Humbang Hasundutan, Palas, Siantar, Taput. Rata-rata di daerah yang menggelar pilkada,” ujarnya kepada Sumut Pos belum lama ini.

Dari total laporan pelanggaran itu, sebut Herdi, 52 laporan ditindaklanjuti secara administrasi, dua kode etik, pidana masih kosong, 82 dihentikan, dan 10 pelanggaran hukum lainnya seperti berkenaan dengan aparatur sipil negara (ASN).

“Beberapa pelanggaran itu banyak terjadi di Simalungun, Nias Selatan dan juga Dairi. Termasuk kasus JR Saragih yang sudah kita tindaklanjuti ke pihak kepolisian. Tapi belum termasuk laporan terbaru soal iklan dan fitnah yang direncanakan dialihkan ke pidana umum,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kesulitan dalam penanganan sejumlah laporan pelanggaran ini yakni pembuktiannya. Antara lain barang bukti sebagai salah satu pendukung pelanggaran yang dilaporkan. “Terkadang masyarakat pelapor tidak membawa petunjuk dan bukti yang cukup kepada kita. Apalagi jangka waktu kami cuma lima hari (untuk penyelesaian satu kasus),” katanya.

Salah satu pelanggaran yang dihentikan yakni persoalan surat keterangan (suket) yang dilakukan Cawagub Sumut nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat kepada masyarakat. “Setelah dilakukan pemeriksaan, Djarot menanyakan ke warga apakah sudah dapat suket atau belum. Setelah dijawab warga sudah, maka warga menunjukkan dan memberikan suket ke Djarot untuk dilihat, lalu setelah dilihat dikembalikan lagi ke warga. Jadi Djarot bukan bagi-bagi suket,” katanya.

Koordinator Divisi Hukum dan Penindakan Pelanggaran Bawaslu ini juga mengatakan, keseluruhan laporan masyarakat terkait pelanggaran pemilu semuanya sudah diproses dan ditindaklanjuti. Namun tidak semua laporan ada yang dilanjutkan ke tahap penyidikan. “Ada beberapa kasus yang memang tidak ditindaklanjuti karena tidak memenuhi unsur pelanggaran,” katanya.

Terkait video mengajak ASN mendukung salah satu paslon yang dilakukan Sekretaris Dinas Pendidikan Sumut beberapa waktu lalu, Hardi mengatakan pihaknya masih kesulitan untuk mengetahui di mana video itu direkam, siapa yang rekam, kapan direkam dan apa motif melakukan perekaman. “Tapi sampai saat ini Bawaslu masih terus mendalami laporan tersebut,” ujarnya seraya menyebut ada juga beberapa laporan terkait ketidaknetralan ASN yang kasusnya sudah dilimpahkan ke Komisi ASN. (prn)

JAD Bergerak dalam Sel-sel Kecil

Ali Fauzi

SUMUTPOS.CO – Mantan Ketua Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI), Ali Fauzi, mengatakan, ada perbedaan aksi pengeboman yang dilakukan JI dan oleh Jamaah Ansharut Daulah (JAD) sekarang.

Pertama, Dulu JI tak pernah menggunakan bomber perempuan. Selain itu, mereka berhitung antara modal dan hasil yang dicapai.

’’Dulu kami sangat berhati-hati dalam melakukan serangan,’’ ungkapnya seperti diberitakan Jawa Pos (grup Sumut Pos). Berhati-hati itu dalam konteks menghitung betul dampak aksi dengan sumber daya yang dikeluarkan.

Rencana aksi dirapatkan lebih dahulu secara organisasi. Kemudian, diputuskan pembentukan tim kecil eksekutor dan segera melakukan perencanaan.

Total rentang waktu antara perencanaan hingga aksi bisa mencapai tiga bulan. Itulah yang membuat aksi-aksi JI selalu besar. Rakitan bomnya matang. Waktu peledakan juga sangat matang sehingga daya rusaknya begitu besar.

Kedua, JI selalu memaknai jihadnya sebagai jihad ofensif. Karena itu, JI tidak pernah menggunakan perempuan dan anak-anak dalam aksinya.

Menurut dia, tidak sedikit akhwat JI yang dulu menyatakan siap menjadi pengantin bom bunuh diri. Namun, para petinggi JI saat itu tidak pernah menanggapinya dan tak pernah melakukan skema jihad ofensif dengan menggunakan perempuan serta anak-anak.

Hal tersebut berbeda dengan JAD maupun organisasi teroris yang berafiliasi ke ISIS. Selain JAD, ada Khatibatul Iman pimpinan Abu Husna alias Abdur Rohim serta kelompok Hendro Fernando dan Brekele yang berafiliasi ke ISIS.

Ketiga, perbedaan JI dengan ISIS sudah terjadi pada pemaknaan jihad tanzhim. Jika JI bergerak sebagai sebuah satu kesatuan terorganisasi, JAD bergerak dalam sel-sel kecil yang lebih otonom. Cukup mendapat perintah ’’lakukan amaliyah’’, mereka pun melakukannya dalam sel kecil sesuai dengan kemampuan sel kecil tersebut.

Karena itu, efek kerusakannya terbilang kecil. Kerap, dari sejumlah teror, yang mati adalah anggota ISIS itu sendiri. Bukan sasarannya. Misalnya, serangan bom di Mapolrestabes Surabaya dan GKI Jalan Diponegoro, Surabaya.

Namun, ideologi yang membuat mereka bisa mengorbankan perempuan dan anak mereka adalah pandangan mereka soal jihad. Ketika melancarkan teror, mereka merasa jihad mereka adalah jihad daf’i atau jihad defensif. Dalam jihad defensif ini, memang diperbolehkan menggunakan perempuan dan anak sebagai senjata.

’’Inilah yang kemudian membuat mereka tega memakaikan bom ke anak-anak mereka sendiri,’’ ungkap Ali.

Karena itu, mantan instruktur di Kamp Hudaibiyah dan Pawas, Filipina Selatan, tersebut menyatakan, para pengikut ISIS itu merupakan potensi yang mengerikan. ’’Sebab, boleh dibilang, mereka menggunakan segala cara. Antisipasinya menjadi repot karena perempuan dan anak-anak menjadi senjata,’’ tandasnya.

Sakit jiwakah teroris itu?

Ali Fauzi membantah. ’’Mereka secara mental sangat sehat. Jadi, ketika melakukan pengeboman, mereka sadar. Sangat sadar,’’ tegasnya. Menurut dia, ideologi ISIS-lah yang membuat mereka seperti itu. (c5/ano/fat/jpnn/dtc)

Jokowi: Betapa Kejinya Ideologi Terorisme

Pesan keras Jokowi untuk pelaku terorisme.
Pesan keras Jokowi untuk pelaku terorisme.

SUMUTPOS.CO – Presiden Joko Widodo mengingatkan keluarga Indonesia berhati-hati terhadap paham radikalisme yang dikembangkan sel-sel terorisme di Tanah Air. Apalagi, sekarang mereka telah menyasar keluarga Indonesia.

Hal tersebut disampaikan presiden ketika berbuka bersama dengan pimpinan lembaga tinggi negara, kementerian dan lembaga, tokoh agama, KADIN, HIPMI hingga APINDO, di Istana Negara, Jumat (18/5).

Saat itu, Jokowi -sapaan presiden- bercerita kembali mengenai serangan terduga teroris di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob, Surabaya, hingga Pekanbaru.

Namun, yang disorot Kepala Negara adalah pelibatan anak-anak dalam aksi bom bunuh diri di tiga lokasi di Kota Pahlawan.

“Saya lihat langsung betapa hancurnya tubuh dua orang anak pelaku bom tapi menurut saya ini korban juga yang bernama Pamela dan Fadilah, umur masih 12 dan sembilan tahun. Hancur semua tubuhnya tinggal sini ke atas,” ucap Jokowi menggambarkan dengan gerak tangannya.

Hal serupa juga terjadi terhadap anak yang jadi korban di Gereja, Nathan dan Eva yang masing-masing berumur 8 dan 12 tahun. Kemudian di Polrestabes Surabaya, Aisyah (8). Serta di Sidoarjo, korbannya masih dirawat yakni Gafara (10) dan Faisal (11)

Anak-anak tersebut menurut presiden, seharusnya masih dalam kondisi senang bermain-main dengan keluarga dan teman-temannya.

“Yang ingin saya garisbawahi adalah betapa kejam dan kejinya ideologi terorisme yang sudah membawa anak-anak dalam kancah aksi aksi mereka. Saya hanya ingin ingatkan ini artinya ideologi kejam ini telah masuk dalam sendi keluarga kita, keluarga di Indonesia. Ini harus hati-hati di sini,” tutur Jokowi.

Karenanya mantan gubernur DKI itu menegaskan bahwa keluarga seharusnya membangun rasa optimisme pada anak, menanamkan nilai yang baik, budi pekerti. Bukan kebalikannya.

“Kita berharap semuanya jangan sampai ada lagi keluarga Indonesia yang hancur karena ideologi ini,” pungkas mantan wali kota Surakarta itu.

Selama kurun waktu 5 hari, densus 88 Antiteror menangkap terduga teroris di tujuh kota di Jatim. Mereka ditangkap di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Mojokerto, dan Jombang.

Total ada 26 teroris yang ditangkap. 22 masih hidup dan 4 tewas usai dilumpuhkan karena melawan petugas. (c5/ano/fat/jpnn/dtc)

Pengamat: Teroris Ingin Kembali ke Zaman Awal

Penggeledahan rumah Dita Oeprianto.
Penggeledahan rumah Dita Oeprianto.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Polisi menemukan panah saat menggeledah rumah Dita Oepriarto, pelaku teror bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Selain itu panah juga ditemukan di rumah terduga teroris di Pekalongan.

Sebetulnya apa fungsi panah-panah tersebut?

Pengamat terorisme dari UIN Kalijaga Yogyakarta Noorhaidi Hasan menilai, teroris pada dasarnya akan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk melancarkan aksinya. Tak terkecuali dengan panah tersebut.

“Teroris itu ingin kembali ke zaman dulu ke zaman awal ketika Islam berjaya menaklukkan banyak wilayah. Bisa saja begitu. Saat itu panah sebagai senjata kunci kan dalam perang-perang. Mungkin ada romantisasi ke arah itu lagi,” kata Noorhaidi seperti dikutip dari detik.com, Kamis (17/5).

“Bisa juga dibaca mereka semakin kehilangan akses membuat senjata yang lebih canggih lagi, karena dikurung Densus atau intelijen. Sehingga mendapatkan bahan membuat bom makin susah. Yang tersisa ya menggunakan kembali senjata tradisonal,” tuturnya.

Pengamat terorisme yang juga Komandan Densus 99 GP Ansor, Nuruzzaman, memiliki pandangan yang sama. Menurutnya, teroris bisa menggunakan segala alat untuk membunuh orang.  “Memanah itu bukan sesuatu yang asing. Dianggap sebagai ajaran agama juga, hal yang wajar. Jadi mereka menggunakan segala alat untuk membunuh orang,” ujar Nuruzzaman.

Nuruzzaman mencontohkan beberapa aksi teror juga pernah digencarkan dengan menggunakan senjata panah.  “Kasus pembakaran Polres dulu di Sumatera Barat juga dilakukan dengan panah. Para pelaku penyerangan melakukan dengan panah. Beberapa polisi juga mengalami serangan panah,” jelas Nuruzzaman. (c5/ano/fat/jpnn/dtc)