24 C
Medan
Monday, January 26, 2026
Home Blog Page 4516

Ponpes Al Hidayah Siap Tampung WNI Eks ISIS

PENDIRI PONPES: Pimpinan dan Pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Khairul Ghozali saat berbincang dengan wartawan, Senin (10/2).
PENDIRI PONPES: Pimpinan dan Pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Khairul Ghozali saat berbincang dengan wartawan, Senin (10/2).
PENDIRI PONPES: Pimpinan dan Pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Khairul Ghozali saat berbincang dengan wartawan, Senin (10/2).
PENDIRI PONPES: Pimpinan dan Pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Khairul Ghozali saat berbincang dengan wartawan, Senin (10/2).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah belum memutuskan untuk memulangkan atau tidak warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat ikut gerakan terorisme ISIS. Hingga kini, pemerintah masih mengkalkulasi dampak baik maupun buruk akibat pemulangan eks WNI tersebut. Dan keputusannya akan diambil Presiden Joko Widodo saat rapat terbatas dalam waktu dekat.

Namun begitu, Satuan Intelkam Polrestabes Medan disebut-sebut telah meninjau Pesantren Al Hidayah, di Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang, Senin (10/2). Peninjauan itu dimaksudkan untuk melihat saran dan prasarana di pesantren tersebut. Karena kabarnya, akan dijadikan tempat penampungan ratusan WNI eks ISIS yang akan dipulangkan ke Tanah Air.

Pimpinan dan Pendiri Pesantren Al-Hidayah, Khairul Ghozali kepada wartawan mengatakan, peninjauan yang dilakukan Intelkam Polrestabes Medan itu hanya sekadar melihat fasilitas di pesantren yang mengasuh anak-anak mantan napi terorisme itu.

“Memang ada meninjau aparat kepolisian, tapi belum ada kami berkordinasi dengan BNPT. Kalau itu, domainnya BNPT. Kalau Polisi hanya keamanan,” sebutnya.

Ghozali mengakui, pesantren yang ia pimpin itu belum memadai keseluruhannya. Namun begitu dia yakin, mampu menampung sebagian WNI eks ISIS yang akan dipulangkan. “Bisa-bisa saja, untuk mengembalikan pemahaman cinta NKRI dan deradikalisasi. Tadi (Polisi) masih melakukan peninjauan dan persiapan, kalau kita ya siap-siap saja. Kalau dibangun sarana dan prasarana kita juga siap-siap saja,” tutur mantan narapidana teroris dalam kasus perampokan Bank CIMB Niaga pada 2010 ini.

Ghozali juga mengaku belum tahu, apa rencana yang akan dilakukan Pemerintah Indonesia ke depan untuk pemulangan ratusan WNI mantan ISIS itu. Namun begitu, bila diperlukan lokasi penampungan sementara, pihaknya siap membantu. “Kalau jadi pemulangan, antara Mei atau Juni 2020. Mereka (Polisi) mau lihat persiapan dan prasarana yang ada,” jelasnya.

Disebut Ghozali, di pesantren itu mereka memiliki 35 tenaga pengajar dari keseluruhan mantan napiter. Dengan begitu, pesantren ini sudah siapkan jadi instruktur untuk mengembalikan pemahaman WNI eks ISIS tersebut agar anti terorisme. “Sudah siap menjadi instruktur untuk mengajak kembali ke NKRI. Membantu pemerintah dalam mengatasi pemahaman radikal langsung dari pelaku sejarah,” kata Ghozali.

Ia pun, menanggapi isu pro dan kontra pemulangan ratusan eks ISIS itu. Ghozali menilai, mereka adalah anak bangsa dan berwarganegaraan Indonesia. Dengan begitu, layak untuk dipulangkan dan mendapatkan pelayanan dari pemerintah. “Harus dipulangkan, walau kita berbeda. Mereka internasional dan kita lokal. Pemikiran sama, jangankan paspor, KTP saja kita bakar,” sebut Ghozali.

Walau bagaimana pun, Ghozali menjelaskan, mereka harus diakui oleh bangsa. Karena kampung dan tumpah darah mereka ada di Indonesia dan jangan dibuang. “Karena kita setanah air, hal itu sering diucapkan oleh pimpin negeri ini. Harus dibawa pulang, jangan ada pro dan kontra,” harapnya.

Namun begitu, Ghozali mengatakan, bila ratusan WNI eks ISIS itu melanggar hokum, silakan untuk dihukum sesuai dengan apa yang dilakukannya. Di luar itu, berikan hak mereka sebagai WNI di Tanah Air ini. “Saya di masa lalu juga merasakan itu. Kalau mereka melanggar hukum dengan membakar paspor dan KTP atau dokumen Negara, harus dihukum sebatas itu. Mereka anak-anak bangsa yang dikembalikan oleh bangsa,” jelasnya.

Ghozali yakin pemikiran dan pemahaman ratusan WNI tersebut, bisa dikembalikan dengan anti pemahaman radikalisme. “Bila negara ‘membuang’ mereka, lantas negara mana yang mau menerima mereka? Kalau mereka salah, dihukum dan direhabilitasi saja,” kata Ghozali.

Ia mencontokan pelaku penjahat, seperti bandar narkoba dengan jumlah besar. Negara hadir memberikan hak dan pelayanan kepada pelaku narkoba itu. Harus hal yang sama juga diberikan kepada mereka. “Penjahat narkoba, mereka dihukum sebagai anak bangsa. Pemerintah harus bertanggung jawab. Karena, 95 persen mereka adalah korban. Anak-anak, wanita. Bukan semua yang dialogis,” pungkasnya. (gus)

31 Investor Asing Minati KNIA, Penawaran Awal Dimulai Juli

Bandara Kualanamu berkabut, Rabu (15/11).
Bandara Kualanamu berkabut, Rabu (15/11).

TANGERANG, SUMUTPOS.CO – PT Angkasa Pura II (Persero) tengah mencari investor strategis untuk bersama-sama mengelola dan mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu (KNIA), Deliserdang, Sumatera Utara. Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin mengatakan, sudah ada 39 perusahaan yang minat menjadi investor strategis. Di antaranya, 31 investor berasal dari negara di kawasan Asean, Asia Barat, Asia Timur, dan Eropa. Sisanya, 8 investor lain dari dalam negeri.

Senin (10/2), Angkasa Pura (AP) II telah merilis amandemen dokumen Request for Proposal (RfP) atau permintaan proposal yang pernah diterbitkan pada 9 Juli 2019 lalu. Muhammad Awaluddin menjelaskan, dalam RfP hasil amandemen tersebut, terdapat perubahan struktur transaksi terkait pengembangan dan pengelolaan Bandara Kualanamu.

Awaluddin menuturkan, dalam pengembangan nantinya, Bandara Kualanamu akan menjadi penghubung atau hub di Kawasan Asian

Selain itu, terdapat perluasan penumpang yang bisa menampung lebih banyak lagi. Saat ini, Bandara Kualanamu bisa menampung 8-9 juta penumpang. “Diharapkan enggak hanya domestik, tapi internasional. Maka penumpang internasional akan lebih termotivasi. Di akhir 2025 kemitran AP II pengelola bandara di 19 lainnya, akan menjadikan suatu kemitraan yang strong dan posisi Kualanamu lebih baik,” kata Awaluddin kepada wartawan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (10/2).

Menurutnya, para calon mitra strategis nantinya dipersilakan mengirimkan proposal resmi kepada AP II dengan merujuk pada amandemen dokumen RfP tersebut. Proposal penawaran sudah dapat dilakukan pada 22 Juni mendatang. “Jadi, 22 Juni 2020 menjadi tanggal yang penting, karena dimulainya penawaran awal. Kami harapkan tidak ada kemunduran proses,” harap Awaluddin.

Lebih jauh, Awaluddin menargetkan, pengumuman hasil evaluasi penawaran optimalisasi dan pemenang lelang dilakukan pada 24 Agustus 2020. Lalu, penandatanganan kerja sama operasi antara AP II dan mitra strategis nantinya dijadwalkan berlangsung pada 7 Oktober 2020. “Kami targetkan rangkaian seleksi untuk mendapat mitra strategis berkelas dunia tuntas pada kuartal IV-2020,” ujarnya.

Awaluddin juga menjelaskan, AP II dan mitra strategis akan menjadi pemegang saham di PT Angkasa Pura Aviasi (APA) yang akan mengelola Bandara Internasional Kualanamu dengan masa konsesi 25 tahun. Komposisi kepemilikan saham di APA nantinya adalah AP II minimum 51 persen dan mitra strategis maksimum 49 persen.

Dia menekankan, AP II menjadi pemegang saham mayoritas di APA, sehingga memegang kendali terkait dengan berbagai rencana pengembangan dan pengelolaan Bandara Internasional Kualanamu. Selain itu, setelah masa konsesi selesai, maka hak pengelolaan beserta aset yang ada akan sepenuhnya dikembalikan kepada AP II. “Kami memastikan Bandara Kualanamu akan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Indonesia,” tegasnya.

Setelah masa konsesi selesai, maka hak pengelolaan beserta aset yang ada akan sepenuhnya dikembalikan ke PT Angkasa Pura II. Skema Strategic Partnership dalam pengembangan dan pengelolaan Kualanamu ini mendatangkan berbagai keuntungan bagi PT Angkasa Pura II dan Indonesia.

“Keuntungan dari Strategic Partnership ini adalah adanya Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia yang terdiri dari Capex Commitment dan Upfront Payment, pengembangan aset di Kualanamu, serta pengembangan 3E yaitu Expansion the traffic, Expertise Sharing dan Equity Partnership dengan tujuan menjadikan Bandara Kualanamu sebagai internasional airport hub di kawasan Barat Indonesia,” tandasnya. (bbs)

Suhu Indonesia Tak Dukung Virus Corona, Diprediksi Bisa Menempel 9 Hari

PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.
PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.
PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.
PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya soal belum ditemukannya infeksi novel coronavirus (2019-nCoV) atau lebih dikenal dengan virus corona. Salah satunya adalah terkait matinya virus pada suhu tertentu.

Ketua Umum Pokja Infeksi Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burha,n mengatakan virus corona tidak menular hanya lewat udara.

“Saya sudah sampaikan, virus ini menjadi tidak aktif kalau ada sinar ultraviolet dari matahari,” kata Erlina di Cikini, Jakarta, ditulis Senin (10/2)n

Dalam sebuah temu media pada Kamis pekan lalu, Erlina mengemukakan bahwa kemungkinan, ada pengaruh suhu di Indonesia terhadap berkembang biaknya virus corona.

“Virus ini berkembang biak pada suhu yang dingin dengan kelembapan yang rendah. Kalau Indonesia dingin atau enggak? Indonesia enggak ya. Kelembapannya rendah atau tinggi, tinggi ya, 80 persen lah. Ini bukan tempat yang baik untuk virus berkembang biak,” kata Erlina.

Walaupun begitu, bukan berarti Indonesia benar-benar bebas dari ancaman virus. Mereka tetap bisa hidup di Indonesia.

Ketua Umum PP PDPI Agus Dwi Susanto mengatakan, novel coronavirus merupakan salah satu jenis virus corona yang juga menjadi penyebab SARS.

“Kalau dari data SARS, virus corona SARS itu bisa bertahan sekitar dua hari. Tapi kalau di pemanasan, biasanya cepat mati,” kata Agus dalam kesempatan yang sama.

Sehingga, Erlina mengatakan bahwa risiko tetap ada dan masyarakat tetap harus melakukan pencegahan penyakit. Beberapa cara mencegah penyakit yang disarankan adalah rutin mencuci tangan dan menggunakan masker.

Selain itu, penting juga memperkuat imunitas tubuh. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Daeng M. Faqih meminta masyarakat untuk mengonsumsi buah dan sayur minimal tiga kali sehari dan makan makanan bergizi.

Hidup Menempel 9 Hari

Sementara itu, virus corona diketahui rata-rata bisa bertahan hidup di permukaan benda sekitar empat hingga lima hari. Namun beberapa tipe virus Corona bisa hidup pada suhu ruang hingga 9 hari di luar tubuh (inang), yaitu pada permukaan benda-benda seperti kaca, plastik, atau metal.

Temuan itu didapat setelah para peneliti dari Fakultas Kedokteran Ruhr-Universitas Bochum Jerman menilik kembali studi-studi lawas terhadap virus Corona. Tepatnya, mereka meneliti 22 studi historis mengenai berbagai jenis virus corona, termasuk Severe Acute Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Strain 2019-nCoV yang mewabah di Wuhan dan penjuru dunia saat ini adalah infeksi yang ditularkan melalui droplet (percikan cairan tubuh) dan bisa menyebar antarmanusia atau dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi.

“Gagang-gagang pintu di rumah sakit-rumah sakit misalnya, panel-panel pemanggil (call buttons), meja-meja kecil di samping tempat tidur, serta tepian tempat tidur dan obyek lain yang bersentuhan langsung dengan pasien yang umumnya terbuat dari metal atau plastik,” jelas Profesor Gunter Kampt dari Institute of Hygiene and Environmental Medicine di Greifswald University Hospital Jerman yang juga merupakan rekan penulis studi.

Kampt menyebut, suhu rendah dan kelembapan udara tinggi akan memperpanjang masa hidup virus, melansir laman Forbes, Senin (10/2/2020).

Studi yang dimuat dalam The Journal of Hospital Infection ini semula akan dipublikasikan sebagai textbook baru. Namun, guna memberi sedikit titik terang dalam memahami wabah yang kini sedang terjadi, para peneliti memutuskan untuk merilisnya lebih cepat.

“Dengan keadaan saat ini, pendekatan terbaik adalah dengan mempublikasikan fakta-fakta ilmiah yang telah terverifikasi ini lebih awal dengan tujuan semua informasi bisa diakses segera,” ujar Profesor dari Departemen Molekular dan Virologi Medis di Fakulas Kedoktern Ruhr-Universitat Bochum Eike Steinmann.

Menurut Komisi Nasional Kesehatan China, per 10 Februari 2020, jumlah individu yang positif terinfeksi virus corona telah mencapai 40.553 dan korban meninggal 910 orang, mengutip laman Bloomberg. (bbs/net)

Pemerintah Tepis ISU Indonesia Tak Mampu Deteksi Corona, 21 WNI Pulang dari Tiongkok

PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.
PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.
PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.
PERIKSA: Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Sabtu (8/2) lalu.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Merebaknya virus corona alias flu Wuhan membuat para mahasiswa Indonesia di Tiongkok menunda untuk kembali ke negeri panda. Jumlah WNI di Tiongkok pun kini tinggal sedikit. Di sisi lain, pemerintah membantah bahwa tidak adanya kasus corona di Indoneisa disebabkan alat deteksi yang kurang canggih.

SAAT INI, jumlah WNI yang berada di daratan Tiongkok tinggal berjumlah 1.890 orang. Turun drastis dibandingkan data Desember lalu yang mencapai sekitar 16.500 orang. sebagian besarnya adalah mahasiswa. ’’Sejak KBRI dan KJRI mengeluarkan imbauan agar mereka melanjutkan liburan, itu banyak didengar,’’ terang Dubes RI untuk RRT dan Mongolia, Djauhari Oratmangun lewat videoconference di Kantor Staf Presiden, Senin(10/2). Lagipula, masa libur kuliah di Tiongkok memang diperpanjang pula.

Rinciannya, di wilayah kerja KBRI di Beijing 722 orang. kemudian, di wilayah KJRI Shanghai 841 dan Guangzhou 327 orang. Kemarin sore, ada 21 orang yang pulang ke Indonesia lewat negara ketiga. Sebab, penerbangan dari Tiongkok ke Indonesia maupun sebaliknya sedang ditutup. ’’Pakai Malaysia Airlines,’’ lanjut Djauhari.

Juru Bicara Kemlu, Teuku Faizasyah, menuturkan ke-21 orang itu berbeda dengan yang dipulangkan dari Wuhan. Semuanya berasal dari wilayah yang tidak mengalami isolasi. ’’Mereka sudah menjalani proses pemeriksaan kesehatan dan mendapat sertifikasi sehat,’’ terangnya. Karena itu, otoritas Tiongkok mengizinkan mereka untuk terbang.

Faizasyah enggan mengungkap identitas maupun asal daerah para WNI tersebut. Menurut dia, yang bisa menjadi catatan publik adalah ke-21 WNI tersebut dinyatakan sehat oleh otoritas Tiongkok sehingga boleh pulang.

Penjelasan itu dibenarkan Dirjen Pencegahan dan pengendalian penyakit Kemenkes Anung Sugihantono. Menurut dia, ada perbedaan perlakuan antara provinsi Hubei dengan daratan Tiongkok lainnya. Di luar Hubei, karantina dilakukan bila ada kasus. ’’Kalau bukan dari Wuhan atau Hubei, maka prosesnya (pemeriksaan) tidak melalui karantina,’’ terangnya. Kecuali yang bersangkutan punya riwayat kontak dengan penderita corona.

Anung juga mengklarifikasi isu masuknya empat WNI dari Singapura ke Provinsi Kepri yang disebut sempat kontak dengan penderita corona. Menurut dia, pemerintah Singapura tidak menjelaskan kapan dan bagaimana bentuk kontak yang dilakukan para WNI tersebut. Pihaknya sudah bertemu dan memeriksa para WNI itu. Hasilnya, suhu tubuh mereka tidak melebihi ketentuan.

Untuk saat ini, keempat WNI itu dikarantina di kediaman mereka. Bukan karena sakit, melainkan karena diinformasikan pernah bertemu dan kontak dengan suspect corona di Singapura. Karantina sudah dilakukan sejak dua hari lalu.

Bantah Tak Mampu Mendeteksi

Sementara itu, belum adanya kasus positif 2019-nCoV di Indonesia justru menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Tak jarang yang akhirnya mempertanyakan kemampuan Indonesia dalam mendeteksi virus ini. Termasuk, pemerhati isu kesehatan dari sejumlah negara.

Dalam kesempatan paparan di KSP kemarin, Kepala Badan Litbang Kemenkes Siswanto menjelaskan bahwa sejak 2009, pihaknya memang ditunjuk sebagai laboratorium nasional. Salahsatunya untuk penyakit new emerging alias yang baru muncul. ’’Kami sudah sangat berpengalaman karena sudah menangani flu burung, MERS kalau ada jamaah haji, dan sebagainya,’’ terangnya.

Pemeriksaan terhadap virus yang baru menggunakan pendekatan biomolekuler. Menggunakan PCR atau Polymerase Chain Reaction. ’’Kami memiliki empat mesin NGS (Next Generation Sequencing) sehingga nanti bisa dilacak apakah betul ini adalah nCoV (novel Coronavirus) atau bukan,’’ lanjutnya.

Secara keseluruhan, di Indonesia terdeteksi 62 subkasus yang diduga sebagai corona. Tersebar di 16 provinsi, mayoritas di DKI Jkarta (14) dan Bali (11). 59 di antaranya sudah selesai diperiksa dan dinyatakan negatif. Sementara, tiga sisanya masih dalam proses pemeriksaan. ’’Cara memeriksanya tidak seperti di Prodia dan dua jam selesai. Nggak begitu,’’ tambahnya.

Butuh setidaknya satu hari untuk memeriksa dan memastikan apakah itu virus corona atau bukan. Yang jelas, laboratorium Litbang Kemenkes mampu untuk mendeteksi corona. Selain karena sudah berpengalaman menangani penyakit menular sebelumnya, fasilitas itu juga sudah menggunakan standar WHO dan telah diakreditasi oleh badan kesehatan dunia itu.

Terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto menanggapi santai ketika dikonfirmasi terkait hal tersebut. Dia meyakinkan, bahwa semua spesimen yang sudah diperiksa selalu dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Nanti dilakukan verifikasi oleh WHO. Ini untuk melihat akreditasi validitas pemeriksaan oleh laboratorium kita,” tegasnya.

Diakuinya, tidak semua laboratorium mumpuni untuk memeriksa virus ini. Minimal, memiliki sertifikasi biosafety 2 dan 3 serta terstandarisasi dan tersertifikasi oleh WHO. Di Indonesia, hanya ada tiga institusi yang memiliki kapasitas untuk memeriksa virus. Yakni, Pusat Penyakit Kritis Universitas Airlangga, Eijkman, dan Laboratorium Balitbangkes Kemenkes.

“Kita sudah koordinasi dengan institusi yang punya kapasitas memeriksa virus ini,” ujarnya.

Perlu dipahami, pemeriksaannya pun tidak seperti mengetahui apa golongan darah Anda. Karena specimen yang diperiksa adalah lendir saluran napas, maka harus dilakukan swab dengan kapas dari hidung atau tenggorokan pasien yang diduga suspect.

Setelah itu, cek dengan melakukan sequencing DNA atau polymerase chain reaction (PCR). Pada pemeriksaan sequencing memang butuh waktu lebih lama. Pasalnya, specimen diperiksa melalui dua tahap. Pertama, disequencing dengan pan-coronavirus, yakni reagent untuk corona jenis apapun. Seperti saringan besar. Seandainya positif, diyakini corona maka selanjutnya disequencing menggunakan reagent nCoV yang spesimennya didapat dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Atlanta.

Sementara, untuk metode PCR lebih singkat lagi. specimen langsung dihadapkan dengan reagent novel corona. Jadi langsung dapat diketahui, 2019-nCoV atau bukan. “Dari sekian banyak sampel, gak ada yang lolos pan corona. Jadi bukan corona. Sebagian besar sesional influenza, H1N1,” jelas pria yang akrab disapa Yuri tersebut.

Sebagai informasi, hingga Minggu (9/2), sudah ada 62 spesimen yang dikirim ke Lab Balitbangkes. Dari jumlah tersebut 59 dinyatakan negative, sisanya masih dalam proses. Sejauh ini, pemeriksaan memang hanya dilakukan di Balitbangkes. Yuri mengklaim, lab milik Kemenkes ini masih mampu menangani seluruh specimen yang masuk. “Kapasitasnya sehari bisa sampai 1700. Jadi masih bisa lah,” ungkapnya. Selain itu,

Akan tetapi, perlu digaris bawahi jika pemeriksaan specimen ini tidak dilakukan pada semua orang. Yuri menekankan, ada prosedur klinis yang harus diterapkan terlebih dahulu. Seperti, ketika pemeriksaan awal, pasien memiliki gejala klinis seperti influenza berat, demam tinggi, yang kemudian disertai dengan gangguan pernapasan atau batuk. “Tidak semua orang diperiksa tiba-tiba seperti itu,” katanya.

Namun, bilamana ditemukan gejala klinis yang sangat nyata, radang pada tenggorokan misalnya. Lalu, yang dilakukan adalah intervensi dengan antibiotic. “Kalau panasnya turun pasti bukan virus. Tapi bakteri. Karena virus tidak akan memberikan respon apapun pada antibiotic,” tutur Yuri.

Kalau sebaliknya, tidak memberikan respon, maka pasien langsung masuk dalam kategori diawasi. Pemeriksaan segera dilanjutkan dengan melihat kadar darah putih atau leukosit pasien. Apabila cenderung rendah dan pemeriksaan darah menunjukkan adanya virus maka akan segera diambil spesimennya untuk diteruskan ke lab Balitbangkes untuk diperiksa lebih lanjut. “Spesimen dikirim, pasien diisolasi dan kita anggap suspect atau dugaan,” terangnya.

Hal ini pula yang mendasari tak dilakukanya pemeriksaan specimen pada 238 WNI yang tengah dikarantina di Natuna, Kepulauan Riau saat ini. Yuri mengatakan, seluruhnya tak menunjukkan gejala yang mengacu pada pneumonia. Menurutnya, hingga hari kedelapan, kondisi mereka secara keseluruhan baik. Tidak ada yang demam, sesak nafas, atau gejala lainnya.

Justru, lanjut dia, gejala yang muncul adalah gatal-gatal. Bukan lantaran 2019-nCoV, tapi masalah air yang digunakan di sana. Diakuinya, pihaknya kurang sedikit waspada soal tangki bawah tanah di sana. Pada persiapan awal, kualitas air baik-baik saja. Namun, begitu ada kegiatan tinggi dan air digunakan menerus, ada sedikit masalah dengan kualitasnya. “Tapi sudah ditangani,” sambungnya.

Dia turut menampik adanya isu soal biaya. Di mana, dikabarkan bahwa swab pada seluruh WNI yang dikarantina ini tidak dilakukan lantaran biaya yang sangat mahal. “Ya tidak mungkin. Bangun jalan tol aja bisa, gini doang masa gak bisa. Kita sudah beli itu reagentnya,” tegasnya.

Di bagian lain, Yuri mengatakan, saat ini pemerintah tak hanya mewaspadai negara dari mainland Tiongkok. Tapi juga dari negara-negara yang sudah menyatakan positif kasus 2019-nCoV. Karenanya, pemeriksaan tak lagi mengandalkan thermal scanner, melainkan thermalgun.

Diakuinya, hingga kini belum ada larangan untuk para turis dari negara-negara tersebut. Termasuk untuk Singapura yang baru saja menaikkan status kegawatdaruratannya menjadi orange. Menurutnya, lalu lintas orang di pelabuhan Batam masih terus terjadi.

“Tapi kita pastikan bahwa semuanya diperiksa satu per satu. Dan tidak mungkin ada suspect bisa jalan-jalan seperti kabar yang beredar,” tegasnya. Sebab, kalau itu terjadi maka artinya Singapura telah melanggar aturan dari WHO yang tidak memperbolehkan orang dalam kondisi sakit keluar masuk dari suatu negara saat ini. Aturan ini dibuat menyusul merebaknya 2019-nCoV saat ini. (byu/mia/jpg)

Ribuan Peternak Gelar Aksi Demo ‘Save Babi’ di Medan

UNJUK RASA Ribuan peternak babi dari sejumlah daerah di Sumut melakukan aksi unjuk rasa 'SAVE BABI' di depan gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (10/2). Dalam aksinya, peternak menolak pmusnahan dan restocking Area ternak babi di Sumut serta meminta pemerintah segera menuntaskan persoalan ini.
UNJUK RASA Ribuan peternak babi dari sejumlah daerah di Sumut melakukan aksi unjuk rasa 'SAVE BABI' di depan gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (10/2). Dalam aksinya, peternak menolak pmusnahan dan restocking Area ternak babi di Sumut serta meminta pemerintah segera menuntaskan persoalan ini.
UNJUK RASA Ribuan peternak babi dari sejumlah daerah di Sumut melakukan aksi unjuk rasa 'SAVE BABI' di depan gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (10/2). Dalam aksinya, peternak menolak pmusnahan dan restocking Area ternak babi di Sumut serta meminta pemerintah segera menuntaskan persoalan ini.
UNJUK RASA Ribuan peternak babi dari sejumlah daerah di Sumut melakukan aksi unjuk rasa ‘SAVE BABI’ di depan gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (10/2). Dalam aksinya, peternak menolak pmusnahan dan restocking Area ternak babi di Sumut serta meminta pemerintah segera menuntaskan persoalan ini.

Tak Ada Pemusnahan Ternak Babi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ribuan peternak, pengusaha kuliner, dan pendukung ternak babi dari berbagai daerah di Sumatera Utara, menggelar aksi demo menolak wacana pemusnahan seluruh ternak babi di Sumut, di depan Gedung DPRD Sumut, Senin (10/2). Aksi protes massa itu menolak wacana yang pernah dilontarkan Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, beberapa waktu lalu, menyusul wabah African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika, akhir 2019 lalu.

Massa yang mengenakan atribut ulos dan membawa spanduk berisi tuntutan, bergerak dari Lapangan Merdeka menuju DPRD Sumut, dipandu truk bak terbuka dengtan pengeras suara. Selama iring-iringan massa, dari mobil bak terbuka lagu-lagu Batak berkumandang, salahsatunya lagu “O Tano Batak”. Setentak massa ikut bernyanyi sambil mengangkat spanduk berisi protes.

“Kami menolak keras pemusnahan babi. Babi punya kedaulatan sendiri di dalam adat Batak. Babi tidak boleh dimusnahkan,” ujar seorang orator perempuan dari atas mobil komando.

Massa terus meneriakkan yel-yel save babi. Spanduk-spanduk terus dibentangkan. Setiba di DPRD, massa meminta wakil rakyat angkat bicara tentang kejelasan nasib ternak babi di Sumut, menyusul wacana pemusnahan babi yang berklai-kali dilontarkan Gubsu terkait wabah African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

“Save babi, save babi, save babi,” teriak ribuan massa sambil mengangkat kain ulos yang mereka bawa.

Ketua ‘Gerakan Save Babi Sumut’, Boasa Simanjuntak dalam orasinya mengatakan, aksi hari itu sekaligus mendeklarasikan Hari Kedaulatan Babi. “Ini adalah gerakan spontanitas ‘save babi’. Saya kasih nama Gerakan 102. Ini sebagai hari kedaulatan Babi. Gerakan 102 tidak pernah membuat acara reuni. Tapi akan kita peringati setiap tahunnya,” katanya.

Massa juga menuntut Presiden Joko Widodo ikut menyelesaikan masalah virus ASF yang menyerang ternak babi di Sumut. Menurut massa, wacana pemusnahan itu adalah bentuk intimidasi. Karena tidak ada langkah pemerintah menanggulangi virus yang nyata, selain ancaman pemusnahan.

Menurut peserta aksi, seharusnya pemerintah memikirkan dampak kerugian jika pemusnahan ternak dilakukan. Misalnya memberi ganti rugi yang sesuai.

Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan vaksin virus demam babi tersebut tanpa harus membebankan peternak hewan babi. Menurut massa, dalam lima bulan terakhir, peternak terus merugi. Ternak babi tidak laku.

“Jika babi dimusnahka, akan mengganggu acara adat di kalangan suku Batak. Karena babi sudah menjadi bagian kebudayaan Batak, khususnya yang bukan muslim,” teriak massa.

Massa mendesak pemerintah pusat dan provinsi untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi virus ASF, tanpa harus mengorbankan peternak hewan babi yang ada di provinsi Sumatera Utara.

“Dalam acara adat suku Batak yang bukan muslim, daging babi tidak bisa digantikan. Babi itu binatang paling bersih. Babi mandi tiga kali sehari. Kalau tidak mandi, babi akan menangis,” kata Boasa.

Massa juga menduga ada konspirasi di balik wabah ASF. Karena itu, pihaknya mendesak agar kepolisian melakukan penyelidikan masuknya virus yang menyerang babi di Sumut. Babi, kata Boasa, menjadi salah satu mata pencaharian warga. Jika itu dimusnahkan, maka akan mengancam kesejahteraan warga.

Takkan Ada Pemusnahan

Setelah lama berorasi, sejumlah anggota DPRD Sumut menemui massa. Mereka naik ke mobil komando, mendengarkan satu per satu tuntutan.

“Terkait tuntutan, saya jamin tidak ada pemusnahan. Dan itu tidak bisa dimusnahkan. Di samping itu, babi juga memberikan PAD ke Sumut. Jadi didak ada pemusnahan babi di Sumut,” kata Viktor Silaen, anggota DPRD Sumut dari Fraksi Golkar.

Dia mengimbau masyarakat tidak takut untuk memakan babi. Karena wabah ASF yang terjadi tidak menular ke manusia. Pihaknya juga sudah memanggil dinas terkait dan para kepala daerah yang terkena wabah. “Dalam penanggulangannya, pemprov akan bekerjasama dengan kementerian, untuk segera mendata ternak babi yang mati. Dinas sudah mengajukan dana ke pusat untuk penanggulangannya,” ungkapnya.

Mengenai pertanyaan soal wacana surat kesehatan babi yang dikhawatirkan akan dikenakan biaya, Viktor membantah. “Kami sudah meminta dinas terkait supaya tidak dipungut biaya,” pungkasnya.

Pertemuan dilanjutkan melalui RDP lintas komisi di DPRD Sumut. Dalam RDP, Pemprovsu mengaku tidak punya dana yang cukup untuk mengatasi wabah ASF yang telah membunuh lebih 40 ribuan ternak babi di puluhan kabupaten dan kota di Sumut.

“Saat wabah demam babi ini terjadi, APBD di kabupaten dan kota serta provinsi sudah diketok (disahkan, Red). Akibatnya, tidak ada anggaran yang spesifik bisa diarahkan untuk mengatasi wabah ini,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, M Azhar Harahap.

RDP turut diikuti Dinas Kesehatan Sumut, BPBD Sumut, DLH Sumut, Satpol PP, pemda dan DPRD pada 18 kabupaten/kota di Sumut yang terkena wabah ASF.

Azhar mengaku pihaknya meminta dana APBN ke pusat guna penanggulangan wabah ini. “Kami minta Rp46 miliar ke pemerintah pusat untuk menangani wabah demam babi di 21 kabupaten dan kota di Sumut. Bahkan kami juga sudah sampaikan hal ini ke DPR RI agar dapat dukungan,” ungkapnya.

Menurutnya, Pemprovsu juga sedang mengajukan permintaan dana ke pusat untuk memberikan bantuan dana bagi peternak babi yang yang ternaknya mati. Kata dia, bantuan dana itu bisa dijadikan dana pembangunan peternakan kambing, ayam, sapi, dan lainnya di luar ternak babi. “Peternakan nonbabi ini hanya sementara sampai wabah demam babi ini bisa diatasi,” katanya.

Pihaknya juga mengaku kesulitan mengatasi wabah ASF karena sejumlah faktor seperti lokasi penguburan babi yang tidak tersedia. “Syukurlah kemarin, Pemkab Karo menyediakan lahan untuk menguburkan babi-babi yang mati,” katanya. Ia menambahkan masih banyak peternak membuang sembarangan ternak babi mereka yang mati, baik di pinggir jalan, sungai, dan lokasi lain.

Namun usulan Azhar soal pergantian ternak walau untuk sementara, ditolak sejumlah peserta, terutama dari DPRD Tapanuli Utara, Humbahas, Tobasa, dan Samosir. Mereka menyebutkan bahwa peternakan babi bukan sekadar peternakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Daging babi merupakan bagian dari kehidupan warga Sumut di Tapanuli Utara Raya yang mayoritas beragama Kristen. Daging babi adalah bagian dari adat orang Batak,” ujar salah satu anggota DPRD Humbahas.

Pantauan Sumut Pos, massa aksi tidak jadi datang berunjukrasa ke Kantor Gubsu di Jl. P Diponegoro Medan. Padahal aparat kepolisian sedari pagi sudah berjaga-jaga guna mengamankan aksi tersebut. Turut pula terlihat kendaraan Dalmas dan Sabhara sebagai pendukung keamanan massa aksi. Tak hanya itu, ruang wartawan di lantai dasar kantor Gubsu juga sudah disterilkan untuk wadah pertemuan antara pendemo dengan gubernur.

Gubsu: Siapa yang Mau Memusnahkan?

Terpisah, Gubsu Edy Rahmayadi menegaskan kembali bahwa dirinya tidak pernah membuat pernyataan maupun rencana agar Pemprovsu memusnahkan massal babi di Sumut. “Yang mau memusnahkan siapa? Kalau kalian tanya begitu terus, tanya begitu… tanya sama yang tanya, yang mau musnahkan siapa,” katanya usai salat ashar di Masjid Agung Medan.

Ditanya apakah ada nuansa politis di balik aksi #savebabi itu, Edy menjawab pendek: “Suka hati dialah itu.”

Gubsu hanya mengimbau agar bencana ini dihadapi secara bersama-sama. “Persoalan ini harus kita hadapi bersama. Ini bencana ini. Semua orang ‘kan gak mau itu. Jadi kita harus bersama-sama mengatasi itu. Gak bisa dengan ribut sana, ribut sini,” katanya.

Ia mengaku sudah memerintahkan jajaran terkait guna menangani dan mengatasi bencana ASF ini, supaya masyarakat tidak semakin merana akibat kerugian dari babi yang mati. “Jadi sama-sama kita cari solusi terbaik. Karena wabah ini sampai sekarang belum ada obatnya. Satu-satunya jalan (pencegahan) kita hanya bisa membersihkan tempat-tempat itu,” katanya.

Upaya lain, sambung Gubsu, melarang masyarakat membuang bangkai babi sembarangan. Untuk ini, pemprov sudah membentuk tim membantu penguburan babi masyarakat yang mati tersebut.

“Dan itu perlu biaya. Hal ketiga, agar daerah lain tidak tercemar (terutama luar Sumut), tidak kita izinkan dibawa keluar. Supaya tidak kena babi yang di luar Sumut. Langkah ini sudah kita buat tertulis dan dilaksanakan sampai sekarang,” katanya.

Mengenai tuntutan masyarakat yang minta ganti rugi, Gubsu menyebut persoalannya bukan ganti rugi. Melainkan ada solusi alternatif yang pemerintah tawarkan sebagai program pemulihan ekonomi masyarakat, sebagai kompensasi atas kerugian materil peternak yang babinya mati akibat wabah ASF.

“Nah, kalau itu yang dia minta (bantuan pemerintah) tak usah pakai demo. Mari kita bicarakan, kita bahas,” katanya.

Sebelumnya, Gubsu pernah melontarkan wacana pemusnahan ternak babi di Sumut, menyusul wabah ASF. Selaian pemusnahan, juga dilontarkan wancana melarang peternakan babi selama 20 tahun di Sumut, agar virus benar-benar bersih. Tetapi menurut Gubsu, wacana itu masih dalam pertimbangan, karena pemusnahan butuh status kejadian luar biasa (KLB) berikut izin dari pemerintah pusat. (prn)

Maling Sepeda Motor Tersungkur Ditembak di Berastagi

KARO, SUMUTPOS.CO – Melawan dan berusaha kabur saat akan ditangkap, Mahidin Purba (43) terpaksa merasakan perihnya diterjang timah panas polisi. Warga Desa Rumah Berastagi, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo ini, tersungkur tak berdaya setelah kedua kakinya ditembak petugas.

Penangkapan ini bermula saat Mahidin nekad mencuri sepeda motor Yamaha Jupiter BK 4641 AFG milim Rizky Ripai Hutasuhut. Aksi tak terpuji tersebut dilakukan pelaku saat sepeda motor milik korban parkir di belakang masjid, Kelurahan TL Mulgap I, Kecamatan Berastagi, Selasa (4/2) pagi sekira pukul 07.00 WIB.

Berharap sepeda motornya kembali, hari itu juga korban membuat laporan pengaduan ke Polsekta Berastagi dengan bukti LP/89/II/2020/SU/RES T. KARO.

Menerima laporan tersebut, personel Reskrim Polsekta Berastagi melakukan penyelidikan.

Tak lama berselang, tepatnya Sabtu (8/2) sekira pukul 18.00 WIB, polisi mendapat info mengenai keberadaan tersangka dan barang bukti di sekitar Pajak Roga Berastagi. Tak mau buruannya kabur, sore itu juga polisi yang dipimpin Kanit Reskrim Polsekta Berastagi Iptu Mastergu E Surbakti, langsung terjun ke lokasi.

Naas, saat akan ditangkap, tersangka malah melawan dan berusaha melarikan diri. Meski telah melepaskan tembakan peringatan ke udara, tersangka tetap kabur. Alhasil, polisi melepaskan tembakan terukur ke kedua betis tersangka.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, tersangka dan barang bukti diboyong ke Polsekta Berastagi. “Tersangka dan barang bukti sudah kita amankan dan saat ini kita tengah melakukan pengembangan untuk mengungkap sindikat curanmor di wilayah hukum kita,” kata Kanit Reskrim Polsekta Berastagi Iptu Mastergu E Surbakti. (deo/btr)

Korupsi Pengerjaan Renovasi Sirkuit Tartan, Saksi Akui Kutipan Fee 16 Persen

Saksi dari Bank Sumsel Babel, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi pengerjaan sirkuit Tartan, Senin (10/2).
Saksi dari Bank Sumsel Babel, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi pengerjaan sirkuit Tartan, Senin (10/2).
 Saksi dari Bank Sumsel Babel, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi pengerjaan sirkuit Tartan, Senin (10/2).
Saksi dari Bank Sumsel Babel, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi pengerjaan sirkuit Tartan, Senin (10/2).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sidang kasus dugaan korupsi pengerjaan proyek Renovasi Sirkuit Tartan, dengan terdakwa Sujamrat kembali berlanjut. Terungkap dari saksi yang dihadirkan, menyebutkan adanya kutipan fee sebesar 16 persen dari pagu anggaran paket proyek.

Hal itu diungkapkan Teddy selaku saksi dari rekanan dari PT Padjajaran Multicon dalam sidang lanjutan perkara korupsi sebesar Rp1,5 miliar, di ruang sidang Cakra 5 Pengadilan Tipikor Medan, Senin (10/2).

Mendengar keterangan tersebut majelis hakim diketuai Safril Batubara, kemudian melakukan konfrontir terhadap terdakwa Sujamrat, selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pada Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara (Disporasu).

“Sumpah yang mulia. Saya nggak ada menyebutkan atau memerintahkan hal itu (kutipan 16 persen),” tegas terdakwa.

Ketika dikonfrontir kembali, saksi Teddy menyatakan tetap pada keterangannya. “Baiklah itu hak terdakwa membantahnya. Saudara saksi juga tetap pada keterangannya. Biar dicatat panitera,” kata Syafril.

Sebelumnya, saksi lainnya yang dihadirkan JPU Benhar Siswanto Zain, Pimpinan Cabang Bank Sumsel Bangka Belitung (Babel) dicecar salah seorang anggota majelis hakim seputar dukungan finansial terhadap PT Rian Makmur Jaya (RMJ) dengan Direktur Junaidi (terdakwa pada berkas terpisah).

“Aturan mainnya kan seharusnya urusan transaksi keuangan terhadap proyek-proyek di lingkungan Pemprovsu melalui Bank Sumut,” katanya.

Fakta lainnya terungkap di persidangan, pihak Bank Sumsel menyetujui permohonan dukungan modal PT RMJ. “Semestinya saudara mengecek kondisi kesehatan keuangan perusahaan tersebut. Mana tau pula perusahaan abal-abal bisa memenangkan tender,” kata anggota majelis hakim.

Namun saksi kemudian mengatakan, dirinya tidak memiliki kewenangan mencek saldo rekening perusahaan (nasabah).

Sementara menguti dakwaan JPU, Sujamrat dan Junaidi dijerat sebagai orang yang melakukan, menyuruh melakukan, turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara yaitu sebesar Rp1,5 miliar.

“Keduanya diancam pidana Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Subsidair Pasal 3 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana,” tandas jaksa. (man)

Sidang Kasus Perampokan & Penganiayan, Aang Junaidi Divonis 4 Tahun Penjara

Aang Junaidi, terdakwa kasus perampokan dan penganiayaan menjalani sidang putusan, Senin (10/2).
Aang Junaidi, terdakwa kasus perampokan dan penganiayaan menjalani sidang putusan, Senin (10/2).
Aang Junaidi, terdakwa kasus perampokan dan penganiayaan menjalani sidang putusan, Senin (10/2).
Aang Junaidi, terdakwa kasus perampokan dan penganiayaan menjalani sidang putusan, Senin (10/2).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Majelis hakim diketuai Erintuah Damanik, menghukum Aang Junaidi alias Aang (30) selama 4 tahun penjara. Terdakwa terbukti bersalah melakukan perampokan dan penganiayaan, dalam sidang di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (10/2).

Dalam amar putusannya, terdakwa sah dan meyakinkan terbukti melanggar Pasal 365 Ayat (2) Ke 4 Jo Pasal 53 KUHPidana.

“Mengadili, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Aang Junaidi selama 4 tahun penjara,” ucap hakim Erintuah.

Menurut majelis hakim, hal yang memberatkan perbuatan terdakwa telah merugikan korban. “Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan,” katanya.

Atas putusan ini, baik terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abdul Hakim Harahap, kompak menyatakan pikir-pikir. Putusan ini lebih rendah dari tuntutan jaksa, yang semula menuntut terdakwa selama 6 tahun penjara.

Dalam dakwaan JPU, disebutkan pada 17 Oktober 2019, Jeselin mengendarai mobil Pajero putih BK 1178 AAI, berbelanja ke Pasar Rame. Lalu saksi memarkirkan mobil di pelataran parkir Jalan Thamrin Kelurahan Sei Rengas II Kecamatan Medan Area tepatnya di samping Apotik Thamrin.

Sekitar 15 menit belanja, kemudian saksi Jeseline berjalan kaki menuju ke parkiran mobil. Secara tiba-tiba terdakwa langsung masuk dari pintu tengah samping kiri, dan saat berada di dalam mobil terdakwa langsung mencekik leher dan membekap mulut saksi Jeseline dengan menggunakan kaos kaki milik terdakwa.

Lebih lanjut, terdakwa memukul wajah saksi korban berulang kali dan menggunakan obeng terdakwa menusuk leher saksi jeseline secara berulang-ulang. Lalu terdakwa menyeret saksi Jeseline dari bangku supir ke bangku samping supir, dan terdakwa mengikat kedua tangan saksi Jeseline menghadap ke depan dengan menggunakan tali plastik.

Kemudian, sambil terdakwa memukuli wajah saksi korban, disaat saksi Jeseline meronta dan berusaha membuka mobil terdakwa menghalanginya dan menggigit hidung saksi Jeseline sehingga mengeluarkan darah.

Lalu saat saksi Jeseline kembali meronta dan berteriak, namun sayang suaranya tidak terdengar keluar karena disumbat dengan kaos kaki. Terdakwa kemudian menggigit paha saksi Jeseline sebelah kiri hingga mengeluarkan banyak darah. Kemudian terdakwa keluar dan melarikan diri dari mobil. Atas kejadian tersebut, saksi Jeseline membuat laporan ke Polsek Medan Area. (man/btr)

Oknum TNI AL Tewas Ditabrak Truk Trailer

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Seorang oknum TNI AL Tumirin (50) warga Jalan Bawal III, Lingkungan 2, Kelurahan Kota Bangun, Kecamatan Medan Deli tewas ditabrak truk trailer, Senin (10/2). Kecelakaan itu terjadi di Jalan KL Yos Sudarso, Km 18 Lingkungan 11, Kelurahan Pekan labuhan, Kecamatan Medan Labuhan.

Peristiwa itu terjadi berawal dari korban melintas dengan sepeda motor Honda BK 4865 ACL dari Medan menuju ke Belawan. Tiba – tiba truk trailer disopiri Ojak Manalu mendahului sepeda motor yang ditunggangi oknum TNI AL tersebut.

Korban terjatuh tergilas ban truk itu. Akibatnya, korban tewas di tempat, warga sekitar langsung mengamankan sopir truk tersebut. Petugas Satlantas dan TNI AL datang ke lokasi membawa jenazah ke RSU dr Komang TNI AL.

Petugas Satlantas menangani kecelakaan itu dengan mengamankan sopir dan kendaraan yang terlibat kecelakaan.

“Tadi, truk itu mau memotong sepeda motor yang dibawa tentara itu. Rupanya stang sepeda motornya tersenggol truk itu langsung tergilas ban truk itu,” kata warga sekitar.

Kasat Lantas Polres Pelabuhan Belawan, AKP MH Sitorus mengatakan, kecelakaan itu sudah mereka tangani, sopir dan kendaraannya sudah diamamkan.

“Korban sudah divisum, kita sudah mintai keterangan saksi. Kecelakaan itu terjadi karena truk menyenggol stang sepeda motor yang dikemudikan korban,” katanya. (fac/btr)

Hisap Sabu di Gubuk, 2 Pria Diamankan Polsek Tanjung Morawa

Sabu-Ilustrasi
Sabu-Ilustrasi

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Polsek Tanjung Morawa mengamankan 2 pria dari sebuah gubuk di Dusun 2 Desa Bangun Rejo Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, Sabtu (8/2) sekira pukul 15.30 wib. Kedua pria itu SU (30) dan EF (43) keduanya warga Desa I Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tanjung morawa Kabupaten Deliserdang.

Kepolisian mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada 2 orang diduga memiliki sabu yang berada di sebuah gubuk tepatnya di Dusun 2, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa.

Petugas mendapat kedua pria yang mencurigakan baru saja memakai diduga narkotika. Dilakukan pemeriksaan dan menggeledah terhadap Su dan Ef.

Dari lokasi gubuk itu petugas menemukan barang bukti berupa sepaket serbuk kristal didalam plastik putih besar transparan diduga Narkotika jenis sabu, 4 paket serbuk kristal di dalam plastik putih kecil transfaran les merah diduga Narkotika jenis sabu, satu set bong yang terbuat dr botol lasegar, satu buah mancis dengan terpasang nya jarum suntik, satu pipet yang digunting meruncing, satu buah plastik transfaran les merah kosong, enam buah plastik transfaran les merah kosong.

Guna penyelidikan dan pengembangan, kedua pria berikut barang bukti diamankan ke Polsek Tanjung Morawa. Kasubbag Humas Polresta Deli Serdang Iptu Masfan Naibaho SH saat dikonfirmas, Minggu (9/2) pagi membenarkan kedua pria dan barang bukti diamankan. “Kedua pria itu diserahkan ke Sat Narkoba Polresta Deli Serdang untuk proses penyidikan dan pengembangan,” ungkapnya. (btr)