31 C
Medan
Saturday, April 4, 2026
Home Blog Page 3

Pdt Penrad Siagian Dorong DOB Nias sebagai Prioritas Moratorium Terbatas

JAKARTA, SumutPos.co– Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komite I DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (30/3/2026), mendadak hangat saat Pdt Penrad Siagian angkat bicara. Anggota DPD RI tersebut melontarkan kritik tajam terhadap cara pandang pemerintah pusat yang selama ini dinilai “pelit” dan skeptis terhadap pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB).

Penrad menegaskan, pemerintah pusat harus segera membuang jauh-jauh paradigma yang menganggap pemekaran daerah, khususnya Provinsi Kepulauan Nias, hanya sebagai beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Penrad, alasan “beban anggaran” muncul karena pemerintah pusat melakukan sentralisasi besar-besaran terhadap pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). “Kalau perspektifnya beban, maka basis pemikirannya selalu angka dan uang. Padahal, daerah seperti Nias itu kaya raya. Masalahnya, perizinan dan pengelolaan SDA semua ditarik ke pusat. Kalau semua diangkut ke pusat, ya betul pemekaran ini akhirnya cuma jadi beban bagi-bagi anggaran saja,” cetus Penrad di hadapan peserta rapat.

Ia mendorong adanya revisi regulasi agar daerah memiliki taring untuk mengelola potensinya sendiri, sehingga kemandirian ekonomi bukan sekadar angan-angan.

Penrad yang rutin turun ke lapangan menyaksikan sendiri getirnya kehidupan di Kepulauan Nias. Ia memaparkan fakta memilukan tentang ketimpangan layanan publik yang terjadi akibat jarak geografis yang terlalu jauh dari pemerintah induk (Sumatera Utara).

Di Pulau-pulau Batu, misalnya, layanan kesehatan masih menjadi barang mewah yang bertaruh nyawa. “Banyak pasien meninggal di tengah laut karena dihantam ombak besar saat menuju Nias untuk berobat. Puskesmas ada, tapi fasilitasnya kosong,” ungkapnya pedih.

Kondisi pendidikan yang tertinggal, angka stunting yang tinggi, hingga sekolah yang kekurangan guru menjadi alasan kuat mengapa status provinsi adalah harga mati. Penrad memperingatkan, tanpa pemekaran, rakyat Nias hanya akan menjadi penonton dalam visi besar Indonesia Emas 2045.

Tak hanya soal kesejahteraan, Penrad dan Ketua Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias, Mayjen TNI (Purn) Christian Zebua, sepakat bahwa Nias adalah isu kedaulatan negara. Christian Zebua menyebut Nias sebagai “zona frontier” atau garda terdepan di Samudera Hindia.

Secara geopolitik, Nias adalah titik strategis dalam dinamika Indo-Pasifik yang rawan dimanfaatkan pihak asing jika negara tidak hadir secara kuat melalui struktur pemerintahan provinsi. “Banyak pulau tak berpenghuni di sana. Minim pengawasan. Ini bukan cuma soal urusan perut, tapi soal pertahanan negara,” tambah Penrad menekankan pentingnya pendekatan top down (kebijakan strategis nasional) selain aspirasi bottom up dari rakyat.

Akhiri Moratorium Terbatas
Sebagai tindak lanjut nyata dari pertemuannya dengan Christian Zebua di Gunungsitoli awal Maret lalu, Penrad kini resmi membawa gerbong aspirasi ini ke meja Komite I DPD RI. Ia mendesak pemerintah untuk membuka moratorium pemekaran daerah secara terbatas.

Bagi Penrad, Provinsi Kepulauan Nias bukan lagi soal keinginan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memotong rantai kemiskinan dan memperkuat benteng barat Indonesia.
“Kita tidak boleh membiarkan Nias tertinggal lebih lama lagi hanya karena urusan birokrasi dan jarak,” tutupnya optimistis. (adz)

Polda Sumut Monitoring Jembatan Penghubung Desa Liberia

MONITORING: Polda Sumut saat monitoring jembatan penghubung antara Dusun II dan Dusun III, di Desa Liberia, Kecamatan Teluk Mengkudu, Sergai, Sabtu (28/3). Istimewa/Sumut Pos
MONITORING: Polda Sumut saat monitoring jembatan penghubung antara Dusun II dan Dusun III, di Desa Liberia, Kecamatan Teluk Mengkudu, Sergai, Sabtu (28/3). Istimewa/Sumut Pos

MEDAN – Tim Biro Sumber Daya Manusia Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Ro SDM Polda Sumut) bersama Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Serdangbedagai (Sergai) melaksanakan kegiatan monitoring dan pengecekan jembatan penghubung antara Dusun II dan Dusun III, di Desa Liberia, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Sergai, Sabtu (28/3).

Kegiatan tersebut dipimpin Kabag Pembinaan Karir (Binkar) Ro SDM Polda Sumut AKBP Taufiq Tayib didampingi Kapolres Sergai AKBP Jhon Sitepu, beserta para Pejabat Utama (PJU) Polres Sergai.

Pengecekan dilakukan untuk memastikan kondisi jembatan tetap layak dan aman digunakan oleh masyarakat sebagai akses utama penghubung antar dusun.

 

Usai melakukan pengecekan di lokasi, rombongan kemudian melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Kantor Desa Liberia untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat.

Kabag Binkar Ro SDM Polda Sumut AKBP Taufiq Tayib menyampaikan, bahwa kegiatan monitoring tersebut merupakan bentuk komitmen Polri dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, Polri tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga hadir dalam memastikan fasilitas umum yang digunakan warga berada dalam kondisi aman dan layak.

“Kegiatan ini adalah bagian dari upaya preventif Polri untuk menjamin keselamatan masyarakat, khususnya dalam penggunaan fasilitas publik seperti jembatan yang menjadi akses vital warga,” ujarnya.

Ada pun, kehadiran aparat kepolisian dalam kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Warga menilai kegiatan monitoring ini memberikan rasa aman sekaligus menunjukkan kepedulian negara terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.

Masyarakat juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkala guna memastikan akses penghubung antar wilayah tetap terjaga dan aman digunakan.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau dalam keadaan aman, lancar, dan kondusif.

Polda Sumut bersama Polres Sergai menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, melalui langkah langkah preventif dan sinergis dalam menjaga keselamatan, keamanan, serta kelancaran aktivitas warga di wilayah Kabupaten Sergai. (dwi/azw)

Kepling Lama Perkuat Silaturahim dan Komitmen Pelayanan

BERSAMA: Aparatur Kecamatan Tebingtinggi Kota, terdiri dari camat, staf, lurah, serta kepala lingkungan (kepling), berfoto bersama usai pelaksanaan apel pagi yang dirangkai dengan kegiatan silaturahim dan halalbihalal Idulfitri 1447 H di Halaman Kantor Camat Tebingtinggi Kota, Senin (30/3) Azan purba / Sumut pos.
BERSAMA: Aparatur Kecamatan Tebingtinggi Kota, terdiri dari camat, staf, lurah, serta kepala lingkungan (kepling), berfoto bersama usai pelaksanaan apel pagi yang dirangkai dengan kegiatan silaturahim dan halalbihalal Idulfitri 1447 H di Halaman Kantor Camat Tebingtinggi Kota, Senin (30/3) Azan purba / Sumut pos.

TEBINGTINGGI – Camat Tebingtinggi Kota, Henci Boru Siregar, memimpin langsung apel pagi bersama seluruh jajaran staf, para lurah, serta kepala lingkungan (kepling) terpilih se-Kecamatan Tebingtinggi Kota di Halaman Kantor Camat Tebingtinggi Kota, yang berada di Jalan Thamrin(30/3).

Kegiatan tersebut juga dirangkai sebagai ajang silaturahim dan halalbihalal pasca-Idulfitri, yang diikuti oleh para kepala lingkungan (kepling), ASN kelurahan, serta seluruh staf Kecamatan Tebingtinggi Kota. Dan beberapa mantan kepling lama serta tidak terpilih turut hadir memenuhi undangan dalam kegiatan tersebut yang juga menerima souvenir dari Camat Henci boru Regar.

Adapun Henci boru Siregar selaku Camat Tebingtinggi Kota pada kata sambutannya mengatakan, bahwa apel gabungan pagi ini juga adalah merupakan ajang halalbilhalal dan silaturahim bagi semua pasca-Idul Fitri. Terutama kepada para kepling terpilih agar termotivasi memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat di lingkungannya masing masing.

Henci juga menirukan bunyi pidato Wali Kota Tebingtinggi H Iman Irdian Saragih di saat apel pagi gabungan di Balai kota, yaitu meminta kepada semua supaya bekerja lebih baik lagi dengan penuh rasa tanggung jawab dan prinsip serta niat, kemauan, dan kemampuan.

“Kegiatan apel pagi gabungan ini kita laksanakan berkesinambungan bertujuan untuk tetap mengenali diri kita tentang tugas dan tanggung jawab kita yang harus kita kerjakan sesuai dengan regulasi dan bidang kita masing masing,apalagi dalam waktu dekat ini kita akan memberikan bantuan pangan kepada masyarakat,” katanya.

Henci berharap kepada para petugas yang berada di kelurahan yang sudah mendapatkan arahan dan bimbingan harus menyalurkan tepat sasaran.

“Saya tidak mau pembagian pangan ini di dasari oleh kepentingan pribadi, kepentingan kelompok dan yang tidak mencerminkan tugas dan tanggung jawab,yang terpenting pelaksanaan pembagian sembako ini berlangsung baik dan tepat sasaran,” tegasnya.

Kegiatan ini, katanya akan terus dipantau dan pimpinan kita juga akan turun. Jadi, harus bekerja secara profesional bertanggung jawab dan ikhlas dalam mengemban tugas. Apa lagi nama-nama penerima bantuan tersebut sudah tercatat di aplikasi.

“Kami ingatkan jangan coba coba mengurangi bahkan mengganti orang yang sudah terdata secara sistem,” tegasnya lagi.

“Saya secara langsung akan menindak tegas bagi mereka petugas yang sudah menyalahi aturan yang berlaku,kita harus bekerja sesuai dengan SOP yang ada,” imbuhnya.

Selanjutnya Henci selaku Camat Tebingtinggi Kota meminta kepada para peserta apel pagi gabungan,agar apel pagi ke depan nanti dipersilahkan menyampaikan saran, pendapat maupun usulan sesuai dengan bidang nya masing masing. Terutama, kepada para kepala lingkungan, supaya kegiatan ini memiliki makna positif. “Jadim bukan hanya sekadar seremonial belaka,karena kami belum melihat secara individu dari para kepling dengan tugas tugasnya di lapangan walaupun belum begitu sempurna,” ujarnya.

Sementara itu salah seorang kepala lingkungan bernama Halimah Tussadiah Saragih.ketika di mintai komentarnya oleh Media terkait dengan apel pagi ini mengatakan, kegiatan ini menambah motivasi semangat,karena semua Kepling se kecamatan Tebingtinggi Kota di undang,selain semangat juga bisa saling mengenal dan sekaligus sebagai sarana bersilaturahmi di antara kami.

Menurut Halimah Kepling Lingkungan I Kelurahan Badakberjuang, yang merupakan kepling terlama, mengatakan bahwa hal ini merupakan suatu bukti bahwa camat Henci orangnya sangat baik dan patut di contoh. “Ini merupakan bukti bahwa dia selaku camat berkehendak agar warganya tetap menjaga silaturahim dan tetap menjaga persaudaraan antar sesama,” kata Jalimah yang sudah 25 tahun menjadi kepling.

“Saya selaku kepling akan terus bekerja lebih baik lagi tidak akan membeda bedakan satu dengan yang lain dan juga harus patuh melaksanakan tugas sesuai dengan perintah pimpinan yaitu lurah maupun camat,” tuturnya. (mag-3/azw)

Pemko Tertibkan Izin Minol THM

THM: Razia salah satu THM di Kota Medan.
THM: Razia salah satu THM di Kota Medan.

Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) memastikan akan segera melakukan pengecekan menyeluruh terhadap izin penjualan minuman beralkohol di Tempat Hiburan Malam (THM).

Kepala Dinas Koperindag Medan Hendra Ridho Siregar, menegaskan bahwa langkah ini dilakukan guna memastikan seluruh pelaku usaha THM mematuhi regulasi yang berlaku.

“Terkait izin minol segera kita cek. Nanti akan saya minta data dari petugas secara menyeluruh,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Hendra Ridho mengakui hingga saat ini pihaknya belum memiliki data pasti terkait jumlah THM yang telah mengantongi izin maupun yang belum. Hal tersebut dikarenakan dirinya masih baru menjabat di dinas tersebut, sehingga proses pendataan sedang dalam tahap awal.

“Mohon waktunya, yang jelas ini segera kita tindaklanjuti melalui pendataan secara keseluruhan,” katanya.

Ia menegaskan, bagi THM yang belum memiliki izin penjualan minuman beralkohol akan diberikan peringatan untuk segera mengurus perizinan. Namun, jika tetap membandel dan beroperasi tanpa izin, pemerintah tidak akan segan memberikan sanksi tegas.

“Kalau tidak punya izin, pasti kita minta untuk segera diurus. Tapi jika tetap melanggar, akan ada sanksi, termasuk berkoordinasi dengan Pemprov Sumut terkait izin bar,” tegasnya.

Dalam upaya penertiban ini, Pemko Medan juga akan memperkuat koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Dinas Pariwisata dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sebagai pihak yang berwenang dalam penegakan aturan di lapangan.

Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ketertiban usaha hiburan malam di Kota Medan sekaligus memastikan seluruh pelaku usaha berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (map/ila)

Setelah Jadi Sorotan Publik, Bansos untuk Warga Tanjung Marulakhilir Diserahkan

PENYERAHAN: Lurah Eka Sapitri, Kasi Terantib Kecamatan Hatta, dan jajaran kelurahan penyerahan sembako bansos kepada Heri Bima Utami Purba  di Kantor Lurah Tanjung Marulakhilir, Senin (30/3) Azan Purba/sumut Pos.
PENYERAHAN: Lurah Eka Sapitri, Kasi Terantib Kecamatan Hatta, dan jajaran kelurahan penyerahan sembako bansos kepada Heri Bima Utami Purba  di Kantor Lurah Tanjung Marulakhilir, Senin (30/3) Azan Purba/sumut Pos.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Bantuan sosial (bansos) kepada warga di Lingkungan II, Kelurahan Tanjung Marulakhilir Kota Tebingtinggi akhirnya disalurkan, Senin (30/3). Penyaluran dilakukan setelah adanya sorotan publik terkait dugaan belum tersalurkannya di wilayah tersebut oleh pemerintah setempat.

Heri Bima Utami Purba, warga Lingkungan II, yang sebelumnya tidak menerima bantuan sosial (bansos), akhirnya telah menerimanya. Hal ini terjadi setelah beberapa hari menjadi perbincangan di Kota Tebinttinggi, setelah pihak kelurahan bersama tokoh masyarakat mendatangi kediamannya dan membawanya ke kantor lurah untuk proses penyerahan.

Penyerahan bansos kepada Heri di Kantor Lurah Tanjung Marulakhilir turut dihadiri Lurah Eka Sapitri, Kasi Trantib Kecamatan Hatta, serta sejumlah perangkat kelurahan.

Dalam kesempatan itu, Heri menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak kelurahan, khususnya kepada lurah, atas perhatian yang telah menjemput dirinya langsung dari rumah.

Ia menyebutkan bahwa bantuan sembako tersebut akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk anaknya.

Heri juga menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat menghadirkan istrinya, yang hingga kini belum diketahui keberadaannya saat ia mendatangi rumah mertuanya.

Sebelumnya, Heri tidak dapat menerima bantuan sosial diduga karena tidak dapat menghadirkan istrinya sebagaimana diminta oleh Kepala Lingkungan II, Idawati Damanik. Kondisi tersebut sempat menjadi sorotan publik dan viral di media sosial.

Pada penyaluran bansos yang dilaksanakan di Kelurahan Tanjung Marulakhilir pada Jumat (27/03/2026) dan dihadiri langsung oleh Wali Kota Tebingtinggi, Iman Irdian Saragih. Heri juga tidak menerima bantuan lantaran tidak memiliki surat undangan serta kendala komunikasi dengan pihak kelurahan.

Adapun ketika berada di kantor lurah, Kepala Lingkungan Idawati tidak banyak mau memberi komentar. “Dia hanya mengatakan kepada media terima kasih sudah diviralkan saya,” ujarnya sambil berjabat tangan.

Lurah Tanjung Marulakhilir, Eka Sapitri, dalam tanggapannya saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih profesional dalam bekerja.

Ke depan, ia juga berharap hal serupa tidak terulang kembali. Menurutnya, permasalahan tersebut terjadi karena tidak adanya komunikasi langsung dengan dirinya.

Dengan telah disalurkannya bantuan sosial tersebut, diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman maupun kendala komunikasi dalam penyaluran bansos di lingkungan masyarakat.

Kejadian ini juga menjadi evaluasi penting bagi seluruh pihak terkait agar ke depan dapat bekerja lebih profesional, transparan, dan tepat sasaran, sehingga hak-hak warga benar-benar terpenuhi tanpa hambatan. (mag-3/azw)

Kajian Ungkap Proyek Kerja Sama Lahan PTPN Untung Triliunan

MEDAN, SumutPos.co– Fakta menarik terungkap dalam sidang dugaan korupsi penjualan aset PTPN di Pengadilan Negeri Medan, Senin (30/3/2026). Saksi dari PT Bahana Sekuritas menyebut proyek kerja sama pengelolaan lahan tersebut berpotensi menghasilkan keuntungan hingga triliunan rupiah.

Director Investment Banking PT Bahana Sekuritas, Nelwin Aldriansyah menyampaikan, kerja sama operasional antara PT Nusa Dua Propertindo (NDP) dengan PT Deli Megapolitan Kawasan Residential (DMKR), anak perusahaan PT Ciputra Land, diproyeksikan meraup keuntungan hingga Rp7,7 triliun.

Hal tersebut disampaikan Nelwin saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi penjualan aset PTPN ke Ciputra Land di Pengadilan Negeri Medan, Senin (30/3/2026). Ia menjelaskan, kerja sama operasional tersebut telah melalui kajian kelayakan yang mereka lakukan. Menurutnya, pengoptimalan aset PTPN seluas 8.077 hektare merupakan langkah yang dinilai tepat untuk meningkatkan nilai lahan yang sebelumnya tidak produktif.

“Itu pada tahun 2012 itu adanya keinginan PTPN untuk mengoptimalkan lahan yang mereka miliki seluas 8.077 hektare yang dikerjasamakan ada kawasan hijau dan kawasan yang dikembangkan. Berdasarkan parameter yang kami lakukan kajian uji kelayakan, menurut kami layak dikerjasamakan. Tapi izin baru 2019 diberikan oleh Kementerian,” kata Nelwin.

Nelwin menambahkan, kerja sama antara PT NDP sebagai anak usaha PTPN dengan PT DMKR dilakukan setelah adanya kajian serta persetujuan dari Kementerian BUMN yang terbit pada 2019.
Ia juga menjelaskan bahwa pembentukan PT NDP tidak terlepas dari keterbatasan ruang lingkup usaha PTPN sebagai perusahaan perkebunan. Karena keterbatasan unit usaha itu, PT NDP didirikan sebagai unit usaha baru yang kemudian mendapatkan saham berupa lahan PTPN lewat mekanisme inbreng.

“Yang kami tahu PTPN izin usaha kebun itu jadi landasan mengapa adanya PT NDP. Kalau kami pahami untuk menangani lahan ribuan hektare perlu modal, karena itu perlu kerja sama pihak ketiga. Karena itu yang paling menguntungkan kerja sama dengan pihak ketiga. Sudah ada persetujuan RUPS dari Kementerian BUMN, bahkan sebelum Irwan sebagai direktur PTPN,” kata Nelwin.

Dalam kajian tersebut, kerja sama pengelolaan selama 30 tahun diproyeksikan menghasilkan keuntungan signifikan dari pengembangan kawasan perumahan, bisnis, dan ruang terbuka hijau. “Dalam kajian selama 30 tahun yang kami lakukan dari masing-masing segmen bisnis yang akan dibangun hingga tahun 2051 didapatkan nilai profit total proyek ini Rp7,7 triliun. Positif untung Rp7,7 triliun,” tambahnya.

Terkait kewajiban penyerahan 20 persen lahan kepada negara, Nelwin mengaku tidak mengetahui hal tersebut dalam kajian yang dilakukan saat itu. “Pada saat itu belum ada. Tapi kesimpulan kami proyek ini layak dijalankan,” katanya.

Dalam persidangan yang sama, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara juga menghadirkan empat saksi lainnya yang berprofesi sebagai notaris, yakni M Zunuza, Dr Sutrisno, Dr Belahim, dan Arifin. Para saksi tersebut dimintai keterangan oleh majelis hakim terkait proses perubahan Hak Guna Usaha (HGU) menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) pada lahan PTPN.

M Zunuza menjelaskan, pihaknya berperan dalam pembuatan akta jual beli untuk properti yang dibangun di atas lahan eks HGU PTPN. Ia menyebutkan, dari total 2.514 hektare lahan, baru sekitar 289 hektare yang telah dikembangkan menjadi kawasan perumahan, antara lain di wilayah Helvetia hingga Sampali.

“Jadi inbreng ini sebagai penyertaan modal dalam bentuk tanah yang berbentuk HGU milik PTPN. Setelah itu kami urus ke Menkumham untuk perubahan dalam proses pelepasan HGU induk agar dilepaskan status hak tanahnya. Helvetia, Bangun Sari, Sampali. Kami menerima permintaan dari DMKR untuk pembuatan akta jual beli dengan konsumen ada 30 nasabah di Helvetia. Dari pemilik HGB atas nama NDP, namun proses balik nama belum selesai,” kata dia.

Ia menambahkan, hingga saat ini status lahan tersebut masih berupa Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama PT NDP. Menurutnya, setelah proses akta jual beli dilakukan, seharusnya dapat dilanjutkan dengan proses balik nama di Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk ditingkatkan menjadi hak milik.

“Setelah dilakukan pemeriksaan di BPN semua bersih, telah ada akta jual belinya, setelah dilakukan itu proses balik nama untuk ditingkatkan ke surat hak milik yang kemudian terhenti. Biasanya setelah dilakukan proses balik namanya selesai status HGB kemudian ditingkatkan jadi SHM,” terang Zunuza. (rel/adz)

Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat, Zakiyuddin Harahap Tekankan Percepatan dan Koordinasi Lintas Sektor

TINJAU: Wakil Wali Kota Medan H Zakiyuddin Harapan saat meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat Kota Medan di Medan Tuntungan.
TINJAU: Wakil Wali Kota Medan H Zakiyuddin Harapan saat meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat Kota Medan di Medan Tuntungan.

MEDAN – Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap meninjau langsung progres pembangunan Sekolah Rakyat Kota Medan di Jalan Flamboyan II, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Senin (30/3/2026).

Selain meninjau Zakiyuddin Harahap juga melakukan pertemuan dengan Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis Sumatera Utara serta perwakilan Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum.

Dalam pertemuan itu, Zakiyuddin menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat merupakan salah satu tugas prioritas yang harus segera diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Karena itu, ia meminta seluruh pihak terkait bergerak cepat dan bekerja secara terkoordinasi.

“Kita sudah koordinasi, ini harus dipercepat karena ini tugas utama kita. Besok PU bersama Camat dan Lurah langsung turun untuk melihat kondisi drainase,” kata Zakiyuddin Harahap didampingi Kadis Sosial Khoiruddin Rangkuti, Kadis Perkimcikataru Jhon Lase dan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Benny Sinomba.

Zakiyuddin menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung, khususnya drainase dan penerangan jalan. Menurutnya, kondisi jalan tanpa drainase yang memadai tidak layak bagi lingkungan pendidikan maupun masyarakat sekitar.

“Drainase harus segera dibuat. Tidak layak rasanya jalan di Kota Medan tanpa drainase. Begitu juga lampu penerangan harus segera dipasang,” tegas Zakiyuddin Harahap

Selain itu, Zakiyuddin Harahap juga menginstruksikan agar pengerjaan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak, seperti PDAM dan PLN, guna menghindari pekerjaan berulang yang selama ini kerap terjadi.

“Kita tidak mau lagi kejadian, jalan sudah diaspal dibongkar lagi untuk pasang pipa atau kabel. Ini makan biaya, makan waktu, dan hasilnya tidak rapi,” jelas Zakiyuddin.

Selanjutnya Zakiyuddin Harahap menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kota, pihak pengembang, serta instansi terkait agar seluruh pekerjaan, mulai dari pembangunan drainase, pengaspalan jalan, hingga pemasangan utilitas, dapat dilakukan secara bersamaan dan terencana.

“Lebih bagus kita kerjakan bersama. Jadi sekali kerja langsung selesai, tidak bongkar pasang lagi,” ucap Zakiyuddin Harahap

Zakiyuddin juga menyebut pembangunan Sekolah Rakyat ini diharapkan menjadi contoh sinergi yang baik antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota dalam merealisasikan program pembangunan.

Untuk itu, ia meminta seluruh pihak terkait segera menggelar rapat koordinasi lanjutan guna memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai rencana. Dengan langkah percepatan dan koordinasi lintas sektor tersebut, Pemko Medan optimistis pembangunan Sekolah Rakyat dapat segera rampung dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Sebelumnya Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis Sumatera Utara serta perwakilan Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, Eva, menjelaskan pentingnya dukungan penuh dari seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemko Medan guna mempercepat penyelesaian proyek yang menjadi salah satu ikon pendidikan baru di Kota Medan.

“Medan diharapkan menjadi tolok ukur secara nasional. Saat ini penutup atap sudah terpasang, ini menjadi ikon pertama untuk Sekolah Rakyat,” ujarnya

Ia menjelaskan, pembangunan SR di Medan mencatat progres yang cukup signifikan. Secara nasional, capaian pembangunan SR di Medan termasuk yang tertinggi. Bahkan, untuk Kota Medan sendiri progresnya telah mencapai 28 persen.

Dari total pekerjaan, sebanyak 13 bangunan telah menyelesaikan struktur utama. Dengan sisa waktu sekitar 92 hari menuju target 30 Juni, Pihaknya optimistis pembangunan dapat terus dikejar.

“Kita optimis, jika semua berjalan sesuai rencana, Sekolah Rakyat ini bisa mulai beroperasi pada 30 Juli 2026,” katanya.

Meski demikian, Eva mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, khususnya terkait kesiapan lingkungan pendukung. Ia menyoroti infrastruktur dasar seperti drainase, jalan lingkungan, serta lampu penerangan jalan yang belum sepenuhnya siap.

“Lingkungan sekitar masih perlu pembenahan. Drainase, jalan, hingga penerangan harus segera diselesaikan agar memenuhi syarat kelayakan,” ucapnya. (map/ila)

Wakili Kepala Daerah di Sumut, Rico Waas: Pemda Siap Ikuti Arahan BPK dan Targetkan WTP

SAMBUTAN: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Wass memberikan kata sambutan mewakili seluruh wali kota dan bupati se-Sumut.
SAMBUTAN: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Wass memberikan kata sambutan mewakili seluruh wali kota dan bupati se-Sumut.

MEDAN – Pemerintah daerah di Sumatera Utara menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi dan menerima arahan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI guna memastikan tata kelola pemerintahan berjalan sesuai ketentuan dan terus mengalami perbaikan.

“Kami yakin BPK bekerja secara profesional dan kami mohon arahan agar tata kelola pemerintahan ke depan semakin baik,” ujar Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat menyampaikan sambutan mewakili seluruh wali kota dan bupati se-Sumatera Utara dalam acara penyerahan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2025, Senin (30/3/2026).

Penyerahan laporan keuangan tersebut dilakukan secara bersama oleh pemerintah kabupaten/kota se-Sumatera Utara kepada BPK RI Perwakilan Sumatera Utara sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor BPK RI Perwakilan Sumut itu turut dihadiri Kepala BPK Perwakilan Sumut Paula Henry Simatupang
Gubsu Bobby Nasution, Ketua DPRD Medan Wong Chun Sen, Sekda Kota Medan Wiriya Alrahman, serta Inspektur Kota Medan Erfin Fahrurrazi, bersama sejumlah kepala daerah di Sumut, dan pejabat lainnya.

Dalam sambutannya, Rico Waas menyampaikan bahwa laporan keuangan yang diserahkan merupakan hasil kerja yang telah dipersiapkan sejak jauh hari oleh masing-masing pemerintah daerah dan siap untuk diaudit secara objektif.

Ia juga menyampaikan harapan seluruh kepala daerah di Sumatera Utara agar pada tahun ini seluruh pemerintah kabupaten/kota dapat meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK sebagai indikator tata kelola keuangan yang baik.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (unaudited) Tahun 2025 oleh Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution. (map/ila)

Rektor UMSU Apresiasi Kiprah Tun Dr H Rahmat Shah 

MEDAN – Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Prof.Dr. H Agussani, MAP mengapresiasi Tun Dr H Rahmat Shah sebagai tokoh yang peduli dan memiliki komitmen kuat dalam memajukan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, keadilan dan pelestarian lingkungan.

Hal tersebut dia sampaikan usai kegiatan silaturahim 15 tahun Monumen Nasional Keadilan yang dilaksanakan di ‘Rahmat’ International Wildlife Museum dan Gallery Jalan S Parman Medan, Kamis (26/3).

Hadir Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan periode 2019–2024 yang juga Pakar Hukum Tata Negara, Prof Dr Mohammad Mahfud MD, SH, SU, MIP, Forkopimda Sumut, Konsul Jenderal negara sahabat dan tokoh lainnya.

Menurut Prof Agussani sosok Rahmat Shah yang mendapat julukan tokoh serbabisa asal Sumatera Utara ini, teladan sekaligus inspirasi bagi masyarakat khususnya generasi muda.

Rahmat Shah dikenal sebagai pengusaha sukses, diplomat Konsul Kehormatan Turkiye untuk Sumatera, penggiat konservasi alam,  anggota DPD/MPR RI tahun 1999-2014, Ketua Umum Dewan Pengurus Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) periode 2023-2028.

Di lingkup Internasional, dia dikenal oleh kalangan pemimpin dunia seperti Presiden AS, Bill Clinton dan PM Malaysia, dr. Tun Mahathir Mohamad, sebagai tokoh konservasi terkemuka yang  mendirikan museum satwa liar pertama di Asia bernama Rahmat International Wildlife Museum & Gallery Medan serta menerima penghargaan International Conservation Award.

Rektor UMSU menyampaikan bahwa Rahmat Shah juga peduli dan konsen dalam membangun dan memajukan pendidikan melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan khususnya di Turkiye. “UMSU salah satu yang difasilitasi membangun kemitraan dengan universitas di Turkiye dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan,” kata Prof. Agussani.

Menurut Prof Agussani berbagai aktifitas yang dijalani Tun Dr Rahmat Shah menunjukkan bahwa dia sosok yang memiliki nilai ketokohan luar bias dikenal secara luas baik nasional maupun Internsional.

Rahmat Shah aktif memimpin berbagai organisasi nirlaba dan kemanusiaan seperti menjadi Ketua PMI Sumatera Utara berperan dalam misi kemanusiaan dan Ketua Umum FORKI Sumut yang terlibat dalam pengembangan olahraga, khususnya karate (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia) di Sumatera Utara.

Tokoh serbabisa itu pun mendirikan Monumen Nasional Keadilan yang telah berjalan selama 15 tahun. Terdapat ciri khas berupa ornamen uang koin di bagian puncaknya. Katanya, pendirian monumen ini untuk mengingatkan masyarakat dan pemerintah Indonesia agar senantiasa bersikap adil dalam segala aspek kehidupan.   “Moumen Nasional Keadilan ini menjadi bukti sahih kepedulian dan besarnya rasa tanggungjawab  terhadap kehidupn berbangsa dan bernegara,” ungkap Rektor.

Sebelumnya, Prof Mahfud dalam acara silaturahim 15 tahun Monumen Nasional Keadilan menyampaikan bahwa keadilan inti perjuangan yang harus ditegakkan negara manapun di dunia ini. Sejarah juga menyatat, negara yang tidak dapat menegakkan keadilan akan roboh.

 

“Tujuan negara kita itu ada empat. Itu semuanya hanya bisa dicapai dengan keadilan. Pertama menjaga integrasi bangsa, melindungi bangsa dan tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Ini tidak akan tercapai kalau tidak adil,” tuturnya.

Menurut Prof Mahfud, Monumen Nasional Keadilan satu-satunya di Indonesia ini memiliki nilai penting untuk tidak main-main dengan keadilan, “Mudah-mudahan pesan dari Monumen Nasional Keadilan yang meskipun ada di Medan, sampai ke seluruh negeri,” harapnya.

Tun Dr H Rahmat Shah mencetuskan yel-yel keadilan, “Keadilan, Tegakkan!”. Hal itu dimaksudkan agar semua pihak terpanggil untuk bersama-sama menegakkan keadilan di Indonesia.

“Karena gak mungkin Pak Mahfud, saya dan kita beberapa orang saja mau negara ini menjadi adil keseluruhan tanpa semua pihak ikut terpanggil. Itulah kenapa kita lahirkan yel-yel itu hari ini,” ucap Rahmat Shah.

Menurutnya, jika keadilan tidak ditegakkan, maka akan membawa bencana bagi Indonesia ke depan. “Itu akan membangkitkan semangat di tengah-tengah masyarakat yang akhirnya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi semuanya,” pungkas pemilik Yayasan Rahmat Indonesia.

Acara monumental ini diawali dengan ceramah oleh Prof Dr H. Muzakkir, M.A. Dilanjutkan pemutaran video perjalanan awal hadirnya Monumen Nasional Keadilan yang peletakan batu pertama dilakukan Prof. Dr. Bagir Manan MCL pada 3 April 2010. Monumen Nasional Keadilan diresmikan oleh Irman Gusman pada 19 Maret 2011. (dmp/ila)