28 C
Medan
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 3093

53,7 Persen Formasi PPPK Guru Honorer Terisi, Kelulusan Guru Agama Minim

Mendikbudristek Nadiem Makarim.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Total ada 173.329 ribu guru honorer yang lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap pertama. Angka ini baru mengisi 53,7 persen formasi yang tersedia, yakni 322.665 posisi.

Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Mendikbudristek, Nadiem Makarim mengatakan, akan segera mengangkat guru honorer tersebut menjadi PPPK.

“Di ronde pertama saja dari 322.665 formasi yang dilamar, 173.329 formasi telah terpenuhi. Artinya 53,7 persen dari formasi tersebut dipenuhi,” ungkap Nadiem dalam Pengumuman Hasil Seleksi Kompetensi Guru ASN PPPK, Jumat (8/10) lalu.

Adapun pemerintah membuka formasi untuk guru PPPK sebanyak 1.002.616. Sementara pemerintah daerah (pemda) hanya mengajukan formasi sebanyak 506.252 dengan 322.665 guru honorer yang melamar.

“Jadi saat ini ada 183.587 formasi yang belum di lamar, ini kebanyakan ada di daerah kecil. Kami haraokan formasi kosong ini dipenuhi pada ronde berikutnya,” imbuh Nadiem.

Nadiem pun menjelaskan, jumlah guru honorer yang akan lolos menjadi PPPK masih bisa bertambah. Pasalnya, akan ada seleksi tahap kedua dan ketiga.

“Bagi yang belum lolos passing grade jangan khawatir, masih ada ronde kedua dan ketiga di tahun ini. Tapi kalau butuh waktu untuk belajar lagi masih ada tahun depan,” katanya.

Namun, rekrutmen guru PPPK ini, tak lepas dari sorotan. Kali ini sejumlah pihak menyayangkan minimnya kelulusan formasi PPPK guru agama. Kondisi ini cukup memprihatinkan karena di lapangan sedang terjadi kekurangan guru, khususnya guru agama.

Seperti diketahui setelah tertunda beberapa hari, pemerintah akhirnya mengumumkan kelulusan rekrutmen guru PPPK tahap pertama. Sebanyak 173.329 orang pelamar dinyatakan lulus sebagai guru PPPK. Jumlah ini setara dengan 53,7 persen dari 322.665 formasi guru PPPK telah terisi.

Sorotan terhadap minimnya jumlah guru agama yang lulus seleksi PPPK itu, diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perkumpulan Teacherpreneur Indonesia Cerdas (PTIC) Dodi Iswanto. Dia mencontohkan di Kabupaten Lebak, Banten ada 440 guru agama yang mendaftar.

“Dari jumlah tersebut hanya 28 orang yang dinyatakan lulus,” jelasnya, Sabtu (9/10) lalu.

Dia mengatakan, minimnya jumlah kelulusan formasi guru agama itu bukan karena mereka tidak memenuhi nilai ambang batas atau passing grade. Tapi karena formasi guru agama dalam rekrutmen PPPK tahun ini sangat sedikit. Dodi mengatakan, banyak guru agama yang mengeluhkan pemerintah tidak adil. Karena proporsi formasi guru agama dalam perekrutan PPPK tidak sebanding dengan guru mata pelajaran lainnya.

“Perlu jalan keluar untuk persoalan ini. Formasi guru agama dalam rekrutmen ASN, termasuk PPPK harus diperbanyak,” ujarnya.

Dodi pun mengatakan, secara regulasi usulan pengisian formasi guru agama di daerah adalah kewajiban pemerintah daerah setempat. Tapi dia menjelaskan, Kemendikbudristek juga bisa berinisiatif menyediakan formasi untuk menutup kekurangan guru agama di sekolah-sekolah.

Secara umum Dodi mengapresiasi, karena pemerintah akhirnya mengumumkan kelulusan rekrutmen guru PPPK. Termasuk juga adanya sejumlah afirmasi atau kemudahan. Khususnya kemudahan bagi guru-guru honorer kategori dua dengan usia di atas 50 tahun. Untuk guru-guru kategori ini, pemerintah meniadakan nilai ambang batas. Kebijakan ini sejalan dengan usulan mereka sebelumnya. (jpc/saz)

Komitmen Lanjutkan Kerja Sama, Bupati Dorong UMSU Buka Kampus di Sergai

dialog: Mendikbudristek Nadiem Makarim saat melakukan dialog secara virtual di sela meninjau pembelajaran tatap muka di SD Negeri Dasan Baru, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, baru-baru ini.ANT.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemkab Serdangbegadai (Sergai) mendorong Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) untuk membuka kampus di Kabupaten Sergai. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkanan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah tersebut.

dialog: Mendikbudristek Nadiem Makarim saat melakukan dialog secara virtual di sela meninjau pembelajaran tatap muka di SD Negeri Dasan Baru, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, baru-baru ini.ANT.

“Yang tak kalah penting, saya katakan ke Pak Rektor, Sergai sangat siap jika UMSU mau mendirikan kampusnya di Tanah Bertuah Negeri Beradat,” ungkap Bupati Sergai, Darma Wijaya, saat kunjungan silaturahim ke kampus Pascasarajana UMSU, baru-baru ini.

Darma juga mengatakan, Kabupaten Sergai merupakan daerah yang sangat strategis untuk dibuka kampus UMSU. Pastinya, masyarakat tidak perlu jauh untuk kuliah hingga ke Kota Medan.

“Mengingat, lokasi yang strategis berdampingan dengan banyak wilayah, seperti Simalungun, Deliserdang, Tebingtinggi, hingga Medan,” ungkap Darma, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sergai, Suwanto Nasution.

Kemudian, Pemkab Sergai juga berkomitmen melanjutkan kerja sama dengan UMSU, khususnya dalam peningkatan SDM di daerah tersebut.

“Kerja sama antara Pemkab Sergai dengan UMSU terkait peningkatan kualitas SDM, khususnya para ASN yang pernah terjalin, akan dijaga dan dilanjutkan. Apalagi saat ini, UMSU punya predikat sebagai satu-satunya PTS terakreditasi A di Sumut,” tutur Darma.

Lebih lanjut, Darma mengatakan, bukan hanya peningkatan SDM ASN, pihaknya juga membuka diri agar pengabdian mahasiswa UMSU atau KKN, bisa dilakukan di daerah itu. Kegiatan ini penting agar kehadiran mahasiswa KKN, memberikan pandangan baru masyarakat tentang pendidikan.

“Pendidikan diyakini berdampak pada peningkatan dan pengembangan potensi daerah serta kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Darma mengaku, tidak menyangka, silaturahim ke UMSU bersamaan dengan kunjungan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau H Mubarak. Sambutan dari tuan rumah, Prof Agussani pun luar biasa.

Sementara itu, Rektor UMSU, Prof Agussani menjelaskan, kerja sama dengan Pemkab Sergai selama ini cukup baik. Ditandai dengan berbagai kegiatan tindak lanjut, termasuk asesmen  jabatan. UMSU tentu sangat berharap, kerja sama yang telah terjalin erat bisa dilanjutkan, bahkan lebih ditingkatkan.

“UMSU memiliki cukup SDM yang bisa dimanfaatkan untuk ikut berpartisipasi memberi solusi masalah-masalah pembangunan,” katanya.

Kunjungan Bupati Sergai bersamaan dengan kedatangan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau beserta rombongan tim media, guna melakukan studi banding pengelolaan Media Center UMSU. Kunjungan silaturahim itu ditutup dengan meninjau fasilitas Observatorium Ilmu Falak. (gus/saz)

Komitmen Lanjutkan Kerja Sama, Bupati Dorong UMSU Buka Kampus di Sergai

SALAM: Bupati Sergai Darma Wijaya bersalaman dengan Rektor UMSU Prof Agussani.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemkab Serdangbegadai (Sergai) mendorong Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) untuk membuka kampus di Kabupaten Sergai. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkanan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah tersebut.

SALAM: Bupati Sergai Darma Wijaya bersalaman dengan Rektor UMSU Prof Agussani.

“Yang tak kalah penting, saya katakan ke Pak Rektor, Sergai sangat siap jika UMSU mau mendirikan kampusnya di Tanah Bertuah Negeri Beradat,” ungkap Bupati Sergai, Darma Wijaya, saat kunjungan silaturahim ke kampus Pascasarajana UMSU, baru-baru ini.

Darma juga mengatakan, Kabupaten Sergai merupakan daerah yang sangat strategis untuk dibuka kampus UMSU. Pastinya, masyarakat tidak perlu jauh untuk kuliah hingga ke Kota Medan.

“Mengingat, lokasi yang strategis berdampingan dengan banyak wilayah, seperti Simalungun, Deliserdang, Tebingtinggi, hingga Medan,” ungkap Darma, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sergai, Suwanto Nasution.

Kemudian, Pemkab Sergai juga berkomitmen melanjutkan kerja sama dengan UMSU, khususnya dalam peningkatan SDM di daerah tersebut.

“Kerja sama antara Pemkab Sergai dengan UMSU terkait peningkatan kualitas SDM, khususnya para ASN yang pernah terjalin, akan dijaga dan dilanjutkan. Apalagi saat ini, UMSU punya predikat sebagai satu-satunya PTS terakreditasi A di Sumut,” tutur Darma.

Lebih lanjut, Darma mengatakan, bukan hanya peningkatan SDM ASN, pihaknya juga membuka diri agar pengabdian mahasiswa UMSU atau KKN, bisa dilakukan di daerah itu. Kegiatan ini penting agar kehadiran mahasiswa KKN, memberikan pandangan baru masyarakat tentang pendidikan.

“Pendidikan diyakini berdampak pada peningkatan dan pengembangan potensi daerah serta kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Darma mengaku, tidak menyangka, silaturahim ke UMSU bersamaan dengan kunjungan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau H Mubarak. Sambutan dari tuan rumah, Prof Agussani pun luar biasa.

Sementara itu, Rektor UMSU, Prof Agussani menjelaskan, kerja sama dengan Pemkab Sergai selama ini cukup baik. Ditandai dengan berbagai kegiatan tindak lanjut, termasuk asesmen  jabatan. UMSU tentu sangat berharap, kerja sama yang telah terjalin erat bisa dilanjutkan, bahkan lebih ditingkatkan.

“UMSU memiliki cukup SDM yang bisa dimanfaatkan untuk ikut berpartisipasi memberi solusi masalah-masalah pembangunan,” katanya.

Kunjungan Bupati Sergai bersamaan dengan kedatangan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau beserta rombongan tim media, guna melakukan studi banding pengelolaan Media Center UMSU. Kunjungan silaturahim itu ditutup dengan meninjau fasilitas Observatorium Ilmu Falak. (gus/saz)

Perkokoh Internasionalisasi USU, Muryanto Terima Kunjungan Dubes Polandia

BINCANG: Rektor USU Muryanto Amin saat berbincang dengan Dubes Polandia, Beata Stoczynska di Rumah Dinas Rektor USU, baru-baru ini.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Muryanto Amin, menerima kunjungan Duta Besar Polandia untuk Indonesia, Beata Stoczynska di Rumah Dinas Rektor USU, baru-baru ini. Dalam kunjungannya, Beata didampingi Political and Economic Affairs Poland Embassy, Michal Weglarz, serta Slawomir Stanislaw Stoczynski. Pertemuan itu membahas tentang kerja sama pendidikan untuk kedua belah pihak, khususnya mendukung program internasionalisasi USU.

BINCANG: Rektor USU Muryanto Amin saat berbincang dengan Dubes Polandia, Beata Stoczynska di Rumah Dinas Rektor USU, baru-baru ini.

Muryanto yang menyambut rombongan Dubes Polandia, mengatakan, kedatangan mereka memperkokoh upaya USU untuk dapat terkoneksi dengan dunia pendidikan di luar negeri.

“Kami apresiasi kedatangan Dubes Polandia. Saya berharap pertemuan ini tidak hanya sampai di sini. Namun dapat diimplementasikan lebih lanjut,” ungkap Muryanto.

Muryanto juga berharap, ada realisasi program agar implementasi internasionalisasi kampus dapat diwujudkan, dan berharap banyak sivitas akademika USU nantinya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Polandia.

“Semoga setelah ini, terbuka akses bagi kami untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan dari sivitas akademika USU. Harus disusun serangkaian program, seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, serta program lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, Beata mengaku, sengaja memprioritaskan datang ke USU untuk menyampaikan pesan kerja sama dalam bidang pendidikan antara Polandia dengan USU.

“Saya ingin adanya peningkatan kerja sama yang selama ini dibangun. Terkhusus pada dunia kesehatan, yang USU terkenal sangat unggul dalam pendidikan kesehatannya,” sebutnya.

Dia menilai, ada potensi untuk dapat melakukan kerja sama pendidikan dengan USU, terutama di bidang kesehatan, teknik, serta pertanian. Beata menjelaskan, setidaknya ada sekitar 600 mahasiswa Indonesia silih berganti menimba ilmu di Polandia.

Sebagai informasi, kerja sama USU dengan Polandia telah dilakukan setidaknya dalam 3 tahun terakhir, melalui program Erasmus. Erasmus merupakan wadah yang memberikan akses pendidikan ke beberapa negara yang ada di Eropa.

Dalam pertemuan tesebut, Beata turut menjelaskan, nama kawasan Polonia di Kota Medan, merupakan nama latin dari Polandia.

“Nama tersebut berasal dari seorang bangsawan Polandia, yang membuka lapangan kerja pada lahan tembakau di sekitar kawasan Polonia saat ini. Karena saudagar ini memberikan lapangan kerja yang luas dan berdampak pada masyarakat luas, sehingga kawasan tersebut disebut Polonia, sebagai representasi asal bangsawan tersebut,” beber Beata.

Hadir mendampingi Rektor USU, Wakil Rektor 3 USU Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, Kepala Kantor Urusan Internasional USU Esther Sorta Mauli Nababan, para dosen, dan tenaga kependidikan USU. (gus/saz)

Kartu Prakerja Berlanjut hingga 2022

PRAKERJA: Peserta Program Prakerja menunjukkan aplikasi Prakerja di ponselnya. Program Prakerja akan berlanjut hingga 2022.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan Program Kartu Prakerja masih akan dilanjutkan hingga 2022. Untuk tahun depan, sistem kartu prakerja masih sama hingga enam bulan pertama sembari menyesuaikan situasi pandemi Covid-19.

PRAKERJA: Peserta Program Prakerja menunjukkan aplikasi Prakerja di ponselnya. Program Prakerja akan berlanjut hingga 2022.

“Ini gelombangnya sudah ke-21, jadi tahun depan juga akan ada kartu. Nanti enam bulan kedua kita lihat bagaimana situasi pandemi Covid-19,” ujar Airlangga.

Berdasar data Kemenko Bidang Perekonomian, total peserta kartu prakerja gelombang 1 hingga 21 di Jogjakarta mencapai 248.176 orang dari jumlah pendaftar sebanyak 633.701 orang, dengan rentang usia peserta terbanyak 26–35 tahun. Sementara itu, mengacu domisili peserta, paling banyak di Kabupaten Sleman mencapai 64.527 orang, Bantul 64.477 orang, Gunung Kidul 63.555 orang, Kota Jogjakarta 34.545 orang, dan Kulon Progo 21.072 orang.

Airlangga menjelaskan, sebagian dari alumni kartu prakerja ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan dan lainnya memutuskan menjadi wiraswasta. “Ada wiraswasta yang belum berani berutang karena bisnisnya masih mencoba, namun yang sudah stabil omzetnya sampai Rp 3 juta sampai Rp15 juta sudah berani berutang,” terang Airlangga.

Pemerintah melalui BNI, lanjut Airlangga, bakal memberikan kredit usaha rakyat (KUR) untuk peserta yang telah mengikuti pelatihan prakerja, sudah memulai berbisnis, serta memiliki omzet yang relatif stabil. Para peserta dapat mengakses KUR hingga Rp 100 juta tanpa agunan dengan bunga 3 persen.

“Biasanya kan bunga 6 persen yang 3 persen disubsidi pemerintah dan untuk penerima pertama dalam jangka waktu enam bulan tidak membayar bunga, tapi nanti bulan ketujuh baru diberikan bunga,” papar Airlangga. (jpg/ila)

Menempati Ibu Kota Negara Baru, 123.523 PNS Bakal Dipindahkan

PINTU MASUK: Gerbang pintu masuk di Penajam Pa-ser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 123.523 bakal dipindahkan ke ibu kota negara baru, di Penajam Pa-ser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Jumlah itu belum memperhitungkan 17.746 PNS yang akan pensiun.

PINTU MASUK: Gerbang pintu masuk di Penajam Pa-ser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Deputi Bidang Sistem Informasi Kepegawaian BKN Suharmen mengungkapkan jika tidak ada rekrutmen PNS hingga 2025, maka yang akan dipindahkan dikurangi dengan jumlah pegawai pensiun. “Kalau ada rekrutmen dengan prinsip zero growth, maka 123.523 PNS yang dipersiapkan pindah ke ibu kota negara baru,” kata Deputi Suharmen yang dihubungi JPNN.com (Grup Sumut Pos), Minggu (10/10).

Dia menegaskan data tersebut baru sekadar simulasi pemindahan PNS ke ibu kota negara baru dan belum menjadi kebijakan pemerintah. Dalam simulasi tersebut, kata Suharmen, BKN melakukan dua kali flagging alias penandaan, yaitu 15 Desember 2020 dan 16 Desember 2020. Data awal sebelum pemberian flagging terdapat 188.593 PNS di instansi pusat. Setelah dilakukan flagging 15 sampai 16 Desember 2020 ,jumlah tersebut menyusut menjadi 123.523 orang.

“Indikator pemberian flagging, yaitu PNS bekerja pada unit organisasi pusat,” ucapnya. Suharmen menjelaskan PNS yang dipindahkan tersebut kriterianya PNS aktif, bekerja di instansi pusat aktif, bekerja pada satuan kerja pusat. Selain itu PNS-nya tidak bekerja pada unit organisasi universitas.

Adapun lokasi kerja PNS yang akan dipindahkan tersebut di wilayah Provinsi DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor.

“Jadi, bagi PNS yang bekerja di bawah instansi pusat misalnya Kementerian Keuangan tetapi ditempatkan di kanwil atau kantor pelayanan, maka tidak masuk kriteria PNS yang akan dipindahkan,” terang Suharmen.

Mengenai kapan pemindahan PNS ke IKN baru itu direalisasikan, Suharmen menyatakan belum bisa memastikan. Sebab, BKN hanya dalam kapasitas menghitung berapa banyak PNS yang berpotensi dipindahkan ke ibu kota negara baru. (esy/jpnn/ila)

Usai Direksi 3 BUMD Kota Medan Disebut Tak Punya Rencana Kerja, Kompak Segera Sampaikan Visi Misi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Usai disebut tidak punya rencana kerja karena tidak menyerahkan visi dan misinya kepada Komisi III DPRD Medan, ketiga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Medan, yakni Perusahan Umum Daerah (PUD) Pasar, PUD Rumah Potong Hewan (RPH) dan PUD Pembangunan Kota Medan kompak akan segera menyerahkannya dalam waktu dekat.

Kepada Sumut Pos, ketiga PUD mengaku telah memiliki rencana kerja ataupun visi dan misi dalam membangun PUDnya masing-masing. Akan tetapi, ketiganya juga tidak menampik jika visi dan misi itu memang belum diserahkan kepada counterpart mereka di Komisi III DPRD Medan.”Kalau visi dan misi tentu ada, tapi memang belum kita serahkan. Secepatnya akan kita antar ke Komisi III,” jawab singkat Direktur Utama (Dirut) PUD Pasar Kota Medan, Suwarno kepada Sumut Pos, Minggu (10/10).Namun begitu, Suwarno tidak menjelaskan apa alasan pihaknya belum juga mengirimkan visi dan misi nya kepada Komisi III hingga kemarin.

Senada dengan Suwarno, kepada Sumut Pos, Dirut PUD RPH Kota Medan, Harisandi Syafril Harahap mengaku memang belum menyerahkan visi dan misi nya kepada Komisi III DPRD Medan. Namun Sandi menegaskan, pihaknya telah memiliki visi dan misi yang dimaksud.

“Iya, memang ada diminta (visi dan misi) saat kami RDP dengan Komisi III sekitar 2 minggu yang lalu. Belum kami sampaikan memang, dalam waktu dekat akan kami sampaikan. InsyaAllah dalam minggu-minggu ini,” jawab Sandi kepada Sumut Pos.

Sandi menuturkan, selama ini pihaknya masih berfokus kepada pembenahan yang ada di internal PUD RPH. Pasalnya, para direksi termasuk dirinya yang baru saja dilantik masih fokus mempelajari kendala-kendala yang ada.

“Tapi visi dan misi kita sudah ada kok, rencana kerja kita juga sudah ada. Kemarin kami fokus ke internal dulu, itu saja. Terimakasih atas masukannya dari para dewan di Komisi III, dalam minggu ini kami akan sampaikan segera visi dam misi yang diminta kepada kami,” tuturnya.

Begitu juga dengan Dirut PUD Pembangunan Gerald Patogi Siahaan yang diwakilkan Direktur Umum dan Keuangan PUD Pembangunan Bambang Hendarto kepada Sumut Pos mengatakan, pihaknya memang telah memyerahkan rencana kerjanya kepada Komisi III.

“Kalau diserahkan memang belum. Tapi tentu lah kita punya visi dan misi itu, sejak awal kita mendaftar sebagai direksi saja sudah punya visi dan misi itu. Dalam waktu dekat akan kami sampaikan ke Komisi III,” ujar Bambang.

Bambang pun berharap, pihaknya di PUD Pembangunan dapat terus berkolaborasi dengan DPRD Medan, khususnya Komisi III yang menjadi counterpart nya dalam membangun PUD Pembangunan.

“Sesuai instruksi Pak Wali, tentu kita harus berkolaborasi dengan semua pihak. Terimakasih atas masukannya, dan dalam waktu dekat kami akan sampaikan visi dan misi itu,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan Sumut Pos, Komisi III DPRD Medan menilai jika ke-3 BUMD Kota Medan tidak punya rencana kerja. Pasalnya, ke-12 Direksi BUMD Kota Medan yang dilantik Wali Kota Medan Bobby Nasution pada 22 September 2021 belum juga menyerahkan visi dan misi nya kepada Komisi III DPRD Medan yang telah memintanya dalam RDP pada 26 September yang lalu. (map/ila)

Membanggakan Sumut, Film parHEREK Masuk Nominasi FFI 2021

MEDAN, SUMUTPOS.CO- Film parHEREK yang disutradarai Onny Kresnawan dan diproduseri Ria Novida Telaumbanua asal Sumatera Utara, berhasil masuk nomine kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2021 pada malam nominasi Piala Citra, Minggu (10/10). Pengumuman dilakukan di Jakarta dan disiarkan secara daring bersama Ketua Bidang Penjurian FFI, Garin Nugroho dan Ketua Komite FFI, Reza Rahadian serta sejumlah Duta FFI.

“Apresiasi tertinggi bagi insan perfilman di Indonesia tersebut cukup membanggakan sekaligus menjadi ‘daya kejut’ akan kerinduan panjang pada kejayaan perfilman masa silam di Sumatera Utara,” kata Onny Kresnawan kepada wartawan usai nonton bareng malam nominasi di Sekretariatan Asosiasi Dokumentaris Nusantara (ADN) Korda Medan, Jalan Jati 2 Medan.

Betapa tidak, kata Onny, era tahun 60-an perfilman di Sumut yang sempat berjaya seakan “mati suri”. Setelah film Turang yang diproduksi oleh PH lokal dan disutradarai Bactiar Siagian meraih penghargaan sebagai Film Terbaik (1960), tak ada lagi keterwakilan film dari Sumut yang berhasil menembus FFI.

Berkat kebersamaan antara orang film, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kota Medan, tahun 1983 di Medan berhasil diselenggarakan Festival Film Indonesia (FFI). Untuk mendukung FFI, Sumatera Utara memproduksi tiga film bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, yaitu Film layar lebar Setulus Hatimu diproduksi Surya Indonesia Medan Film, Film Batas Impian (Sinar Film Medan/Pemprov Sumut) dan Film Butet (Mandala Film Medan/Pemprov Sumut).

Sederet judul film produksi PH lokal lainnya yang sempat menggeliat berjaya mengangkat nama Sumatera Utara di kancah perfilman nasional masa itu, seperti Kuala Deli, Baja Membara, Piso Surit, Musang Berjanggut, Buaya Deli, Sungai Ular, dan lainnya. Nama Studio Film Sunggal menjadi saksi bagaimana gigihnya insan-insan film di Sumatera Utara memproduksi film kala itu. Studio Film Sunggal tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara, namun juga masyarakat pecinta film di Indonesia dan Asia Tenggara, bahkan Studio Sunggal sempat menjadi satu-satunya studio film yang refresentatif di luar Jakarta, di masa itu.

“Untuk itu, parHEREK yang sudah masuk di nominasi terbaik FFI 2021, tak boleh berhenti setelahnya. Sebagaimana harapan Wagubsu Musa Rajekshah, bahwa film ini paling tidak bisa menjadi trigger kemajuan perfilman di Sumatera Utara ke depan,” kata Onny.

Onny berharap semoga film-film bermutu lainnya, baik fiksi dan dokumenter, akan lahir dari Sumatera Utara untuk mewarnai perfilman nasional bahkan internasional. “Minimal, setelah ini akan ada agenda tahunan Festival Film Dokumenter bertema kearifan lokal skala nasional di Sumatera Utara yang akan menjadi kebanggaan kita bersama,” harap Onny.

Film dokumenter parHEREK merupakan kisah hidup keseharian Datim Manik (29), yang meneruskan cara hidup unik sepeninggalan ayahnya, Umar Manik, sebagai pawang monyet di Hutan Sibaganding, Simalungun, Sumatera Utara, sejak 1980-an.

Sekadar informasi, beberapa film yang disutradarai Onny Kresnawan telah menerima penghargaan kompetisi film berskala nasional dan internasional, antara lain film Berharap Air Di Atas Air mendapat penghargaan di Kompetisi Manusia dan Air FORKAMI, Jakarta (2008), Pantang di Jaring Halus sebagai Nominasi Konfiden Jakarta dan film terbaik di JEFIVAL, Jatim (2008).

Lalu, film Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan mendapat penghargaan tayang di CST Confrence ECPAT di Bali (2009), Smong menerima penghargaan Film Terbaik di Festival Film Kearifan Budaya Lokal, Kemendikbud (2011), Omasido Sekola sebagai Special Jury’s Mention di Erasmus Huis International Documentary Film Festival (2013).

Film Pulang mendapat fasilitasi produksi oleh Kemendikbud (2014), Raonraon Medan sebagai Video Pariwisata Nusantara Terbaik di Toraja Film Festival, Toraja (2018) dan terakhir Film Surat Buat Ananda yang di persembahkan oleh Bank Sumut sebagai Nominasi di FVE Kemendikbud serta meraih Film Terbaik di Festival Film Pendek Sumut Bermartabat yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut (2019). (rel/adz)

BPSDM Sumut Bina Mental ASN dan Keluarga

SAMBUTAN: Kepala BPSDM Sumut, Asren Nasution, beri sambutan dalam kegiatan pelatihan pembinaan mental ASN dan keluarga. yang digagas Dharma Wanita Persatuan BPSDM Sumut di Aula Cemara, Kantor BPSDM Jalan Ngalengko Medan, akhir pekan kemarin. prans Hasibuan/sumutpos.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pembinaan mental bagi aparatur sipil negara (ASN) dan keluarga merupakan hal penting dilakukan guna melatih sikap dan tata krama di depan publik. Karenanya, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sumatera Utara  berupaya memberikan pemahaman melalui pelatihan.

SAMBUTAN: Kepala BPSDM Sumut, Asren Nasution, beri sambutan dalam kegiatan pelatihan pembinaan mental ASN dan keluarga. yang digagas Dharma Wanita Persatuan BPSDM Sumut di Aula Cemara, Kantor BPSDM Jalan Ngalengko Medan, akhir pekan kemarin. prans Hasibuan/sumutpos.

Kegiatan pembinaan mental tersebut digelar oleh Dharma Wanita Persatuan BPSDM Sumut di Aula Cemara, Kantor BPSDM Jalan Ngalengko Medan, akhir pekan kemarin. Menghadirkan narasumber di antaranya, Hj Raudatus Shafa selaku Ketua DWP BPSDM Sumut dan Dr Sumihar Sebastian Sitompul.

 Kepala BPSDM Sumut Asren Nasution mengatakan, tata krama sangat diperlukan dalam bersikap terutama saat seseorang berada pada acara penting. Khususnya bagi ASN beserta keluarga, hingga tenaga non ASN yang perlu diberikan pembinaan, agar terbiasa bersopan santun.

“Tentu kegiatan seperti sangat bagus, bukan hanya untuk keperluan ketika di kantor saja, tetapi juga di rumah dan lingkungan sekitar,” ujar Asren di hadapan puluhan peserta pelatihan serta yang menyaksikan secara virtual.

 Contoh sederhana dari sebuah tata krama, lanjut Asren, seperti menghidangkan penganan atau makanan kepada tamu yang datang. Sehingga kesannya orang lain merasa terhormat dengan pelayanan tersebut.

“Orang terkadang bisa selera makan, karena sajiannya yang baik. Padahal rasanya mungkin tidak terlalu enak. Begitu juga rasa yang sama, tetapi bisa berbeda harga, itu karena penyajiannya,” kata Asren.

Untuk itu, sangat perlu seluruh ASN, keluarga dan tenaga non ASN memahami bagaimana bertatakrama yang baik saat di kantor, bagaimana pula saat berprilaku di rumah.

 Raudatus Shafa menilai bahwa bertatakrama memang mengandung unsur budaya dari Eropa. Mengingat gaya yang ditampilkan seperti memiliki standarisasi tertentu.

“Memang yang ini menyadur budaya dari Barat. Tetapi kita tau kan, peradaban di negara mereka sudah lebih maju. Jadi intinya, semua ASN dan keluarganya dapat menyesuaikan diri saat berada pada acara resmi. Kami juga begitu, harus belajar menyesuaikan diri dengan acara-acara resmi,” ungkap istri Asren Nasution tersebut.

Dalam pemaparan narasumber, Sumihar Sebastian Sitompul menjelaskan sekaligus memberikan contoh praktek bagaimana melayani tamu, menempatkan peralatan makan di atas meja, hingga cara makan pada jamuan resmi (table meaning).

“Memang kita terkadang lebih suka bergaya bebas, saat kita ada di tempat yang pribadi atau lingkungan sekitar. Tetapi pada sebuah jamuan makan, ada caranya, mulai dari cara duduk, penggunaan alat makan, hingga tata krama saat berada di depan meja makan,” jelasnya.

 Karena itu pula, kegiatan tersebut rencananya akan digelar untuk OPD yang lainnya, melalui BPSDM Sumut sebagai instansi yang berperan selaku lembaga pendidikan. (prn/ila) 

Pembebasan Lahan untuk Normalisasi Sungai Bedera, Bobby Tambah Anggaran Jadi 45M

TINJAU: Wali Kota Medan Bobby Nasution saat meninjau Sungai Bedera yang akan dinormalisasi. Alokasi anggaran pembebasan tanah untuk normalisasi sebesar Rp45 miliar.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Medan Bobby Nasution memperkuat  koordinasi dengan Kementerian PUPR untuk merealisasikan normalisasi Sungai Bedera yang melintasi Kota Medan dan Deliserdang. Normalisasi dinilai sebagai salah satu cara untuk mengatasi persoalan banjir di ibu kota Sumatra Utara ini. Tidak hanya koordinasi, bahkan Bobby Nasution pun menambah alokasi anggaran pembebasan tanah untuk wilayah Medan dari sebesar Rp35 miliar menjadi Rp45 miliar.

TINJAU: Wali Kota Medan Bobby Nasution saat meninjau Sungai Bedera yang akan dinormalisasi. Alokasi anggaran pembebasan tanah untuk normalisasi sebesar Rp45 miliar.

Kepala Bappeda Medan Benny Iskandar menerangkan, awalnya untuk Sungai Bedera Pemko Medan mengalokasikan anggaran sebesar Rp35 miliar, sedangkan untuk Sungai Babura sebesar Rp10 miliar.

Sementara, lanjut Benny Iskandar, kebutuhan pembebasan tanah di wilayah Medan untuk mendukung normalisasi Sungai Bedera mencapai Rp59 miliar. Artinya, untuk pembebasan tanah masih kurang Rp24 miliar lagi.

“Kemarin, Pak Wali Kota telah bertemu dengan berkoordinasi dengan Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jarot Widyoko. Dalam pertemuan itu, Pak Wali Kota menjelaskan, ada alokasi anggaran Rp10 miliar lagi yang sebelumnya diproyeksikan untuk pembebasan tanah di Sungai Babura,” ujarnya.

Ternyata, lanjutnya, untuk Sungai Babura tidak bisa dilaksanakan tahun depan karena dibutuhkan Rp1,3 triliun untuk pengadaan tanah. Untuk itu, alokasi Rp10 miliar untuk Sungai Babura dialihkan ke Sungai Bedera. Makanya, alokasi untuk Sungai Bedera bertambah menjadi Rp45 miliar,” jelas Benny Iskandar.

Anggaran sebesar Rp45 miliar ini, lanjut Benny Iskandar, masihlah kurang. Dengan kebutuhan pembebasan tanah di wilayah Medan Rp59 miliar, maka masih terdapat kekurangan sebesar Rp14 miliar lagi.

Sedangkan untuk wilayah pembebasan lahan di Deliserdang mencapai Rp12 miliar.”Itulah yang kita mintakan dapat dialokasikan oleh pemerintah pusat,” kata Benny Iskandar.

Benny Iskandar mengatakan, pembebasan tanah untuk normalisasi Sungai Bedera ini tidak bisa dilakukan di wilayah Medan saja. Soalnya, Sungai Bedera ini melintasi wilayah Medan dan Deliserdang.”Kalau hilir Sungai Bedera di wilayah Deliserdang tidak juga dibebaskan, normalisasi itu sia-sia. Airnya tetap tersumbat di Deliserdang,” ungkap Benny Iskandar.

Untuk mengatasi itu, Kementerian PUPR akan mencoba menambah anggaran normalisasi Sungai Bedera untuk membantu biaya pembebasan tanah ini atau menyurati Pemprovsu untuk meminta mengalokasikan kekurangan anggaran pembebasan tanah tersebut.

Yang perlu digarisbawahi, kata Benny Iskandar, sebenarnya sungai itu kewenangan pusat, dalam hal ini BWSS.

Waktu itu, BWSS mengatakan, kalau dana pendamping, atau pancingan dari Pemko/Pemkab, pemerintah pusat akan menggelontorkan dana. Memang, pihak BWSS telah mengalokasikan Rp45 miliar, namun itu untuk pembangunan fisik. Tentu saja pembangunan fisik tidak bisa dilakukan kalau tanahnya belum bisa dibebaskan.  

“Karena itulah kemarin Pak Wali Kota kita minta kepada Dirjen, kalau bisa alokasi anggaran Rp45 miliar untuk pembangunan fisik itu ditambah lagi untuk pembebasan tanahnya. Karena kita tak mampu mengeluarkan anggaran pembebasan tanah lebih dari Rp45 miliar,” kata Benny Iskandar.

Benny menambahkan, biasanya pembebasan tanah dilakukan oleh panitia. Khusus untuk di Medan, tim tersebut berasal dari Pemko Medan. “Kalau untuk timnya kita semua, sama seperti pembebasan tanah untuk pembangunan jalan-jalan nasional, tetapi dananya dari kementerian,” ucap Benny Iskandar.

Benny mengatakan, Pemko Medan optimis pekerjaan normalisasi ini akan berjalan.

”Karena memang kemarin, dalam pertemuan koordinasi Pak Wali Kota dengan Pak Dirjen, telah disepakati tahun ini yang dikerjakan tahun ini, minimal   Sungai Bedera dulu, Sungai Deli untuk perbaikan pintu air dan kanal,” pungkas Benny Iskandar. (map/ila)