Home Blog Page 14722

Poldasu Bidik Rekanan

Kasus Dugaan Korupsi di Polmed

MEDAN- Terkait kasus dugaan korupsi penyelewengan dana pengadaan alat peraga laboratorium Teknik Elektro senilai Rp2,1 miliar di Politenik Medan (Polmed), Poldasu akan segera menetapkan seorang calon tersangka. Hal itu dikemukakan Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso saat dikonfirmasi Sumut Pos, Minggu (11/9).
“Dalam kasus dugaan korupsi ini, kita tengah melakukan pemberkasan. Dan ada satu nama yang telah dijadikan sebagai calon tersangka yakni berinisial DK selaku Direktur CV Medika Karya. Untuk yang bersangkutan itu, masih akan didalami pemeriksaannya,” terangnya.

DK ini, lanjut Heru, merupakan rekanan dalam proyek pengadaan alat peraga laboratorium Teknik Elektro Politeknik Negeri Medan. “Yang bersangkutan merupakan rekanan dari proyek tersebut,” tambahnya
Dalam kasus ini, Tipikor Polda Sumut telah melakukan penyitaan barang bukti berupa satu paket alat peraga masing-masing, tiga item robot, mikrowelle, network analyzer (untuk menangkap sinyal) serta sejumlah dokumen yang berkaitan dengan kasus itu.

Berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumut pada kasus dugaan korupsi ini menyatakan, proyek itu mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp2,1 miliar dari total anggaran Rp4,5 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2010.

Untuk diketahui, pemenang tender pengadaan alat laboratorium, pendidikan bengkel jurusan Elektro Polmed pada 1 Oktober 2010 Herman Taher dari PT Astasari Sartika, kemudian membuat surat kerjasama dengan Thomas Sembiring dari PT Get untuk pembelian dua set sistem kontrol mistor dan sensor robot, dua set robot sistem empat roda dan urasonic serta dua set factory pneumetic robot trainner.(ari)

Kasus Ipda Megawaty Terus Didalami

MEDAN- Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Sumut terus melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan penipuan yang melibatkan Panit Lantas Polsek Percut Sei Tuan Ipda Megawaty. Hingga kini, sudah 7 orang saksi korban dan tiga orang member TV1 Ekspres diperiksa terkait kasus tersebut.

“Kasus ini masih lidik. Sejauh ini sudah diperiksa sebanyak 7 saksi korban. Pihak member TV 1 Ekspress sebanyak 3 orang atas nama Ipda Megawaty, Ade Sandrawati Purba SH dan Johan. Kasus akan terus dikembangkan,” ungkap Kasubbid PID Humas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan, Minggu (11/9).

Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap beberapa saksi dan member TVI Ekspres tersebut, uang yang diterima Ipda Megawaty secara kontan dari 7 orang korban telah dibelikan voucher wisata masing-masing Rp2,6 juta.
“Cara main adalah member get member (MGM) seperti, Ipda Megawaty harus mencari member di bawahnya (7 orang korban tersebut, red). Begitu selanjutnya, 7 orang korban tersebut mencari member lain di bawahnya. Sedangkan di atas Ipda Megawaty adalah Ade Sandrawati Purba SH dan di atasnya lagi Johan,” terang MP Nainggolan.
Kendati demikian, tetap saja pihak Ditreskrimum Polda Sumut akan terus mendalami kasus ini. “Kasus ini akan terus didalami dan diselidiki,” tegasnya.

Diketahui, Ipda Megawaty dilaporkan belasan nasabah TV1 Ekspres ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Sumut, Selasa (26/7) lalu, dengan bukti lapor No.STPL/494/VII/2011/SPK Poldasu tanggal 26 Juli 2011.
Disinyalir, Ipda Megawaty melakukan penipuan tersebut dengan modus mengajak kerja sama bisnis, dengan keuntungan yang berlipat ganda di perusahaan TV1 Ekspres.

Diketahui, para korbannya diminta menyetorkan uang jutaan rupiah sejak Februari 2011 lalu, dan dijanjikan tiga bulan selanjutnya sudah akan mendapatkan keuntungan. Modal pertama yang mereka setor Rp2,6 juta. Namun ada juga yang menyetor hingga puluhan juta rupiah.(ari)

Hari Ini, PD Pasar Tunggu P3TM Sukaramai

MEDAN- PD Pasar Kota Medan siap menampung dan mencari solusi semua permasalahan yang terjadi antara pedagang dengan pengurus Persatuan Pedagang Pasar Tradisional Medan (P3TM) Pasar Sukaramai. Hal ini berkaitan dengan akan dilakukannya pertemuan antara pedagang dengan pengurus P3TM Pasar Sukarame di kantor PD Pasar hari ini, Senin (11/9).

“Senin, PD Pasar menunggu kehadiran P3TM untuk mendengar, mengecek dan mengklarifikasi permasalahan yang ada di Pasar Sukaramai,” kata Plt Direktur Operasional PD Pasar Kota Medan Irwan Ritonga, Minggu (11/9) siang.
Dijelaskannya, PD Pasar akan berlaku adil untuk pedagang dengan langsung mengkonfirmasi kepada P3TM. “Seluruh pandangan dari P3TM akan kita jembatani kepada pedagang. Untuk itu, sekali lagi diharapkan kehadiran P3TM yang sudah dua kali diundang tak juga hadir,” ucapnya.

Sementara, Ketua Komisi C DPRD Medan, Jumadi mengatakan kalau para pedagang Sukaramai belum mau menyampaikan seluruh permasalahan yang dihadapinya. Hal itu terbukti ketika Komisi C DPRD Kota Medan melakukan kunjungan ke Pasar Sukaramai untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi pedagang.

“Dari hasil kunjungan Dewan ke Pasar Sukaramai. Pedagang belum mau menyampaikan semua permalahan yang mereka hadapi,” kata Jumadi. Dia juga menamabahkan, Dewan tetap menunggu kehadiran pedagang untuk didengarkan seluruh keluhannya.

Sebelumnya, untuk memfasilitasi seluruh permasalahan yang terjadi antara pedagang dengan P3TM, PD Pasar juga sudah mengundang perwakilan pedagang dan pengurus P3TM. Namun, pengurus P3TM tak hadir sehingga pertemuan tersebut ditunda. “Kita sudah mengundang mereka untuk hadir ke PD Pasar. Tetapi undangan kita tidak juga direspon mereka. Bila nantinya undangan kedua mereka juga tak datang, kami akan langsung datang ke Pasar Sukaramai untuk mempertanyakannya ke P3TM,” bebernya.(adl)

Bayi Korban Gempa Mulai Pulih

MEDAN- Staf Khusus Menko Kesra Leo Nababan bersama anggota DPRD Sumut dari Fraksi Golkar Richard Lingga menjenguk bayi korban gempa Erel Daniel Sabar yang dirawat di RSUP H Adam Malik Medan, Sabtu (10/9).
“Kita ingin melihat langsung keadaan bayi korban gempa ini dan merupakan arahan langsung dari Menko Kesra. Karena kita mendengar pelayanan yang diberikan RSUP H Adam Malik  dinilai tidak sepenuh hati, makanya kita datang ke rumah sakit ini,” ujar Richard.

Menurutnya, pihak RSUP H Adam Malik Medan harus mengutamakan pelayanan terutama bagi warga miskin dan korban bencana alam mengingat rumah sakit milik pemerintah ini merupakan rumah sakit rujukan. RSUP H Adam Malik juga diharapkan tidak semata-mata mementingkan bisnis saja.

“Utamakan pelayanan kepada pasien, apalagi pasien itu korban gempa termasuk bayi ini. Bayi ini juga korban gempa dan untuk biaya administrasi bisa belakangan. Jangan biarkan masyarakat menunggu karena pasien ini perlu penanganan yang cepat dan optimal. Eerel dibawa ke Adam Malik karena jarak tempuhnya  yang dekat dari Sidikalang dan Eerel harus di scaning untuk memastikan benturan dikepalanya apakah membahayakan atau tidak,” tambahnya.
Ditambahkannya dalam kunjungan itu, pihaknya sekaligus memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai. Selain itu, kondisi Eerel saat ini semakin membaik. Namun, Richard membantah adanya unsur politik dalam bantuan kemanusiaan itu. “Saya kecewa dengan Adam Malik karena menurut informasi bayi ini sempat lama ditangani. Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi,” tegasnya.

Direktur Medik dan Keperawatan, dr Lukman Nurhakim SpK mengaku, Erel mengalami benturan dibagian kepala. Diterangkannya, beruntung benturan itu tidak begitu parah dan Erel hanya mengalami luka memar. “Kondisi bayi korban gempa kini sudah sehat dan ia sudah kuat minum susu. Tidak ada dijumpai kelainan pada pasien dan beruntung lukanya tidak parah. Tapi kita masih harus memantau kesehatannya. Jika sudah betul-betul pulih baru pasien diizinkan pulang,” ungkapnya.

Sekadar mengingat, sebelumnya, gempa berkekuatan 6,7 SR yang terjadi pada pukul 00.55 WIB, Selasa lalu (6/9), menyebabkan ibu dari Erel meninggal dunia akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Namun, Erel dapat diselamatkan karena berada dalam posisi dekapan ibunya. Lalu, Erel dibawa ke RSU Sidikalang. Setelah dua hari dirawat di rumah sakit itu, keadaan Erel semakin memburuk dikarenakan peralatan medis yang kurang memadai. Selanjutnya Eerel pun dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan. (jon)

Medan-Jakarta Rp1,8 Juta

Foto: Triadi Wibowo/sumut pos Puluhan calon penumpang antre di loket Bandara Polonia Medan, September tahun lalu. Mulai 1 Marte, loket penjualan tiket ditutup di bandara Kualanamu.

Tiket Pesawat Mendadak Habis

MEDAN-Tiket pesawat terbang dari berbagai penerbangan jurusan Medan-Jakarta untuk penerbangan Minggu (11/9) hari ini, di loket-loket Bandara Udara Polonia Medan mendadak habis. Akibatnya, harga tiket untuk jurusan Medan-Jakarta mencapai Rp1,8 juta itupun tiket penumpang yang batal berangkat dan adanya di tangan calo tiket.

Pantauan wartawan Sumut Pos di Bandara Udara Polonia Medan, Sabtu (10/9) calon penumpang sempat antre di loket-loket berbagai penerbangan. Namun, warga terpaksa balik kanan karena tiket sudah habis. Habisnya tiket untuk keberangkatan Minggu (11/9) jurusan Medan-Jakarta juga tertera di website (tiket online) milik maskapai Lion Air, Sriwijaya, Batavia, Garuda dan lainnya. Disitus tertera kalau kursi pesawat habis terjual atau terisi penuh untuk semua kelas. Sedangkan untuk kelas ekonomi dengan harga tertinggi ekonomi di atas Rp1.000.000-Rp1.800.000.
Endah, salah satu pegawai loket Garuda mengatakan, tiket pesawat terbang untuk Minggu (11/9) tujuan Medan-Jakarta sudah habis terjual dan yang sisa tinggal tiket kelas bisnis. “Tiket untuk kelas ekonomi sudah habis dan yang ada itu tinggal tiket kelas bisnisn

Kalau harga tiket bisnis Rp4.401.200,” katanya.
Hal serupa juga diungkapkan petugas loket Lion Air. “Tiket untuk tujuan berangkat ke Jakarta besok (Minggu, Red) sudah habis terjual,” ujar Linda.

“Tiket untuk tujuan Jakarta sudah habis. Kalau masih ada buat apa saya menahannya. Memang sudah habis terjual,” sambung petugas loket Sriwijaya Air.

Hal yang sama juga terjadi di Batavia Air. “Tiket sudah habis. Harga tiketnya Rp1.703.000,” pungkas Reni Sidabutar, petugas loket Batavia Air.

Direktur Umum Lion Air, Edward mengatakan, tiket memang sudah habis terjual. “Tiket memang sudah habis terjual karena besok (hari ini, Red) banyak warga yang balik menuju ke Jakarta. Masyarakat balik ke Jakarta karena masa liburan mereka berakhir,” katanya.

Lebih lanjut Edward menuturkan, harga tiket sekitar Rp1.000.000 masih di batas atas. “Harga Rp1.000.000 itu merupakan harga batas atas dan kita menjual tidak melebihi harga batas atas yang ditentukan,” pungkasnya.
Tapi, di tangan calo tiket masih ada? “Kalau pun tiket di calo masih ada, itu tidak sesuai dengan nama yang tertera di tiket,” tegas Edward.

Roi Situmorang (28), warga Medan  mengaku, sempat bingung. “Saya bingung sendiri karena tiket habis. Saya beli tiket untuk adik saya karena dia harus balik ke Jakarta untuk prajabatan. Adik saya pulang ke Medan karena ibu kami meninggal,” katanya saat berada di depan loket Batavia Air.

Hal senada juga diucapkan Rahmat (40). Dia mengaku harus kembali ke Jakarta. “Tiket untuk besok (Minggu, Red) sudah habis terjual. Yang ada tiket di Batavia Air untuk berangkat sore sementara saya pagi harus sudah sampai. Kalau Garuda masih ada tapi tinggal kelas bisnis, manalah saya mau,” ungkapnya.

Salah seorang calo tiket yang enggan namanya ditulis mengaku, tiket yang berada di tangan mereka itu mereka beli Sabtu (10/9) pagi. “Saya belinya tadi pagi dan mana saya tahu kalau orang banyak yang pulang sekarang. Harga tiket memang sekitar Rp1.700.000-an dan saya jual hanya untung Rp100.000 saja,” ucapnya. (jon/ila)

Keamanan Ketat Usik Gaya Hidup dan Kenyamanan Warga

10 Tahun Amerika Serikat Dibayangi Trauma Tragedi 9/11

Pada 2002, setahun pascatragedi 9/11, di Lax Los Angeles International Airport, petugas imigrasi menyapa dengan rasa curiga. “What you do in US?” Tetapi, Rabu lalu (7/9) petugas imigrasi di Seattle Tacoma International Airport menyapa saya dengan keramahan. “How are you?”

SUHENDRO BOROMA, Seattle

SEMINGGU sebelum peringatan setahun tragedi 9/11 di Amerika Serikat (AS), petugas imigrasi di Lax Los Angeles International Airport tak cukup menyapa saya dengan rasa curiga. Dia juga membawa saya ke tempat khusus yang saat  itu berisi mayoritas orang Asia, termasuk beberapa warga Indonesia.

Beberapa orang sudah diborgol. Saya duduk berdampingan dengan orang-orang yang sebagian besar berkulit kuning dan sawo matang yang diborgol tersebut. Orang-orang itu siap dideportasi karena tidak lolos di tahap special registration.

Setelah 2,5 jam menunggu, akhirnya saya diwawancarai secara detail selama 30 menit. Meski hati berdebar begitu melihat tatapan petugas yang penuh curiga, hasilnya, saya lolos di tahap special registration tersebut. “Good luck,” kata petugas.

Nah, empat hari sebelum peringatan sepuluh tahun tragedi 9/11, saya kembali ke AS. Saya sangat tertegun gembira saat disapa “How are you?” oleh petugas imigrasi di Seattle Tacoma International Airport (Seatec). Di sana, mereka hanya mengajukan tujuh pertanyaan secara ramah, lalu memberikan stempel paspor dengan wajah ceria serta mengembalikan paspor sambil tersenyum dan berujar, “Enjoy your trip.” Mungkin paspor saya sudah dinyatakan “bersih diri”.

Sapaan “How are you?” membuat perasaan berdebar-debar saya hilang. Senyum petugas berpostur kekar itu membuat rasa gundah saya lenyap seketika. Maklum, saat masuk ke bandara-bandara di AS, prosedur belum berubah. Saya sangat takut untuk melewati prosedur tersebut. Apalagi, sepatu, ikat pinggang, jam tangan, dompet, laptop, kacamata, handphone, kamera, dan semua barang harus dikeluarkan dari tas. Karena itu, saking leganya, ketika petugas menyerahkan paspor, saya benar-benar merasa sebagai orang tercepat yang melewati pemeriksaan di imigrasi.
Apa yang saya alami ternyata juga dirasakan warga AS. Sepuluh tahun setelah 9/11, publik Paman Sam mempertanyakan keberadaan Transportation Security Authorization (TSA) dan Department of Homeland Security, departemen yang membawahkan imigrasi, bea cukai, dan border cross area (lintas perbatasan). Itu merupakan sebuah departemen yang lahir setelah serangan teroris terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC) di Lower Manhattan, New York, 11 September 2011.

Sejak itu pula semua prosedur masuk dan keluar AS berubah, sangat ketat. Di immigration form dan custom form, tulisan Department of Justice sudah hilang. Tak ada lagi tulisan Departemen Keuangan di formulir bea cukai. Di bagian atasnya ditulisi (dengan tujuan yang sangat jelas): Homeland Security and Border Protection.

Belakangan, melalui acara debat di senat AS bertajuk Terrorism and Homeland Security, departemen pengelola imigrasi itu disorot tajam karena AS sekarang sedang memulihkan sektor ekonomi, tidak lagi berfokus ke keamanan. Bahkan, Homeland Security itu sempat dianggap salah satu pos yang memberatkan keuangan negara karena menyedot banyak anggaran.

Saat AS sedang dilanda ancaman krisis ekonomi tahap kedua seperti sekarang, semua pos biaya mahal dikuliti. Tahun lalu, media gencar mengkritik departemen itu terlalu boros. Mereka menilai pemerintah tidak lagi bisa membiayai setiap orang yang masuk bandara (ongkos prosedur keamanan ketat), membuang banyak waktu menghasilkan uang, hingga ketidaknyamanan setiap turis. “Panik yang tidak penting,” judul USA Today beberapa waktu lalu.

Koran bergengsi AS itu merujuk prosedur keamanan ketat tersebut yang ternyata juga diberlakukan di tempat lain. Mereka yang sebelum 11 September 2001 sama sekali tak berurusan atau berhubungan dengan pihak keamanan kini dibuat repot saat masuk bandara, kantor-kantor pemerintah, tempat umum, atau pertemuan-pertemuan di hotel.

Bahkan, kata Jim Grossman, presiden Asosiasi Sejarah Amerika, tragedi 9/11 telah mengubah ritme kehidupan setiap hari warga AS.

Banyak hal yang berubah di AS setelah tragedi 9/11. Hajatan-hajatan tahunan seperti Festival Musim Dingin, pertandingan football, atau kongres organisasi profesi ditunda gara-gara kerisauan terhadap serangan teroris. Orang-orang yang pergi ke basement, anak-anak ke sekolah, pergi ke supermarket, serta nonton bioskop, konser, atau teater harus melalui prosedur tertentu yang sebelumnya tak pernah ada.

Ada fase ketika anak-anak pergi ke sekolah merupakan tindakan pemberani dan naik pesawat sama dengan pilihan heroik. Pascatragedi 9/11, tingkat kewaspadaan nasional dan perasaan nasionalisme warga AS meningkat tajam. Tapi, itu juga “dibayar” dengan kepanikan yang meningkat dahsyat, kenyamanan terhadap hak-hak individu berkurang, dan munculnya sejumlah kasus diskriminasi terhadap warga muslim AS.

USA Today dan Gallup Poll melakukan polling dengan pertanyaan (setelah 10 tahun tragedi 9/11) apakah teroris menang” Sebanyak 3/4 warga AS menjawab tidak. Mereka beralasan, pascatragedi 9/11, AS memang berhasil menangani semua celah ancaman dan aksi teroris, ekonomi bisa pulih, Osama bin Laden dan pengikutnya sudah ditembak atau dipenjara, Ground Zero (istilah untuk reruntuhan WTC) sudah dibangun kembali, patriotisme warga AS meningkat, dan perasaan nasionalisme bangsa Amerika naik berlipat.

Tapi, kenyamanan dan hak-hak individu berkurang tajam. AS juga mengeluarkan banyak biaya untuk berperang. “Security AS hanya mengubah sikap dan gaya hidup warga Amerika,” tulis USA Today.
Pihak itu menyebutkan, pascatragedi 9/11, yang dikategorikan “ancaman teroris” telah berevolusi dalam cara pandang warga dan pemerintah AS.

Karena itu, hanya 17 persen responden yang menjawab teroris menang. Mayoritas justru merasa kenyamanannya tersandera. Mayoritas warga AS berpendapat bahwa teroris telah dikalahkan. Tapi, mereka juga mengingatkan, “setiap memperingati tragedi 9/11 seperti memperingati kemenangan teroris”.

Lihat saja, ada sejumlah acara peringatan tragedi 9/11 yang dilakukan setiap tahunnya. Sabtu 10/11 (tadi malam waktu WIB) ada peringatan di Flight 93 National Memorial, Shanksville, Piennsylvania. Acara yang mulai pukul 12.30 itu dijadwalkan dihadiri mantan Presiden George W. Bush, Wapres Joe Biden, dan Gubernur Pennsylvania Tom Corbett.

Minggu, 11 September pukul 9.30 (nanti malam waktu WIB), ada acara di The Pentagon Memorial, Arlington, Virginia. Wapres Joe Biden dan Menteri Pertahanan Leon Panetta dijadwalkan hadir. Puncak acara peringatan tragedi 9/11 dilakukan di National September 11 Memorial, Ground Zero, New York. Dimulai pukul 8.30 (nanti malam WIB), acara tersebut dipimpin Presiden Barack Obama dan dihadiri mantan Presiden George W. Bush, Wali Kota New York Michael Bloomberg, serta mantan Wali Kota Rudy Giuliani.

Tahun ini, puncak peringatan jatuh pada Minggu, hari libur di seluruh dunia. USA Today edisi 8 September 2011 menurunkan hasil polling terhadap pertanyaan: apakah 11 September dijadikan hari libur” Sebanyak 51 persen responden menjawab yes dan 49 persen menjawab no. Jawaban yang secara statistik sama saja. Dengan tingkat kepercayaan 99 persen, atau margin error 1 persen (taraf signifikansi yang sulit dalam survei sosial), 52 persen orang bisa menjawab yes dan 48 persen menjawab no. Tapi, ada juga peluang 50 persen menjawab yes dan 50 persen menjawab no.
“Setelah sepuluh tahun tragedi 9/11, bangsa Amerika masih trauma. Setidaknya masih ambigu. Tapi, sejarah juga banyak membuktikan: Amerika selalu bisa keluar dari berbagai masalah,” analisis USA Today dari polling itu.

Tapi, taruhannya, ancaman terorisme akan menjadi “virus” yang memaksa mengubah gaya hidup masyarakat AS. Diperlukan “hard war” dan “soft war” sekaligus dengan berbagai strategi dan taktik.
Kapan perang itu berakhir” Belum ada yang tahu. Editorial USA Today edisi 9 September 2011 menutup ulasannya dengan kalimat: “In the battle against the ideology and fanatics responsible for 9/11, we know we are winning, but it will be hard to know when have won”. (*/c11/c5/iro/jpnn)

Terima Honorer, Pemda Ditindak

JAKARTA- Ketua Komisi II DPR RI, Chairuman Harahap menyatakan Pemerintah Daerah (Pemda) yang menerima lagi honorer harus ditindak. Pasalnya, langkah yang dilakukan Pemda dinilai hanya membebani negara dan akan membuka peluang bagi honorer yang diterima untuk diangkat lagi menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Menurut Chairuman, pusat sudah mengeluarkan kebijakan untuk tidak mengangkat lagi tenaga honorern

Karenanya, kata dia, bila ada Pemda yang tidak mengindahkan kebijakan itu, Pemerintah Pusat harus memberikan sanksi yang tegas.

“Jadi tidak ada harapan dari honorer untuk diangkat PNS. Seharusnya memang tidak ada lagi penerimaan honorer. Kalau masih ada daerah yang menerima tenaga honorer itu harus ditindak. “ kata  Chairuman kepada JPNN, usai diskusi bertajuk Membongkar Kejahatan Pemilu dan Dinamika Sistem Hukum di Rumah Makan Bumbu Desa, Jakarta, Sabtu (10/9).

Sebelumnya, Pemerintah pusat tidak bosan-bosannya mengingatkan agar instansi pemerintah, terutama pemerintah daerah, tidak terus-terusan merekrut tenaga honorer. Selain hanya akan membebani keuangan daerah karena tetap harus digaji, tenaga honorer juga punya konsekuensi lain, yakni munculnya tuntutan mereka untuk bisa diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Badan Kepegawaian Negara (BKN) menginstruksikan agar pemda menggunakan tenaga alih daya (outsourcing). Alasannya, selain lebih efisien, penggunaan tenaga outsourcing juga tidak bakal menuntut untuk diangkat menjadi CPNS.
“Sekarang penggunaan tenaga outsourcing oleh instansi pemerintah sudah berkembang, karena lebih efisien. Daripada merekrut honorer, lebih baik menggunakan outsourcing, karena mereka tak mungkin teriak minta jadi PNS,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Badan Kepegawaian Negara (BKN) Aris Windiyanto, kepada JPNN, kemarin (9/9). (kyd/jpnn)

Yakin Masuk 16 Besar

Nadine Alexandra Dewi Ames

Nadine Alexandra Dewi Ames tampil meyakinkan di babak awal preliminary rounds Miss Universe 2011 di Sao Paulo, Brazil. Kamis malam waktu setempat (Jumat pagi WIB, Red) Nadine dan 88 kontestan lain harus beraksi tiga kali di sesi Presentation Show.

SAO PAULO- Pada sesi perkenalan, Nadine tampil bersama lima kontestan lain. Mengenakan gaun berekor panjang warna violet, gadis 20 tahun itu tampak mantap menyebut nama dan negara asalnya. “Kami lihat Nadine memang konsisten. Penampilan di Presentation Show cukupn

memuaskan,” jelas Mega Angkasa, Humas Yayasan Puteri Indonesia (YPI), ketika dihubungi via saluran internasional tadi malam.

Sesi berikutnya adalah peragaan swimsuit. Semua peserta mengenakan bikini yang seragam, yakni model two piece bercorak tenun ikat dengan kombinasi merah, oranye, dan ungu muda. Tapi, pada foto resmi swimsuit Nadine memilih busana renang one piece model one shoulder dengan aksen cutout.

Selanjutnya, perempuan kelahiran Winchester, Inggris, itu berganti kostum evening gown. Langkahnya mantap dalam balutan tube dress warna hijau jamrud karya Barli Asmara dan platform shoes berwarna senada. Penggunaan material sutra dan sifon yang ringan membuat gaun seperti melambai mengikuti langkah Nadine.

Nadine juga tampak lebih ramping berkat detail obi berhias manik-manik di pinggang. Sementara nuansa glamor muncul berkat detail payet kepang dan batu-batuan di bagian dada. “Warna hijaunya mengandung makna bersinar dan memberikan kesan mewah. Juga membuat wajah Nadine terlihat lebih fresh,” ungkap Mega.

Pada akhir acara panitia menganugerahkan dua penghargaan khusus. Yakni, Miss Photogenic yang diraih wakil Swedia Ronnia Fonstedt dan Miss Congeniality untuk delegasi Montenegro Nikolina Loncar. Meski tidak kebagian gelar apa pun, Nadine mengaku puas dengan penampilan selama Presentation Show.

“Semuanya berjalan lancar, tidak ada sesi di mana saya merasa kurang maksimal. Cukup memuaskan hari ini,” ungkapnya, seperti disampaikan Mega. “Yang jelas, penampilan itu (Presentation Show, Red) membuat saya semakin percaya diri. Saya yakin bisa lolos ke 16 besar,” tegasnya.

Nadine punya modal untuk pede. Menurut yang dia dengar dari kontestan lain, dia tampak berbeda jika berjalan di runway. “Kata mereka, saya berubah menjadi pribadi yang lebih percaya diri di catwalk. Mudah-mudahan juri bisa melihat kepribadian saya, lebih dari penampilan fisik,” imbuh perempuan yang pernah mengenyam sekolah modeling itu.

Sementara itu, setelah lebih dari tiga pekan berjuang sendirian di Sao Paulo, Nadine akhirnya mendapat kawan. Tadi malam beberapa personel YPI berangkat untuk mendukungnya langsung di negeri itu. Ketua Umum YPI Wardiman Djojonegoro termasuk dalam rombongan. Di sana mereka ditemani duta besar Indonesia untuk Brazil.
Nadine bertambah gembira lantaran orang tua dan kakak tertuanya juga akan hadir pada malam final Miss Universe. Menurut Mega, keluarga Nadine memang tengah berlibur ke sejumlah negara Eropa dan Amerika Selatan. Sehari sebelum final mereka dijadwalkan tiba di Sao Paulo.

“Sudah pasti dia senang banget. Ayah ibu Nadine sudah di Peru. Minggu besok (11/9) mereka sampai di Sao Paulo,” jelas Mega. “Selama ini kan dia melalui semuanya sendirian. Dia orangnya cukup mandiri, jadi tidak ada masalah. Tapi, kehadiran keluarga terdekat dan teman-teman bikin dia tambah happy,” imbuhnya.

Nadine saat ini menjalani geladi resik untuk malam final di Credicard Hall, Sao Paulo, Brazil. Sesi puncak itu digeber Senin malam waktu setempat atau Selasa pagi WIB. “Malam itu (final, Red) yang paling penting. Sebab, 15 kontestan akan dipilih maju ke semifinal, sementara satu semifinalis lagi diambil dari voting via internet. Saya sangat berharap bisa masuk 15 besar,” tandasnya. (na/c2/iro)

Dubes Diungsikan, Mesir Kondisi Siaga

Kedubes Israel Diserang, Tiga Tewas

KAIRO- Krisis keamanan belum berlalu dari Mesir. Unjuk rasa besar-besaran menuntut percepatan reformasi pada Jumat sore lalu (9/9) berakhir rusuh. Ratusan orang menyerang dan menghancurkan Kedutaan Besar (Kedubes) Israel di Kairo.

Kerusuhan berlanjut hingga tengah malam. Massa juga membakar mobil dan sejumlah benda serta bangunan di sekitar Kedubes Israel. Menyikapi insiden itu, kemarin (10/9) Dubes Israel Yitzhak Levanon meninggalkan Mesir. Sepeninggal Levanon, hanya tersisa satu diplomat esensial di kantor Kedubes Israel di Kairo.

Tiga orang tewas dalam bentrok antara demonstran dan aparat keamanan saat kerusuhan tersebut. Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa 450 demonstran terluka. Media pemerintah melaporkan 46 polisi juga terluka.
Perdana Menteri (PM) Mesir Essam Sharaf langsung menggelar rapat kabinet darurat pagi hari kemarin untuk membahas krisis yang terjadi. Kairo pun menyatakan negara dalam kondisi siaga.

“Aksi itu merupakan puncak kemarahan dan frustrasi kaum muda Mesir terhadap Israel. Khususnya, yang terkait serangan di perbatasan kedua negara yang menewaskan lima penjaga (tentara) belum lama ini,” terang Nabil Abdel Fattah, pengamat politik senior Mesir. Meskipun berpihak pada demonstran yang menyuarakan kritik terhadap Israel, sebagian pakar politik Mesir mengecam serangan itu.

Hamdeen Sabahy, salah seorang politikus dan kandidat presiden Mesir, mengimbau militer bertindak secara tegas. “Sudah saatnya militer Mesir melakukan tindakan nyata untuk mengakomodasi kemarahan warga terhadap Israel. Dengan begitu, warga Mesir tak perlu melakukan tindakan kasar seperti ini,” ujarnya. Dia menilai bahwa tindak kekerasan hanya akan memperburuk citra Mesir.

Serangan atas kantor Kedubes Israel pada Jumat lalu itu menjadi puncak ketegangan hubungan di antara dua negara. Bulan lalu, lima penjaga perbatasan Mesir tewas di tangan pasukan Israel yang konon sedang memburu militan. Kairo pun melayangkan protes ke Tel Aviv. Hubungan Mesir dan Israel langsung memanas. Warga yang tak terima dengan insiden tersebut menggelar aksi protes di Kedubes Israel.

Bulan lalu, seorang demonstran memanjat tiang bendera di depan kantor Kedubes Israel. Dia lantas menurunkan bendera Israel yang sedang berkibar dan mengganti dengan bendera Mesir. Aksi itu kian meningkatkan ketegangan dua negara. Pemerintah Mesir pun terpaksa mendirikan tembok permanen di sekeliling Kedubes Israel untuk mencegah aksi serupa.

Tetapi, Jumat lalu tembok berhiaskan slogan anti-Israel tersebut menjadi fokus serangan. Ratusan massa memanjat tembok itu dan kemudian merobohkannya. “Kini, kami telah mendapatkan kembali martabat kami,” ujar Mohi Alaa, 24, salah seorang demonstran dalam unjuk rasa di Kedubes Israel. Dengan runtuhnya tembok pelindung itu, tambah dia, Mesir telah kembali sejajar dengan Israel.

Kemarin Presiden AS Barack Obama pun angkat suara terkait insiden tersebut. Obama mengimbau supaya Mesir menghormati kesepakatan internasional soal misi diplomatik asing. “(Pemerintah) Mesir wajib melindungi kantor perwakilan Israel di sana,” seru Obama. Dia berjanji kepada PM Israel Benjamin Netanyahu untuk segera menyelesaikan krisis politik yang melanda dua negara tersebut.

Kecaman terhadap Mesir juga datang dari Bahrain yang selama ini seperti kebanyakan negara Arab selalu bersikap kritis kepada Israel. “Dengan tidak melindungi Kedubes Israel di Kairo itu berarti (Mesir) telah melanggar Konvensi Wina 1961 tentang hubungan diplomatik,” ujar Menteri Luar Negeri Bahrain Sheikh Khaled bin Ahmad al-Khalifa.
Mesir merupakan satu dari dua saja negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Satunya lagi adalah Jordania. Tapi, seiring tingginya tekanan publik, bukan tak mungkin, Mesir bakal segera memutuskan relasi bilateral ini.

Kalau itu benar terjadi, posisi Israel jelas bakal makin terpojok. Sebab, hubungan mereka dengan Turki juga tengah panas-panasnya. Istanbul sudah mengusir duta besar Tel Aviv dan memutuskan kerja sama militer dan perdagangan. Itu menyusul penolakan Israel meminta maaf atas tewasnya sembilan warga Turki karena serangan pasukan khusus Angkutan Laut Israel terhadap rombongan Freedom Flotilla pada 31 Mei 2010.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan sudah mengancam akan mengirimkan kapal perang untuk mengawal kapal-kapal sipil Turki yang hendak menuju Jalur Gaza yang diblokade wilayah daratnya oleh Israel. Ancaman itu dibalas gertakan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyatakan kalau Israel bakal melakukan apa saja untuk mempertahankan diri.

“Kami akan menahan diri. Kami meminta Turki juga melakukan hal yang sama,” kata Netanyahu.
Kerusuhan kemarin merupakan yang terburuk sejak Israel mulai mendirikan kedutaan di Mesir pada 1979. Banyak pihak di Israel meyakini, Dewan Militer yang berkuasa di Mesir sejak sepeninggal Hosni Mubarak dan dikepalai Hussein Tantawi tak akan mampu mengendalikan situasi di Negeri Pharaoh tersebut.

“Ini adalah situasi anarkis total. Dewan Militer itu berjarak dari anak-anak muda Mesir. Tak ada seorang pun dari Dewan Militer yang bisa berkata kepada rakyat Mesir, “cukup sudah, hentikan semua ini, kita punya masalah besar. Kita harus memulihkan perekonomian”,” ujar Zvi Mazel, mantan dubes Israel untuk Mesir.

Di era Mubarak, Mesir menjadi tembok pelindung kukuh bagi Israel. Mereka menutup perbatasan dengan Jalur Gaza yang memaksa warga wilayah yang dikuasai Hamas itu untuk membuat terowongan guna menyelundupkan berbagai kebutuhan hidup.

Atas kebijakannya itu, rezim Mubarak mendapat kompensasi berupa bantuan perekonomian dalam jumlah besar dari Amerika Serikat, negeri “induk” Israel. Tapi, bantuan tersebut kebanyakan dibuat bancakan Mubarak dan kroni-kroninya. (AFP/AP/RTR/BBC/hep/dwi/jpnn)

Uang Mahasiswi Rp7,5 Juta Dibongkar dari ATM

MEDAN-Uang Rp7,5 juta milik Maria boru Hutagalung (21) dibongkar petugas Bank BRI gadungan dari mesin ATM di Bank BRI, Jalan  Gatot Subroto, tepatnya di simpang Jalan Ayahanda Medan, Sabtu (10/9)  pukul 08.30 WIB.
Keterangan mahasiswi warga Jalan Agenda Medan Petisah saat mengadu ke Mapolsekta Medan Baru, Sabtu (10/9) siang, Maria mendatangi mesin ATM untuk mengambil uang Rp300 ribu untuk keperluan pembayaran administrasi kuliahnya. Saat uang pecahan Rp50 ribu enam lembar keluar dari mesin ATM, kartu ATM-nya tak mau keluar.

Hampir 20 menit Maria berusah untuk mengeluarkan kartu ATM-nya dengan cara mengutak-atik mesin ATM. Maria pun keluar dari bilik mesin ATM dan melihat di stiker kaca mesin ATM tertempel nomor call center bank tersebut. Kemudian Maria pun menghubungi nomor yang tertera di stiker pintu mesin ATM ini.

Salah seorang lelaki pun langsung menjawab keluhan Maria. Setelah 15 menit menunggu, dua orang lelaki yang mengaku petugas bagian mesin ATM BRI (tidak dilengkapi identitas berupa ID, Red) langsung menghampiri Maria, yang terus menunggu di depan pintu mesin ATM. Salah seorang lelaki yang mengaku bernama Anto itu pun mengajak Maria masuk ke dalam mesin ATM.

Selanjutnya kedua pria yang mengaku petugas bagian mesin ATM tersebut bekerja untuk mengeluarkan kartu ATM yang macet. Kemudian petugas bank gadungan ini pun meminta nomor PIN kartu ATM. Semula Maria enggan memberikan empat digit nomor PIN itu. Namun, karena yakin yang meminta PIN ATM itu adalah petugas Bank BRI, Maria pun langsung memberitahukan PIN-nya. Setelah PIN diberitahukan, salah satu petugas tersebut langsung menyuruh Maria untuk menunggu di luar mesin ATM. “Ya udah. Mbak tunggu di luar ya. Karena ini tugas kami mengeluarkanya,” ujar petugas itu seperti ditirukan Maria.

Maria pun menunggu di luar. Kedua pria yang tidak memakai seragam Bank BRI itu mengerjai mesin ATM. Sekira 20 menit di dalam mesin ATM, kedua pria itu pun keluar dan menyerahkan kartu ATM milik maria yang terus menunggunya di luar.

Setelah pria itu pergi mengendarai sepeda motor dengan  jenis matic, Maria pun kembali masuk ke dalam mesin ATM dan kembali memasukkan kartu ATM-nya. Namun, Maria tidak bisa mengakses kartu ATM-nya. Saldo yang di dalam layar mesin ATM pun tidak bisa dilihatnya, karena PIN-nya sudah diganti kedua pria itu. Kemudian Maria pun langsung kembali ke rumahnya untuk mengambil buku tabungannya.

Maria pun membawa buku tabunganya ke petugas Bank BRI Capem  Jalan Gatot Subroto, untuk mengecek saldo di dalam rekeningnya. Maria pun terkejut bukan kepalang saat petugas resmi Bank BRI menunjukkan di layar komputernya, bahwa saldo Maria hanya Rp57 ribu. Maria sempat komplain. Namun apa daya, petugas Bank BRI menunjukkan saldo melalui layar komputer.

“Memang pria itu tadi nggak pakai seragam. Aku sih percaya aja tadi. Berarti orang itu ganti PIN ATM ku, sesudah ambil uang dari mesin ATM tadi,” ujar Maria.

Maria yakin bahwa uangnya itu dikuras oleh kedua pria yang mengaku petugas Bank BRI, yang dihubunginya itu. “Aku yakin yang dua orang itu mengambil uangku,” ujar Maria.

Kanit Reskrim Mapolsekta Medan Baru Iptu Andik Eko mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kasus ini. “Masih kita selidiki. Korban sekarang masih memberikan keterangan,” ujar Andik Eko. (mag-7)