Home Blog Page 6378

Djarot Harapkan Bangun Bendung Sei Wampu

Calon Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Djarot Saiful Hidayat mengunjungi Bendungan Sei Wampu di Langkat.
Calon Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Djarot Saiful Hidayat mengunjungi Bendungan Sei Wampu di Langkat.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Calon Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Djarot Saiful Hidayat mengharapkan adanya sinerji dari instansi terkait untuk mempercepat proses pembangunan Bendungan Sei Wampu di Langkat. Hal itu disampaikannya saat meninjau proyek Nasional bersama Anggota Komisi V DPR RI Nusyirwan Soejono.

Djarot mengatakan, untuk memaksimalkan proses percepatan pembangunan dan pemanfaatan bendungan Sei Wampu, perlu sinergi antara Kementerian PUPR, Kementerian Pertanian, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten. Utamanya dalam hal pengawasan agar jangan ada areal persawahan dialihfungsi untuk peruntukan lain, seperti lahan sawit atau perumahan.

“Nah, kalau sampai lahan persawahan dialihfungsi, inikan tidak sejalan dengan tujuan dibangunnya bendungan. Tidak sejalan dengan tujuan swasembada pangan,” ujar Djarot, Jumat (4/5).

Calon Gubernur Sumut nomor urut 2 ini juga meminta agar petani tidak mengalih fungsi lahan persawahan miliknya maka perlu ada intervensi, baik reward maupun punishment. Membuat sebuah regulasi dalam peraturan daerah yang tidak memperbolehkan alih fungsi lahan sesuka hati. Namun di balik itu, pemerintah juga harus siap memberikan jaminan harga dan memberi reward semacam membebaskan PBB bagi petani yang tetap mempertahankan lahan persawahannya.

Persoalan selama ini katanya, kehidupan petani padi banyak yang tidak sejahtera, hal itu dikarenakan kurangnya kepedulian dari pemerintah. Seharusnya, pemerintah hadir gunakan melakukan pendampingan seperti dalam budidaya, hingga paska panen.

“Pemerintah harus memberikan jaminan harga, sehingga petani tetap mempertahankan lahan persawahannya,” ujarnya.

Untuk diketahui, proyek pembangunan bendungan Sei Wampu dikerjakan oleh dua KSO, yakni PT Adhi Karya dan PT Nindya Karya.

Bambang, Enginering PT Adhi Karya menjelaskan, Bendungan Sei Wampu senilai Rp270 miliar. Progres sampai tanggal 25 April 2018, 45 persen.

Target sampai akhir 2018 selesai 75 persen. Pembangunan bendungan Sei Wampu didanai APBN secara multiyears. Sisanya masuk tahun anggaran 2019.

“Itu masih bendungan, belum termasuk jaringan irigasi,” terang Bambang.

Juhendra Sirait, PPK Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Utara, menjelaskan bendungan ini didesain dengan memanfaatkan sungai Sei Wampu, untuk mengairi areal persawahan seluas kurang lebih 11.000 ha di Kabupaten Langkat. Terutama mengairi lahan persawahan yang mengandalkan tadah hujan.

Bendungan ini memiliki dua jaringan, kanan dan kiri. Jaringan kiri ditujukan untuk mengairi persawahan seluas 3.000 ha. Sementara saluran kanan mengairi lebih kurang 7.000 ha. “Seluruhnya di Kabupaten Langkat,” terangnya.(bal/azw)

Perincian Dana Kampanye Paslon Diaudit

Ketua Pokja Pencalonan KPU Sumut, Benget Manahan Silitonga.
Komisioner KPU Sumut, Benget Manahan Silitonga.

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut belum merinci penggunaan dana kampanye kedua pasangan calon Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut (Pilgubsu) 2018. Rincian penggunaan dana kampanye tersebut akan diperoleh setelah audit yang dilakukan KPU melalui akuntan publik independen.

“Kalau untuk sekarang ini belum bisa kita sampaikan. Masa kampanye inikan sedang berlangsung dan penggunaan dana masing-masing paslon terakhir nanti wajib dilaporkan,” kata Komisioner KPU Sumut, Benget Silitonga, Senin (6/7).

Tahapan terakhir itu, terang Benget, berupa Laporan Penerimaan Dana Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK) dimana laporannya akan diterima 24 Juni 2018 atau satu hari setelah berakhirnya masa kampanye.

“Yang tanggal 20 April kemarinkan Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye (LPSDK). Baik dari paslon, perseorangan maupun badan hukum dan kelompok masyarakat,” katanya.

Dana kampanye paslon selama tahapan Pilgubsu, kata dia dikirimkan melalui Rekening Khususnya Dana Kampanye (RKDK). Jika kedua paslon tidak taat azas dan aturan, maka dapat didiskualifikasi sebagai peserta Pilgubsu.

“Tentu semua dana kampanye tersebut akan kita audit melalui akuntan publik yang ditunjuk KPU. Tapi untuk sejauh ini kita belum ketahui perincian dana kampanye terbesar paslon tersebut,” pungkasnya.

Untuk diketahui, mayoritas dana kampanye pada tahapan Pilgubsu 2018, bersumber dari masing-masing paslon. Selebihnya berasal dari sumbangan badan hukum dan perseorangan. Demikian diketahui dari laman Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut melalui http://kpud-sumutprov.go.id, Senin (23/4).  Penelusuran Sumut Pos, berdasarkan  kedua paslon Pilgubsu ke KPU, mayoritas dana kampanye bersumber dari masing-masing paslon. Seperti pasangan Eramas, dari laman KPU itu dirincikan bahwa senilai Rp10 miliar sumbangan dana kampanye mereka berasal dari Cawagub Musa Rajekshah (Ijeck). Sumbangan itu dilakukan dua tahap, yakni 14 Februari dan 20 Februari 2018. Sisanya berasal dari sumbangan dana badan hukum dan perseorangan. Dimana jika ditotal seluruhnya bernilai Rp13.895.000.000. Sumbangan dana dari badan hukum dan perseorangan ini juga sangat variatif. Mulai dari yang bernilai Rp20 juta, Rp75 juta, Rp350 juta sampai Rp750 juta.

Setali tiga uang, perincian LPSDK pasangan Djoss juga dominan bersumber dari kedua paslon. Sisanya didukung dari dana sumbangan badan hukum dan perseorangan. Adapun total dana kampanye pasangan Djoss sesuai LPSDK ke KPU, senilai Rp10.541.500.000. Dirincikan bahwa Cawagubsu Sihar Sitorus paling banyak menyumbangkan dana kampanye, senilai Rp6.475.000.000. Disusul sumbangan dari Cagubsu Djarot Saiful Hidayat senilai Rp2.415.000.000. Sementara sumbangan dari pihak lain dan perseorangan untuk pasangan Djoss jumlahnya variatif. Mulai dari Rp25 juta sampai ratusan juta rupiah. Sebagian besar yang terlihat di LPSK tersebut, sumbangan bersumber dari pengurus PDI Perjuangan Sumut. (prn/azw)

 

 

 

BNN Musnahkan 6 Hektare Ladang Ganja di Aceh

Foto: agus/dtc Ladang ganja di Aceh dimusnahkan.
Foto: agus/dtc
Ladang ganja di Aceh dimusnahkan.

ACEH, SUMUTPOS.CO – Petugas BNN memusnahkan enam hektare ganja di Indrapuri, Aceh Besar, Aceh. Pemusnahan ganja basah yang diperkirakan mencapai 30 ton ini dilakukan dengan cara dibakar.

Petugas BNN Pusat dibantu BNNP Aceh, polisi dan TNI tiba di ladang ganja pada, Selasa (7/5/2018) siang. Perjalanan dari titik parkir kendaraan, harus ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam. Jalanan licin dan beratnya medan membuat petugas harus berhati-hati.

Begitu tiba, petugas BNN membagi tim untuk mencabut batang-batang ganja yang tumpuh dengan ketinggian berkisar 1,5 hingga dua meter. Mereka selanjutnya membawa ke satu tempat untuk dikumpulkan agar mudah dibakar.

Namun, saat proses pemusnahan masih berlangsung, hujan deras mengguyur. Petugas terpaksa mencari tempat berlindung dan sebagian mengenakan mantel. Pemusnahan baru dapat dilakukan setelah hujan reda. Saat dibakar, api dan asap hitam membumbung tinggi.

“Hari ini kita temukan ladang ganja ketiga di tiga koordinat dari lima koordinat yang kita dapat dari lembaga riset dan penerbangan nasional. Dari 5 titik yang benar terdapat (ladang ganja) adalah tiga titik. Satu titik di Lamteuba, dua di Indrapuri,” kata Kasubdit Narkotika Alami Direktorat Narkotika BNN Kombes Anggoro Sukartono kepada wartawan di lokasi.

Menurutnya, luas ladang ganja yang ditemukan pihaknya sekitar enam hektare. Beberapa waktu lalu, pihaknya sudah pernah memusnahkan satu titik namun yang dimusnahkan hari ini merupakan lokasi baru.

“Dari hitungan kita dari 6 hektare kita dapatkan 30 ton ganja basah. Kalau kering bisa dikurangi kadar air,” jelas Anggoro.

Petugas tidak menemukan pemilik dalam operasi pemusnahan ladang ganja kali. Petugas BNN hanya menemukan ganja kering yang ditinggal pelaku. Barang bukti tersebut selanjutnya diamankan.

“Ada yang sudah dipanen oleh pelaku. Sementara hari ini belum ada,” ungkap Anggoro. (asp/dtc)

 

Bos First Travel Andika-Anniesa Dituntut 20 Tahun Bui

Foto: Grandyos Zafna Bos First Travel Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan (kanan).
Foto: Grandyos Zafna
Bos First Travel Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan (kanan).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Bos First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan dituntut hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar subsider 1 tahun 4 bulan kurungan. Pasangan suami istri itu dinilai jaksa terbukti melakukan penipuan umrah sekaligus melakukan pencucian uang dengan duit setoran calon jemaah.

“Menuntut supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Depok yang memeriksa dan mengadili perkara ini, memutuskan; satu, menyatakan terdakwa 1 Andika Surachman dan terdakwa 2 Anniesa Hasibuan telah terbukti melakukan tindak pidana penipuan secara bersama-sama dengan berlanjut,” ujar jaksa membacakan tuntutan terhadap Andika dan Anniesa Hasibuan di Pengadilan Negeri Depok, Jl Boulevard, Cilodong, Senin (7/5/2018).

Ketiga bos First Travel ini disebut jaksa secara bersama-sama melakukan penipuan perjalanan umrah lewat promosi paket umrah murah Rp 14,3 juta.

Paket promo murah dilakukan di media sosial yakni Facebook, Instagram dan situs First Travel. Promosi disebut jaksa dilakukan juga dengan menggandeng publik figur.

“Dan seluruhnya merupakan tipu muslihat serta rangkaian kebohongan sehingga membuat sekitar 50 ribu calon jemaah percaya atas paket promo 2017 dan melakukan penyetoran uang,” papar jaksa.

Dalam sidang terpisah, adik Anniesa Hasibuan, Siti Nuraida Hasibuan alias Kiki Hasibuan dituntut 18 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar subsider 1 tahun kurungan. (fdn/fdn/dtc)

Pedagang Pasar Jualan di Depan Kantor Wali Kota Medan

Foto: Prayugo Utomo/JawaPos.com Pedagang Pasar Pringgan saat berunjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Medan, Senin (7/5).
Foto: Prayugo Utomo/JawaPos.com
Pedagang Pasar Pringgan saat berunjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Medan, Senin (7/5).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Puluhan pedagang Pasar Pringgan memblokir jalan di depan Kantor Wali Kota Medan, Jalan Kapten Maulana Lubis, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), Senin (7/5). Mereka lantas membeber barang dagangan di tengah jalan.

Aksi itu sebagai bentuk penolakan atas rencana pelimpahan pengelolaan pasar tradisional kepada pihak swasta. Pemerintah Kota (Pemkot) Medan diklaim lepas tangan soal nasib pedagang.

Tercatat, ini adalah unjuk rasa ke-5 yang dilakukan para pedagang. Namun lagi-lagi aksi mereka sama sekali tidak berbuah solusi. Massa yang datang menuntut agar pasar dikelola kembali PD Pasar Kota Medan.

Mereka melakukan penolakan karena selama 20 tahun dikelola swasta, pasar tidak banyak berubah. PT Wira Jaya Loka yang menjadi pengelola, hampir tidak pernah melakukan renovasi pasar. Padahal mereka sudah membayarkan sejumlah uang kepada perusaahaan.

Kontrak PT Wira Jaya Loka sudah habis sejak tahun lalu. Pada September 2017, pasar tradisional itu kembali diambil alih Pemerintah Kota (Pemkot) Medan melalui Perusahaan Daerah (PD) Pasar.

Selama di tangan PD Pasar, banyak perubahan yang terjadi. Pasar direnovasi mulai dari bangunan hingga fasilitas. Belakangan santer beredar kabar, pengelolaan Pasar Pringgan akan dialihkan kembali ke PT Parbens. Perusahaan itu juga dikabarkan jelmaan PT Wira Jaya Loka.

Meilinda Sembiring, salah satu peserta aksi mengungkapkan, pedagang kesal karena Pemkot Medan akan mengembalikan kepada pihak swasta. Yakni, PT Parbens. “Kami nggak terima. Selama ini nggak ada perkembangan sama swasta. Pasar makin terpuruk,” katanya.

Hal itu berimbas pada pendapatan pedagang. Malah pedagang kaki lima semakin menjamur dan tidak ditertibkan. Jika sudah banyak pedagang kaki lima yang berjualan di pasar bawah, maka tidak akan ada lagi pembeli yang mau datang.

Jadi pedagang yang berjualan di dalam pasar pendapatannya berkurang. Ditambah lagi tidak ada perhatian dari pemerintah dan pengelola swasta. Hanya keuntungan saja yang dipikirkan.

Agar tidak kehilangan kiosnya, pedagang setiap tahun harus membayarkan uang administrasi. Sebelumnya, status kios adalah hak pakai. Sekarang, pedagang mesti bayar tagihan per tahun tanpa disertakan kuitansi.

“Pihak PD Pasar menakut-nakuti, kalau para pedagang tidak mau membayar kios akan ditarik. Apabila terjadi penggusuran PKL. Maka PKL akan diberikan tempat kios di dalam yang belum diregistrasi. Jadi kami pedagang takut dan terpaksa bayar. Ada yang sudah keluar sertifikat dan ada yang belum,” ujar peserta aksi lainnya, Ridwan

“Kami tidak mau dikelola pihak swasta. Kami terus berjuang hingga pasar kembali dikelola Pemko Medan. Selama ini kami yang mengelola pasar. Kenapa pemko diam terhadap kami. Wali kota tidak memperhatikan kami. Mereka mencabut SK dari PD Pasar,” tandasnya.

Sementara itu, unjuk rasa sempat memanas. Massa terlalu lama menunggu perwakilan yang masuk ke dalam gedung. Sejumlah orang kemudian menggoyang pagar dan memukuli pagar dengan kayu. Saat itu, Satpol PP yang berjaga tidak bergeming. (pra/JPC)

ASUS Siap Gelar Backto5, BacktoLive

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – ASUS Indonesia baru saja menghadirkan smartphone generasi terbarunya yang segera menjadi raja di segmen mainstream yakni ASUS ZenFone Max Pro M1. Tanpa menunda lebih lama, dalam waktu dekat, produsen asal Taiwan tersebut akan menggelar dua varian smartphone terbaru lainnya yang ditujukan untuk dua segmen yang berbeda.

Adalah ASUS ZenFone 5, smartphone yang kini telah mencapai iterasi ke-5 dari generasi smartphone Android ASUS yang fenomenal yang segera diperkenalkan pada publik di Tanah Air. Seperti generasi sebelumnya, smartphone ini ditujukan bagi para penggemar fotografi, dan juga mereka yang sangat mengikuti perkembangan teknologi terbaru perangkat telekomunikasi.

Adapun versi lainnya, yakni ASUS ZenFone Live L1, merupakan smartphone yang ditujukan untuk segmen entry level. Smartphone yang digadang-gadang akan menjadi “The Real FullView for Everyone” ini ditujukan bagi para pengguna dari generasi muda yang gemar melakukan hal-hal menyenangkan. Mulai dari menonton film, belanja online, sampai memutar musik.

“Saat hadir pertama kali di industri smartphone di Indonesia, ZenFone 5 merupakan smartphone yang sangat fenomenal. Dengan #Backto5, ASUS ingin mengajak pengguna untuk beralih ke smartphone ASUS generasi ke-5,” ucap Galip Fu, Country Marketing Manager, ASUS Indonesia. “ZenFone generasi ke-5 akan menjadi motor pendorong utama bagi ASUS untuk kembali menjadi raja di segmen middle-high,” ucapnya.

Berbeda dengan ZenFone 5, ZenFone Live L1 yang juga akan diperkenalkan merupakan model yang dijadikan andalan untuk menggarap segmen value. Yang menarik, sama seperti ZenFone Max Pro M1 yang baru diluncurkan, ZenFone Live L1 juga merupakan smartphone yang pertamakali hadir di Indonesia. Bukan di negara-negara lain di dunia.

“Semua dimungkinkan karena kita sudah memiliki SMT Line Manufacturing sehingga mampu memproduksi smartphone dengan metode Completely Knock Down di mitra pabrikan lokal kita Batam,” sebut Galip. “Kini kita memiliki sumber daya yang cukup untuk memproduksi smartphone secara menyeluruh di dalam negeri, bahkan sebelum negara-negara lain memilikinya,” sebutnya.

Sebagai informasi, event ASUS #Backto5 & #BacktoLive akan digelar di Jakarta, 17 Mei 2018. Pada kesempatan tersebut, dua smartphone unggulan terbaru ASUS akan dihadirkan secara resmi ke pasaran Indonesia dan akan segera menjadi raja-raja baru di segmennya. (rel/mea)

Saatnya Kolojengkingan

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

 

Tidak ada kesepakatan apa pun. Kecuali sepakat perlu dialog lagi. Itulah hasil pertemuan delegasi Amerika Serikat dengan Tiongkok. Yang berakhir Jumat lalu.

Menyisakan pertanyaan besar: jadi perang dagangkah?

Kalau jadi, itu berarti mulai akhir bulan ini. Sesuai dengan jadwal.

Beberapa pelabuhan di Tiongkok bahkan sudah melangkah. Di Shenzhen pemeriksaan barang masuk dari Amerika sudah lebih teliti. Maksudnya: lebih lambat. Kapal antre. Terlalu lama. Itu tidak baik untuk sayur dan buah.

”Sudah ada kapal yang terpaksa balik,” kata pengurus koperasi tani di pedalaman Kansas.

Saya bicara langsung dengan dia Jumat lalu. Di depan kantornya. Dia prihatin kalau perang dagang ini benar-benar terjadi.

Bisa jadi perubahan di pelabuhan itu untuk menunjukkan keseriusan Tiongkok. Dalam melakukan perlawanan. Di tengah negosiasi yang sedang berlangsung.

Bisa dibayangkan kerasnya negosiasi dua hari itu. Amerika mengajukan dua agenda: 1). Tiongkok harus mengurangi surplus dagangnya. 2). Jangan memberi subsidi pada program ‘made in Tiongkok 2025’.

Sebetulnya ada satu lagi yang diminta Amerika: jangan membalas dendam tindakan Washington.

Tiongkok juga cuma mengajukan dua agenda: 1). Cabut pengenaan tambahan tarif impor itu. 2). Cabut larangan kirim teknologi tinggi ke Tiongkok.

Sebenarnya ada juga tambahan permintaan: jangan menuntut terus.

Delegasi Amerika pulang. Haiiyyaa… tangan hampa.

Yang mengejutkan: direksi ZTE hari itu bikin edaran. Untuk 80 ribu karyawannya. Yang lagi resah. Isinya: memberikan semangat. Memberi optimisme. ”Semoga kita bisa segera mengucapkan selamat datang fajar!”. Begitu kira-kira isinya.

ZTE adalah BUMN raksasa Tiongkok. Di bidang telekomunikasi. Bersaing keras dengan Huawei yang swasta. Sama-sama dari Shenzhen.

ZTE sudah terlanjur sesumbar: tahun depan meluncurkan 5G. Yang akan terbesar di dunia.

Tiba-tiba Presiden Trump melarang perusahaan-perusahaan Amerika mengekspor semiconductor ke Tiongkok. Selama tujuh tahun. Alasannya: ZTE masukkan barang ke Iran.

Dinilai Matrek, Pacar Dihabisi

Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG, SUMUTPOS.CO – Dinilai terlalu matrek karena terlalu sering meminta uang, Supartini (55) dibunuh kekasihnya. Perempuan ini ditemukan tewas tergeletak di kebun jagung.

Jasad warga Dusun Senggrong, Kec. Bringin, Kab. Semarang, Jawa Tengah, ini ditemukan penuh luka di kepalanya. Menurut pihak keluarga, korban meninggalkan rumah sejak lima hari sebelum ditemukan tewas.

Dari pengusutan polisi akhirnya terungkap Supartini dibunuh oleh KH (45), pacar gelap korban. Sedangkan motif pembunuhan karena pelaku jengkel korban terus mendesak minta uang.

Jasad Supartini pertama ditemukan oleh Munawar (55) warga sekitar kebun jagung Lingkungan Dusun Pungkruk, Jatirunggo, Kec. Pringapus, Semarang, kemarin.

Ketika itu, saksi hendak membuang kotoran hewan untuk pupuk tanaman jagung. Saksi curiga melihat tumpukan batang jagung, padahal belum waktunya panen. Setelah tumpukan batang jagung dan daun pisang dibuka, saksi melihat sesosok tubuh wanita menggunakan daster kembang merah. Saksi selanjutnya bergegas memberitahukan penemuan jasad itu kepada perangkat desa setempat dan diteruskan ke Polres Semarang.

Tak lama berselang, sejumlah petugas gabungan mendatangi lokasi. Setelah melakukan oleh TKP, diketahui ada sejumlah luka di tubuh korban. Diantaranya luka sobek di kepala bagian kiri, serta luka goresan di tangan serta kaki korban.

Kapolres Semarang, AKBP Agus Nugroho melalui Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Yusi Andi Sukmana menjabarkan, dari lokasi kejadian polisi mengamankan sejumlah barang bukti.

Sekitar tiga jam setelah penemuan mayat, polisi menangkap KH di rumahnya. Terduga pelaku dibawa ke Polsek Bergas untuk diperiksa. Dihadapan polisi, KH mengaku telah membunuh korban. Pelaku sempat mengajak Supartini untuk makan. Keduanya kemudian bertengkar gara-gara korban terus mendesak minta uang. ”Saya jengkel karena dia terus minta uang, padahal saat itu saya sedang tidak punya uang,” ujar pelaku kepada petugas.

Pekaku juga mengaku membunuh korban dengan cara memukul kepalanya menggunakan batu, serta mejerat leher korban dengan kain kerudung. Atas perbuatannya, pelaku terancam Pasal 338 KUHP junto Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Menurut polisi antara pelaku dan korban sudah cukup lama menjalin hubungan gelap, padahal keduanya sama-sama sudah punya keluarga. (pk/jpg/ras)

Kompol Fahrizal Sakit Jiwa Berat

Foto: Istimewa Kompol Fahrizal, mantan Kasat Reskrim Polresta Medan, yang saat ini menjabat sebagai Wakapolres Lombok Tengah, masih diobservasi Tim Polda Sumut terkait kasus penembakan adik iparnya hingga tewas.
Foto: Istimewa
Kompol Fahrizal, mantan Kasat Reskrim Polresta Medan, yang saat ini menjabat sebagai Wakapolres Lombok Tengah, masih diobservasi Tim Polda Sumut terkait kasus penembakan adik iparnya hingga tewas.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kasus penembakan Jumingan, adik ipar Kompol Fahrizal yang terjadi 4 April lalu, hingga kini masih terus dalam penyelidikan Direktor reskrimum Polda Sumatera Utara.

Kesulitan untuk menggali motif dari peristiwa tersebut diakui Direktur Reserse Kriminal Umum Poldasu, Kombes Pol Andi Rian sebagai tantangan tersendiri bagi penyidik.

Meski begitu, penyidik Andi Rian memamstikan, kasus ini akan terus bergulir hingga ke pengadilan sebagai proses hukum. “Itu juga sebagai komitmen adanya kepastian hukum dalam kasus ini. Baik kepastian hukum bagi Kompol Fahrizal maupun bagi kepentingan umum,” jelas Andi kepada wartawan di Kapoldasu baru-baru ini.

Guna mendukung proses penyidikan kasus ini, pihak kepolisian juga sudah membantarkan Kompol Fahrizal ke Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem.

Pembantaran tersebut dimaksudkan untuk melakukan observasi terhadap kondisi kejiwaan Kompol Fahrizal yang diakui Andi kerap tidak stabil. Dan, dari hasil observasi yang sudah dilakukan selama empat belas hari, pihak penyidik sudah menerima hasil diagnosa dari penyakit yang diderita mantan Kasat reskrim Polresta Medan tersebut.

Dari hasil diagnosa yang dilakukan tim rumah sakit jiwa Prof dr M Ildrem, disimpulkan bahwa Kompol Fahrizal menderita gangguan jiwa berat yang didiagnosa sebagai Skizofrenia Paranoid.

“Jadi kesimpulan observasi yang kami dapat dari pihak rumah sakit terhadap kondisi kejiwaan Kompol Fahrizal bahwa yang bersangkutan benar-benar sedang mengalami gangguan kejiwaan yang cukup berat,” tegas Andi.

Kesimpulan pihak rumah sakit pun ternyata sesuai dengan pengakuan pihak keluarga Kompol Fahrizal. Bahwa pada tahun 2014 lalu, Kompol Fahrizal juga sempat mengalami kondisi seperti yang dihadapinya saat ini. Perilaku yang dimunculkan pun sama seperti ciri-ciri fisik yang kini terjadi pada Kompol Fahrizal. Dikatakan Andi, saat itu Kompol Fahrizal ditangani dokter kejiwaan Dr Mustafa yang melakukan perawatan.

Razia, Pengunjung Kedapatan Bugil

Pengunujung yang kedapatan bugil.
Pengunujung yang kedapatan bugil.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Polsek Percut Sei Tuan melakukan menggerebek sejumlah hotel kelas melati dan lesehan esek-esek di Jalan Sei Rotan, Desa Sei Rotan, Percut Sei Tuan, Minggu (6/5/2018) dinihari.

Dalam penggerebekan, sejumlah pasangan bukan suami istri diamankan. Bahkan beberapa pasangan di antaranya terpaksa menahan rasa malu lantaran digerebek dalam kondisi tidak berpakaian.

Lesehan atau kafe esek-esek yang digrebek diantaranya kafe lesehan milik Sugeng. Dari sini, petugas berhasil mengamankan tiga pasangan bukan suami istri.

Selanjutnya razia dilakukan ke Hotel Deli Indah yang tak jauh dari lokasi kafe lesehan. Dari sini, petugas mengamankan dua pasangan bukan suami istri.

Dari hotel yang berada di Jalan Perjuangan, Kecamatan Percut Seituan ini, petugas juga menyita satu pucuk senpi airsoft gun yang dibawa oleh salah seorang pengunjung hotel berinisial ARA warga Kab. Bireun, Aceh.

Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Faidil Zikri, yang langsung memimpin gelar razia mengatakan, ini merupakan bagian dari Operasi Pekat menjelang bulan suci Ramadan.

“Pasangan bukan suami istri yang kita amankan kita bawa ke Polsek untuk didata dan kita bina. Sedangkan senjata air softgun jenis FN beserta surat untuk sementara kita sita,” kata Faidil, Minggu (6/5/2018). (bbs)