Atasi Krisis Air Bersih Pasca-Banjir di Langkat, Tim Vokasi USU Terapkan Teknologi Filtrasi Bertingkat

LANGKAT, sumutpos.co– Dampak banjir besar yang melanda wilayah Sumatera pada akhir 2025 lalu masih menyisakan pilu bagi warga Desa Pematang Cengal Barat, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Masalah klasik pascabencana pun muncul ke permukaan: krisis air bersih. Warga yang masih menggunakan air sungai sebagai salah satu sumber air utama, merasakan kualitas sumber air merosot tajam setelah banjir melanda desa mereka, kondisi air yang berlumpur, dan tercemar, sehingga tidak layak dikonsumsi maupun digunakan untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus) sehari-hari.

Melihat kondisi darurat tersebut, para akademisi dari Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU) bergerak cepat. Lewat Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Perintis Tahun 2026, tim dosen dan mahasiswa turun langsung ke lokasi bencana. Mereka memboyong teknologi filtrasi bertingkat untuk menjernihkan air keruh menjadi air yang layak konsumsi bagi warga.

“Penyediaan air bersih adalah kebutuhan paling mendesak pascabencana. Ketika sumur warga tercemar material banjir, penyakit mengintai. Di sinilah teknologi tepat guna harus hadir sebagai solusi instan dan aplikatif,” tegas Ketua Tim Pengabdian Fakultas Vokasi USU, Fathurrahman, M.Si. kepada Sumut Pos, Senin (7/9/2026).

Sistem filtrasi bertingkat yang diinstalasi di Desa Pematang Cengal Barat ini dirancang khusus dengan memanfaatkan kombinasi multi-media penyaring. Keunggulannya terletak pada efisiensi biaya, kemudahan operasi, dan rancangan yang sederhana. Alhasil, masyarakat awam pun bisa melakukan perawatan dan penggantian media filter secara mandiri tanpa perlu bergantung pada tenaga ahli.

Dalam menjalankan program berskema hibah internal T.A. 2026 ini, Fathurrahman tidak sendirian. Ia didampingi barisan dosen ahli lintas disiplin ilmu, yakni Abdul Floranda, M.Si., Dena Andromeda, S.Ars., M.S.P., dan Syukratun Nufus, S.Si., M.Sc. Tak hanya itu, gerakan sosial-ilmiah ini juga mengikutsertakan empat mahasiswa andalan dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Instrumentasi, yaitu Abdillah Husaini, Dzakwan Arrasyid, Ihshan Arbi Hadi Siswo, dan Sutan Moch Abdila Noer.

Keterlibatan mahasiswa ini dikemas dalam metode service learning (pembelajaran berbasis pengabdian). Mereka menguras keringat mulai dari fase konseptualisasi, perakitan mekanis alat, instalasi di titik krusial desa, hingga melakukan uji laboratorium berkala terhadap kualitas air hasil saringan.

Respons warga setempat begitu masif saat proses edukasi dan serah terima alat berlangsung. Tim Vokasi USU tak sekadar menaruh alat lalu pulang, melainkan menggelar lokakarya intensif mengenai manajemen sanitasi pascabencana dan pelatihan maintenance alat.

“Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat memiliki akses terhadap air bersih yang lebih aman serta mampu mengoperasikan dan merawat sistem filtrasi secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tambah Fathurrahman optimis.

Langkah konkret bumi almamater USU ini juga menjadi kontribusi nyata dalam menyokong program global Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama pada poin ke-3 terkait kehidupan sehat, poin ke-6 mengenai akses air bersih layak, serta poin ke-11 tentang pemukiman berkelanjutan.

Meski unit instalasi filtrasi bertingkat telah diserahterimakan sepenuhnya kepada pihak desa, Tim Vokasi USU berkomitmen melakukan supervisi dan pemantauan berkala. Langkah ini guna menjamin alat terus berfungsi optimal dan mitigasi bencana krisis air di Langkat bisa teratasi secara permanen. (adz)

LANGKAT, sumutpos.co– Dampak banjir besar yang melanda wilayah Sumatera pada akhir 2025 lalu masih menyisakan pilu bagi warga Desa Pematang Cengal Barat, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Masalah klasik pascabencana pun muncul ke permukaan: krisis air bersih. Warga yang masih menggunakan air sungai sebagai salah satu sumber air utama, merasakan kualitas sumber air merosot tajam setelah banjir melanda desa mereka, kondisi air yang berlumpur, dan tercemar, sehingga tidak layak dikonsumsi maupun digunakan untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus) sehari-hari.

Melihat kondisi darurat tersebut, para akademisi dari Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU) bergerak cepat. Lewat Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Perintis Tahun 2026, tim dosen dan mahasiswa turun langsung ke lokasi bencana. Mereka memboyong teknologi filtrasi bertingkat untuk menjernihkan air keruh menjadi air yang layak konsumsi bagi warga.

“Penyediaan air bersih adalah kebutuhan paling mendesak pascabencana. Ketika sumur warga tercemar material banjir, penyakit mengintai. Di sinilah teknologi tepat guna harus hadir sebagai solusi instan dan aplikatif,” tegas Ketua Tim Pengabdian Fakultas Vokasi USU, Fathurrahman, M.Si. kepada Sumut Pos, Senin (7/9/2026).

Sistem filtrasi bertingkat yang diinstalasi di Desa Pematang Cengal Barat ini dirancang khusus dengan memanfaatkan kombinasi multi-media penyaring. Keunggulannya terletak pada efisiensi biaya, kemudahan operasi, dan rancangan yang sederhana. Alhasil, masyarakat awam pun bisa melakukan perawatan dan penggantian media filter secara mandiri tanpa perlu bergantung pada tenaga ahli.

Dalam menjalankan program berskema hibah internal T.A. 2026 ini, Fathurrahman tidak sendirian. Ia didampingi barisan dosen ahli lintas disiplin ilmu, yakni Abdul Floranda, M.Si., Dena Andromeda, S.Ars., M.S.P., dan Syukratun Nufus, S.Si., M.Sc. Tak hanya itu, gerakan sosial-ilmiah ini juga mengikutsertakan empat mahasiswa andalan dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Instrumentasi, yaitu Abdillah Husaini, Dzakwan Arrasyid, Ihshan Arbi Hadi Siswo, dan Sutan Moch Abdila Noer.

Keterlibatan mahasiswa ini dikemas dalam metode service learning (pembelajaran berbasis pengabdian). Mereka menguras keringat mulai dari fase konseptualisasi, perakitan mekanis alat, instalasi di titik krusial desa, hingga melakukan uji laboratorium berkala terhadap kualitas air hasil saringan.

Respons warga setempat begitu masif saat proses edukasi dan serah terima alat berlangsung. Tim Vokasi USU tak sekadar menaruh alat lalu pulang, melainkan menggelar lokakarya intensif mengenai manajemen sanitasi pascabencana dan pelatihan maintenance alat.

“Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat memiliki akses terhadap air bersih yang lebih aman serta mampu mengoperasikan dan merawat sistem filtrasi secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tambah Fathurrahman optimis.

Langkah konkret bumi almamater USU ini juga menjadi kontribusi nyata dalam menyokong program global Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama pada poin ke-3 terkait kehidupan sehat, poin ke-6 mengenai akses air bersih layak, serta poin ke-11 tentang pemukiman berkelanjutan.

Meski unit instalasi filtrasi bertingkat telah diserahterimakan sepenuhnya kepada pihak desa, Tim Vokasi USU berkomitmen melakukan supervisi dan pemantauan berkala. Langkah ini guna menjamin alat terus berfungsi optimal dan mitigasi bencana krisis air di Langkat bisa teratasi secara permanen. (adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru