MEDAN, SumutPos.co— Tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil mengungkap potensi besar daun Bosi-bosi (Timonius flavescens) sebagai terapi pendamping antikanker payudara. Melalui riset komprehensif yang dimulai sejak tahun 2023, tanaman liar endemik asal perbukitan Tarutung, Tapanuli Utara ini terbukti secara ilmiah mampu menghambat pertumbuhan sel kanker dengan memanfaatkan metode ekstraksi ramah lingkungan (green chemistry).
Penelitian multisektoral ini didanai melalui skema EQUITY Project LPDP yang dikelola oleh USU, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Riset ini dipimpin oleh Muhammad Fauzan Lubis, M.Farm., Apt., dosen Departemen Biologi Farmasi Fakultas Farmasi USU, dengan melibatkan kolaborasi ahli lintas kampus termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM).
Berbeda dengan metode tradisional masyarakat lokal yang sekadar merebus daun Bosi-bosi untuk meredakan nyeri dan diabetes, tim peneliti USU menerapkan pendekatan sains modern. Mereka menggunakan metode Natural Deep Eutectic Solvent (NADES), sebuah sistem pelarut ramah lingkungan yang menggabungkan kolin klorida (hydrogen bond acceptor) dan D-glukosa (hydrogen bond donor) dengan pelarut air.
Untuk mencapai hasil maksimal, proses penarikan senyawa ini dioptimalkan menggunakan metode statistik Central Composite Design (CCD) berbasis Response Surface Methodology (RSM), serta dipadukan dengan teknologi gelombang ultrasonik atau Ultrasound-Assisted Extraction (UAE).
“Melalui formulasi pelarut NADES yang tepat, senyawa polifenol dan flavonoid di dalam daun dapat ditarik secara jauh lebih optimal dibandingkan metode perebusan biasa,” ujar Fauzan Lubis dalam keterangannya.
Keberhasilan formulasi ekstraksi ini juga telah diverifikasi secara visual dan struktural melalui instrumen Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Transmission Electron Microscope (TEM).
Bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk analisis Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), tim berhasil mengidentifikasi 13 senyawa bioaktif utama. Ekstrak ini terbukti memiliki aktivitas antioksidan tinggi, dengan persentase penghambatan radikal bebas DPPH mencapai 89,32 persen pada konsentrasi 500 μg/mL.
Uji sitotoksisitas in vitro menggunakan metode MTT assay, flow cytometry, dan penandaan imunositokimia pada tiga lini sel kanker payudara menunjukkan dua mekanisme biologis utama ekstrak daun Bosi-bosi dalam melumpuhkan kanker:
1. G0-G1 Cell Cycle Arrest (Penghentian Siklus Sel): Ekstrak daun Bosi-bosi memicu penurunan ekspresi protein cyclin D1 (downregulation), yang bertugas mengatur pembelahan sel. Akibatnya, laju pembelahan sel kanker menjadi tertahan.
2. Induksi Apoptosis (Kematian Sel Terprogram): Ekstrak ini memicu peningkatan ekspresi protein p53 (upregulation). Peningkatan protein penekan tumor ini memaksa sel kanker mengalami kematian terprogram, baik pada fase awal (early apoptosis) maupun fase akhir (late apoptosis).
“Penurunan ekspresi cyclin D1 menahan laju pembelahan sel tumor, sementara peningkatan p53 memicu sel kanker untuk mati secara terprogram. Kombinasi inilah yang membuat ekstrak daun Bosi-bosi sangat berpotensi dikembangkan sebagai terapi pendamping antikanker,” jelas Fauzan.
Sebagai pijakan awal aspek keamanan medis, tim peneliti telah melakukan uji toksisitas akut in vivo pada hewan uji mencit berdasarkan OECD Guideline 420. Hasil pengujian menggunakan dosis tunggal hingga 5.000 mg/kg berat badan (BB) selama 14 hari menunjukkan hasil yang aman. Tidak ditemukan adanya kematian, gejala toksik, maupun kelainan hematologi. Fungsi hati, ginjal, serta struktur histopatologi organ jantung dan ginjal mencit ditemukan tetap utuh dan sehat.
Validitas riset ini diperkuat oleh solidnya kolaborasi pakar lintas disiplin ilmu. Tim inti di USU disokong oleh Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan (pakar antikanker), Prof. Dr. Sumaiyah (pakar formulasi), dr. Lokot Donna Lubis (pakar histologi dan toksikologi), serta peneliti dari UGM, Dr. Retno Murwanti, yang memfasilitasi pengujian kultur sel kanker. Dukungan riset juga mengalir dari Universitas Pancasila, ISTN Jakarta, dan Institut Kesehatan Helvetia Medan.
Saat ini, hasil penelitian tersebut telah resmi dipublikasikan dan diakui secara global dalam jurnal internasional Advances in Traditional Medicine yang diterbitkan oleh Springer.
Meskipun menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan, Fauzan menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap studi pendahuluan (preliminary study). Ekstrak yang dihasilkan saat ini masih berbentuk cair murni untuk kebutuhan uji laboratorium dan belum berbentuk produk fisik komersial dalam kemasan.
Perjalanan daun Bosi-bosi dari rimba Tapanuli Utara menuju meja klinis masyarakat luas masih membutuhkan beberapa tahapan krusial berikutnya, antara lain standardisasi mutu ekstrak yang konsisten serta uji toksisitas subkronis (pemberian dosis selama tiga bulan).
“Harapan besar kami di tim riset ini, pengujian Bosi-bosi bisa terus berjalan hingga nantinya menghasilkan produk fitofarmaka atau terapi pendamping antikanker yang aman, teruji secara sains, dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” pungkas Fauzan. (adz)

