Home Blog Page 14158

Wisata Air Banjir Pengunjung

Liburan Natal dan Tahun Baru

MEDAN-Libur Natal dan Tahun Baru ternyata dimanfaatkan betul oleh warga Sumatera Utara. Menariknya, dari penelusuran Sumut Pos, objek wisata yang paling banyak digemari warga adalah wisata air.

Seperti yang terlihat di Draco Waterpark Hermes Place Polonia Medan, Senin (26/12). Kapasitas Waterpark yang dapat menampung hingga 1500 orang ini dipenuhi oleh keluarga yang menghabiskan masa liburannya. Terlihat pengunjung terutama anak-anak, asyik bermain di dalam air. Bahkan, sekitar 10 wahana yang tersedia, semuanya ingin dicoba dan dirasa oleh anak-anak.

“Bermain dapat menambah rasa dekat dengan anak karena kita perhatikan si anak dengan maksimal,” ujar Lindung (37), salah satu pengunung Draco Waterpark.

Warga Jalan Setia Budi ini, memilih liburan ke Draco, karena konsepnya air yang membuat kegiatan berlibur lebih terasa. “Kalau dalam air kita kan berinteraksi langsung dengan anak, melakukan sesuatu secara bersamaan dan lainnya,” tambah Lindung. Wahana air yang saat ini sedang diminati oleh masyarakat menurutnya merupakan pilihan yang sangat tepat untuk liburan. Selain biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar, biasanya dalam wahana air akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. “Dalam Draco waterpark, konsep yang kita ambil dan pangsa pasar kita adalah keluarga, dengan suasana alam terbuka membuat keluarga akan merasa betah menghabiskan waktu untuk kita,” ujar Deputy General Manager Hermes Place Polonia Medan, Steven Wang.

Steven mengakui, bahwa saat ini wahana permainan air sangat diminati oleh masyarakat. Bahkan, sejak muncul di Kota Medan hingga sekarang, masyarakat yang datang mengunjungi terus bertambah. “Permainan air sangat diminati, iya, bahkan untuk saat ini, bila anak ditanya maka mereka akan menjawab pergi berenang daripada harus jalan kemana,” ungkap Steven.

Pemandangan yang sama juga dapat dilihat di Hairos yang terletak di jalan Jamin Ginting. Di kolam permandian modern ini, ada sekitar 5 wahana air yang disediakan. Dan dalam liburan natal dan anak sekolah ini, Hairos juga kebanjiran pengunjung yang mayoritas berasal dari Kota Medan dan Pancur Batu dan daerah sekitarnya.

Hampir 90 persen, pengunjung dari Hairos juga merupakan keluarga dengan anak usia 3 hingga 10 tahun. Terlihat, pengunjungnya sangat menikmati semua fasilitas yang disediakan. “Biasanya anak lebih suka main di kolam ombak, sama kolam sungai, dan kolam yang membutuhkan ban,” ungkap salah satu pegawai Hairos.

Kejadian serupa juga terjadi di Kota Tebingtinggi. Di dua tempat wisata air, Water Park Gundaling yang terletak di Jalan Soekarno Hatta dan Wisata air Lubuk Indah di Jalan Gatot Subroto Kota Tebing Tinggi juga ramai oleh pengunjung. Tidak itu saja, tempat pemandian obyek wisata Batu Nonggol yang terletak di Desa Buluh Duri, Kecamatan Sipis-Pis, Kabupaten Serdang Bedagai juga ramai dikunjungi warga. “Minggu kemarin, pengunjung hanya berjumlah sekitar 200 orang, sementara hari ini terjadi penurunan. Kemungkinan itu dikarenakan karena waktu liburan hanya pendek selama dua hari saja,” kata Nurdin pengelola Water Park Gundaling, kemarin.

Pun, di Karo. Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang paling banyak dipadati  turis di antaranya, kawasan Pasar Buah Berastagi, Gundaling, Tongging, Danau Lau Kawar,  dan pemandian alam air panas Desa Semangat Gunung.
Selain objek wisata alam milik Pemda Karo, lokasi wisata buatan milik swasta, seperti Taman Simalem Resort (TSR) yang berada di Kecamatan Merek, dan aneka permainan di Hotel Mikey Holiday, juga menjadi sasaran  kunjungan liburan Natal tahun ini.

Kedatangan turis lokal asal Sumut sejak Sabtu (24/12) jelang sore, mendadak membuat sejumlah hunian dipadati pengunjung. Penginapan kelas melati hingga hotel berbintang seluruhnya terisi penuh, hingga Minggu (25/12). Sementara pada, Senin (26/12) jelang siang, sejumlah tamu mulai kembali ke daerah asalnya masing-masing.
“Libur Natal tahun ini, sekitar 30 ribu pengunjung  mendatangi objek wisata Tanah Karo.  Ke depannya akan kita lakukan pembenahan dan penambahan sarana prasarana. Selain itu, kita mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan  daerah tujuan wisata agar turut berpartisipasi meningkatkan taraf kunjungan,” ujar Kadis Parsenbud  Pamkab Karo, Dinasti Sitepu SSos melalui selularnya.

Sementara itu, lokasi Mikie Holiday Resort Berastagi, seperti dikatakan Simon Barus Funland, Head Section I Mikie Holiday Resort, di malam pergantian tahun nanti mereka menyiapkan 100 ribu tembakkan kembang api ke udara. “Tahun kemarin kami melakukan 5.000 tembakkan kembang api ke udara. Tahun ini lebih besar lagi, dua kali lipat. Kami juga menyiapkan pesat kembang api,” ujar Simon Barus.

Tak hanya itu, mereka juga telah membuka wahana permainan baru, Sea Monster. Untuk bisa menikmati malam pergantian tahun di Mikie Holiday, lanjutnya, pengunjung cukup membayar uang masuk sebesar Rp100 ribu per orang. “Dengan biaya masuk tersebut, sudah bisa menikmati semua fasilitas wahana permainan dan juga menikmati pesta kembang api. Pada tanggal 31 itu, kita buka dari jam 10.00 hingga 02.00 WIB atau hingga dini pagi di pergantian tahun,” tambahnya. (ram/mag-3/wan)

Agustus 2011 Syamsul Arifin Divonis 2,5 Tahun

2 Agustus 

  • Tiga terdakwa komplotan perampokan Bank CIMB dan penyerangan Mapolsek Ham paran Perak divonis di PN Medan. Terdakwa Marwan alias Wak Genk divonis 12 tahun penjara, M Khoir alias Butong divonis 9 tahun penjara dan Jumirin yang dituduh menyembunyikan teroris divonis 7 tahun penjara.
  •  Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kota Medan mengumumkan hasil penelusuran mereka. Selain melakukan pungutan liar (pungli) dan pemalsuan dokumen calon mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK-USU) asal Malaysia, agency yang bekerjasama dengan oknum di USU diduga telah menipu pelajar Malaysia yang ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

3 Agustus

  • Penampilan memukau Ebiet G Ade menandai dibukanya Ramadhan Fair 1432 H di Taman Sri Deli.
  • Dir Reskrimsus Polda Sumut Kombes Pol Sadono Budi Nugroho membenarkan kemungkinan pihaknya akan menyeret Kepala Dinas Bina Marga Medan Gunawan Surya Lubis dalam kasus dugaan korupsi di Dinas Bina Marga Medan dengan nilai total proyek Rp44,3 miliar.

5 Agustus

  • Ir Umar Zunaidi Hasibuhan dan H Irham Taufik SH diambil sumpah sebagai Wali Kota Tebing Tinggi di ruang sidang Paripurna DPRD Tebing Tinggi.
  • Teller Bank BRI Syariah Putri Hijau ditemukan di bawah jembatan sudah tak bernyawa lagi. Wanita bernama Wahyuni Simangunsong (26) itu tinggal di Gang Damai, Komplek Waikiki Kelurahan Kampung Lalang Medan dan dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak Senin, 1 Agustus 2011.

10 Agustus
Tintin, pejabat Relationchip Manager BNI Cabang Pemuda Medan dan Mercury, pejabat Credit Officier BNI Cabang Pemuda Medan, diperiksa penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejatisu di Jalan AH Nasution Medan. Mereka menjadi saksi atas tersangka Drs Rusdianto, Kepala Cabang BNI Jalan Pemuda Medan dalam kasus kesalahan prosedur operasional pemberian kredit yang membuat BNI kebobolan Rp129 miliar.

12 Agustus
Briptu Erwin Panjaitan bersama istrinya Ria Hutabarat ditangkap di kediamannya di Perumahan Griya Sapta Marga Blok C-3, Jalan Abdul Sani Muthalib, Kelurahan Terjun, Medan Marelan. Bersama Suherman alias Embot dan istrinya Eva Sari sudah yang ditangkap, Erwin dan Ria menculik, merampok dan membunuh teller BRI Syariah Jalan S Parman, Wahyuni Simangunsong.

14 Desember
Menyambut bulan suci Ramadan dan Hari Ulang Tahun Sumut Pos ke 10 yang jatuh pada bulan Oktober 2011, Sumut Pos menggelar kegiatan “Lomba Baca Al-Quran” untuk anak. Agendanya masing-masing dilaksanakan di lapangan kantor Lurah Helvetia Tengah Medan, 14 Agustus 2011, Masjid Al-Musannif jalan Cemara, 21 Agustus 2011, dan Masjid Baiturrahman, Medan Johor, Kamis 25 Agustus 2011.

15 Agustus
Majelis Hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (tipikor) memvonis 2,5 tahun penjara kepada Gubernur Sumut nonaktif, Syamsul Arifin.

18 Agustus
Tiga tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat pendidikan dan laboratorium dan bengkel Jurusan Elektro Politeknik Negeri Medan (Polmed) TA 2010 senilai Rp4,5 miliar, resmi ditahan Tipikor Polda Sumut. Ketiganya adalah H selaku pelaksana proyek, SS selaku Kuasa Pengguna Anggaran dan S selaku Bendahara Polmed.

22 Agustus

  • Jaksa penuntut umum dari KPK telah mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta. Anggota kuasa hukum Syamsul, Abdul Hakim Siagiaan, membenarkan hal itu.
  • Rektor IAIN Sumut Prof Dr Nur Ahmad Fadil menyangkal terlibatnya dalam dugaan korupsi senilai Rp72 miliar, seperti diadukan LSM Angkatan Muda Adovaksi Hukum Indonesia (AMDHI) dan Forum Mahasiswa Peduli IAIN (Formalin)

23 Desember
Rumah dinas Kajati Sumut di Jalan Listrik Medan Baru, dibobol maling, sekira pukul 04.00 WIB. Ramai dikabarkan, maling berhasil menguras dan membawa kabur harta milik petinggi korps Adhyaksa di Sumut itu senilai puluhan miliar rupiah. Sumber Sumut Pos di kepolisian menyebutkan, harta itu terdiri dari barang-barang mewah seperti logam mulia senilai Rp6 miliar, 6 unit jam bermerk Rolex senilai ratusan juta rupiah, berikut dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat senilai Rp4 miliar. Selain itu, sejumlah perhiasan milik istri AK Basuni juga disikat kawanan maling.

25 Agustus
Melalui pesan singkat (SMS), Mendagri Gamawan Fauzi, memastikan telah mengeluarkan instruksi agar Plt Gubenur Sumut Gatot Pujo Nugroho membatalkan kebijakan mutasi sejumlah pejabat eselon II dan III di Pemprovsu. Gatot dianggap menabrak PP No 49 Tahun 2008 tentang perubahan ketiga atas PP Nomor 6 Tahun 2005 tentang pemilihan, pengesahan pengangkatan, dan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah.

28 Agustus
Dua hari sebelum lebaran (H-2), 2.652 penumpang turun dari KM Kelud dan memadati Pelabuhan Belawan. Mereka berasal dari berasal dari Batam, Tanjung Balai Karimun dan juga Tanjung Priok.

29 Agustus
KM Labobar, kapal tambahan yang dipersiapkan untuk arus mudik, tiba di Pelabuhan Belawan.

Hari Ini, Pesta Danau Toba 2011 Dimulai

PDT Ganggu Arus Mudik

MEDAN- Pesta Danau Toba (PDT) 2011 tetap digelar hari ini, tapi kritikan demi kritikan tetap tak bisa dibendung. Bahkan, semakin kuat desakan agar PDT 2011 dibatalkan.

Kritikan pedas tersebut dilontarkan wakil Ketua DPRD Sumut HM Affan SS, ketika ditemui Sumut Pos di Kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDI P) Sumut, Jalan Hayam Wuruk Medan seusai menggelar konfrensi pers bertajuk ‘Refleksi dan Evaluasi DPD PDI P Sumut 2011’.

Bahkan, pria yang juga menjabat Sekretaris DPD PDI P Sumut tersebut menyatakan, pelaksanaan PDT 2011 merupakan sebuah kecelakaan. Hal itu berdasarkan dari hari pelaksanaan yang tidak tepat, dimana pagelarannya dilaksanakan bersamaan dengan hari besar Umat Kristiani yakni, Natal 2011 dan juga bertepatan dengan jelang Tahun Baru 1 Januari 2012. “Ini kecelakaan. Karena jadwalnya tidak tepat. Ini even seremoni, yang tidak ada efeknya bagi Sumut. Jadi mungkin karena even tahunan, malu kalau ini tidak dilaksanakan. Bukan salah pada panitianya, tapi pada Pemprovsunya,” tegasnya.

Ditambahkannya, even PDT 2011 juga lebih terkesan menjadi ajang pencitraan segelintir orang dan terutama dari pihak Pemprovsu. “Ya, semuanya memang terkesan pencitraan,” katanya lagi.

Lebih lanjut HM Affan menyoroti masalah rute ke PDT, yang baik secara langsung dan tidak langsung juga bentrok dengan rute yang dilewati para pemudik yang merayakan Natal. Hal ini menjadi bahan, yang tidak dipertimbangkan oleh pihak panitia dan Pemprovsu. Karena dampak yang akan terjadi nantinya adalah PDT akan tidak diminati masyarakat karena masyarakat lebih sibuk merayakan Natal.

Rute ke Parapat juga jalur mudik masyarakat untuk merayakan Natal di kampung halaman. Jadi, masyarakat lebih mengutamakan merayakan Natal dengan keluarganya, dibanding mengunjungi PDT,” tegasnya.

Penegasan yang sama juga dikemukakan anggota DPRD Sumut lainnya Brillian Moktar, ketika juga ditemui Sumut Pos di Kantor DPD PDI P Sumut tersebut. “Ini penjadwalannya sudah salah. Harusnya even ini dilaksanakan di pertengahan tahun, tapi kali ini di akhir tahun yang berbenturan dengan hari besar keagamaan dan pergantian tahun. Kita sudah sering bicara, kalau even ini dibatalkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Bendahara Panitia PDT 2011 Marasal Hutasoit kepada Sumut Pos mengutarakan, persiapan PDT sudah 100 persen dan tinggal penyelenggaraan saja.

“Masalah dana tidak ada lagi, semuanya sudah 100 persen. Besok (hari ini, Red) tinggal pelaksanaan,” ungkapnya.
Mengenai kritikan, jadwal PDT yang tidak tepat, jumlah pengunjung yang diprediksi akan menurun, Marasal menanggapinya dengan santai tapi terkesan menantang pihak-pihak yang mengkritik pelaksanaan PDT 2011. “Tidak benar itu. Sudah usang dan tidak cocok lagi berkomentar seperti itu. Di sini kan tempatnya orang merayakan Natal, jadi PDT akan banyak pengunjungnya. Tidak ada masalah. Soal jadwal tidak ada masalah. Yang bilang itu, belum tentu mampu menggelar acara seperti ini,” tantangnya.

Mobil Menteri Dimaki Sopir Angkot

Terlepas dari itu, pembukaan PDT dijadwalkan akan dibuka Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa di Pagoda Open Stage Kelurahan Tigaraja, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon. Kapolres Simalungun AKBP Agus Fajar H SIK pun akan mengerahkan 365 personel untuk pengamanan selama 4 hari.

Menariknya, pada Sabtu (24/12) lalu, ada kejadian tidak adil yang dirasakan oleh warga Pematang Siantar. Adalah  mobil Toyota Alphard BK 9 JS yang dikendarai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu penyebabnya. “Jangan karena pejabat kau, suka-sukamu memarkirkan mobil di tengah jalan,” teriak seorang sopir angkot ketika mobil tersebut parkir di Jalan Sutomo, tepatnya di depan Toko Ganda, Sabtu (24/12).

Ceritanya sang menteri hendak ke Kabupaten Samosir dalam rangka liburan Natal dan menghadiri persiapan pembukaan Pesta Danau Toba. Dari Kota Medan, rombongan terdiri atas dua mobil, selain Alphard ada juga Toyota Fortuner yang diiringi mobil Patwal.

Tepatnya pukul 13.00 WIB, rombongan lewat dari Kota Pematangsiantar. Namun, rombongan kayaknya tidak mau sekadar melintas tanpa membawa buah tangan. Mereka pun singgah di toko yang dimaksud sekitar 15 menit. Namun, rombongan terkesan suka-suka memarkirkan mobil hingga menimbulkan kemacetan sampai 1 kilometer. “Woi, jangan karena pejabat kau suka-sukamu parkir di mana saja,” teriak sopir lain, kali ini dari dalam pribadi yang posisinya tepatnya di belakang barisan rombongan.

Dengan kesal, pria berambut pendek dan berkulit hitam itu terus berteriak. Bahkan, menjadi perhatian orang sekitar. “Pejabat yang membuat aturan, tapi mereka yang melanggarnya. Jangan dibuat peraturan kalau untuk dilanggar. Memang negara oppungmu ini,” kesalnya sambil menghidupkan klakson berulang-ulang.

Selain itu, Simon Saragih pengendara sepeda motor yang juga terjebak macet,  mendatangi petugas lantas Polresta Siantar yang saat itu sedang melakukan pengaturan di depan Toko Ganda. “Tilanglah mereka itu, Pak. Mereka sudah melanggar peraturan lalu lintas. Karena mobil pejabat itu, jalan ini jadi macet. Jangan kalau masyarakat biasa, langsung ditilang cepat,” kesalnya.

“Kalau pejabat salah parkir, polisi pura-pura tidak tahu,” tambahnya sembari menuju ke sepeda motornya.
Menurut undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas, mobil dilarang parkir di sebelah jalur kanan jalan. Karena, jalur kanan hanya untuk mereka yang hendak mendahului kendaraan di depannya. Amatan Metro Siantar, setelah itu rombongan makan siang di Rumah Makan Miramar yang berjarak 20 meter dari Toko Ganda. (ari/jes/osi/smg)

Viky Sianipar Ke Samosir untuk Syuting

Sebagai musisi berdarah Batak yang konsisten mengusung nama Danau Toba dalam karya-karyanya, Viky Sianipar justru tidak ambil bagian dalam pagelaran Pesta Danau Toba (PDT) yang akan dimulai hari ini (27/12).

“Saya nggak ikut pentas. Memang saya besok (hari ini, red) di Samosir, tapi bukan untuk Pesta Danau Toba. Saya kebetulan lagi syuting klip album terbaru saya, Tobatak, yang akan dirilis 6 Januari mendatang,” ujar Viky Sianipar saat dihubungi Sumut Pos dari Jakarta, Senin (26/12).

Meski tak terlibat langsung dalam PDT, musisi Batak kelahiran Jakarta, 26 Juni 1976, itu, tampaknya mengikuti betul perkembangan PDT dari tahun ke tahun. Dia juga mencermati kritikan-kritikan terkait PDT yang menurut sejumlah kalangan tidak punya greget itu. “Saya juga mendengar banyak sekali keluhan (terkait PDT),” ujar Viky yang sudah menelorkan album Toba Dream (2002), Toba Dream II-Didia Ho (2003), dan Toba Dream III (2008) itu.

Lantas, apa kritikan Viky sendiri terhadap PDT? “Ah, saya tak mau kritik, karena saya belum tentu bisa mengurusinya,” ujar musisi yang pada 2004 merilis album Datanglah KerajaanMU itu, merendah.
Hanya menurutnya, rangkaian acara PDT dari tahuh ke tahun tidak ada kemajuan. “Variasi kegiatannya juga tidak menarik,” ujarnya.

Mungkin lantaran gemas juga, Viky akhirnya keluar omongan mengenai bagaimana PDT seharusnya dikembangkan. “Mestinya, ada salah satu kegiatan di Pesta Danau Toba yang bisa menumbuhkan rasa demam masyarakat. Misal seperti publik yang demam SEA Games karena ada tim U-23. Misal orang Jakarta, mau datang karena ada ini, itu di Pesta Danau Toba. Warga Bandung mau datang ke sana karena ada yang memang ditunggu-tunggu. Tapi selama ini, kegiatan-kegiatannya begitu-begitu saja. Tak ada kegiatan yang dijadikan ikon,” bebernya.

Lantas, apa dong yang bisa menumbuhkan demam PDT? Sebagai seniman, Viky usul, bisa saja selama PDT dibuat acara kontes vokal lagu-lagu Batak. “Ya semacam Indonesia Idol, AFI, buat saja Danau Toba Vocal Kontes. Pasti meriah karena peserta kontes seperti itu bawa massa pendukung,” kata Viky.

Masukan lain dari Viky, agar pada acara penutupan PDT nantinya dibuat spektakuler. “Jangan hanya parade musik Batak saja. Tapi lighting-nya harus baik, bertaraf internasional, sehingga media massa juga tertarik memberitakan. Kalau tak ada yang menarik, ya sudah tentu media tak mau memberitakan,” ujarnya.

Mengenai album Tobatak-nya sendiri, kata Viky, merupakan kolaborasi dengan Hermann Delago, musisi World Music asal Austria.Album ini diproduksi oleh BSC Music, Germany. Segmen pasar album ini akan menyasar kalangan penikmat musik tradisional di Eropa, Jepang, dan sejumlah negara lain. (sam)

Polres Madina Buru Aktor Utama

Kerusuhan di Suka Makmur Madina

PENYABUNGAN-Peristiwa pembakaran base camp PT Anugrah Langkat Makmur (Alam) yang terjadi Rabu (14/12) lalu di Desa Suka Makmur, Kecamatan Muara Batang Gadis akan terus diusut Polres Madina saat ini terus memburu aktor intelektual dan penyandang dana pembakaran tersebut yang memicu warga melakukan aksi inap tiga hari di Gedung DPRD Madina serta ditahannya lima warga di Polres Madina.
“Dalam mengungkapkan pembakaran base camp dan alat berat milik CV Karya Jasa Utama selaku sub kontraktor PT Alam itu, kita memiliki rekaman. Berangkat dari sini, kita telah menetapkan empat orang masuk DPO dan satu orang diduga kuat sebagai penyandang dana yang kita masih terus memburunya,” kata Kasat Reskrim
Polres Madina AKP Sarluman Siregar, saat dengar pendapat dengan Tim Pencari Fakta (TPF ) DPRD Madina yang diketuai Ali Mutiara Rangkuty yang juga merupakan Ketua Fraksi Demokrat DPRD Madina.

Pertemuan itu dihadiri Wakil Bupati Madina Drs Dahlan Hasan Nasution, Waka Polres Madina Kompol Hariyatmoko, Kepala BPN Madina Joharnel dan Kadis Dishutbun Gozali Pulungan SH.

Kasat reskrim di hadapan TPF mengungkapkan, pada Rabu (14/12) sekitar pukul 12.00 WIB terjadi pembakaran dua alat berat, pembakaran base camp, pembakaran pos jaga, dan mobil Mitsubishi yang dibuang ke sungai. “Sedangkan sekitar pukul 15.00 WIB pada saat kejadian itu, warga menahan tiga orang karyawan perusahaan dan menyekap
dalam satu ruangan ketiga orang itu. Mereka Martulus Manalu, Bitler Manulang, dan Romeo Siagian,” jelaskan Sarluman.

Dia melanjutkana, pada Jumat (16/12) dipimpin langsung oleh Kapolres Madina dengan kekuatan personel 50 orang dari Polres Madina ditambah satu pleton brimob, masuk ke Desa Suka Makmur Muara Batang Gadis. “Alhamdulillah masuknya kami ke desa sekitar tiga kilometer dari base camp PT Alam tidak ada perlawanan, masyarakat sangat menerima kedatangan kami dan langsung mengadakan koordinasi dengan pak sekdes karena kades sudah lari,” imbuhnya.

Menurut Sarluman, empat orang provokator dan aktor intelektual terdiri dari Parlindungan Hasibuan, Kepala Desa Kahirun Nasution, Zikron Batubara, Drs Tajuddin Siregar dan masih ada yang diduga kuat peyandang dana. “Aktor intelektual saat ini sedang di Jakarta, kemungkinan bertemu dengan Komisi III DPR. Kita ketahui mereka di Jakarta berdasarkan saat siaran langsung di TV One dan saat ini kita masih terus memburu mereka,” imbuhnya.
Dia mengatakan, banyak pihak berharap agar otak ataupun aktor intelektual kejadian di Desa Suka Makmur, Kecamatan Muara Batang Gadis tersebut secepatnya ditangkap.

Soal aktor intelektual ini juga diungkapkan Sekretaris Komisi I DPRD Kabupaten Mandailing Natal Iskandar Hasibuan. Setidaknya hal ini diungkapkannya setelah mendapat informasi usai Komisi I DPRD Madina yang mengikuti rombongan Wakil Bupati ke lokasi kejadian. Dari informasi yang didapat, apa yang dituduhkan warga yang melakukan demo ke DPRD baik perusakan lahan perkebunan dan persawahan oleh PT Alam, sama sekali tidak benar. Karena Wakil Bupati langsung mengecek ke lahan yang dipersoalkan sehingga sempat membuat Wakil Bupati kesal.

“Jika tuduhan warga itu ke PT Alam  tidak benar, kita minta kepada polisi agar mencari aktor yang memprovokasi masyarakat,” ujar Iskandar, akhir pekan lalu di Penyabungan.

Iskandar juga mengungkap aksi warga ditengarai disusupi pihak tak bertanggung jawab. “Kita mendapat laporan dari warga yang tidak ikut demo bahwa warga desa sebelumnya ditakut-takuti oleh oknum Kades dengan mengatakan kalau gak ikut demo akan ditangkap polisi. Makanya, warga yang baru 2 tahun pisah dari Desa Manuncang itu walau dengan berat hati terpaksa ikut demo ke DPRD,” jelas Iskandar.

Menurut Iskandar, persoalan yang timbul di tengah-tengah masyarakat berawal dari adanya temuan tumpukan kayu balok/bulat oleh pihak pekerja PT Alam. Penemuan itu membuat sang pemilik kayu ketakutan dilaporkan ke pihak berwajib. Karena itu, aksi pencurian kayu dan pembakaran alat berat milik PT Alam dibuat oknum-oknum itu sebagai upaya untuk mengaburkan kejadian. Selain melakukan demo menuntut lahan agar polisi melepas warga yang ditangkap karena terkait pembakaran yang disinyalir diprakarsai oleh pengurus LSM dari Padang Sidimpuan. Buktinya, Kades Suka Makmur menghilang. “Kades menghilang, ada apa? Jika benar, kenapa Kades tidak mengawal warganya?” tambah Iskandar.

Kata dia, Komisi I DPRD Madina juga merasa heran dengan kedatangan warga. Sebab sudah 2 tahun 3 bulan DPRD Madina Periode 2009-2014 bertugas, tidak ada sepucuk surat pun pengaduan masuk ke Komisi I. Tiba-tiba yang datang warga demo sampai menginap 3 malam. “Apa kita tidak bingung, gak ada masalah, tiba-tiba muncul demo. Makanya kita minta kepada Tim DPRD yang akan turun harus bersikap independen. Artinya jangan membuat masyarakat dan investor bingung dengan kehadiran tim,” pungkasnya. (bbs)

Mau Pencitraan, tak Mau Komunikasi

Refleksi Akhir Tahun Kepemimpinan Sumatera Utara

Terbitnya Kepres tentang Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara untuk Wakil Gubernur Sumut, H Gatot Pujo Nugroho, pada 24 Maret 2011 lalu, menjadikan tampuk kepemimpinan di provinsi berpenduduk lebih 12 juta jiwa ini beralih ke mantan Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumatera Utara itu. Lantas, bagaimana pola kepemimpinan Gatot selama memimpin Sumut?

Dari berbagai narasumber yang dihubungi, di antaranya Dekan FE USU John T Ritonga, kalangan DPRD Sumut (Alamsyah Hamdani, Anggota F-PD; Mulkan Ritonga, Wakil Ketua F-PG;  Ahmad Hosen Hutagalung,  Sekretaris F-PPP), Ulama NU Sumut Amrin Siregar, tokoh pendidik FJ Pinem, penggiat LSM Elfenda Ananda, dan beberapa lainnya, ada benang merah yang bisa ditarik : Lemahnya komunikasi politik Gatot. Padahal, komunikasi adalah urat nadi dalam kepemimpinan. Kendala komunikasi inilah yang kemudian menjadi biang kerok dari kepemimpinan Gatot selama memimpin Sumut!

Kelemahan komunikasi Gatot itu, sesungguhnya sangatlah mengherankan. Sebab, Gatot sejatinya adalah seorang politisi, yang semestinya paham tentang pentingnya komunikasi politik.

Uniknya, Partai Keadilan Sejahtera Sumut, komunitas asal Gatot, membela sikap Gatot semacam ini. Gatot dianggap sudah melakukan komunikasi politik dengan baik. Yang salah, menurut seorang politisi PKS Sumut kepada salah satu media beberapa waktu lalu, adalah yang dimaksud dengan komunikasi politik di Sumut itu bermakna ‘bagi-bagi proyek’ dan ‘bagi-bagi jabatan’.

Menurut praktisi komunikasi Choking Susilo Sakeh, persepsi  komunikasi yang ‘nyleneh’ ini, celakanya menjadi semacam pembenaran bagi Gatot untuk tetap berkomunikasi dengan gayanya. Padahal,  komunikasi  hanya bisa dibangun jika para pihak duduk sejajar. “Jika satu pihak merasa ‘lebih bersih’ dari pihak lainnya, itu namanya tausyiah, bukan komunikasi. Sedangkan jika satu pihak merasa ‘lebih tinggi’ dari pihak lainnya, itu namanya instruksi, bukan komunikasi,” ujar Choking, Ombudsman Kelompok Penerbitan Sumut Pos Grup Medan.

Dekan Fakultas Ekonomi USU, John T Ritonga, menilai  bahwa sesungguhnya kepemimpinan Gatot sebagai Plt Gubsu dari aspek ekonomi bisa lebih baik dari sekarang ini. Sayangnya, “Saya dengar ada masalah komunikasi politik dengan Gubernur Sumut non aktif, juga dengan fihak legislatif. Akibat lingkungan politiknya kurang solid, maka kepemimpinannya menjadi kurang optimal,” kata Ritonga.

Sementara itu Alamsyah Hamdani, anggota Fraksi PDI-P DPRD Sumut, menilai, “Gatot itu baik. Kalau tak baik, takkan dipilih pak Syamsul untuk mendampinginya. Cuma, komunikasi politiknya kurang. Ini yang perlu disadari dan dibangun oleh Gatot,” kata Alamsyah.

Elfenda Ananda, penggiat LSM yang rutin mengamati anggaran, pun setali tiga uang. Komunikasi politik yang gagal antara Gatot dan legislatif, menjadi penyebab banyak hal pada roda pemerintahan di Pemprov Sumut menjadi tak lancar.

Sekretaris Fraksi PPP DPRD Sumut, Ahmad Hosen Hutagalung,  juga punya penilaian sama. Menurutnya,  Plt Gubsu Gatot tidak mampu mensinkronkan kepemimpinannya dengan partai-partai pengusung Syampurno, terutama karena ketidakmampuan Gatot membangun komunikasi politik dengan segenap anggota DPRD Sumut yang berasal dari beragam partai politik.

Komunikasi, yang dalam bahasa Ulama NU, Drs. Amrin Siregar, adalah silaturahim, pun terputus antara Ulama Sumut dengan Plt Gubsu. “Ulama Sumut kini merasa jalan sendiri tanpa Plt Gatot, karena silaturahim itu telah terputus. Ini jauh berbeda dengan masa kepemimpinan Syamsul Arifin, dimana hubungan silaturahim dengan ulama terus dijalin Syamsul Arifin,” kata Amrin.

Apa dampaknya bagi pembangunan dan pemerintahan di Sumut? Menurut John Ritonga, mesin birokrasi di Jalan Diponegoro Medan kini tidak berjalan normal.

Para pimpinan di eselon dua dan di banyak lini yang berkaitan langsung dengan gubernur, bekerja hanya ‘cari selamat’ saja. Mereka tidak berani memberikan info dan masukan penting secara objektif dengan baik dan benar. Yang terjadi, “Semua berharap kepada Plt Gubsu dan Sekda, maka macetlah roda organisasi pemerintahan.”
Dengan demikian, kita tak perlu kaget jika pembangunan Sumatera Utara belum juga pro rakyat, melainkan masih pro pengguna utama. Masih syukurnya, ada DIPA Sumut yang berjumlah Rp 17 T, dan ini sangat banyak membantu Sumut.

Begitu pula soal penyerapan anggaran, sebagaimana diungkapkan media, masih belum proporsional dengan tahun berjalan. Para KPA dan PPK masih belum berani dan cekatan. Ini mungkin karena ada konflik kepentingan, sehingga belum bisa not bussines as usual. “Ya, kalau mau bagus, Gatot harus berani menempatkan pejabat profesional yang punya karakter merdeka.”

John Ritonga menambahkan, mestinya Gatot mampu melakukan terobosan besar atas nama Gubernur Sumut non aktif Syamsul Arifin. “Jika tidak berhasil, kan pak Syamsul yang tidak berhasil. Tapi kalau berhasil, Gatot juga dapat nama kan…”

Bagaimana soal Inalum yang kontraknya habis tahun 2013?

Kata Ritonga, dia belum pernah mendengar konsep maupun langkah dan strategi untuk itu, kecuali hanya ada komitmen untuk mengambil alih. “Kami pernah undang pak Bisuk Siahaan (Inalum, red). Kata beliau, habis kontrak nanti, saham Jepang sebesar 58 persen akan diserahkan ke daerah, bukan dijual. Artinya, ada peluang untuk mendapatkan saham tanpa harus membeli. Tahun depan akan kita minta pak Bisuk Siahaan membantu merumuskan strateginya dan nanti kita sampaikan sama-sama ke pusat.”

Ritonga membenarkan Gatot belum pernah membicarakan  soal itu dengan FE USU. “Mungkin Pak Gatot masih sibuk, tapi kita tetap upayakan membantu untuk masalah Inalum sebagai small support. Kita harus bantu Syampurno, itu komitmen. Gatot itu kan sahabat kita, dia dari USU, ya kalau bisa bantu-bantu tenaga, pikiran dan sedikit cubit sayang alias kritik konstruktif, ya agak democracy lifestyle lah…”

Sementara itu Alamsyah Hamdani, anggota Fraksi PDI-P DPRD Sumut, menyarankan
Gatot  perlu belajar dari Syamsul Arifin yang tak pernah terlambat dalam pengesahan APBD. Begitu juga dengan pelaksanaan pembangunan. “Kalau ada SILPA, pasti ada yang tak bekerja sungguh-sungguh sehingga anggaran tidak terserap dengan baik. Cara menempatkan kepala dinas, juga harus diperhatikan dengan memperhatikan aspek kredibilitas dan profesionalitas,” kata Alamsyah.

Elfenda Ananda, penggiat LSM yang rutin mengamati anggaran, menyebutkan komunikasi politik yang gagal antara Gatot dan legislatif, menjadi penyebab molornya pengesahan P-APBD 2011. Juga munculnya wacana hak interpelasi DPRD Sumut beberapa waktu lalu, dan kemudian, “ditengarai telah terjadi deal-deal politik, hingga mencuat indikasi bagi-bagi uang dan pelesiran bagi para anggota dewan,” kata Elfenda, Sekretaris Eksekutif Fitra Sumut itu.

Dalam membangun komunikasi politik dengan kalangan anggota dewan ke depan, Elfenda khawatir Gatot akan lebih mengutamakan kepentingan dewan ketimbang kepentingan rakyat Sumut secara keseluruhan. “Fungsi budgeting dan pengawasan DPRD Sumut menjadi tidak profesional, dan ini berimbas kepada buruknya kinerja Pemprovsu,” katanya.
Plt Gubsu Gatot, kata Elfenda,  harus lebih profesional menyusun perangkat-perangkatnya di seluruh SKPD, dan harus pula tegas menindak SKPD yang dinilai tidak mampu bekerja maksimal dalam penyerapan anggaran.

Namun, dalam upaya ke arah sana, Plt Gubsu juga harus berjalan sesuai rel yang ada, dimana dengan semestinya terlebih dahulu meminta pertimbangan dari Mendagri. Dan penyusunan SKPD tersebut, harus juga meliputi keterwakilan daerah di Sumut.  Sekretaris Fraksi PPP DPRD Sumut, Ahmad Hosen Hutagalung,   mengatakan sesungguhnya Syampurno ini belum berakhir. Karena prinsipnya, bukan hanya sampai pelantikan saja, melainkan hingga akhir pemerintahan Syampurno. “Itu isyarat yang dilontarkan sembilan partai pengusung  beberapa waktu lalu. Yang tidak sinkron itu adalah komunikasi politik dengan sembilan partai itu, begitu juga dengan fraksi-fraksi pendukung di DPRD Sumut,” tegas Hutagalung.

Sementara itu Mulkan Ritonga, Wakil Ketua  Fraksi Partai Golkar DPRD Sumut,  menyebutkan lemahnya komunikasi Plt Gubsu mengakibatkan lemahnya kinerja Pemprov Sumut. Terbukti, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi birokrasi (Menpan-RB) menilai, penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (Lakip) dan penetapan kinerja Pemprov Sumut masih berada pada nilai C.

Kemenpan menyoroti bahwa antara RPJMD dengan Renstra (Rencana Strategis), Renja (Rencana Kerja) sampai penyusunan RKA dan DPA-SKPD di lingkungan Pemprovsu belum menunjukkan keterkaitan (sinergitas).
Berkaitan dengan persoalan mutasi pejabat eselon II dan III yang pernah dilakukan Plt Gubsu, Mulkan menyarankan agar Pemprovsu mencari fatwa hukum. Ini didasari atas pertimbangan, bahwa para pejabat yang sudah dilantik tersebut merupakan kuasa pengguna anggaran (KPA) yang menandatangani seluruh berita acara berkaitan dengan penggunaan angaran. “Apabila mutasi tesebut dianggap tidak sah oleh Kemendagri, maka Pemprovsu tidak mempunyai keterkaitan  dan konsekuensi hukum dengan pelaksanaan anggaran dimaksud,” ujar Mulkan.

Pihak Legislatif memang paling ‘cerewet’ menyikapi kepemimpinan Gatot. Beberapa waktu lalu misalnya, sembilan dari 10 fraksi di DPRD  Sumut menilai Gatot menyimpan dendam terhadap Gubsu nonaktif Syamsul Arifin. Itu berkaitan dengan pernyataan Syamsul Arifin, bahwa sampai saat itu belum menerima surat pemberhentian sementaranya sebagai Gubsu. Padahal surat tersebut, telah dititipkan Sekretaris Mendagri kepada Gatot.

Namun rasa tidak puas atas kepemimpinan Gatot, juga dialami berbagai kalangan lain. Dalam rentang sekitar 9 bulan masa kepemimpinan Gatot misalnya, silih berganti pengunjuk rasa menghujatnya. Yang terbaru adalah sekelompok massa membawa pakaian dalam untuk sang Plt Gubsu tersebut.

Selain itu beberapa elemen masyarakat juga merasa tak puas. Salah satunya adalah para Guru dari organisasi profesi PGRI, PGSI, APSI, ABSI,  GTKA, HIMPAUDi, dan HIPKI yang tergabung di dalam Gabungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GPTendik) Indonesia Provinsi  Sumatera Utara misalnya, terang-terangan melontarkan ketidakpuasan itu atas besaran alokasi anggaran pendidikan pada APBD Sumut tahun 2012.

“Draf APBD Sumut tahun 2012 yang hanya mengalokasikan untuk pendidikan enam persen merupakan  penghinaan bagi profesi guru, untuk itu Pemprovsu dan dewan harus meninjau kembali kebijakan  itu,” kata Ketua Gabungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GPTendik) Indonesia Provinsi  Sumatera Utara (Sumut), Drs FJ Pinem.
Kalau anggaran  pendidikan 20 persen tak juga direalisasikan, “kami akan buat ‘tusnami guru’ di Sumut melalui aksi besar-besaran,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan dana 6 persen dari APBD, Pemprovsu tidak akan bisa berbuat banyak  meningkatkan pendidikan di Sumut. Visi Syampurno ‘Rakyat Tidak Bodoh’ itu cuma omong kosong.

Secara terpisah Drs Amrin Siregar, tokoh NU Sumut, melihat dasar-dasar pembangunan Sumut sesungguhnya sudah diletakkan oleh Gubernur non aktif Syamsul Arifin. Tapi, pada kepemimpinan Plt Gatot, hal itu tidak dilanjutkan. Padahal, Gatot a tidak bisa dilepaskan dari Syamsul Arifin sebagai pasangannya pada Pilgub Sumut. Artinya, Gatot tak boleh jalan sendiri. “Gatot harus berkonsultasi dengan Syamsul, juga dengan Mendagri,” kata Amrin.

Amrin merasa, para ulama Sumut kini jalan sendiri tanpa Plt Gatot, karena silaturahim itu telah terputus. Ini jauh berbeda dengan masa kepemimpinan Syamsul Arifin, dimana hubungan silaturahim dengan ulama terus dijalin Syamsul Arifin.

Mestinya Gatot harus meniru kepemimpinan Umar bin Khatab, turun ke bawah mendengar langsung suara rakyatnya. Gatot mestinya tetap berupaya menjadi ‘Sahabat Semua Suku’, sebagaimana telah dicontohkan oleh Syamsul Arifin. Jadi, “Gatot tak hanya menjadi sahabat untuk lingkungannya sendiri.”

Jika kondisi kepemimpinan Plt Gubsu tidak berobah pada tahun-tahun mendatang, dipastikan jargon politik ‘Rakyat Tidak Lapar,  Rakyat Tidak Bodoh, Rakyat Tidak Miskin dan Rakyat Punya Masa Depan’ pada masa kampanye Pilgubsu lalu, hanya jadi omong kosong belaka. Selebihnya, Sumut akan semakin tertinggal dibanding provinsi tetangganya semisal Riau, Kepri, Aceh dan Sumbar. (Choking Susilo Sakeh)

Enam Tahanan Polsek Binjai Utara Kabur

Polisi Bentuk Tiga Tim Pengejar

BINJAI-Jajaran Polres Binjai kembali direpotkan dengan urusan tahanan. Kali ini, 6 tahanan di Polsek Binjai Utara Jalan Baskom, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Utara, kabur dari tahanan, Senin (26/12) sekitar pukul 03.00 WIB.

Keterangan yang berhasil dihimpun Sumut Pos di Polsek Binjai Utara menyebutkan, sebelum kaburnya para tahanan ini, seorang wanita bernama Mona Yani, istri dari Fahrijal datang membesuk dan memebrinya gergaji besi, Minggu (25/12) pagi. Setelah istrinya membesuk, tepat pada tengah malam, para tahanan ini mencoba melarikan diri, dengan cara memotong jeruji besi tahanan tersebut. Gergaji besi itu dibawa oleh istri Fahrijal tanpa diketahui petugas jaga.

Anehnya, aktivitas para tahanan saat menggergaji jeruji besi tahanan itu, tidak terdengar oleh petugas yang berjaga. Apalagi malam itu hanya ada 3 petugas jaga yang seharusnya ada 6 petugas jaga.

Sebab, 3 petugas jaga lainnya diperbantukan di Pos pengamanan Natal. Sementara, jarak petugas jaga dengan tahanan hanya sekitar 15 meter. Meskipun begitu, petugas tidak dapat melihat tahanan karena tertutup ruangan Kapolsek.
Dikarenakan tak seorangpun petugas jaga yang mendengar dan melihat para tahanan itu, akhirnya para tahanan itu pun berhasil memotong jeruji besi dan keluar. Kemudian, para tahanan itu berhasil keluar satu per satu dari dalam sel.

Para tahananpun berhasil kabur dari sel, sekitar pukul 03.00 dini hari. Namun, beberapa saat kemudian, satu dari tiga petugas jaga yang melihat enam tahanan tak ada di sel, langsung terkejut. Petugas ini pun melaporkan hal itu kepada temannya yang lain, untuk segera dilaporkan kepada atasannya. Mendapat laporan dari anggotanya itu, Kapolsek Binjai Utara, Kompol Kuasa Purba, langsung terjun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Bahkan, Kompol Kuasa Purba dikabarkan marah-marah dengan ketiga anggotanya karena lalai dalam menjalankan tugas.

Selanjutnya, kasus ini diambil alih oleh Polres Binjai untuk segera dilidik dan dibantu oleh petugas Polsek Binjai Utara itu sendiri. Bahkan, petugas Polsek Binjai Utara langsung memburu seorang tahanan yang dikabarkan lari ke Tanjung Pura, Langkat. “Saya tidak memberikan keterangan karena kasus ini sudah ditangani Polres. Kalau ada izin dari Kapolres, baru saya bisa komentar dan memberikan foto para tahanan yang kabur,” ujar Kapolsek Binjai Utara, Kompol Kuasa Purba.

Setelah berhasil kabur dari tahanan Polsek Binjai Utara, Yusuf Pradana, yang tinggal tak jauh dari Polsek Binjai Utara, berhasil diamankan petugas dari rumahnya. Pasalnya, tahanan yang satu ini langsung pulang ke rumah ketika berhasil lolos dari dalam sel. Kini, Yusuf dititipkan di rumah tahanan Polres Binjai, untuk dimintai keterangan.
Uniknya, Yana, orangtua Yusuf, saat menjenguk anaknya di tahanan Polres Binjai, kepada Sumut Pos mengakui, ia tidak tahu kalau anaknya kabur dari tahanan Polsek Binjai Utara. Sebab, sebelum kabur, ia sempat membawakan nasi anaknya ke Polsek Binjai Utara.

Namun, setibanya di tahanan Polsek Binjai Utara, ia terkejut setelah mendapat kabar, kalau anaknya sudah kabur dari dalam tahanan. Mendapat kabar itu, ia langsung pulang ke rumah ia sudah mendapati anaknya di rumah. Tak berapa lama, petugas datang dan anaknya kembali diamankan.

Hanya saja, Yana, enggan memberikan keterangan lebih jauh, terkait pelarian anaknya tersebut. “Udahlah, tanya saja sama Pak Polisi itu. Cuma, saya berharap agar masalah ini cepat selesai,” ujar Yana, sembari berlalu dengan menenteng nasi yang tadinya akan diberikan kepada anaknya itu.

Kapolres Binjai, AKBP Musa Tampubolon, ketika dikonfirmasi sejumlah wartawan menerangkan, kaburnya para tahanan itu setelah istri dari Fahrijal, membawa gergaji besi yang dimasukan ke dalam roknya. “Ketika gergaji itu berhasil dimasukan, tengah malam para tahanan mulai bekerja. Ketika petugas jaga mengontrol, para tahanan itu menghentikan aktivitasnya dan begitu selanjutnya sampai mereka berhasil kabur. Kini, istri dari Fahrijal itu sudah kita amankan dan masih dalam pemeriksaan,” jelas AKBP Musa Tampubolon.

Selain itu, AKBP Musa Tampubolon, juga mengatakan, kalau saat ini pihaknya sedang melakukan pengejaran. “Sampai mana pengejarannya, itu masih rahasia. Yang jelas, kita membuat empat tim untuk melakukan pengejaran ini,” ungkapnya.

Mengenai petugas yang lalai, orang nomor satu di Polres Binjai ini mengaku, pihaknya juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap anggotanya tersebut. “Untuk Kapolsek dan anggotanya itu, akan kita tindak melalui sidang,” tegasnya.

Terkait dengan kasus ini Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Raden Heru Prakoso yang dikonfirmasi pihak kepolisian memang terus mengejar tahanan yang kabur. “Untuk tindak lanjutnya, tiga tim dibentuk untuk mengejar tahanan yang kabur yang belum tertangkap di bawah pimpinan Kasat Reskrim. Sedangkan, pemeriksaan masih terhadap tahanan yang berhasil ditangkap untuk mencari tahu titik lokasi perburuan dengan melakukan interogasi terhadap tersangka Yusuf untuk mengetahui cara mereka menggergaji sel tahanan tersebut,” jelasnya.(dan/adl/mag-5)

 

Kronologis Kejadian Tahanan Kabur di Polsek Binjai

Lokasi: Tahanan Polsek Binjai Utara Kabur

Minggu, 25 Desember 2011

Pukul 09.30 WIB
Mona Yana, menjenguk suaminya, Fahrijal, sambil menyelundupkan gergaji besi di dalam rok.
Senin, 26 Desember

Pukul 00.00 WIB

  • Geraji yang dikuasai Fahrijal, berhasil digunakan para tahanan untuk menggergaji jeruji besi. Para tahanan itu keluar satu per satu dari dalam sel.
  • Untuk menghindari petugas jaga, para tahanan masuk ke ruangan juper Reskim di sebelah sel tahanan, mencongkel jerjak jendela dan berhasil kabur.

Pukul 03.00

  • Satu dari enam petugas jaga terkejut melihat ke sel dalam keadan kosong. Kapolsek Binjai Utara, Kuasa Purba, yang mendapat laporan, turun ke TKP dan memerintahkan anggotanya untuk segera mencari tahanan yang kabur.
  • Yusuf Prananda Nasution, salah satu tahanan yang kabur diamankan dari rumahnya dan diboyong ke Polres Binjai untuk menjalani pemeriksaan.
  • Berdasarkan keterangan Yusuf, petugas mengamankan Mona Yana.

 

MEREKA YANG MELARIKAN DIRI

 1. Anggiat Manurung (39)

Warga Jalan Puskesmas No 02 Kelurahan Lalang, Sunggal. kasus 363 KUHP.

2. Putra Affandi (21)

Warga Jalan Anggrek, Lingkungan IV, Binjai Utara. Kasus 365 KUHP.

3. Irwan Syaputra (21)

Warga Jalan Udang, Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Kasus 365 KUHP.

4. Ozi Doni Tiandra (19)

Warga Jalan Besilam, Desa Padang Tulang, Langkat. Kasus 365 KUHP.

5.Fahrizal (21)

Penarik becak warga Jalan Flamboyan No 45 Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara. Kasus 363 KHUP

6. Yusuf Prandana Nasution

Kasus 365 KUHP

 

 

 

///grafis//

 

 

Bermodal Gergaji Besi

 

Lokasi: Tahanan Polsek Binjai Utara Kabur

Minggu, 25 Desember 2011

Pukul 09.30 WIB

Mona Yana, menjenguk suaminya, Fahrijal, sambil menyelundupkan gergaji besi di dalam rok.

 

Senin, 26 Desember

Pukul 00.00 WIB

– Geraji yang dikuasai Fahrijal, berhasil digunakan para tahanan untuk menggergaji jeruji besi. Para tahanan itu keluar satu per satu dari dalam sel.

– Untuk menghindari petugas jaga, para tahanan masuk ke ruangan juper Reskim di sebelah sel tahanan, mencongkel jerjak jendela dan berhasil kabur.

Pukul 03.00

– Satu dari enam petugas jaga terkejut melihat ke sel dalam keadan kosong. Kapolsek Binjai Utara, Kuasa Purba, yang mendapat laporan, turun ke TKP dan memerintahkan anggotanya untuk segera mencari tahanan yang kabur.

– Yusuf Prananda Nasution, salah satu tahanan yang kabur diamankan dari rumahnya dan diboyong ke Polres Binjai untuk menjalani pemeriksaan.

– Berdasarkan keterangan Yusuf, petugas mengamankan Mona Yana.

 

 

Mereka yang Melarikan Diri

 

1. Anggiat Manurung (39)

Warga Jalan Puskesmas No 02 Kelurahan Lalang, Sunggal. kasus 363 KUHP.

 

2. Putra Affandi (21)

Warga Jalan Anggrek, Lingkungan IV, Binjai Utara. Kasus 365 KUHP.

 

3. Irwan Syaputra (21)

Warga Jalan Udang, Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Kasus 365 KUHP.

 

4. Ozi Doni Tiandra (19)

Warga Jalan Besilam, Desa Padang Tulang, Langkat. Kasus 365 KUHP.

 

5.Fahrizal (21)

Penarik becak warga Jalan Flamboyan No 45 Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara. Kasus 363 KHUP

 

6. Yusuf Prandana Nasution

Kasus 365 KUHP

 

Dinkes Medan: Jangan hanya Komentar!

Soal Ancaman Kanker bagi Anak

MEDAN-Tingginya jumlah anak-anak di perkotaan Sumatera Utara yang mengkonsumsi makanan mengandung bahan kimia berbahaya dan pengawet merupakan permasalahan yang serius. Jika dibiarkan terus-menerus dapat memberikan efek tidak baik terutama melemahnya kinerja otak dan syaraf, dan masih banyak lagi efek buruk lainnya.
“Kita khawatir jika anak-anak dibiarkan mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan tidak baik ini terlalu lama, maka banyak efek negatif yang ditimbulkan. Jika dikonsumsi bertahun-tahun dan dalam jangka waktu panjang tentu saja bisa menyebabkan penyakit kanker,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut melalui Kabid Jaminan Sarana Kesehatan Dinkes Sumut, Agustama, Senin (26/12).

Dikatakannya, evaluasi total terhadap jajanan anak sekolah harus dilakukan seperti melakukan penyuluhan keamanan pangan, melakukan pembinaan terhadap para pedagang dan setiap Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota diintegritaskan dengan program kesehatan sekolah.

“Ini merupakan kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan kewenangan mereka. Karena kita dibatasi oleh PP No 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Imbauan kita, ya itu tadi, lakukan evaluasi total karena anak-anak inikan masa depan kita juga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Medan, Edwin Effendi mengatakan sudah melakukan pengawasan secara maksimal terhadap jajanan anak sekolah ini. “Mereka dapat datanya dari mana? Jumlah sekitar 60 persen anak diperkotaan mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya itu dapat dari mana? Perkiraan atau dari survei? Kalau memang perkiraan harus ada dasarnya lah. Jika memang betul mereka juga harus bersikap, jangan hanya komentar saja,” tegasnya.

Menurutnya, secara rutin pihaknya yang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan telah melakukan pengawasan dan memberdayakan setiap Puskesmas. Bahkan, sebelumnya, pihaknya telah membuat surat edaran ke sekolah-sekolah agar para pedagang yang berjualan dilingkungan sekolah didata dan dibina dengan baik.  “Kita juga minta supaya guru-guru terjun langsung dalam pengawasan ini,” ucap Edwin.

Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan DR Rajab Lubis, saat dikonfirmasi Senin (26/12), mengatakan semua jajanan di sekolah di wilayah Kota Medan pada Januari 2012 akan dievaluasi total. “Dalam hal ini kita akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Medan,” ungkapnya.

Sehingga untuk pedagang yang menjual produk makanan tak sehat kepada anak maka tidak diperkenankan lagi untuk dijual di lingkungan sekolah. “Jadi selain untuk menjaga kesehatan, kita juga memberikan pengetahuan kepada para penjaja makanan agar tidak menjual dagangan yang bisa merusak kesehatan anak,” terangnya.

Soal ancaman kanker ini langsung direspon anggota DPRD Sumut dari Fraksi PDI P, Taufan Agung Ginting. Dikatakan pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kehormatan PDI P Sumut ini, penyebaran penyakit-penyakit tersebut, baik kanker maupun HIV/AIDS memang tak mampu terkontrol dengan baik oleh Pemprovsu. “Pemprovsu kurang memperhatikan sisi kesehatan masyarakat. Dan ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya. (mag-11/uma/ari)

Eks Perwira Polresta Medan Diburon

Pengakuan Dua Tersangka Jadi Bandar Narkoba

MEDAN-Polisi berhasil meringkus dua tersangka pengedar sabu-sabu di di Jalan Selamat, Gang Sawah, Medan Kota, Senin (26/12) malam. Kedua tersangka masing-masing Rizal (18), warga Simpang Limun dan Andi (26), warga Jalan Seksama.

Kapolsekta Patumbak, Kompol SW Siregar kepada wartawan koran ini mengatakan, kedua tersangka Rizal dan Andi diamankan petugas saat polisi sedang melakukan operasi rutin. Dari keduanya  polisi mengamankan barang bukti paket sabu seberat 0, 9 gram.

“Kedua tersangka diamankan anggota di Jalan Selamat, Gang Sawah. Pengakuan kedua tersangka, sabu tersebut milik mantan anggota polisi berinisial LS berpangkat Ajun Komisaris Polisi dan kita pun melakukan penangkapan tersangka LS di kediaman orangtuanya di Jalan Lobeng Klewang/Jalan Mahkamah Medan,” kata Siregar.

Dari hasil penggerebekan dari kamar tersangka polisi mengamankan 1,8 gram sabu-sabu, uang sejumlah Rp1,1 juta, timbangan elektrik dan biji ganja. Sayangnya, LS dan seorang anggotanya Rud berhasil kabur. LS kabur sebelum tim dari Polsek Medan Kota berhasilmasuk ke dalam rumah. Sedangkan Rud berhasil kabur diam-diam tanpa diketahui tim yang menggerebek yang sedang mencari barang bukti.

“Ya, keduanya kabur saat kami melakukan penggerebekan di rumah mantan perwira polisi itu. Dari dalam rumahnya tepatnya di kamarnya kami hanya mengamankan 1,8 gram sabu-sabu, uang sebesar Rp1.140.000, timbangan elektrik dan biji ganja,” ungkapnya.

Siregar juga memaparkan, ketika dilakukan penggerebekan di rumahnya mantan anggota polisiolri itu tak menunjukkan sifat kooperatif.

“Ketika kami gedor pagarnya, ia hanya mengintip dari balik jendela, dan kemudian mengunci pintu. Mengetahui kami akan melakukan penggerebekan, ia langsung melarikan diri dari ventilasi rumah dan kabur dari belakang rumah,” jelas Sandy.

Mengetahui tak ada itikat baik, pihaknya lantas mendorong pintu rumah. Di sana hanya terdapat seorang anak buahnya Rud. Ketika dilakukan penggerebakan hanya terparkir mobil Nissan X Trail dengan nomor plat polisi BK 1364 KO.

Menurutnya,  LS terakhir kali menjabat Kanit Patroli Polresta Medan. Tersangka sendiri sudah dipecat dari polisi.  “Kita sedang melakukan pengejaran terhadap LS. Dia memang terlibat dalam peredaran narkoba,” terangnya.
Saat penggerebekan sempat menjadi perhatian warga sekitar karena aktifitas mantan anggota polisi tersebut sudah sangat meresahkan warga sekitar.

“Dah tahu orang kampung ini dia agen. Bersyukur kami rumahnya digerebek. Sudah lama kami tahu dia itu jadi agen sabu. Rusak anak-anak di sini dibuatnya,” terang seorang ibu.  “Setahu kami dia masih polisi. Sudah mantannya dia? Tak tahu lah aku, dek. Memang sekarang ini dia sudah tidak pernah pakaian dinas lagi kami lihat,” tambah warga itu.
Camat Medan Kota, Parlindungan Nasution mengaku, tidak mengetahui kalau warganya menjadi pengedar narkoba.
“Itu rumah orangtuanya dan kami tidak tahu kalau dia itu pengedar sabu-sabu. Kami saja baru tahu ini setelah petugas polisi melakukan penggrebekan,” tuturnya. (saz/jon)

11 Napi Jebol Rutan Lhoksukon

Pakai Campuran Sabun dan Cuka Untuk Lapukkan Dinding

Lhoksukon- 11 narapidana (napi) berhasil lolos dari rumah tahanan (rutan) Lhoksukon, Senin (26/12) pagi. Mereka berhasil kabur setelah menjebol dinding beton sel dengan cara menyiram dengan sabun dicampur cuka.
Dari blok penjara tersebut ditemukan barang bukti berupa sepetak tembok batu bata yang runtuh bersama perlengkapan campuran sabun dan cuka. Diduga kuat, teknik campuran ala kimia itu sudah dilakukan sejak berminggu-minggu lamanya tanpa terendus sipir penjara.

Kaburnya belasan tahanan tersebut, sontak membuat panik petugas keamanan. Apalagi ketika mereka mencek ruang C-6, sudah kosong tanpa penghuni seperti biasa, saat apel pagi sekira pukul 07.00 WIB. Penyelidikan segera dilakukan, hingga diketahui seluruh napi melarikan diri dengan cara memanjat tembok setinggi 7 meter.

Mereka menyambung belasan sarung yang digunakan sebagai alat untuk naik dan turun kembali. Keterangan yang dihimpun Metro Aceh (grup Sumut Pos), 11 napi tersebut sebagian besar tersandung kasus narkoba.
“Saya melihat kamar sel C6 telah kosong, yang sebelumnya dihuni oleh 11 orang napi,” ucap Kepala Rutan Lhoksukon, M Saleh kepada Metro Aceh saat ditemui, Senin (26/12).

Melihat kondisi ini, pihaknya langsung memberikan laporan kepada pihak kepolisian dan mengirimkan laporan kepada pihak Kanwil Hukum dan HAM. Bahkan laporan kaburnya napi telah dikirim kepada polsek terdekat dimana alamat para napi berasal. Selain itu ruangan tempat kaburnya napi telah dilakukan olah TKP oleh aparat kepolisian.

Menurut Saleh, para napi diperkirakan kabur sekitar pukul 04.00 WIB. Sebab sebelumnya pada pukul 24.00 WIB, dirinya melakukan pemeriksaan pada semua ruangan. Sedangkan pada pukul 03.00 WIB, komandan jaga juga melakukan cek lapangan rutin. Namun ketika itu seluruh tahanan masih berada pada selnya masing-masing.
“Kita perkirakan 11 napi kabur sekitar pukul 04.00 WIB.  Diduga mereka menjebol dinding sel menggunakan sabun, cuka, serta sendok. Luas dinding yang jebol sekitar 40 cm persegi ukuran muat badan orang dewasa. Lalu mereka memanjat dinding tembok rutan bagian belakang yang tingginya sekitar 7 meter lebih, menggunakan belasan kain sarung yang disambung,” terang M Saleh.(rac/jpnn)

Nama 11 Napi yang Kabur

  1. Mahdi bin Zakaria (26), warga Gampong Samuti Krueng, Ganda Pura, Bireuen kasus narkotika (ganja) hukuman 10 tahun 8 bulan dengan sisa hukuman 10 tahun 15 hari.
  2. Irwansyah bin Ilyas (24), warga Gampong Lhokbeuringen Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (ganja) hukuman 9 tahun dengan sisa hukuman 8 tahun 6 bulan 23 hari.
  3. Mukhlisin bin Zulkifli (29), warga Desa Terjun Kecamatan Medan Marelan, Kodya Medan kasus narkotika (ganja) hukuman 13 tahun dengan sisa hukuman 12 tahun 5 bulan 4 hari.
  4. Iskandar bin Jafar (43),warga Gampong Matang Mane, Tanah Luas, Aceh Utara kasus narkotika hukuman 4 tahun dengan sisa hukuman 3 tahun 5 bulan 28 hari.
  5. Safri Maizal Als Ayi bin Safaruddin (27), warga Jalan Sultan Agung, Gampong Perdana, Bandar Lampung kasus narkotika (ganja) hukuman 16 tahun 6 bulan dengan sisa hukuman 15 tahun 8 bulan 9 hari.
  6. Hamzah bin Hesen (35), warga Gampong Cot Bik, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (sabu) dengan hukuman 4 tahun 6 bulan sisa hukuman 3 tahun 8 bulan 29 hari.
  7. Samsarif alias Ayi bin Ibrahim (28), warga Gampong Geudong, Baktiya, Aceh Utara hukuman 2 tahun 6 bulan dengan sisa hukuman 11 bulan 20 hari.
  8. Irfan bin Muhammad (28), warga Meunasah Dayah, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (sabu) hukuman 1 tahun 10 bulan dengan sisa hukuman 1 tahun 1 bulan 4 hari.
  9. Mawardi bin Harun (32), warga Meunasah Panton, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (ganja) hukuman 7 tahun dengan sisa hukuman 6 tahun 2 bulan 21 hari.
  10. M Yusuf bin Ibrahim (29), warga Meunasah Hasan, Madat, Aceh Timur kasus pencurian hukuman 1 tahun 6 bulan dengan sisa hukuman 7 bulan 15 hari.
  11. Muhammad Saleh bin Hasan (50), warga Gampong Tanjong Munje, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara kasus narkotika (ganja) hukuman 4 tahun dengan sisa hukuman 2 tahun 11 bulan 12 hari.