MEDAN, sumutpos.co- Dinamika internal menjelang pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumatera Utara (Sumut) mulai bergulir. Menghadapi momentum suksesi tersebut, internal pengurus Demokrat Sumut menekankan pentingnya figur pemimpin masa depan yang memiliki komitmen kuat serta fokus pada penguatan organisasi di tingkat daerah, bukan sekadar membangun pencitraan di tingkat pusat.
Jajaran pengurus di tingkat daerah menuntut, figur calon ketua mendatang tidak sekadar bermodalkan pencitraan di tingkat Dewan Pimpinan Pusat (DPP), melainkan wajib memiliki rekam jejak konkret serta komitmen nyata membesarkan partai di tingkat basis.
Konsolidasi organisasi yang dinilai rapuh serta minimnya transparansi di bawah nakhoda saat ini, dituding menjadi pemicu utama kegalauan kepengurusan di Sumut. Kritik blak-blakan tersebut dilayangkan Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, Burhanuddin Sitepu. Politikus senior yang juga Ketua DPC Demokrat Medan periode 2017–2022 itu menegaskan, arah pergerakan partai ke depan wajib dievaluasi total demi menyelamatkan marwah Demokrat di tingkat akar rumput.
“Bakal calon Ketua Demokrat Sumut ke depan harus punya komitmen yang jelas terhadap kemajuan partai di Sumut. Publik, pengurus, dan kader berhak menagih rekam jejak serta apa yang sudah dikontribusikan secara nyata selama ini untuk Demokrat Sumut,” tegas Burhanuddin di sela acara syukuran wisuda cucunya Akhmad Eraldo Wiranta Milala SH di Jalan Bunga Mawar Nomor 104, Medan Selayang, Kota Medan, Minggu (30/8/2026).
Menurut figur yang pernah duduk selama 15 tahun di DPRD Kota Medan ini, agenda paling mendesak yang harus dieksekusi oleh nakhoda baru nanti adalah merajut kembali konsolidasi internal yang kendor. Pasalnya, aspek keterbukaan informasi dan tata kelola organisasi menjadi raport merah. Selama ini, manajemen DPD dinilai tertutup dan kerap memicu multitafsir di jajaran pengurus.
Salah satu potret buruk manajemen organisasi yang paling disesalkan Burhanuddin adalah fenomena hengkangnya sejumlah pengurus teras ke partai politik lain. Ironisnya, perpindahan atau migrasi kader tersebut tidak pernah dikomunikasikan secara terbuka kepada jajaran kepengurusan lainnya di DPD Demokrat Sumut.
“Banyak pengurus yang sudah pindah partai. Sebut saja nama-namanya, Akhyar Nasution yang kembali ke PDIP, Ahmad Arif juga kembali ke PAN, Ainal Mardiah juga sudah pindah partai, tapi tidak pernah ini disampaikan secara terbuka kepada jajaran pengurus lainnya. Harusnya, inikan menjadi bahan evaluasi kenapa mereka memilih pindah partai. Bukan malah diangap angin lalu saja,” tegasnya.
“Situasi ini jelas berpotensi menimbulkan riak dan rasa kurang nyaman di internal. Banyak pengurus yang merasa ditinggalkan dan bingung dengan arah kebijakan partai,” imbuhnya dengan nada kecewa.
Kritik Burhanuddin juga dialamatkan pada gaya komunikasi politik pimpinan DPD yang terkesan pragmatis, yakni hanya mendekati kader daerah saat memiliki kepentingan politik tertentu. “Jangan kalau ada maunya saja, semua serba ada. Tapi setelah itu hilang. Kita berharap pendekatan ke daerah dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika butuh momentum,” ujarnya.
“Pengalaman lima tahun terakhir ini harus jadi pelajaran agar ketua terpilih nantinya benar-benar hadir untuk membesarkan partau di daerah, bukan sekadar fokus pada pencitraan ke pusat atau berbaik-baik ke DPP saat butuh rekomendasi,” ketusnya.
Lebih jauh, Burhanuddin menilai, rapor kepengurusan DPD Demokrat Sumut selama lima tahun terakhir berjalan tanpa arah strategis yang jelas. Tidak adanya kegiatan masif yang mampu mendongkrak elektabilitas partai mempertegas stagnasi organisasi. “Kita perlu jujur mengevaluasi capaian dan program yang telah berjalan selama ini. Tunjukkan kepada saya, satu saja prestasi yang berhasil diraih ketua DPD saat ini yang mampu membesarkan partai? Tidak ada. Bahkan kepengurusan yang ada sekarang pun sudah buyar karena banyak yang lompat pagar ke partai lain. Ini bukti mesin partai sudah rusak,” tegasnya.
Menghadapi momentum regenerasi kepemimpinan ini, Burhanuddin menaruh harapan besar agar DPP Partai Demokrat lebih selektif dan objektif dalam menyaring dan menetapkan ketua DPD dan DPC ke depannya. “DPP harus memilih figur petarung yang akomodatif, fokus pada basis massa di Sumatera Utara, serta siap mencurahkan waktu dan energinya secara penuh di daerah demi mengembalikan kejayaan Partai Demokrat di Sumut,” pungkasnya. (adz)

