26 C
Medan
Thursday, July 18, 2024

Suami Diseret dan Dipukuli Massa, Istri Syok dan Tewas

Foto: Fadli/PM Hendra (baju biru dongker dan lobe putih), yang dipukuli massa karena disangka maling, memberi keterangan pada wartawan di rumah duka. Istrinya, Juli Elfridawati, tewas karena syok melihat sang suami dimassa.
Foto: Fadli/PM
Hendra (baju biru dongker dan lobe putih), yang dipukuli massa karena disangka maling, memberi keterangan pada wartawan di rumah duka. Istrinya, Juli Elfridawati, tewas karena syok melihat sang suami dimassa.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Baru setahun menikah, Hendra harus ikhlas kehilangan istri tercinta Juli Elpridawati. Perempuan 37 tahun itu syok, lalu pingsan dan tewas lantaran melihat suaminya dihakimi massa karena disangka komplotan maling sepeda motor.

Peristiwa ini berawal saat Hendra sedang berada di rumah, sehabis membantu tetangganya yang jualan lontong untuk mengangkat lemari. Tiba-tiba ada pencuri sepeda motor ditangkap. Kejadian pada Sabtu (1/10) sore itu mengundang warga yang lain berdatangan melihat langsung pelaku. Termasuk pria yang menetap di Jalan Aluminium Raya/Jalan Porta, Gang Cipto, Kelurahan Tanjung Mulia Medan Deli.

“Aku juga saat itu penasaran dan berniat melihat pencuri yang ditangkap itu. Tapi saat itu istri aku (almarhum) sempat melarang ngapain lah abang keluar sana,” kata Hendra mengenang ucapan istrinya.

Namun meski sempat dilarang sang istri, dia tetap keluar untuk melihat kejadian tersebut. Lalu jalan kaki mendatangi kerumunan massa yang sedang menghakimi maling sepeda motor itu.

“Sampai di sana, aku cuma sebentar melihat pelaku pencurian sepeda motor itu, karena tak tega melihat pelaku dipukuli, aku kembali ke rumah,” ujar buruh yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar muat di Pabrik Semen Andalas ini.

Nah, saat mau sampai rumah, tiba-tiba ada teriakan dari kerumunan massa. “Woi… Kau pencurinya juga kan, jangan lari kau,” aku Hendra meniru perkatan yang belakangan diketahuinya adalah korban maling tersebut.

Karena merasa tidak bersalah, pria 44 tahun itu menghentikan langkahnya. Seketika dia langsung didatangi pemilik sepeda motor yang identitasnya belum diketahui, lalu mencekik lehernya. Bahkan Hendra langsung diseret ke kerumunan warga.

“Di situ aku dituduh orang-orang itu sebagai pelaku juga. Tapi aku sempat bilang bahwa aku bukan salah satu pelaku pencurian sepeda motor itu. Tapi pemilik sepeda motor itu, tetap memaksa dan mengatakan aku adalah salah satu teman dari pelaku. Dan aku disuruh untuk tetap mengakuinya,” aku Hendra yang baru satu tahun menikahi Juli Elfridawati.

Untung sebagian warga ada yang mengenal Hendra, dan akhirnya dia dibawa ke rumah kepling yang bernama Pak Bandi. Akan tetapi, sebelum sampai, sebagian warga sudah tersulut emosi. Dan dia pun dimassa. Alhasil Hendra menjerit kesakitan dihakimi massa.

“Pemilik sepeda motor yang dicuri itu orang Cina, tapi aku gak tau namanya siapa, karena aku juga baru satu bulan tinggal di situ. Di dalam rumah kepling itu aku masih juga dituduhnya, sampai aku bilang kalau kalian tidak percaya juga, mari sini KTP mu yang pemilik sepeda motor aku pegang, setelah itu mau kalian pukulin aku gak masalah. Tapi habis itu aku tuntut kau yang punya sepeda motor,” ungkap Hendra.

Foto: Fadli/PM Hendra (baju biru dongker dan lobe putih), yang dipukuli massa karena disangka maling, memberi keterangan pada wartawan di rumah duka. Istrinya, Juli Elfridawati, tewas karena syok melihat sang suami dimassa.
Foto: Fadli/PM
Hendra (baju biru dongker dan lobe putih), yang dipukuli massa karena disangka maling, memberi keterangan pada wartawan di rumah duka. Istrinya, Juli Elfridawati, tewas karena syok melihat sang suami dimassa.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Baru setahun menikah, Hendra harus ikhlas kehilangan istri tercinta Juli Elpridawati. Perempuan 37 tahun itu syok, lalu pingsan dan tewas lantaran melihat suaminya dihakimi massa karena disangka komplotan maling sepeda motor.

Peristiwa ini berawal saat Hendra sedang berada di rumah, sehabis membantu tetangganya yang jualan lontong untuk mengangkat lemari. Tiba-tiba ada pencuri sepeda motor ditangkap. Kejadian pada Sabtu (1/10) sore itu mengundang warga yang lain berdatangan melihat langsung pelaku. Termasuk pria yang menetap di Jalan Aluminium Raya/Jalan Porta, Gang Cipto, Kelurahan Tanjung Mulia Medan Deli.

“Aku juga saat itu penasaran dan berniat melihat pencuri yang ditangkap itu. Tapi saat itu istri aku (almarhum) sempat melarang ngapain lah abang keluar sana,” kata Hendra mengenang ucapan istrinya.

Namun meski sempat dilarang sang istri, dia tetap keluar untuk melihat kejadian tersebut. Lalu jalan kaki mendatangi kerumunan massa yang sedang menghakimi maling sepeda motor itu.

“Sampai di sana, aku cuma sebentar melihat pelaku pencurian sepeda motor itu, karena tak tega melihat pelaku dipukuli, aku kembali ke rumah,” ujar buruh yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar muat di Pabrik Semen Andalas ini.

Nah, saat mau sampai rumah, tiba-tiba ada teriakan dari kerumunan massa. “Woi… Kau pencurinya juga kan, jangan lari kau,” aku Hendra meniru perkatan yang belakangan diketahuinya adalah korban maling tersebut.

Karena merasa tidak bersalah, pria 44 tahun itu menghentikan langkahnya. Seketika dia langsung didatangi pemilik sepeda motor yang identitasnya belum diketahui, lalu mencekik lehernya. Bahkan Hendra langsung diseret ke kerumunan warga.

“Di situ aku dituduh orang-orang itu sebagai pelaku juga. Tapi aku sempat bilang bahwa aku bukan salah satu pelaku pencurian sepeda motor itu. Tapi pemilik sepeda motor itu, tetap memaksa dan mengatakan aku adalah salah satu teman dari pelaku. Dan aku disuruh untuk tetap mengakuinya,” aku Hendra yang baru satu tahun menikahi Juli Elfridawati.

Untung sebagian warga ada yang mengenal Hendra, dan akhirnya dia dibawa ke rumah kepling yang bernama Pak Bandi. Akan tetapi, sebelum sampai, sebagian warga sudah tersulut emosi. Dan dia pun dimassa. Alhasil Hendra menjerit kesakitan dihakimi massa.

“Pemilik sepeda motor yang dicuri itu orang Cina, tapi aku gak tau namanya siapa, karena aku juga baru satu bulan tinggal di situ. Di dalam rumah kepling itu aku masih juga dituduhnya, sampai aku bilang kalau kalian tidak percaya juga, mari sini KTP mu yang pemilik sepeda motor aku pegang, setelah itu mau kalian pukulin aku gak masalah. Tapi habis itu aku tuntut kau yang punya sepeda motor,” ungkap Hendra.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/