Home Blog Page 15398

Mau Melerai, Malah Babak Belur

Sebagai sekuriti, Suhendra Kumara merasa perlu tahu apa yang terjadi di depan restoran tempatnya bekerja, kemarin. Namun naas, saat dia mendekati sejumlah pemuda yang sedang bertengkar di depann Grand Kowloon di Jalan Thamrin Medan itu, Suhendra malah dihardik seorang pemuda yang tak senang melihat kehadirannya.

“Apa kau lihat-lihat? Kau tunggu aku di sini,” hardik seorang pemuda kepada Suhendra. Tak mau kalah, Suhendra menjawab, “Ini tempat kerjaku, pasti aku di sini, tidak akan ke mana-mana.”

Berselang beberapa menit, sejumlah pemuda mendatangi tempat kerja Suhendra. Tanpa banyak cakap, Suhendra dianiya dengan menggunakan kayu dan besi. Melihat Suhendra berlumaran darah dan tidak berdaya, rekan kerja Suhendra langsung membawanya dengan menggunakan sepeda motor ke RSU Pirngadi Medan.

“Saya bermaksud melerai pemuda yang bertengkar di depan restoran tempat saya bekerja, kok malah saya yang dipukuli,” ungkap Suhendra.

Akibat kejadian itu, bapak tiga anak ini mendapat 10 jahitan di pipi sebelah kiri, satu jahitan di mulut dan sekujur tubuh memar akibat penganiayaan itu.

Sementara, pihak keluarga sudah melaporkan kejadian yang dialami Suhendra kepada kepolisian Malpolsek Medan Timur disertai saksi 3 orang dari rekan kerja dan seorang lagi penarik becak motor (Bentor) yang kebetulan berada di lokasi kejadian.(mag-7)

Jenazah Erwina Ditemukan di Percut

Bocah Hanyut

MEDAN-Satu jam setelah penguburan jenazah Mahyarudin Salim Rangkuti (2), bocah yang hanyut saat bermain di tepi sungai di Jalan Seksama, seorang warga mengabarkan kalau Erwina Rangkuti (4), kakak Mahyarudin telah ditemukan di Sungai Percut di wilayah Bagan, Selasa (19/4) siang pukul 13.00 WIB.

Adalah Wagiran (50), yang membawa kabar tersebut ke rumah duka di Jalan Selamat Lurus No 99, Kelurahan Sitirejo III, Kecamatan Medan Amplas. “Isteri saya tadi menelpon, katanya ditemukan bocah perempuan di Sungai Percut dengan ciri-ciri berambut ikal,” ujar Wagiran membuka percakapan.

Untuk memastikan kabar tersebut, wartawan yang masih berada di rumah duka langsung menghubungi Kapolsekta Percut Sei Tuan, Kompol Maringan Simanjuntak untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. “Benar, kita sudah mendapatkan informasi penemuan mayat seorang bocah di Sungai Bagan,” ucap Maringan.

Mendapat kabar itu, Agus Salim Rangkuti (30), orangtua kedua bocah malang itu langsung berbicara dengan Kapolsek Percut Sei Tuan via ponsel. Agus meminta agar mayat anaknya tidak dibawah ke rumah sakit, karena ia tidak ingin anaknya di otopsi.

Dari hasil percakapan, Maringan kemudian menyarankan agar Agus datang ke Polsek Percut Sei Tuan untuk membuat surat pernyataan tidak bersedia di otopsi. Agus kemudian bergegas menuju Polsek menaiki sepeda motor.

Menurut Agus, jenazah Erwina akan langsung dikebumikan hari itu juga. Karenanya, mereka langsung mempersiapkan fardhu kifayah untuk proses penguburannya. “Akan kita kebumikan sore ini juga. Kan dalam agama lebih baik jika penguburannya dipercepat,” kata Agus yang langsung bergegas menuju Polsek Percut Seituan.
Sementara, akibat kejadian yang merenggut nyawa dua bocah itu, beberapa warga sudah mengusulkan kepada lurah setempat agar melakukan perbaikan parit besar tempat terpelesetnya kedua korban yang tewas itu. “Tujuh lingkungan di kelurahan ini sepakat memperbaiki parit dengan bergotong royong, karena sangat rawan terjadi hal serupa,” ujar warga saat pidato pemberangkatan jenazah Mahyar.

Diketahui, kakak beradik Erwina Rangkuti (4) dan Mahyarudin Salim Rangkuti (2) hanyut terseret arus sungai pada Senin (18/4) sore pukul 17.30 WIB. Saat itu, kedua bocah ini sedang mandi hujan menemani ibunya yang sedang mencuci pakaian.

Keduanya hanyut terbawa arus parit besar yang bermuara ke Sungai Denai saat bermain air di belakang rumahnya. Diduga, keduanya terpeleset ke parit besar.

Saat itu Roslina sempat ingin menyelamatkan keduanya, namun karena arus yang begitu deras, keduanya terseret arus dengan cepat. “Saya berteriak minta tolong, namun warga yang cepat berkumpul juga tidak bisa menyelamatkan mereka,” ujar Roslina saat ditemui di rumah duka Jalan Selamat No 99, Kelurahan Sitirejo III, Kecamatan Medan Amplas, Selasa (19/4) pagi.

Roslina dan suaminya, Agus Salim Rangkuti (30) yang bekerja sebagai pembawa Betor (Becak Motor) tampak terpukul dengan kejadiaan naas yang merenggut nyawa anaknya.(adl)

Sosialisasi Jampersal Belum Efektif

Jampersal atau jaminan persalinan yang diperuntukkan bagi ibu hamil belum sepenuhnya diketahui masyarakat. Padahal, jampersal ini merupakan program pemerintah pusat. Bahkan, untuk Kota Medan sendirin Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan baru menerima satu pasien Jampersal. Lalu, apa yang harus dilakukan Dinkes Medan? Berikut wawancara wartawan Sumut Pos, Juli Ramadhani Rambe dengan anggota komisi B DPRD Medan Bahrumsyah, kemarin.

Menurut penilaian Anda, bagaimana perkembangan dari program Jampersal ini?
Program Jampersal ini masih dalam tahap penyusunan atau bisa dibilang masih diatur. Karena program pusat ini kan baru terealisasi. Jadi, pasti masih ada beberapa kekurangan dalam pelaksanaan program ini. Untuk hal itu, setidaknya Dinkes Medan sudah mengetahuinya. Selain itu, harus ada sentralisasi untuk program ini, karena hampir semua Rumah Sakit akan bekerja sama, jadi setidaknya ada MoU antara Dinkes dan rumah sakit tersebut.

Namun, program ini belum diketahui masyarakat luas, khususnya yang benar-benar membutuhkan program ini. Bagaimana tanggapan Anda?
Itu dia masalahnya. Mungkin karena ini masih program baru. Untuk sosialisasi memang belum ada saya dengar. Jadi, tentu masyarakat juga tidak mengetahui Jampersal ini. Menurut saya, sosialisasi yang paling efektif dilakukan di Posyandu. Karena masyarakat yang datang ke posyandu ini merupakan masyarakat dengan kelas menengah ke bawah. Dan juga masyarakat dari daerah. Jadi, setidaknya bagian pelayanan kesehatan untuk mempercepat proses sosialisasi ini.

Jadi, apa ada masalah dari program ini?
Saya rasa mungkin karena program baru. Dan hal ini tinggal menunggu petunjuk pelaksanaan. Karena secara umum, program ini tidak berbeda dengan program Medan sehat. Hanya saja, pada Medan Sehat sudah berjalan dan semua data base sudah berlaku. Sementara Jampersal sudah memiliki data, tetapi belum sampai ke masyarakat.

Apa yang harus dilakukan Dinkes Medan terkait masalah ini?
Percepat sosialisasi. Petunjuk pelaksanaan akan diketahui sejalan dengan berjalannya program ini. Jadi untuk saat ini, menurut saya banyak sekali pekerjaan rumah Dinkes. Jadi kerjakan sebelum terlambat.(*)

Erwin Terancam 5 Tahun Penjara

Dijerat Pasal 406 jo 170 KUHP

MEDAN- Kepala Dinas (Kadis) Pertamanan Erwin Lubis dan bawahannya diduga telah melakukan tindak pidana perusakan secara bersama-sama dan dijerat dengan Pasal 406 jo 170 KUHP. Hal ini terkait pembongkaran papan reklame milik PT Star Indonesia oleh Pemko Medan di Jalan S Parman, simpang Jalan Glugur Medan, beberapa waktu lalu.

“Menurut laporannya, Kadis Pertamanan Kota Medan dan bawahannya telah melakukan tindak pidana pengrusakkan secara bersama-sama dan dijerat pasal 406 YO 170 KUHP yang ancamannya penjara lima tahun,” ujar Kassubid Dok Liput Humas Poldasu, AKBP MPn Nainggolan, Selasa (19/4) siang.

Dikatakan Nainggolan, bila Kadis Pertamanan tidak hadir untuk menjalani pemeriksaan penyidik Sat/I Tipidum Dit Reskrim Poldasu hari ini, Rabu (20/4), Poldasu akan melakukan pemanggilan kedua terhadap Erwin. “Bila tidak hadir, akan dilakukan pemanggilan kedua,” ucap Nainggolan.

Sementara Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan Erwin Lubis mengaku siap menghadiri panggilan Poldasu untuk memberikan keterangan. Dikatakannya, pihaknya memiliki bukti-bukti dan pemanggilannya oleh pihak Poldasu juga hanya sebatas memberi keterangan.

“Suratnya belum saya terima. Tapi kalau memang benar dipanggil, saya akan datang. Saya ada bukti untuk itu,” jawabnya saat dikonfirmasi Sumut Pos usai acara Soft Launching Logo Visit Medan Year 2012 di Hotel Tiara Medan, Selasa (19/4).

Sementara itu, dukungan terhadap Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan Erwin Lubis muncul dari anggota DPRD Sumut Marasal Hutasoit. Politisi Fraksi PDS DPRD Sumut ini menilai, langkah yang diambil Kepala Dinas Pertamanan Kota Medan Erwin Lubis adalah langkah yang benar.
“Langkah untuk mengevaluasi izin-izin reklame itu benar. Dan itu harus didukung. Kalau tidak begitu, Medan ini bisa jadi hutan reklame,” tegasnya. Lebih lanjut Marasal menyatakan, pemasangan reklame yang tumpang tindih juga membuat estetika perkotaan menjadi semrawut tak tentu arah. Maka dari itu, sebaiknya ada kerjasama antara Pemerintah Kota (Pemko) Medan dengan pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Hal ini dirasa perlu karena, dalam pemasangan iklan melalui reklame, baliho atau sejenisnya biasanya menggunakan arus listrik sebagai sarana penerang. “PLN juga harus selektif. Karena reklame-reklame yang ada hanya untuk menguntungkan segelintir pihak saja. Terutama para pengusaha. PLN juga harus berpikir, jangan terlalu mudah menyalurkan arus listrik hanya untuk pemasangan atau penerangan reklame. Harus dipikirkan pula bagaimana masyarakat kecil yang sudah antre,” tandasnya lagi.

Ditambahkannya, dalam hal ini, yang hanya kentara adalah persaingin bisnis dari pihak-pihak pemasang iklan saja. Apakah pernah memikirkan masyarakat, misalnya apa pernah para pengusaha tersebut memikirkan ketika reklame yang dipasangnya akan roboh dan sebagainya, sehingga menimpa masyarakat.

“Ini hanya kepentingan, antara si pamasang iklan. Intinya, tindakan dan sikap dari Dinas Pertamanan itu benar. Jangan karena pengusaha, izin begitu saja diberikan,” tukasnya.

Iskandar yang didampingi pengacaranya, Syahril SH SpN, A Herwan Bispo SH, dan Drs Hasnul Amar SH mengatakan, laporan pengaduan tersebut adalah bukti bahwa perlakuan pembongkaran papan reklame di Jalan S parman simpang Jalan Glugur, Medan yang dilakukan aparat Pemko Medan adalah pelanggaran hukum.

“Papan reklame yang dibongkar masih memiliki izin dan berlaku sampai Desember 2011 dan memberikan PAD sebesar Rp61 juta kepada Pemko Medan,” ujar Iskandar.

Sebelumnya, penyidik Sat/I Tipidum Dit Reskrim Polda Sumut sudah melakukan pemanggilan terhadap Erwin Lubis, Kadis Pertamanan Pemko Medan atas laporan Iskandar ST pemilik PT Star Indonesia, terkait pembongkaran papan reklame oleh Pemko Medan.

Hal tersebut dikatakan Dir Reskrim Poldasu, Kombes Pol Agus Andriyanto, Senin (18/4) siang. Dikatakan Agus, pemanggilan tersebut untuk dilakukan pemeriksaan atas laporan tersebut. “Akan dilakukan pemanggilan terhadap Kadis Pertamanan (Erwin SH, Red), untuk diperiksa oleh penyidik,” ujar Agus.(adl/ari)

Pertemuan dengan Warga Belum Diagendakan

Sengketa Tanah Sari Rejo

MEDAN- Niat warga Sari Rejo untuk bertemu Wali Kota Medan Rahudman Harahap belum bisa terkabul. Pasalnya, hingga kemarin, surat yang dilayangkan warga Sari Rejo ke Wali Kota belum mendapat balasan.

Padahal, Rahudman lah yang menyarankan masyarakat Sari Rejo untuk melayangkan surat audiensi kepadanya, agar dapat digelar pertemuan di Balaikota Medan. Hal ini disampaikan Rahudman kepada masyarakat saat Rahudman mengunjungi Jembatan Sari Rejo yang rusak karena banjir, beberapa waktu lalu.

“Kita sudah berulang kali mempertanyakan itu kepada pihak protokoler Pemko Medan, tapi jawabannya selalu masih dalam proses pengagendaan. Kami ingin secepatnya, karena kami ingin agar persoalan ini segera terselesaikan,” tegas Ketua Formas Riwayat Pakpahan kepada Sumut Pos, Selasa (19/4)

Dijelaskannya, dalam upaya pertemuan itu nantinya, masyarakat Sari Rejo melalui Formas akan mempertanyakan sikap dari Pemerintah Kota (Pemko) Medan, sudah sejauh mana langkah yang ditempuh. “Kami menginginkan, tanah kami ada sertifikatnya. Dan kami telah memiliki fakta-fakta hukum yang jelas,” tandasnya lagi.
Riwayat juga menyatakan, Formas mengaggendakan untuk melakukan audiensi ke kantor Sumut Pos di Gedung Graha Pena Medan Amplas pada Kamis (21/4) mendatang.

Dalam kesempatan itu, Formas ingin bersilaturahmi dan mengucapkan terima kasih karena Sumut Pos yang terus memperjuangkan hak-hak masyarakat Sari Rejo yang selama ini terzholimi.(ari)

Peran Sastra dalam Membangun Religiusitas Siswa

Pendidikan di Indonesia selama ini lebih menekankan pada aspek kognitif dibandingkan dengan kedua aspek lainya. Hal ini dapat kita lihat dari substansi kurikulum yang ada, sistem pengajarannya, sistem evaluasi
yang dipakai.

Padahal kedua aspek lainya afektif dan psikomotorik tidak kalah pentingnya dalam membangun pribadi siswa yang utuh  terutama afektif. Peran afektif sangat penting diantaranya untuk membentuk karakter siswa yang peduli dengan lingkungan sosialnya. Diakui atau tidak sense of crisis ( kepekaan sosial ) yang dimiliki oleh pelajar kita masih cenderung rendah, karena ketidakseimbangan antara ketiga aspek pendidikan tersebut, kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketidakseimbangan ini menimbulkan ekses bagi pelajar, siswa, murid, dan mahasiswa kita.Terindikasi dengan banyaknya tauran antar pelajar, mahasiswa, seks bebas, penggunaan narkoba.

Ketidakseimbangan aspek ini, menumbuhkan kesadaran bagi banyak orang bahwa keunggulan, keberhasilan dan kesuksesan seseorang bukan semata–mata ditentukan atau diukur oleh intelligence quotients(IQ). Dengan IQ yang tinggi, seseorang memang dapat menciptakan berbagai hal yang menakjubkan. Namun yang dibutuhkan dalam kehidupan bukan hanya kecerdasan dalam menciptakan sesuatu, tetapi yang lebih penting juga kecerdasan emosi (Emotional Quotiens) EQ. Ada penelitian yang dilakukan oleh Danah Zohar dari Universitas Harvard menyatakan bahwa orang yang memiliki IQ biasa – biasa saja tetapi memiliki tingkat EQ tinggi, memiliki tingkat keberhasilan hidup lebih baik dari pada seseorang dengan IQ yang sangat tinggi dan EQ rendah.

Guna meningkatkan aspek EQ ini, banyak hal yang dapat dilakukan. Salah satu diantaranya dengan pendidikan sastra. Pendidikan sastra selama ini dipandang sebelah mata, pelajaran yang hanya membuat orang untuk menghayal – hayal (berimajinasi), pelajaran yang membuang waktu tanpa berarti (pelengkap) itu adalah anggapan keliru, sebenarnya pelajaran sastra  merupakan cara yang ampuh untuk meningkatkan afeksi siswa..Tidak jarang kita lihat bahwa banyak orang terharu saat mendengarkan sebuah puisi, atau meneteskan air mata saat membaca sebuah novel. Lebih pentingnya, ketika membaca karya sastra dapat mengasah perasaan, berempati, lebih menghargai orang lain, memperhalus perasaan, membuat kita lebih dewasa. Karya sastra banyak mengemukakan permasalahan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa anak (siswa).

Maka semakin banyak siswa membaca sastra, semakin kaya lah siswa akan pengalaman batin sehingga lebih arif saat menghadapi problema kehidupan.

Hal ini lah yang tentunya kita tekankan pada siswa secara khusus guru bidang studi bahasa Indonesia untuk selalu gemar menyuguhkan pembelajaran sastra, tidak tertutup kemungkinan bagi guru yang lain. Pembelajaran sastra harus berorientasi pada kegiatan pengalaman bersastra  bukan pada pengembangan teori – teori sastra.
Kendalanya di berbagai sekolah belum banyak buku – buku sastra, serta minat untuk menggauli sastra dikalangan siswa masih minim.Keinginan akan sastra seakan tenggelam akan kehdiran internet, game online, face book.Sastra semakin termarjinalkan eksistensinya di kalangan pelajar kita. Seharusya di era IT ini kehadiran internet dapat kita manfaatkan untuk mengakses sastra.  Membuat kliping tentang sastra, puisi, cerpen dll. Dengan demikian apresiasi akan sastra semakin tajam,meningkat.

Menurut Aminuddin,(1978).Apresiasi sastra adalah kegiatan untuk menggauli karya sastra secara sungguh – sungguh sehingga dapat menimbulkan kepekaan perasaan, daya pikir, dapat memetik nilai – nilai moral dan kemanusiaan yang terkandung dalam sastra. Dari pendapat itu dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi sastra  dapat tumbuh bila siswa terlibat dan akrab dengan sastra keterlibatan itu  juga akan memberikan implikasi yang mampu merumuskan rohaninya.

Sastra bersinggungan dengan dunia moral, dunia religius. Relasi antara sastra dan religi memang bukan hal yang baru. Menurut STA, bahwa sastra bermuatan religi karena menyelami perasaan beragama. Religi bahkan bisa sebagai dasar penciptaan karya sastra. Karya sastra sebagai media ekspresi manusia dalam mengemukakan perasaan ketuhanan.

Religi berarti keagamaan, perasaan atau pengikatan terhadap Tuhan (Atmosuwito, 1989). Perasaan keagamaan ini dapat dijelaskan sebagai perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan. Perasaan ketuhanan, cinta akan Tuhan merupakan salah satu kepekaan emosi yang harus selalu dikembangkan pada diri siswa. Apresiasi puisi tentunya berpotensi untuk meningkatkan kepekaan emosi siswa karena pada hakikatnya puisi itu berwahana bahasa serta puisi itu adalah bentuk seni dan setiap  bentuk kesenian  pasti melibatkan faktor emultif.

Melalui media puisi, kesadaran religiusitas dapat tersentuh. Kesadaran religiusitas itu bisa berupa kecintaan dan ketaqwaan pada Tuhan, kesadaran akan kebesaran Tuhan, kesadaran akan takdir, kesadaran hidup tak pernah abadi, memperingati hari – hari besar agama dll. Semuanya bentuk kesadaran di atas dapat diwadahi dalam bentuk puisi. Puisi yang bisa membangkitkan perasaan religius serta menumbuhkan penghayatan nilai-nilai sikap spiritual,penghayatan akan nilai filosofis ketuhana Dengan tumbuhnya penghayatan tersebut dapat menambah nilai – nilai kesadaran religius, mempertebal rasa iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan demikian guru dituntut tidak sekedar berperan sebagai transformator pengetahuan, tetapi juga sebagai pendamping siswa yang berkewajiban untuk membentuk dan mewarnai kepribadian dan moralitas siswa. Pembentukan watak dan moralitas siswa bukan hanya kewajiban pelajaran agama, melainkan kewajiban setiap mata pelajaran. Terlebih kita melihat generasi sekarang, generasi yang kehilangan karakter ( Soft Skill ),generasi yang  mengalami degradasi moralitas.

Maka patutlah kita berjuang untuk membentuk generasi yang berkarakter.Generasi yang memiliki sence of crisis yang sangat tinggi.Kelak bila hal ini tercapai maka tidak akan ada lagi pelajar yang tawuran,serta tindak moralitas lainya. Anomali akan tujuan hidup sebagai seorang pelajar tidak akan terjadi dengan kepekaan sosial yang tinggi serta dengan nilai-nilai kesadaran religiusitas yang besar.

Oleh: Bahtiar Damanik SPd, MPd
Pengajar di SMP N 2 Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai
e-mail: gery.bravo@yahoo.com

Dua Saksi Pelapor Diperiksa

Kabag Keuangan Pemko Medan Dipolisikan

MEDAN- Penyidik Satuan IV/Tipiter Dit Reskrim Polda Sumut melakukan pemeriksaan kembali terhadap dua saksi pelapor. Pemeriksaan ini terkait laporan LSM Basis Demokrasi terhadap Kepala Bagian (Kabag) Keuangan Pemko Medan, T Ahmad Sofyan ke Polda Sumut atas dugaan tindak pidana pelanggaran Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), Selasan (19/4) pagi.

Dikatakan, Direktur Esksekutif LSM Basis Demokrasi, Rinto Maha sebagai pelapor mengatakan, diperiksanya dua saksi pelapor, Sampang Manik dan Kesatria Taringan untuk dimintai keterangan atas pelaporan tersebut, karena Sofyan tidak bersedia memberikan permohonan permintaan pihak LSM Basis Demokrasi data APBD Pemko Medan Tahun Anggaran 2010.

“Hari ini, kita hadirkan dua orang saksi pelapor untuk memberikan keterangan,” ujar Rinto.
Rinto berharap, kasus tersebut dapat segera diselesaikan. Dimana hari ini, Rabu (20/4), pihaknya akan mengahadirkan kembali dua orang saksi untuk dilakukan pemeriksaan. “Besok (hari ini, Red), dua orang lagi kita hadirkan untuk menjadi saksi,” katanya lagi dengan berharap, setelah siap dilakukan pemeriksaan, pihak polisi segera memanggil Sofian dalam kasus ini.

Rinto menilai, permohonan pihaknya terhadap data APBD Kota Medan 2010 itu tidak melanggar peraturan atau pun undang-undang. Lanjut Rinto, alasan Sofyan yang tidak bersedia memberikan salinan APBD Kota Medan 2010 itu karena perintah atasan.

Kecurigaan pun muncul dibalik tidak bersedianya pihak Pemko Medan menyerahkan salinan tersebut. “Kenapa tidak terbuka, padahal menyangkut publik. APBD bukan rahasia negara, bagaimana menguji Unsang-undang ini dibuat untuk diketahui masyarakat,” ujar Rinto di Polda Sumut usai menjalani pemeriksaan.

Merasa dibatasi atas permohonan tersebut, atas nama LSM Basis Demokrasi pun melaporkan hal tersebut ke Dit Reskrim Polda Sumut dengan nomor polisi 3/5500/III/II yang diterima Unit I Satuan IV/Tipiter. “ Kita harapkan agar terlapor segera diperiksa. Jangan pelapor saja yang dimintai keterangannya,” ucapnya.
Dengan laporan ini, lanjutnya, kepemimpinan Walikota Medan Rahudman Harahap pun ditantangnya. “Kita tantang Rahudman, buktikan kalau Pemko Medan yang dipimpnnya memang benar akuntabel,” lantangnya.(adl)

Langgar Tradisi untuk Kelestarian Budaya

Manjunjung Hutabarat

Lahir sebagai putra Batak memberi Manjunjung Hutabarat (27) rasa tanggung jawab untuk kelestarian kebudayaan tradisional miliknya khususnya ulos dan jungkit. Sekalipun untuk itu batasan tradisi harus dilanggar.

Ya, menenun kain atau dalam bahasa Batak disebut martonun, biasanya identik dilakukan dengan kaum hawa. Tapi, bukan berarti bagi kaum adam dilarang untuk melakukan aktivitas tersebut, seperti yang dilakukan Manjunjung Hutabarat.

Ketika ditemui pada Pameran Kartini yang dilaksanakan di Cambrigde Medan, Jumat (15/4) lalu, pria yang akrab disapa Junjung ini tengah serius dalam pekerjaannya menenun. Untaian-untaian benang berwarna hijau di alat penenunan akan dirajut menjadi songket yang dalam bahasa Batak disebut jungkit. “Sudah dua jengkal yang siap. Memang sedikit rumit dibanding membuat ulos, jadi butuh waktu agak lama,” ucapnya.

Dengan latar budaya Batak, Junjung pun memasang motif-motif yang diambil dari motif pada ulos untuk songket buatannya. Demikian pula dia menamakannya sebagai songket sadum, songket sibolang rasta, songket tumtunan, dan songket pinancaan. Begitu pun, dibanding songket batak kebanyakan, karya Junjung memiliki ciri tersendiri. Yaitu semua motif tadi dirangkai tanpa menggunakan sambungan.

Hal itu yang menjadi ciri khas songket Palembang. Teknik itu sendiri membuat penggunaan payet tidak memperlihatkan benangnya sehingga tidak mudah putus. Selain itu pria ini juga mampu menambahkan motif tambahan pada songket sesuai dengan pesanan. Seperti nama pengantin, falsafah Batak, dan lain sebagainya.
“Kita harus kreatif untuk bisa bersaing. Bagaimana kita membuat peluang dengan memahami keinginan dari konsumen dan perkembangan tren di tengah-tengah masyarakat. Kalau tidak, kebudayaan ini mungkin akan hilang,” tuturnya.

Dengan kreatif yang tidak pernah berhenti tadi, Junjung pun berhasil menciptakan saluran rezeki yang tidak sedikit. Dirinya menghasilkan Rp3.000.000 hingga Rp3.500.000 per songket yang dibuatnya. Lebih dari situ bahkan bisa didapat dari songket sutra spunsilk karyanya. Junjung juga mampu membuka gerai di Lantai II Tahap II Petisah Baru No.471 Medan untuk memajang songket-songket buatannya.Semua itu pun menjadi pembuktian Junjung akan keputusan yang dulu dianggap satu kesalahan oleh keluarga dan di tengah-tengah masyarakat Batak. Seperti yang diceritakan kepada Sumut Pos, di awal perjalanannya putra dari Arbones Hutabarat dan Nija Sihombing ini sempat dianggap aneh oleh masyarakat di lingkungannya di Tarutung. Pasalnya dalam tradisi masyarakat Batak, kegiatan menenun hanya dilakukan oleh kaum hawa.

Namun ketertarikan Junjung yang lebih besar membuatnya tak peduli pada anggapan negatif tadi. Kesan semasa kecil yang sempat dialami membantu Junjung dalam pembuatan ulos perdananya yang langsung laku terjual dengan harga Rp200.000. “Jumlah yang jauh lebih besar dari yang biasa dihasilkan laki-laki di lingkungannya dengan bekerja di sawah untuk upah Rp15.000.

Hal itu pun memotivasi Junjung untuk menekuni kegiatan menenun hingga menamatkan pendidikan di SMK Negeri 1 Tarutung. Selain membuat ulos, dirinya pun belajar pemasaran ketika menjual ulos-ulos buatannya ke pasaran. Hingga, dirinya mampu mendatangkan duit meskipun ulos yang dijual sudah habis stok.

Perkembangan pada Junjung ternyata menggelitik kaum pria di lingkungannya yang dulunya sempat memandang sebelah mata. Dimulai dari abang dan adik-adiknya laki-laki, kini kampung kelahirannya bahkan menjadi sentral pengerajin ulos Tarutung. Junjung membuat tradisi menenun ulos hanya milik wanita pada masyarakat Batak kini tidak berlaku lagi.

Pengalaman hidup selama empat tahun di Jakarta seolah mengingatkan akan panggilan hidupnya. Setelah gagal menamatkan pendidikan ilmu Komputer di Universitas Negeri Jogjakarta, dirinya sempat bekerja di sebuah perusahaan selama dua tahun. Hingga 2006, Junjung pun memutuskan untuk kembali menekuni kegiatan yang sempat ditinggalkan.

Sekembalinya dari perantauan, Junjung seolah melihat tantangan untuk mengangkat budaya tradisional tadi. Apalagi mindset masyarakat Batak terhadap benda-benda budaya seperti songket masih jauh dari akar tradisinya. Mulailah Junjung berkreasi dengan menerapkan motif ulos pada songket buatannya. Dirinya juga membuat tas dengan motif-motif Batak.

Semua itu pun membawa Junjung bergabung di Dewan Kesenian Nasional semasa Gubernur Sumatera Utara dijabat Rudolf Pardede. Junjung dipercaya mengajar menenun. Semasa itu dirinya pun memperkenalkan karya-karyanya yang ternyata diminati masyarakat luas. (jul)

Satpol PP Dilempari Batu

Penertiban Ternak Babi di Medan Deli Ricuh

LABUHAN- Penertiban ternak babi di Jalan Alumunium Ujung, Kelurahan Tanjung Mulia dan Kelurahan Kota Bangun, Medan Deli, berlangsung ricuh, Selasa (19/4). Para peternak melakukan perlawanan dengan menolak ternaknya diangkut petugas Satpol PP.

Menurut pantauan wartawan koran ini, ratusan warga menghadang petugas Satpol PP yang ingin melakukan penertiban ternak babi tersebut. Bahkan, warga mengamuk dan melempari petugas dengan batu.

Dalam melakukan penertiban tersebut, diturunkan satu unit mobil pemadam kebakaran, satu unit truk pengangkut hewan, satu unit mobil Satpol PP dan juga mobil Polisi Militer yang ikut mengamankan penertiban tersebut.
Untuk menghindari lemparan batu, petugas Satpol PP lari menyelamatkan diri. Namun, naas saat petugas Satpol PP ingin mundur, mobilnya menabrak mobil milik Polisi Militer hingga mengalami kerusakan.

Sementara, warga terus berdatangan dan berkumpul untukn menghadang petugas Satpol PP yang ingin melakukan penertiban. Bahkan, mereka membawa spanduk kecaman untuk Rahudman yang bertuliskan “Rahudman tidak belajar dari kasus Mandala tentang kehidupan rakyat banyak”. Selain itu, ada juga yang bertuliskan “Kau lah Masuk Keranjang Babi, Tolong Rahudman,”. Tidak itu saja, ada juga yang membawa spanduk yang bertuliskan “Anak-Anak kami Sekolah dari Hasil Ternak Babi”.

Namun begitu, 12 ekor babi berhasil diangkut dari Kelurahan Tanjung Mulia Hilir. Sedangkan di Kelurahan Kota Bangun, tidak ada hewan kaki empat yang diangkut karena sudah dipindahkan oleh pemiliknya.

Camat Medan Deli Yisdarlina mengatakan, pihaknya sudah mensosialisasikan kepada warga sekitar sebulan lau mengenai penertiban tersebut. Bahkan, seminggu yang lalu pihak kecamatan sudah memberikan surat pemberitahuan kepada warga sekitar atas penertiban tersebut. “Kami sudah berikan surat pemberitahuan kepada warga, namun pada saat dilakukan eksekusi mereka malah melakukan perlawanan dengan adu mulut,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menambahkan, ternak babi ini akan diserahkan ke Rumah Potong Hewan (RPH) dan pemilik hewan ternak akan disidangkan. “Kita lihat saja nanti hasil keputusan sidang, mau diapakan ternak babi ini nantinya, apakah menjadi milik negara atapun dipulangkan kepada pemiliknya. Namun, kalau dipulangkan peluangnya sangat sedikit,” tandasnya.

Sedangkan, Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan Wahid yang turun dalam penertiban tersebut mengatakan, di Kota Medan ada 18 kecamatan yang memiliki ternak hewan berkaki empat, 13 kecamatan sudah dibersihkan, tinggal 5 kecamatan yang akan ditertibkan. Penertiban sebelumnya sudah difokuskan di Medan Denai karena polusasi hewan ternak di wilayah ini cukup banyak, kali ini di Kelurahan Tanjung Mulia dan Kelurahan Kota Bangun, Kecamatan Medan Deli.(mag-11)

Chelsea Masih Tampil Ngotot

LONDON-Gagal mempertahankan gelar tak membuat The Blues kehilangan motivasi menjalani seluruh pertandingan tersisa di ajang English Premier League (EPL) tahun ini. Buktinya, menjamu  tim sempilan seperti Birmingham City di Stadion Stamford Bridge, diniahri, nanti anak asuh Carlo Ancelotti tetap memasang target sempurna.

Apalagi, pada pertemuan pertama yang berlangsung November lalu, Chelsea menyerah 0-1 di St Andrews Stadium. Jadi, inilah saat paling tepat bagi The Blues  melakukan revans guna memulihkan marwah sebagai  juara bertahan EPL.
Sejak mengalami kekalahan atas Liverpool (6/2), Chelsea telah memperlihatkan laju apik dengan tidak mengalami kekalahan dalam tujuh laga terakhir dengan jumlah kemenangan lima kali.

Di markas sendiri, Chelsea tampak amat superior atas Birmingham. Dalam lima duel terakhir di Stamford Bridge cuma sekali Frank Lampard dkk. hanya membawa pulang satu angka sedangkan empat sisanya berakhir dengan kemenangan.
“Akan sangat sulit untuk mengejar mereka (Man United, Red),  tapi kami bisa menaruh tekanan kepada Arsenal untuk posisi kedua. Jadi kami harus memenangkan seluruh pertandingan sisa itu,” ujar Didier Drogba, striker Chelsea kepada Chelsea TV.

Hanya saja, menatap laga ini Don Carletto (panggilan akrab Carlo Ancelotti) tak dapat menurunkan seluruh pemain pilar akibat didera cedera. Alex dan Ramires adalah dua pemain yang dipastikan absen karena cedera hamstring.
“Alex dan Ramires tidak akan dilibatkan. Demikian juga dengan Ivanovic. Tapi, seperti apa pun kondisi tim ini, kami harus tetap meraih kemenangan,” bilang Don Carletto.  Terkait pemain yang akan dipasang di lini depan, pelatih berkebangsaan Italia itu mengatakan bahwa dia akan kembali menempatkan Fernando Torres dalam starting eleven.
“Pada pertandingan terakhir dia mengawalinya dari bangku cadangan. Tapi tidak malam ini, karena saya yakin dia akan mencuri gol dan membawa tim ini meraih kemenangan,” pungkas Carletto. (bbs/jpnn)