Tekan Kasus DBD, Tim Pengabdian Masyarakat USU Berdayakan Ibu PKK Lewat Larvasida Alami

DELI SERDANG, sumutpos.co– Upaya preventif guna memutus mata rantai penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus digalakkan melalui penguatan kapasitas masyarakat. Langkah nyata ini diwujudkan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang menggelar program pemberdayaan menyasar ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Suka Makmur, Kecamatan Delitua, Kabupaten Deli Serdang.

Melalui program ini, kaum perempuan dan penggerak keluarga di tingkat desa dilatih secara intensif untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti. Fokus utama kegiatan difokuskan pada peningkatan pengetahuan serta keterampilan praktis dalam memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai larvasida ramah lingkungan.

Kegiatan berskala eksternal ini diketuai oleh dosen kesehatan masyarakat, Ir. Indra Chahaya, M.Si., dengan menggandeng dua dosen anggota, yaitu Winni R.E. Tumanggor, S.K.M., MPH dan Reni Novia, S.Gz., M.Gz. Program akademis ini juga mengintegrasikan peran aktif mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU yang terdiri atas Atma Aisyah Prudise, Miftahussakdan, dan Shafira Aqilah, serta melibatkan dua mahasiswa lainnya, yakni Winda Syahfitri dan Wahidah.

Ketua Tim Pengabdian, Ir. Indra Chahaya, M.Si., menyatakan, program ini dirancang secara komprehensif dalam tiga tahapan berkesinambungan, yang meliputi fase penyuluhan teori, dilanjutkan dengan lokakarya (workshop) praktik, hingga diakhiri dengan fase pemantauan (monitoring) berkala di lapangan.

“Rangkaian kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi dan komitmen perguruan tinggi dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan langsung ke tengah masyarakat. Kami membidik ibu-ibu PKK karena mereka memiliki peran sentral dalam menjaga sanitasi dan kesehatan lingkungan domestik atau rumah tangga,” ujar Indra dalam keterangan persnya.

Fase pertama diawali dengan agenda penyuluhan intensif yang dilaksanakan pada Rabu (5/8). Acara tersebut dibuka langsung oleh perwakilan Tim Pengabdian USU bersama Kepala Desa Suka Makmur yang memberikan apresiasi penuh serta arahan strategis.

Sebanyak 24 kader PKK yang hadir diberikan edukasi mendalam mengenai biologi nyamuk penular DBD, identifikasi gejala dini penyakit, dampak kesehatan yang ditimbulkan, hingga peta taktis pengendalian vektor.

Lebih lanjut, peserta juga diperkenalkan pada aspek teknis pengendalian jentik, baik secara fisik maupun kimiawi. Tim penguji turut memaparkan isu krusial mengenai bahaya resistensi jentik akibat penggunaan larvasida kimiawi sintetis yang berlebihan di pasaran. Sebagai solusi berkelanjutan, tim memperkenalkan formula larvasida alami yang aman, murah, dan mudah diproduksi mandiri di rumah.

Dosen anggota tim, Winni R.E. Tumanggor, S.K.M., menjelaskan, intervensi edukasi ini dilengkapi dengan skema pre-test dan post-test guna mengukur efektivitas penyerapan materi. Hasil evaluasi sementara menunjukkan adanya tren kenaikan yang positif pada nilai post-test peserta. Perubahan pemahaman ini menandakan para kader mulai menguasai prinsip dasar penanggulangan sarang nyamuk.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kesadaran bersama. Ibu-ibu PKK kini memiliki perspektif baru bahwa pencegahan DBD tidak harus bergantung pada bahan kimia, melainkan bisa mengoptimalkan potensi alami di sekitar pekarangan rumah,” tutur Winni.

Seminggu pascapenyuluhan, kegiatan memasuki tahapan krusial berupa workshop praktik pembuatan larvasida alami. Guna memastikan program berdampak luas, lokakarya ini melibatkan dua orang utusan perwakilan dari setiap dusun di Desa Suka Makmur. Para delegasi dusun diajarkan teknik ekstraksi tanaman lokal hingga metode pengaplikasian cairan larvasida pada titik-titik penampungan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik.

Pasca-pelatihan, tim akademisi USU melaksanakan pengawasan intensif selama dua minggu penuh untuk memastikan kesesuaian implementasi mandiri oleh warga. Hasil pemantauan akhir menunjukkan indikator keberhasilan yang signifikan.

Ibu-ibu PKK dinilai sukses mengaplikasikan larvasida alami tersebut di lingkungan masing-masing, sehingga program ini menjadi tahap awal instrumen intervensi alternatif dalam menekan angka penyebaran demam berdarah di Kabupaten Deli Serdang. (adz)

DELI SERDANG, sumutpos.co– Upaya preventif guna memutus mata rantai penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus digalakkan melalui penguatan kapasitas masyarakat. Langkah nyata ini diwujudkan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang menggelar program pemberdayaan menyasar ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Suka Makmur, Kecamatan Delitua, Kabupaten Deli Serdang.

Melalui program ini, kaum perempuan dan penggerak keluarga di tingkat desa dilatih secara intensif untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti. Fokus utama kegiatan difokuskan pada peningkatan pengetahuan serta keterampilan praktis dalam memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai larvasida ramah lingkungan.

Kegiatan berskala eksternal ini diketuai oleh dosen kesehatan masyarakat, Ir. Indra Chahaya, M.Si., dengan menggandeng dua dosen anggota, yaitu Winni R.E. Tumanggor, S.K.M., MPH dan Reni Novia, S.Gz., M.Gz. Program akademis ini juga mengintegrasikan peran aktif mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU yang terdiri atas Atma Aisyah Prudise, Miftahussakdan, dan Shafira Aqilah, serta melibatkan dua mahasiswa lainnya, yakni Winda Syahfitri dan Wahidah.

Ketua Tim Pengabdian, Ir. Indra Chahaya, M.Si., menyatakan, program ini dirancang secara komprehensif dalam tiga tahapan berkesinambungan, yang meliputi fase penyuluhan teori, dilanjutkan dengan lokakarya (workshop) praktik, hingga diakhiri dengan fase pemantauan (monitoring) berkala di lapangan.

“Rangkaian kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi dan komitmen perguruan tinggi dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan langsung ke tengah masyarakat. Kami membidik ibu-ibu PKK karena mereka memiliki peran sentral dalam menjaga sanitasi dan kesehatan lingkungan domestik atau rumah tangga,” ujar Indra dalam keterangan persnya.

Fase pertama diawali dengan agenda penyuluhan intensif yang dilaksanakan pada Rabu (5/8). Acara tersebut dibuka langsung oleh perwakilan Tim Pengabdian USU bersama Kepala Desa Suka Makmur yang memberikan apresiasi penuh serta arahan strategis.

Sebanyak 24 kader PKK yang hadir diberikan edukasi mendalam mengenai biologi nyamuk penular DBD, identifikasi gejala dini penyakit, dampak kesehatan yang ditimbulkan, hingga peta taktis pengendalian vektor.

Lebih lanjut, peserta juga diperkenalkan pada aspek teknis pengendalian jentik, baik secara fisik maupun kimiawi. Tim penguji turut memaparkan isu krusial mengenai bahaya resistensi jentik akibat penggunaan larvasida kimiawi sintetis yang berlebihan di pasaran. Sebagai solusi berkelanjutan, tim memperkenalkan formula larvasida alami yang aman, murah, dan mudah diproduksi mandiri di rumah.

Dosen anggota tim, Winni R.E. Tumanggor, S.K.M., menjelaskan, intervensi edukasi ini dilengkapi dengan skema pre-test dan post-test guna mengukur efektivitas penyerapan materi. Hasil evaluasi sementara menunjukkan adanya tren kenaikan yang positif pada nilai post-test peserta. Perubahan pemahaman ini menandakan para kader mulai menguasai prinsip dasar penanggulangan sarang nyamuk.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kesadaran bersama. Ibu-ibu PKK kini memiliki perspektif baru bahwa pencegahan DBD tidak harus bergantung pada bahan kimia, melainkan bisa mengoptimalkan potensi alami di sekitar pekarangan rumah,” tutur Winni.

Seminggu pascapenyuluhan, kegiatan memasuki tahapan krusial berupa workshop praktik pembuatan larvasida alami. Guna memastikan program berdampak luas, lokakarya ini melibatkan dua orang utusan perwakilan dari setiap dusun di Desa Suka Makmur. Para delegasi dusun diajarkan teknik ekstraksi tanaman lokal hingga metode pengaplikasian cairan larvasida pada titik-titik penampungan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik.

Pasca-pelatihan, tim akademisi USU melaksanakan pengawasan intensif selama dua minggu penuh untuk memastikan kesesuaian implementasi mandiri oleh warga. Hasil pemantauan akhir menunjukkan indikator keberhasilan yang signifikan.

Ibu-ibu PKK dinilai sukses mengaplikasikan larvasida alami tersebut di lingkungan masing-masing, sehingga program ini menjadi tahap awal instrumen intervensi alternatif dalam menekan angka penyebaran demam berdarah di Kabupaten Deli Serdang. (adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru