MEDAN, sumutpos.co– Universitas Sumatera Utara (USU) resmi memulai langkah penataan dan renovasi fasilitas rumah ibadah Chapel USU di lingkungan kampus. Proses perbaikan infrastruktur ini diawali dengan relokasi sementara gedung chapel guna meningkatkan kapasitas serta kualitas sarana pembinaan kerohanian bagi sivitas akademika dan warga Kristen di lingkungan kampus tersebut.
Ketua Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU Prof Dr Robert Sibarani MS menjelaskan, peremajaan bangunan Chapel sudah sangat mendesak seiring melonjaknya populasi mahasiswa Kristen di USU. Saat ini, jumlah mahasiswa Kristen diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 orang yang tersebar di 16 fakultas. Sementara itu, daya tampung gedung Chapel yang ada saat ini sangat terbatas, yakni hanya mampu memuat 300 hingga 350 orang.
“Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan terhadap fasilitas pembinaan kerohanian yang lebih memadai juga semakin besar. Karena itu, renovasi merupakan bagian dari upaya menyediakan fasilitas yang lebih representatif,” kata Robert di Medan, Senin (10/8).
Robert mengimbau seluruh pihak agar menyikapi proses relokasi ini secara utuh dan proporsional. Ia menekankan pentingnya menjaga komunikasi yang baik serta suasana kondusif di lingkungan perguruan tinggi selama penataan administratif dan fisik berlangsung.
Isu pengalihfungsian gedung dibantah tegas oleh manajemen kampus. Direktur Direktorat Pengelolaan Infrastruktur Akademik USU Rapido P Gultom ST MSi menegaskan, Chapel USU sejak awal tetap diperuntukkan sebagai rumah ibadah dan tidak pernah direncanakan untuk dialihfungsikan.
Menurut Rapido, rencana renovasi Chapel sejatinya sudah dirancang sejak 2015. Selain masalah kapasitas, pertimbangan utama penataan gedung ini adalah faktor lingkungan. Lokasi Chapel yang ada saat ini kerap terdampak luapan banjir saat curah hujan tinggi, sehingga memerlukan intervensi infrastruktur demi menjamin keamanan dan kenyamanan jemaat.
“Renovasi dilakukan untuk meningkatkan fungsi, kualitas, keamanan, dan kenyamanan bangunan, bukan untuk mengubah fungsinya. Selama proses renovasi, kami menjamin tersedianya tempat beribadah sementara,” tegas Rapido.
Dukungan juga datang dari kalangan warga dan keluarga pendiri. Salah seorang anak dari (Alm) Dr. Hotma Panggabean—salah satu tokoh pembangun Chapel USU—menilai langkah universitas sudah tepat. “USU sudah baik, ini bukan melarang orang beribadah. Dipindahkan ke tempat sementara untuk tetap bisa digunakan mahasiswa beribadah,” ujarnya saat memantau proses relokasi.
Jamin Kegiatan Keagamaan Tetap Berjalan
Guna memastikan pelayanan kerohanian tidak terputus selama masa konstruksi, pihak rektorat telah menyiapkan gedung pengganti sementara di area kampus. Ketua Panitia Hari Besar Kristen USU yang juga Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama Prof Dr Eng Himsar Ambarita ST MT menegaskan komitmen kampus untuk terus memfasilitasi seluruh kegiatan ibadah mahasiswa, dosen, maupun pegawai.
“Prinsipnya, kegiatan keagamaan tetap difasilitasi. Kampus menyediakan gedung yang dapat digunakan selama proses renovasi berlangsung agar pembinaan dan aktivitas keagamaan tetap berjalan sebagaimana mestinya,” pungkas Himsar.
Dengan renovasi ini, USU berharap fasilitas Chapel yang baru kelak mampu memberikan daya tampung yang jauh lebih besar dan pelayanan kerohanian yang optimal bagi seluruh warga Kristen di lingkungan kampus. (adz)

