Home Blog Page 5152

Dugaan Malapraktik RSU Muhammadiyah, Keluarga Minta Oknum Dokter Dipecat

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rumah Sakit Umum (RSU) Muhammadiyah hingga kini belum juga menentukan sikap, terkait pasien bernama Fathir Arif Siahaan, bocah berusia 2,7 tahun yang diduga meninggal dunia akibat korban malapraktik oknum dokter Unit Gawat Darurat (UGD) Pihak rumah sakit tersebut kembali meminta waktu kepada keluarga korban untuk memberi kepastian.

Paman Fathir, Jamil Zeb Tumori mengatakan, manajemen RSU Muhammadiyah memang belum ada memberi keputusan mengenai pertanggungjawaban mereka dalam permasalahan ini. Sebab, mereka meminta waktu kembali dan akan memutuskan dalam pertemuan lanjutan Kamis (1/8). “Tadi (kemarin, Red) saya mendapat kabar dari pihak rumah sakit, bahwasanya mereka memohon waktu pengunduran untuk mengambil keputusan besok (hari ini, Red) siang setelah ba’da zuhur,” ujar Jamil kepada Sumut Pos, Rabu (31/7).

Menurut Jamil, alasan pihak rumah sakit kali ini karena mereka baru melakukan pertemuan dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Pertemuan tersebut, katanya, terkait bagaimana langkah-langkah yang akan ditentukan.

“Kami pada intinya tetap dengan keputusan awal yaitu menuntut pertanggungjawaban pihak rumah sakit. Untuk itu, kami siap menempuh jalur hukum karena keluarga kami mendapat perlakuan yang tidak adil hingga menyebabkan keponakan kami meninggal dunia,” tegas Jamil yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Sibolga ini.

Tak hanya itu, lanjutnya, pihak keluarga juga menuntut agar dua oknum dokter yang menangani Fathir diberi sanksi tegas. Kabarnya, kedua oknum dokter itu baru setahun bekerja di sana. “Kita meminta juga diberi tindakan disiplin kepada kedua oknum dokter yang bersangkutan, bahkan diberhentikan. Jangan sampai jatuh korban lagi berikutnya, dan jangan main-main dengan nyawa manusia,” tegasnya.

Senada disampaikan ayah Fathir, Arifin Siahaan, pihak rumah sakit harus bertanggungjawab atas perbuatan oknum dokternya. “Mereka harus mengakui kesalahan yang telah diperbuat hingga anak saya meninggal dunia. Padahal, ketika itu saya sudah mendesak agar Fathir diopname tetapi tidak juga dilakukan oleh dokter yang merawatnya,” ucap Arifin sembari berharap agar kejadian yang dialami anaknya tidak terulang kembali di RSU Muhammadiyah.

Sementara, Humas RSU Muhammadiyah, Ibrahim Nainggolan mengakui pihaknya meminta waktu lagi untuk menentukan keputusan dalam masalah ini. Alasannya, persoalan ini perlu dibahas dengan pimpinan UMSU. “Rencananya begitu pertemuan pada Kamis siang (1/8), karena harus bertemu dengan pimpinan UMSU untuk menyampaikan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Mohon maaf atas ketidaknyaman,” katanya singkat.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kota Medan, Irsal Fikri sangat menyayangkan adanya ulah oknum dokter yang mengabaikan keselamatan nyawa pasien. Apalagi, korbannya merupakan anak yang masih berusia 2,7 tahun.

“Kita minta kepada IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Medan untuk turun tangan melakukan penelusuran terhadap oknum dokter yang diduga melakukan malapraktik di RSU Muhammadiyah. Selain itu, melakukan pemanggilan untuk meminta keterangan seperti apa kejadiannya,” ujar Irsal, kemarin.

Menurut Irsal, apapun ceritanya ketika ada pasien datang ke rumah sakit apalagi dalam kondisi luka bakar yang lumayan parah, maka semestinya sudah tahu langkah yang diambil. Ditambah lagi, keluarga pasien sudah mendesak untuk diopname. Jadi, bukan sekadar ditangani begitu saja dan diberi resep obat, lalu disuruh pulang untuk rawat jalan.

“Pihak rumah sakit harus bertanggung jawab dan segera mengambil tindakan terhadap oknum dokter yang bersangkutan. Jangan dianggap permasalahan ini biasa, karena ini menyangkut nyawa orang lain yang sudah meninggal. Kemudian, jangan sampai nama baik RSU Muhammadiyah tercoreng menjadi buruk akibat ulah oknum dokter yang tidak bertanggung jawab,” tegas Irsal.

Ia menyarankan kepada pihak keluarga untuk melaporkan persoalan ini ke Komisi II DPRD Medan untuk melakukan rapat dengar pendapat apabila belum ada solusinya. Tak hanya itu, bisa juga melaporkan oknum dokternya ke pihak berwajib dan IDI (Medan) untuk menindaklanjutinya.

Diketahui, bocah yang tinggal di Jalan Cicak Rawa III/Tangguk Bongkar 1 Perumnas Mandala, Medan Denai, meninggal dunia diduga akibat korban malapraktik oknum dokter UGD RSU Muhammadiyah. Bocah itu mengalami luka bakar sekitar 60 persen di tubuhnya, tetapi hanya dikasih resep obat oleh oknum dokter rumah sakit yang berada di Jalan Mandala By Pass.

Semula, Fathir yang mengalami luka bakar di bagian leher, dada, perut, punggung, tangan dan paha kanan dilarikan keluarga korban ke rumah sakit tersebut pada Kamis (25/7) siang sekitar pukul 11.00 WIB. Luka bakar itu akibat terkena kuah panas gulai sayur daun ubi, sewaktu bermain di rumah neneknya, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Saat di UGD RSU Muhammadiyah, Fathir langsung dibawa ke salah satu ruangan dan diberikan pertolongan oleh dokter yang menanganinya yaitu dokter Fitriyani dan Dokter Hendra. Selanjutnya, orangtua korban meminta kepada dokter tersebut agar diopname karena melihat kondisi luka bakarnya lumayan parah. Akan tetapi, dokter malah menyarankan untuk pulang atau dirawat di rumah.

Karena merasa yakin dengan perkataan dokter, pihak keluarga kemudian membawa Fathir pulang ke rumah. Namun, tetap resah dan khawatir karena bocah tersebut terus-terusan menangis sembari teriak merintih kesakitan. Tak mau ambil risiko, orangtua korban ketika hendak berangkat kerja pada Jumat (26/7) pagi menyempatkan datang ke rumah sakit tersebut dan bertemu dokter Hendra yang menangani anaknya. Namun lagi-lagi ketika diminta supaya diopname, dokter itu menyarankan dirawat di rumah saja.

Singkat cerita, siang harinya ayah korban memutuskan membawa Fathir ke RSU Haji Medan. Sesampai di rumah sakit itu, langsung ditangani dan diperban. Tapi, dokter yang menanganinya terkejut dan marah-marah karena korban tak dilakukan opname di rumah sakit sebelumnya. Setelah sempat ditangani serius, Allah berkehendak lain. Ternyata, anak ketiga dari empat bersaudara itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 19.30 WIB karena dehidrasi atau kekurangan cairan. (ris/ila)

Kehadiran RSU Tipe C di Medan Utara Harus Mampu Melayani Kesehatan Berkualitas

istimewa/sumut pos MAKET: Gambar maket RSU Tipe C di Medan Utara. Saat ini RS tersebut tengah proses pembangunan.
MAKET: Gambar maket RSU Tipe C di Medan Utara. Saat ini RS tersebut tengah proses pembangunan.
istimewa/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pembangunan Rumah Sakit Umum (RSU) Tipe C sudah rampung mencapai 45 persen. Kehadiran rumah sakit pemerintah beralamat di Jalan KL Yos Sudarso, Simpang Seruwai Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan berkualitas. Demikianlah diharapkan Tokoh Masyarakat Medan Utara, Awalludin, Rabu (31/7).

Menurut pria yang akrab disapa Awel ini, dengan adanya rumah sakit Tipe C di Medan Utara merupakan langkah baik yang dilakukan pemerintah daerah untuk melakukan pemerataan pembangunan. Namun, ia berharap, pelayan kesehatan dapat juga ditingkatkan.

Artinya, pelayanan tidak hanya sebatas medis. Namun, perlu peningkatan pelayanan dari segi SDM dan peralatan untuk memberikan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat. Sehingga, apa yang diharapkan untuk mewujudkan masyarakat sehat dapat berjalan dengan baik.

“Kita bersyukur, masyarakat Medan Utara tidak lagi jauh untuk berobat ke rumah sakit Pirngadi. Kita berharap, fasilitas di rumah sakit ini harus canggih sesuai yang diharapkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan nantinya,” ujarnya.

Kehadiran rumah sakit Tipe C, kata awel, tidak hanya memprioritaskan pelayanan. Tapi, harus mampu melakukan sosialisasi pencegahan dampak penyakit di masyarakat dengan turun ke lingkungan.

“Kita memang ada beberapa Pukesmas, tapi dengan hadirnya rumah sakit ini nanti harus bisa bersama – sama mencegah penyakit dengan sosialisasi di masyarakat, misalnya gizi buruk dan penyakit menular,” pungkas Awel.

Ketua Bapillu PAN Kota Medan ini berharap, pembangunan yang sedang berlangsung dapat terlaksana sesuai dengan waktu kontrak yang telah ada di proyek kerja. Sehingga, kerampungan rumah sakit dapat selesai sesuai waktu dan tidak mengecewakan masyarakat.

Hal senada juga dikatakan Tokoh Pemuda Medan Utara, Alfian MY, hadirnya rumah sakit ini menjadi harapan yang dapat membantu masyarakat di Medan Utara. Masyarakat tidak lagi jauh untuk berobat ke rumah sakit pemerintah.

“Ini adalah cita – cita yang diinginkan masyarakat Medan Utara. Walaupun begitu, jangan nantinya pelayanan yang akan dirasakan masyarakat tidak baik, pemerintah harus benar – benar melakukan pengawasan berdirinya rumah sakit ini untuk pelayanan ke masyarakat,” tegas uAlfian.

Aktivis nelayan ini juga berharap, pembangunan yang sedang berlangsung tidak meleset dari waktu yang telah ditetapkan. Sebab, impian masyarakat yang sudah lama diharapkan bisa dinikmati awal tahun 2020. (fac/ila)

Amplas & Pinangbaris Dikelola Pusat, Kemenhub Diminta Kelola secara Profesional

TERMINAL PINANGBARIS: Seorang warga melintas didepan Terminal Pinang Baris, Jalan TB.Simatupang Medan. Terminal ini dalam proses penyerahan aset ke pusat.
TERMINAL PINANGBARIS: Seorang warga melintas didepan Terminal Pinang Baris, Jalan TB.Simatupang Medan. Terminal ini dalam proses penyerahan aset ke pusat.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rencana penyerahan aset dan pengelolaan dua terminal tipe A kota Medan, yakni terminal terpadu Amplas dan terminal terpadu Pinangbaris dari Pemko Medan ke pemerintah pusat, yaitu Kementerian Perhubungan (Kemenhub), tengah dalam proses.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Medan, Mont Gomery Munthe menyambut baik hal itu.

“Kami sangat mendukung itu, karena kami yakin dan percaya kalau Kemenhub bisa membawa perubahan besar bagi terminal-terminal tipe A di Kota Medan. Sekaligus, kami berharap agar Kemenhub dapat mengelola kedua terminal itu menjadi jauh lebih baik dan profesional,” ujar Mont Gomery Munthe kepada Sumut Pos, Rabu (31/1).

Disebutkan Gomery, kondisi kedua terminal tipe A itu memang sangat jauh dari kata layak, hingga wajar bila para penumpang enggan untuk masuk ke dalam terminal.

“Siapa penumpang yang mau masuk ke terminal kalau kondisinya begitu? Saya sendiri kalau jadi penumpang, saya tidak mau,” paparnya.

Untuk itu, kata Gomery, pihaknya sangat setuju apabila Kemenhub akan membangun kedua terminal itu menjadi terminal kelas bandara. Dengan segala fasilitas dan kenyamanan sekelas bandara yang nantinya ada di Terminal tipe A, tentu akan membuat para penumpang untuk datang berbondong-bondong dengan sendirinya kedalam terminal.

“Nanti katanya kemungkinan ada mal di kawasan terminal, ada tempat perbelanjaan, seperti bandara lah, begitu yang kami dengar. Kalau benar seperti itu, tentu lah kami dukung. Dan bila nantinya kondisi terminal sudah seperti demikian, tentu kami siap masuk terminal,” kata Gomery.

Diakui Gomery, selama ini pihaknya bukan tidak mau ditertibkan untuk masuk ke dalam terminal. Hanya saja, kondisi terminal yang tidak layak membuat tidak adanya penumpang di dalam terminal. Para penumpang pun memilih berada di luar terminal untuk menunggu bus yang ingin ditumpanginya. Akibatnya para awak bus juga memilih untuk berada di luar terminal agar dapat dijangkau dengan mudah oleh para penumpang.

“Tapi kalau nantinya terminal senyaman itu, pastilah penumpang masuk ke terminal. Kalau sudah banyak penumpang di terminal, tentulah kami siap untuk ditertibkan. Bahkan kami akan masuk sendiri tanpa ditertibkan. Intinya, kami siap ditertibkan, tapi pastikan terminal jadi sarana Ramah Penumpang agar terminal jadi ramai penumpang,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua komisi IV DPRD Medan, Abdul Rani menyebutkan, pengalihan kedua terminal itu nantinya harus dapat dibuktikan oleh Kemenhub sebagai sebuah hal yang benar. Kemenhub harus dapat membuktikan bahwa rencana revitalisasi kedua terminal itu menjadi terminal kelas bandara adalah benar adanya dan dapat dinikmati oleh warga Medan yang merupakan penumpang alat transportasi umum.

Selain itu, lanjut Abdul Rani, pihak Kemenhub juga berkewajiban untuk menertibkan pool bus liar yang berada diluar terminal agar nantinya pembangunan kedua terminal tersebut tidak sia-sia.

“Setelah dibangun terminal yang nyaman, kemenhub juga wajib untuk menertibkan pool bus liar, mereka harus masuk terminal karena sudah tidak ada alasan lagi untuk berada diluar terminal. Kalau mereka tidak masuk juga, maka apa artinya dibangun terminal itu. Kemenhub bisa bekerjasama dengan Dishub dalam menertibkannya,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kemenhub akan melakukan revitalisasi atau perbaikan 38 terminal type A di seluruh Indonesia dengan anggarkan dana Kemenhub Rp1,2 triliun. Setiap terminal type A akan diberikan dana revitalisasi senilai Rp40 miliar- Rp50 miliar. Hal itu dilakukan agar seluruh terminal kelas I di Indonesia bisa memiliki fasilitas sekelas Bandara

Direktur Prasarana Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat, M. Risal Wasal mengatakan, penyerahan asset terminal ini, karena kebijakan tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 tahun 2014 tentang pengelolaan terminal type A dan jembatan timbang untuk dialihkan ke pemerintah pusat.

Risal mengatakan, pemerintah pusat berharap agar penyerahan aset dan pengelolaan kedua terminal tipe A tersebut dapat dilakukan secepatnya. Sebab pihaknya ingin segera melakukan perubahan pelayanan, serta menjadikan Terminal Terpadu Amplas dan Pinangbaris menjadi terminal berkelas dunia, atau terminal dengan fasilitas sekelas bandara.

“Nantinya, kata Risal, kedua terminal itu akan dilengkapi beberapa fasilitas pendukung. Namun, untuk fasilitas tersebut, pemerintah daerah yang menyampaikan kepada pusat.

“Misalnya daerah butuh hotel, gedung pertemuan yang representatif, gedung life style dan sebagainya. Fasilitas itu juga menjadi pertimbangan kami untuk dibangun di kedua terminal tersebut. Yang pasti, kami akan mengubahnya menjadi terminal smart dengan didukung sistem digitalisasi, sumber daya manusia (SDM) yang profesional dan faktor pendukung lain,” paparnya baru-baru ini. (map/ila)

DPRD Sumut dan DPRD Tobasa, Desak Presiden Cabut Izin Pencemar Danau Toba

KUNKER: Suasana kunker DPRD Tobasa di Ruang Banmus DPRD Sumut, Selasa (30/7) sekaitan isu pencemaran air Danau Toba yang diduga dilakukan perusahaan-perusahaan raksasa di kawasan tersebut. PRAN HASIBUAN/SUMUT POS
KUNKER: Suasana kunker DPRD Tobasa di Ruang Banmus DPRD Sumut, Selasa (30/7) sekaitan isu pencemaran air Danau Toba yang diduga dilakukan perusahaan-perusahaan raksasa di kawasan tersebut. PRAN HASIBUAN/SUMUT POS

MEDAN, SUMUTPOS.CO – DPRD Sumatera Utara dan DPRD Toba Samosir (Tobasa) sepakat meminta Presiden Joko Widodo untuk mencabut izin perusahaan pencemar lingkungan air Danau Toba. Sebab, pencabutan izin operasional perusahaan modal asing (PMA) tersebut merupakan kewenangan presiden.

Isu pencemaran Danau Toba terus mengemuka belakangan ini. Terlebih ada indikasi perusahaan raksasa sebagai sumber masalah atas kualitas air danau vulkanik terbesar di dunia tersebut. Seperti terungkap dalam kunjungan kerja (kunker) Komisi B DPRD Tobasa ke DPRD Sumut, Selasa (30/7). Kesempatan itu, Komisi B DPRD Tobasa menyampaikan aspirasi dan kerisauan mereka akan kualitas air Danau Toba yang kian hari kian menurun.

Menurut Ketua Komisi B DPRD Tobasa, Tua Parasian Silaen, melalui kunker mereka ini penting untuk disuarakan, mengingat Danau Toba masuk kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). “Ini ‘kan banyak ya dugaan-dugaan perusahaan plat merah dan asing yang membuang limbahnya ke Danau Toba. Lalu ada perusahaan peternak babi yang diduga juga membuang limbahnya langsung ke danau. Kemudian masalah enceng gondok, PT TPL (Toba Pulp Lestari), Inalum yang ada kaitan ke Tobasa, terus kita soroti semua itu,” ujar Tua usai pertemuan kepada wartawan.

Kunker ini, kata dia, bagian dari upaya koordinasi mereka ke DPRD Sumut dan stakeholder terkait lainnya, untuk menjaga kelestarian air Danau Toba dari segala pencemaran lingkungan kawasan tersebut. “Kami juga akan kunjungi perusahaan di sana guna menanyakan seberapa besar manfaat kehadiran mereka, dan tingkat pencemaran yang mereka lakukan sudah sejauh mana,” katanya didampingi Wakil Ketua Wilson Pangaribuan dan anggota Liston Hutajulu.

“Namun sudah dijelaskan tadi oleh DPRD provinsi, bahwa telah ada upaya dan tindakan yang dilakukan terkait kelestarian Danau Toba,” sambung Tua.

Kehadiran rombongan Komisi B DPRD Tobasa sebelumnya disambut sejumlah anggota DPRD Sumut. Antara lain Sutrisno Pangaribuan, Richard Sidabutar, dan Dameria Sikumbang. Sedangkan hadir mewakili Pemprovsu, Kepala Bidang Pengendalian dan Kerusakan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumut, Mariduk Sitorus.

Richard Sidabutar mengatakan, pemerintah pusat telah menetapkan 10 destinasi parawisata dan ada lima destinasi prioritas salah satunya Danau Toba. Kata dia, guna mendukung Danau Toba sebagai KSPN, pemerintah pusat sebelumnya telah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti Perpres 49/2016 tentang Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, dan Perpres 81/2018 tentang RTRW Pengembangan kKwasan Strategis Danau Toba.

“Berbicara wisata kelas dunia, tidak ada artinya kalau lingkungan di sekitar wisata itu tercemar. Langkah yang telah dilakukan pemprov, Gubsu telah menerbitkan SK tentang daya dukung dan daya tampung budidaya ikan di sekitar danau yakni 10 ribu ton,” katanya.

Terkait dugaan pencemaran lingkungan bawah air Danau Toba, pihaknya secara tegas menyatakan harus ada upaya dan langkah konkrit, dimana dan siapa yang melakukan pencemaran. “Sementara terkait ikan yang mati diperairan Danau Toba, kita sudah mendorong langkah -langkah hukum dan pemerintah provinsi memberikan tengat waktu 180 hari,” ucapnya.

Sedangkan Sutrisno Pangaribuan menyerukan agar DPRD Sumut dan DPRD kabupaten se kawasan Danau Toba harus sepakat untuk mengembalikan kondisi air danau seperti sedia kala tanpa kerambah jaring apung (KJA). Selanjutnya semua perusahaan yang mengambil kayu di sekitar Danau Toba harus ditutup, dan DLH harus bisa pastikan bahwa limbah PT Alegrindro airnya masih masuk ke dasar danau.

Mayoritas Pencemar

Mariduk Sitorus pada kesempatan itu juga menguak fakta mencengangkan, mayoritas perusahaan yang beroperasi di kawasan Danau Toba dan memanfaatkan sumber air Danau Toba, terindikasi sebagai pencemar atas kualitas air Danau Toba.

“Yang jelas semua perusahaan yang ada di kawasan Danau Toba, itu pasti berindikasi mencemari. Artinya, mereka termasuk sumber pencemar Danau Toba. Termasuk perhotelan-perhotelan. Tapi apakah dikelola dengan baik atau tidak, ini yang belum pernah kita lakukan (pengecekan) sebab itu domestik (domain kabupaten/kota),” katanya.

Diungkapkan dia, sumber limbah yang masuk ke Danau Toba diduga dari PT Aquafarm, Jafpa, TPL, Inalum, Gorga Duma Sari, Taman Simalem Resort, PT Allegrindro, dan domestik. “Kalau Allegrindro sudah melengkapi perizinannya salah satunya pengolahan limbah cair B3. Mereka juga sudah melakukan daur ulang minuman dan mandi ternak. Namun kita juga tidak menjamin bila mereka sewaktu- waktu membuang limbah ke Danau Toba. Terkait Gorga Duma Sari menurut Mahkamah Agung sudah berhenti dan didenda Rp5 miliar serta dipenjara 3 tahun,” katanya.

Ia juga menyebut sudah ada keluar Pemen LH No.68 untuk mengatur persoalan limbah domestik, yang memungkinkan pihaknya ikut andil melakukan pengawasan intens. “Pemprov tidak punya wilayah oleh sebab itu kabupaten/kota yang melakukan. Begitupun kami tetap lakukan monitoring dan supervisi sesuai UU 32/2014,” katanya.

Mariduk menambahkan, pemantauan kualitas air Danau Toba juga kerap pihaknya lakukan melalui UTP di Parapat pertiga bulan sekali, guna mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran Danau Toba. “Sejak SK 188.44/2009/KPTS/2017 tentang Daya Tampung Beban Pencemaran Danau Toba dan SK 188.44/213/Kota/2017 tentang Daya Dukung Danau Toba untuk Budidaya Perikanan 10.000 Ton diterbitkan, ada penurunan signifikan pencemaran air danau melalui aktifitas KJA,” katanya.

Pihaknya optimis melalui penerapan SK dimaksud sampai 2022, kualitas air Danau Toba akan semakin membaik. Ini didasari dari penelitian yang telah pihaknya lakukan bahwa memang 10 ribu ton itu merupakan daya tampung maksimal KJA di Danau Toba. “Jumlah tersebut merupakan maksimal yang boleh dimanfaatkan semua perusahaan dan masyarakat untuk budidaya ikan. Tetapi kerambah yang ada diperairan Danau Toba bukan kita yang melakukan penertiban tetapi pusat yang mencabut izinnya. Kita hanya melakukan analisa dan gambaran saja,” katanya.

Dari sejumlah pandangan soal regulasi, kebijakan dan jawaban pihak Pemprovsu itu, pertemuan tersebut menyimpulkan bahwa diperlukan kewenangan Jokowi selaku top manajemen untuk membersihkan air Danau Toba dari segala aspek pencemaran, baik yang dihasilkan perusahaan maupun domestik. (prn)

Belanda Tertarik Kembangkan Pariwisata Sumut

KALDERA Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana saat meninjau destinasi wisata The Kaldera Toba Nomadic Escape di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Selasa (30/7) siang.
KALDERA: Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana saat meninjau destinasi wisata The Kaldera Toba Nomadic Escape di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Selasa (30/7) siang.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprov) Sabrina menerima kunjungan dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Selasa (30/7).

di ruang kerjanya lantai 9 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan. Kunjungan tersebut membahas rencana kerja sama Pemerintah Belanda dan Sumut di bidang pariwisata.

Sabrina menyambut baik niat dan minat Pemerintah Belanda yang ingin menjalin kerja sama dengan Pemprov Sumut. Apalagi, dalam hal pariwisata. “Sektor pariwisata ini memang salah satu prioritas kita. Khususnya, Danau Toba. Pemerintah pusat juga sangat aktif memberikan dukungan. Bahkan, hari ini, Pak Jokowi sedang kunjungan (ke Sumut) salah satunya terkait pengembangan wisata Danau Toba itu,” jelas Sabrina.

Memang tidak mudah dan tentu membutuhkan proses panjang untuk menjadikan Danau Toba sebagai Bali baru. Untuk itu, kata Sabrina, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama. “Selain itu, kerja sama dan masukan dari pihak luar dan para ahli juga tentu dibutuhkan. Contohnya, seperti kerja sama yang kita bahas hari ini. Mudah-mudahan, dengan sinergi yang baik antar pemerintah dan dukungan serta bantuan kerja sama, bisa membantu mempercepat perwujudan apapun yang menjadi tujuan kita,” tuturnya.

Sebelumya, disampaikan dan presentasikan bidang-bidang atau potensi Sumut yang terbuka untuk menjalin kerja sama. Masing-masing dijelaskan oleh OPD atau yang mewakili dinas-dinas terkait. Kepala Konselor untuk urusan ekonomi Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, Hans de Brabender menyampaikan bahwa pihaknya terbuka untuk kerja sama bidang-bidang apa saja yang mendukung pariwisata di Sumut. “Namun, yang ingin kami prioritaskan adalah bidang edukasi yang menunjang percepatan sektor pariwisata,” katanya.

Misalnya, sebut Hans, mengedukasi masyarakat untuk sektor hospitality, mengedukasi masyarakat untuk konservasi dan pelestarian lingkungan, edukasi tentang pengelolaan air, dan bidang lainnya yang pada akhirnya akan menunjang pariwisata. “Karena sebenarnya pariwisata itu tidak berdiri sendiri, banyak hal lain yang mendukung. Hal-hal kecil yang terlupakan. Edukasi itu merupakan investasi jangka panjang, karena yang dibangun adalah karakter SDM atau masyarakat setempat yang akan merawat dan melestarikan daerah wisata itu sendirinya,” ucap Hans.

Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan untuk membuat kerangka acuan atau kerangka kegiatan dari masing-masing dinas. Sehingga, pada pertemuan berikutnya, yang direncakan pada akhir tahun 2019 nantinya tinggal membahas teknis dan menjalankan proyek tersebut. Untuk kerja sama tersebut, Belanda mengatakan siap untuk mengucurkan dana sebesar 200.000 Euro atau setara kurang lebih Rp3 miliar .

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Direktur Nuffic Neso Indonesia Peter van Tuijl, Konsul Kehormatan Belanda Ony Hindra Kusuma, Senior Advisory of Economic Policy Kedutaan Belanda Charles A Widjaja, Konsulat Belanda Satyananda Kusuma, OPD Pemprov Sumut. (rel)

Jokowi Minta Investor Hotel Bergerak

istimewa ANTUSIAS: Masyarakat antusias ingin bertemu dengan Presiden Joko Widodo saat mengunjungi taman wisata rohani Salib Kasih di Tarutung, Selasa (30/7).
ANTUSIAS: Masyarakat antusias ingin bertemu dengan Presiden Joko Widodo saat mengunjungi taman wisata rohani Salib Kasih di Tarutung, Selasa (30/7).
istimewa

TOBASA, SUMUTPOS.CO – Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) akan menjadikan industri pariwisata di Danau Toba sebagai pemicu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pembangunan 28 destinasi pariwisata di kawasan ini diproyeksikan selesai tahun 2020. Untuk itu, investor hotel, resort, dan sebagainya diminta secepatnya bergerak membangun. Investor yang lambat akan segera diganti.

SETELAH sehari sebelumnya mengunjungi Humbang Hasundutan (Humbahas) dan Tapanuli Utara (Taput), Presiden Jokowi dan rombongan melanjutkan agenda kunjungan kerja ke destinasi wisata The Kaldera Toba Nomadic Escape, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Selasa (30/7) siang.

Jokowi didampingi sejumlah menterinya, sangat terpukau dengan pemandangan danau vulkanik terbesar di dunia itu. Ia mengatakan, wisata The Kaldera Toba Nomadic Escape dan Geosite Sipinsur harus menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus). “Kita menyelesaikan di sini (The Kaldera Toba Nomadic Escape) dulu, di Toba Samosir dengan 386 hektar. Lalu kita pindah ke Humbang Hasundutan (Geosite Sipinsur) dengan 533 hektar,” tutur Jokowi.

Jokowi memerintahkan pengembangan pembangunan pariwisata dilakukan secepatnya. Para investor

sarana dan prasarana, diminta segera ikut membangun. Seperti investor hotel mewah berbintang 5, resort, hingga padang golf.

“Nanti kalau hotel di sini, pasti dong sayur dan buah bisa masuk hotel. Lapangan kerja terbuka, barang kerajinan di sini banyak sekali seperti ulos, dan kriya (hand craft),” ungkap Jokowi kepada wartawan.

Mantan Wali Kota Solo itu mengungkapkan, Pemerintah Indonesia tengah menyelesaikan pembangunan di 28 destinasi wisata di kawasan Danau Toba. Termasuk infrastruktur dan seluruh fasilitas menunjang objek wisata. Pengerjaannya akan selesai pada tahun 2020 mendatang.

Ia menjelaskan, pembangunan tersebut tidak bisa dititikberatkan kepada Pemerintah Pusat saja. Melainkan ada kerjasama dan kordinasi dengan pemerintah daerah di kawasan Danau terbesar di Asia Tenggara itu. Dengan begitu, perencanaan pembangunan akan berjalan sesuai dengan target.

“Sekarang kerjanya memang harus seperti itu. Ini kerja berbarengan berintegrasi pusat, provinsi, daerah bagi-bagi. Tadi malam (kemarin,red) sudah kita bagi semua (tugas-tugasnya),” jelasnya.

Jokowi mengatakan, pihaknya merampungkan pembebasan lahan otorita seluas 386 hektar di kawasan Sibisa. Lahan itu bakal dikelola Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT). Objek wisata yang sudah rampung baru The Kaldera Toba Nomadic Escape. “Tadi perintah saya secepatnya dimulai.

Baik itu yang tanggung jawab pemerintah, infrastruktur jalan dan lain-lain. Kalau ini sudah mulai, investor nggak mau mulai, stop, ganti. Saya sudah mulai tegas-tegas. Kalau nggak, kapan mulai? Tempat yang sangat bagus begini gampang dicari investor,” kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI itu mengatakan, lahan tersebut akan dibangun juga sarana dan prasarana seperti hotel mewah berbintang 5, resort, hingga padang golf. Jokowi merencanakan pembangunan fasilitas mewah itu, diproyeksi bisa digunakan untuk Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). “Wisatanya juga komplit, wisata air ada, air terjun ada, alam ada, religi ada. Komplit,” sebut Presiden terpilih di Pemilu 2019 itu.

Jokowi juga mengharapkan ke depannya dengan pembangunan fasilitas objek wisata kelas dunia itu, dapat dirasakan masyarakat sekitar untuk kesejahteraan.

Menteri PU-PR Basuki Hadimuljono menambahkan, semua akses dari satu lokasi ke lokasi lain akan

disiapkan sesuai rencana. Untuk anggarannya pada 2020 mendatang bahkan sudah dialokasikan sebesar Rp2,4 triliun di kawasan Danau Toba. Porsinya diatur berdasarkan seberapa luas pekerjaan, tergantung banyaknya destinasi. Sehingga tidak dibagi menurut jumlah kabupaten.

“Yang paling besar (untuk saat ini), Tobasa dan Samosir. Karena ada banyak kegiatan seperti jalan lingkar, dermaga Tomok, Pangururan. Ada Desa Ulos, Waterbond City. Untuk Tano Ponggol, jembatannya sedang jalan (proses pembangunan). Tadinya 25 meter (lebar aliran air), sekarang mau dijadikan 80 meter. Supaya perahu bisa keliling (Danau Toba),” jelasnya, sambil menunjukkan bahan paparan rencana dan anggaran pembangunan oleh Kemen PU-PR.

Untuk Tobasa, termasuk Simalungun, ada pengembangan lokasi sekitar dermaga di Ajibata. Kemudian menjadikan Desa Sigapiton di bawah Toba Nomadic Escape di Sibisa, sebagai desa wisata. “Ini seperti Parapat, nanti Pantai Bebas kita mau buat seperti ini. Termasuk kawasan pedestiran akan kita perbaiki. Jadi semua ada programnya” pungkas Basuki.

Tinjau Lokasi Wisata Rohani Salib Kasih

Dalam kunjungan kerja kemarin(30/7), Presiden beserta rombongan didampingi Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, juga berkunjung ke lokasi wisata rohani Salib Kasih di Siatas Barita, Tarutung, Tapanuli Utara (Taput). Meskipun diselimut kabut tebal, namun antusias ribuan warga setempat tidak surut untuk bertemu langsung dengan orang nomor 1 di Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, Jokowi melihat dan mendengarkan paparan dari Bupati Taput Nikson Nababan tentang keberadaan Salib Kasih. Lokasi seluas 72 hektare itu dikunjungi sekurangnya 2.000-an orang setiap bulannya. Mulai dari wisatawan lokal hingga nusantara.

Ditunjuk sebagai satu dari puluhan titik kunjungan di kawasan Danau Toba dan sekitarnya. Tempat bersejarah itu juga terdiri dari beberapa zona, di antaranya zona komersial, zona sejarah, zona rekreasi dan permainan, zona ibadah, dan zona taman margasatwa. Seluruhnya disiapkan untuk menampung wisatawan yang ingin memilih zona tertentu. Termasuk penjualan cenderamata sebagai buah tangan khas daerah itu.

Jokowi bersama Ibu Negara Iriani Joko Widodo juga sempat melihat pameran kecil ulos dan pernak-pernik yang biasa disajikan pengelola tempat wisata di pintu masuk menuju bangunan Salib Kasih di bagian atas bukit, tidak jauh dari lokasi kunjungan Presiden.

Sementara di bagian halaman zona rekreasi dan permainan serta panggung seni di depan pintu masuk, ribuan warga dari segala usia ikut memadati lokasi tersebut. Jokowi pun menyapa warga yang sedikit berdesakan ingin melihat Presiden dari dekat.

Usai melihat lokasi wisata rohani Salib Kasih, Jokowi pun beranjak menuju lokasi kunjungan berikutnya ke Toba Nomadic Escape di Sibisa, Kabupaten Tobasa. Namun perjalannya menuju pintu keluar dihambat ribuan warga yang ingin menemui Presiden sekaligus mengambil kesempatan bersalam hingga berswafoto.

Kerumunan warga yang telah hadir sejak pagi sekitar pukul 07.30 WIB, mengelilingi Jokowi bersama Gubernur Sumut untuk mengabadikan gambar kunjungan Presiden, yang untuk pertama kali datang ke tempat tersebut.

Terintegrasi

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengakui, perintah Presiden kepada pemerintah provinsi adalah bagaimana untuk penyediaan lahan. Namun prinsipnya adalah dari bawah ke atas, atau melibatkan masyarakat. “Ini ‘kan tanah hutan lindung yang harus dilegalkan. Boleh dia menggunakan hutan lindung, tetapi tidak boleh merusak kondisi hutan itu,” kata Edy.

Terkait koordinasi pembangunan yang terintegritas antar kabupaten se-kawasan Danau Toba, Edy menyebutkan setiap daerah punya perbedaan, namun tetap satu tujuan wisata. Dengan demikian katanya, akan banyak pilihan wisatawan. “Inilah namanya terintegrasi. Baik dari pertama datang dari Silangit (bandara), ada juga yang turun di Sibisa. Ataupun nanti yang turun dari Kualanamu (bandara) menuju ke mari. Melintasi Deliserdang, Tebingtinggi, Siantar baru masuk ke mari,” jelasnya.

Perjalanan dari bandara ke lokasi wisata, lanjut Gubernur, juga akan dibuat pengantar sebelum sampai ke destinasi. Untuk itu pula pihaknya akan mempersiapkan pembangunan pariwisata dengan prinsip terkoordinasi.

Edy juga mengapresiasi perhatian Presiden dan Pemerintah Pusat kepada kawasan Danau Toba dan sekitarnya, sebagai tujuan wisata andalan di Sumut, bahkan Nusantara. “Ada puluhan lokasi wisata seperti ini di 7 kabupaten se-kawasan Danau Toba. Yang nanti akan dikembangkan. Kita berharap turis lokal maupun internasional akan datang ke tempat ini,” ujar Gubernur.

Turut hadir Menko Maritum Luhut Panjaitan, Kepala Staf Presiden Moeldoko, Menteri PU-PR Basuki Hadimuljono, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Sementara dari Sumut, ikut mendampingi Ketua TP-PKK Sumut Nawal Edy Rahmayadi, Bupati Taput Nikson Nababan, Kadis Pariwisata Sumut Hidayati, Kepala Kesbangpol Sumut Anthony Siahaan serta pejabat lainnya. (gus/prn)

Pelepasan Calhaj Tobasa, Hanya Tiga Orang, Bupati Ikut Mengarak

Agusman/Sumut Pos TIBA: Tiga Calhaj asal Tobasa yang tergabung dalam Kloter 18 Embarkasi Medan, saat di Asrama Haji Medan, Selasa (30/7).
TIBA: Tiga Calhaj asal Tobasa yang tergabung dalam Kloter 18 Embarkasi Medan, saat di Asrama Haji Medan, Selasa (30/7).
Agusman/Sumut Pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelepasan tiga calon jamaah haji (calhaj) asal Toba Samosir (Tobasa) yang tergabung dalam kloter 18, berlangsung meriah. Ketiga calhaj itu diarak dengan berjalan kaki, dikawal oleh Bupati serta unsur Muspida lainnya menuju Asrama Haji Medann

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kabupaten Toba Samosir, H Hamdan Manurung mengatakan, tahun ini ada 3 orang calhaj dari Tobasa. Meski demikian, ketiganya tetap diberangkatkan sesuai dengan prosedur Kabupaten dan Kota lainnya.

“Kita nggak mau kalah. Kita selalu berlomba-lomba untuk kebaikan terutama untuk para jamaah calon haji,” sebut Hamdan Manurung di Asrama Haji Medan, Selasa (30/7).

Hamdan menguraikan, sebelum diberangkatkan ke Asrama Haji Medan, para tamu Allah ini terlebih dahulu dikumpulkan di Mesjid Al-Hadhonah, Balige. Hadir disana, Bupati dan Kapolres Balige serta Ketua DPRD. Selain ditepungtawari, para calon haji itu diberi santunan sebagai pengganti kain ihram.

“Usai dari sana, ketiganya bersama unsur Muspida dengan berjalan kaki diarak hingga sampai jembatan Juaramonang, perbatasan Balige. Saat diarak itulah, warga yang melihat sangat antusias. Bahkan mereka rela meninggalkan aktivitas dagangnya untuk menyaksikan arakan ini,” beber Hamdan.

“Terlihatlah kerukunan di sana. Cerminan NKRI nampak di sana. Tidak ada suasana sektarian, yang ada egalitarian,” sambungnya.

Ketiga orang jamaah calon haji ini akan bergabung dengan Kloter 18 yang juga berasal dari sejumlah daerah yakni, Medan, Taput, dan Humbahas.

“Jamaah calon haji kita yang tertua berusia 70 tahun dan termuda 50 tahun,” pungkasnya.

Jumlah jamaah calon haji asal Tobasa yang berangkat tahun ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Pada 2018 hanya ada satu jamaah haji dari kabupaten itu bernama Rusti Jabona Silalahi (63) dan tergabung dalam Kloter 8/MES. (man)

Letak Ibu Kota Baru Diumumkan Agustus

Yayat Supriatna, Pengamat Tata Kota
Yayat Supriatna, Pengamat Tata Kota

TOBASA, SUMUTPOS.CO – Pengumuman pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Pulau Kalimantan, akan disampaikan oleh Presiden Joko Widodo bulan Agustus 2019 mendatang. Saat ini, tim pemerintah masih terus melakukan pengkajian.

“Dari dulu sudah saya sampaikan pindah ke Kalimantan. Tapi Kalimantan mana, itu yang belum. Nanti kita sampaikan Agustus,” ungkap mantan Gubernur DKI itu, kepada wartawan saat melakukan Kunjungan Kerja di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Selasa (30/7).

Jokowi menjelaskan pengkajian dilakukan untuk memastikan dan melihat dampak segi kebencanaan hingga sosial politik. Semua itu, menjadi syarat utama sebuah daerah untuk layak menjadi ibu kota negara. “Kajiannya belum rampung. Kalau sudah rampung kajian mengenai kebencanaan, air, ekonomi, demografinya, masalah sosial politik, dan keamanannya,” tutur Presiden terpilih di Pemilu 2019 itu.

Sebelumnya, pemerintah menyebut ada empat wilayah yang sedang dikaji menjadi ibu kota baru di Kalimantan Tengah, yakni Palangkaraya, Gunung Mas, Pulau Pisang, dan Katingan. Kemudian di Kalimantan Timur seperti di Bukit Soeharto.

Pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan setidaknya akan memakan anggaran mencapai Rp 466 triliun. Dananya bersumber dari APBN, BUMN, dan pihak swasta.

Jokowi menambahkan, pemindahan ibu kota harus dipikirkan secara matang. Jangan sampaimemberikan dampak negatif. “Kita tidak ingin tergesa-gesa. Tapi ingin secepatnya diputuskan,” tandas mantan Wali Kota Solo itu.

Bagaimana Nasib DKI Jakarta?

Dengan rencana pindahnya ibu kota, apa dampak yang akan dialami Kota Jakarta? Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, mengatakan baik atau tidaknya perpindahan ibu kota bagi DKI Jakarta ditentukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Itu tergantung Pemprov DKI, apakah mereka mau membantu menata ulang kota atau tidak. Setelah (ibu kota) pindah, mau diapakan?” ujar Yayat, Selasa (30/7/2019).

Pemindahan ibu kota akan berdampak besar bagi Jakarta, khususnya terhadap tingkat kepadatan penduduk Jakarta. Adapun ibu kota baru ini rencananya hanya menampung maksimal 1,5 juta penduduk.

Yayat mengatakan artinya ada 1,5 juta penduduk yang biasa beraktivitas di Jakarta akan pindah ke ibu kota baru. “Sebanyak 1,5 juta penduduk pindah. Berarti kan mobil berkurang, orangnya berkurang, ada kemungkinan kita bisa menekan kepadatan lalu lintas, polusi udara, dan kepadatan permukiman” kata Yayat.

Perpindahan itu tentu juga memberikan kesempatan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan revisi tata ruang. Sebab, selama ini Jakarta memiliki pola dan struktur ruang yang terpusat. Keberadaan pemerintah pusat di tengah Kota Jakarta membuat kota ini dikepung oleh pusat bisnis sekaligus pusat permukiman. Hal inilah yang menimbulkan kepadatan dan kemacetan sebagai masalah besar bagi kota Jakarta.

Yayat menjelaskan, hal penting yang bisa terjadi dari perpindahan ibu kota adalah akan muncul pusat bisnis baru di luar Jakarta. Apalagi jika pemerintah provinsi mau mendukung dan mendorong para pelaku bisnis untuk keluar Jakarta. “Nanti muncul daerah kompetitor bisnis baru, seperti BSD misalnya. Pertumbuhan di sana kan cepat sekali. Dari sana mereka bisa saja lewat tol langsung ke bandara dan terbang ke Kalimantan. Selesai, enggak perlu ke Jakarta lagi,” kata Yayat.

Hal lain yang perlu disoroti adalah peran Pemprov DKI dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Sebagai ibu kota, beberapa persoalan di Jakarta ikut ditangani oleh pemerintah pusat. Namun, setelah ibu kota pindah nanti, perhatian pemerintah pusat kepada Jakarta tidak akan sebesar dulu. Pemprov DKI Jakarta harus bisa menjamin pelayanan dan perhatian terhadap persoalan di DKI Jakarta menjadi prioritas meski tanpa peran pemerintah pusat.

“Sekarang ada Kali Ciliwung yang ditangani Kementerian PUPR, tapi nanti pas (ibu kota) pindah mungkin saja enggak jadi prioritas lagi. Kementerian akan memberikan konsentrasi ke penataan ulang sungai-sungai yang ada di Kalimantan,” ungkap Yayat.

Maka dari itu, dibutuhkan konsep revisi tata ruang kota, terutama konsep pembangunan berkelanjutan green city. Hal ini agar polusi Jakarta yang semakin buruk bisa berkurang. Fungsi-fungsi bangunan yang sudah ada di ring 1 juga jangan sampai diabaikan. Harus diubah menjadi perkantoran yang ramah lingkungan.

Dari segala kemungkinan tersebut, pada intinya beban kota dan kepadatan sudah jelas akan berkurang. Namun, kelanjutan dari pengembangan kota Jakarta ada di tangan Pemerintah Provinsi Jakarta. “Intinya di Pemprov DKI. Lebih bagus, lebih padat, lebih terstruktur, mau jadi apa Jakarta itu tergantung dari revisi tata ruang yang dilakukan” ungkap Yayat.

Hal lain yang perlu disoroti adalah peran Pemprov DKI dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Sebagai ibu kota, beberapa persoalan di Jakarta ikut ditangani oleh pemerintah pusat.

Namun, setelah ibu kota pindah nanti, perhatian pemerintah pusat kepada Jakarta tidak akan sebesar dulu. Pemprov DKI Jakarta harus bisa menjamin pelayanan dan perhatian terhadap persoalan di DKI Jakarta menjadi prioritas meski tanpa peran pemerintah pusat.

“Sekarang ada Kali Ciliwung yang ditangani Kementerian PUPR, tapi nanti pas (ibu kota) pindah mungkin saja enggak jadi prioritas lagi. Kementerian akan memberikan konsentrasi ke penataan ulang sungai-sungai yang ada di Kalimantan,” ungkap Yayat. Baca juga: Ibu Kota Baru Indonesia, dari Proses hingga Pemilihan Kalimantan…

Maka dari itu, dibutuhkan konsep revisi tata ruang kota, terutama konsep pembangunan berkelanjutan green city. Hal ini agar polusi Jakarta yang semakin buruk bisa berkurang. Fungsi-fungsi bangunan yang sudah ada di ring 1 juga jangan sampai diabaikan. Harus diubah menjadi perkantoran yang ramah lingkungan. Dari segala kemungkinan tersebut, pada intinya beban kota dan kepadatan sudah jelas akan berkurang.

Namun, kelanjutan dari pengembangan kota Jakarta ada di tangan Pemerintah Provinsi Jakarta. “Intinya di Pemprov DKI. Lebih bagus, lebih padat, lebih terstruktur, mau jadi apa Jakarta itu tergantung dari revisi tata ruang yang dilakukan” ungkap Yayat. (gus/kps)

Jalan Lingkar Samosir Diperlebar Sepanjang 145,9 Km

JALAN LINGKAR: Preservasi dan pelebaran jalan lingkar Pulau Samosir akan mempermudah konektivitas antardestinasi wisata di kawasan Danau Toba.
JALAN LINGKAR: Preservasi dan pelebaran jalan lingkar Pulau Samosir akan mempermudah konektivitas antardestinasi wisata di kawasan Danau Toba.

SAMOSIR, SUMUTPOS,CO – Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, menjadi salah satu tujuan wisata utama bagi para turis domestik maupun mancanegara. Ada sejumlah obyek wisata yang ditawarkan, seperti Museum Batak di Tomok, Tiga Danau, Tano Ponggol, dan Wisata Tele dan Geopark Sigulati.

Untuk meningkatkan konektivitas antar destinasi wisata di pulau tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan preservasi dan pelebaran jalan lingkar Pulau Samosir sepanjang 145,9 Km.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, pekerjaan preservasi Jalan Lingkar Samosir dilakukan dengan meningkatkan kualitas jalan beraspal. Sedangkan pelebaran sesuai standar jalan nasional yaitu 7 meter, ditambah 2 meter untuk masing-masing bahu jalan di sisi kanan dan kiri.

“Semua sudah disambungkan dengan kondisi beraspal. Dari Tomok ke Pangururan, juga dari Tomok ke Nainggolan sudah oke. Tinggal dari Nainggolan-Onan Runggu ke Pangururan masih ada 21 km yang perlu kita tingkatkan dan akan kita lanjutkan pada tahun 2020,” kata Menteri Basuki saat meninjau Jalan Lingkar Samosir, Senin (29/7/2019).

Menteri Basuki bersama rombongan menyusuri Jalan Lingkar Samosir dari daerah Tomok hingga sekitar Jembatan Tano Ponggol lalu melanjutkan hingga ke Kawasan Wisata Tele, Geopark Kaldera Toba di Kecamatan Harian. Menurutnya pekerjaan preservasi dan pelebaran jalan tersebut sudah berjalan dengan baik dengan hasil kondisi jalan yang mulus.

“Pulau Samosir merupakan salah satu destinasi dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba yang diprioritaskan saat ini. Keinginan kuat dan program daerah untuk menyejahterakan rakyat melalui kegiatan pariwisata harus didukung penuh oleh Pemerintah Pusat karena ini untuk kepentingan masyarakat luas,” kata Menteri Basuki.

Selama ini, akses utama untuk menuju ke Danau Toba dan Pulau Samosir dari arah Medan adalah melalui Parapat dan menyeberang dengan menggunakan ferry. Dengan dibukanya Bandara Silangit sebagai bandara internasional, alternatif akses menuju Danau Toba dan Samosir semakin banyak. Tidak hanya melalui penyeberangan danau saja, tetapi bisa pula melalui darat via Dolok Sanggul – Tele – Pangururan.

Untuk itu Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) II Medan melakukan preservasi dan pelebaran jalan, termasuk penanganan tebing sehingga mengurangi risiko longsor baik pada jalan akses menuju ke Pulau Samosir dari Simpang Tele menuju ke Pangururan maupun jaringan jalan lingkar di dalam Pulau Samosir.

Peningkatan jaringan jalan berupa preservasi dan pelebaran jalan dibagi dalam dua paket pekerjaan, dan dimulai sejak Desember 2016 dengan kontrak tahun jamak. Paket 1 adalah Preservasi dan Pelebaran Jalan Pangururan – Ambarita – Tomok – Onan Runggu sepanjang 75,9 kilometer. Pekerjaan pelebaran jalan ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp367,21 miliar, dengan akhir kontrak Desember 2019. Pelaksana pekerjaan ini adalah konsorsium antara PT. Pembangunan Perumahan dan PT. Seneca.

Sementara itu, Paket 2 adalah Preservasi dan Pelebaran Jalan Tele – Pangururan – Nainggolan – Onan Runggu sepanjang 68,43 kilometer, terdiri dari kegiatan pelebaran sepanjang 47,1 km dan pemeliharaan sepanjang 21,33 km. Alokasi anggaran untuk Paket 2 ini adalah sebesar Rp159,24 miliar dan akan selesai di Desember 2019. Pekerjaan ini dilakukan secara KSO antara PT. Gunakarya, Tunas, dan Kurnia.

Untuk menyelesaikan preservasi dan pelebaran jalan dari Nainggolan ke Pangururan sepanjang 18 km dan dari Onanrunggu – Nainggolan sepanjang 3 km, Kementerian PUPR telah mengalokasikan angggaran sebesar Rp 164,99 miliar pada tahun 2020. Dengan ketersediaan infrastruktur jalan dalam kondisi mantap akan memudahkan wisatawan mencapai lokasi-lokasi wisata di Pulau Samosir.

Preservasi dan pelebaran Jalan Pulau Samosir tersebut sudah dirasakan manfaatnya oleh pengendara yang rutin melintas jalur tersebut. Jack (36 tahun) yang berprofesi sebagai supir mobil sewa mengatakan, dengan adanya jalan tersebut kini dirinya lebih cepat untuk membawa wisatawan dari hotel menuju tempat-tempat wisata di Pulau Samosir.

“Misalnya dari Samosir Cottage menuju Wisata Tele, saat ini cukup satu jam dari sebelumnya sekitar 2 jam. Jalurnya juga saat ini menjadi lebih aman dan nyaman dibanding sebelumnya,”ujarnya. (rel)

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Inalum dan Kaltara Bangun Klaster Industri Aluminium

TEKS FOTO: Diretur Pelaksana PT Inalum Oggy Achmad Kosasih dan Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie sesaat setelah penandatanganan MoU pembangunan Klaster Industri Aluminium.
TEKS FOTO: Diretur Pelaksana PT Inalum Oggy Achmad Kosasih dan Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie sesaat setelah penandatanganan MoU pembangunan Klaster Industri Aluminium.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Holding Industri Pertambangan PT Inalum (Persero) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara menandatangani nota kesepakatan tentang Proyek Pembangunan Klaster Industri Aluminium di Provinsi Kalimantan Utara.

Penandatanganan kesepakatan tersebut diadakan di Gedung Energy, SCBD, Jakarta, dan dihadiri Direktur Pelaksana Inalum Oggy A. Kosasih dan Gubernur Kalimantan Utara Dr. H. Irianto Lambrie.

Kerja sama ini merupakan wujud sinergi yang kuat antara PT Inalum sebagai BUMN dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dalam rangka mengoptimalkan potensi sumber daya di daerah.

Kalimantan Utara memiliki potensi sumber daya air yang melimpah yang sangat baik bagi pembangunan pembangkit listrik tenaga air. PLTA merupakan sumber energi terbarukan yang didorong Pemerintah.

PT Inalum disisi lain sangat memerlukan pasokan listrik yang besar untuk melakukan ekspansi pengembangan Klaster Industri Aluminium.

Pembangunan Klaster Industri Aluminium Kalimantan Utara akan memberikan multiplier ekonomi bagi masyarakat baik berupa tumbuhnya industri ikutan ataupun industri pendukungnya yang sekaligus terbukanya lapangan pekerjaan sehingga perputaran ekonomi cepat berkembangnya.

Bagi Indonesia dengan bertambahnya kapasitas Smelter Aluminium secara langsung dapat memenuhi kebutuhan domestik yang berdampak pada penghematan devisa karena merupakan substitusi impor, sedangkan kelebihannya dapat diekspor sehingga menghasilkan devisa bagi Negara.

“Inalum mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara yang sudah bersinergi mendukung rencana ekspansi pabrik peleburan aluminium dan industri hilirnya. Kami memiliki target pengembangan produk Aluminium sampai dengan 2 juta ton yang dilakukan secara bertahap.

Smelter kami di Kuala Tanjung hanya dapat menghasilkan 300.000 ton Aluminium pertahun dengan maksimum hingga 500.000 ton. Dengan potensi di Kaltara kami optimis dapat menambah kapasitas sampai 1.500.000 ton. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan permintaan Aluminium dalam negeri dan pasar ekspor yang selalu meningkat,” ujar Direktur Pelaksana Inalum Oggy A. Kosasih

Sementara Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Irianto Lambrie berharap bahwa investasi Inalum sebagai Holding Pertambangan Indonesia bisa memberikan kebaikan terhadap masyarakat Kalimantan Utara sekaligus sebagai usaha pemerataan pembangunan di Indonesia.

“Kami berharap investasi ini akan mendorong pembangunan daerah dan pertumbuhan ekonomi, terbukanya lapangan pekerjaan dan meningkatkan perputaran ekonomi yang positif yang berujung pada kemakmuran Kalimantan Utara,” ungkap Irianto Lambrie.

Dalam nota kesepakatan tersebut Pemerintah Daerah Kalimantan Utara akan menyediakan izin pembangunan Klaster Industri Aluminium sekaligus pembangunan sarana dan prasarana pendukung operasional yang diperlukan baik infrastruktur maupun ketersediaan SDM-nya.

Adapun ruang lingkup kesepakatan mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi pembangunan.

Gubernur Kalimantan Utara selaku pemerintah setempat menyatakan akan mempersiapkan kebutuhan infrastruktur vital terutama listrik dan pelabuhan dalam Proyek Pembangunan Klaster Industri Aluminium dengan menggunakan skema investasi sesuai dengan Nota Kesepakatan yang sudah ditanda-tangani.

“Selain berharap bahwa pembangunan ini memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, kami juga akan mengusahakan pembangunan fasilitas yang diperlukan untuk pembangunan proyek Klaster Industri Aluminium ini terutama ketersediaan listrik, lahan dan pelabuhan. Oleh karena itu, kami akan membuka networking dan keran investasi di Kalimantan Utara untuk proyek ini tentu dengan prinsip keterbukaan yang diatur dalam undang-undang,” lanjut Irianto.

Inalum memastikan bahwa proyek tersebut dijalankan setelah Inalum dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melakukan kajian yang mendalam dan komprehensif baik dari aspek bisnis hingga aspek pembangunan seperti studi kelayakan.

“Inalum secara detail tengah melakukan kajian potensi bisnis serta pembangunan sarana prasarana yang dibutuhkan untuk proyek Klaster Industri Aluminium ini. Dengan serangkaian kajian diharapkan potensi bisnis akan semakin tergali. Dan Inalum selalu mengedepankan aspek lingkungan dalam membangun Klaster ini,” papar Oggy A. Kosasih.

Tentang Holding Industri Pertambangan

Holding Industri Pertambangan resmi dibentuk pada 27 November 2017 dimana INALUM menjadi Induk Usaha Holding dan PT Aneka Tambang Tbk., PT Bukit Asam Tbk., PT Timah Tbk., dan PT Freeport Indonesia sebagai anggota Holding. Inalum memegang 65% saham PT Aneka Tambang Tbk., 65.02% saham PT Bukit Asam Tbk., 65% saham, PT Timah Tbk., dan 51,2% saham PT Freeport Indonesia.

Sampai dengan Desember 2018, Inalum membukukan Pendapatan Konsolidasi sebesar Rp 65.2 triliun, tumbuh 38% dari tahun lalu. EBITDA Konsolidasi mencapai Rp 18.5 triliun, tumbuh 50% dari tahun lalu. Laba Bersih Konsolidasi mencapai Rp 10.5 triliun tumbuh 54% dari tahun 2017.(Rel)