Home Blog Page 6251

Warga Simanindo Bantu Pencarian

Triadi Wibowo/Sumut Pos Keluarga korban menunggu kabar terbaru di dermaga Tiga ras, Sabtu (23/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos
Keluarga korban menunggu kabar terbaru di dermaga Tiga ras, Sabtu (23/6)

SUMUTPOS.CO – Ratusan warga Simanindo secara spontanitas ikut melakukan pencarian kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba sejak, Senin (18/6). 187 orang hilang masih dalam pencarian Tim Basarnas dan tim SAR gabungan.

Warga Simanindo kerahkan lima kapal untuk membantu pencarian korban hilang. Bantuan ini murni dengan dana masyarakat sendiri, termasuk pengadaan dua unit jangkar dengan panjang masing masing lima meter dengan jumlah mata kail masing masing 17.

Inisiatif pencarian warga ini muncul karena kekecewaan warga terhadap lambatnya penanganan dan pencarian yang dilakukan tim SAR. Demikian disampaikan salah seorang warga J. Malau (42) saat ditemui di pelabuhan Simanindo, Minggu (24/6).

“Pencarian ini kami lakukan agar dapat membantu Tim SAR, karena kami masyarakat sudah gerah melihat sikap aparat yang terkesan Lambat,” ujar Malau.

Lanjut Malau, masing masing kapal yang akan berlayar membawa sekira 20 hingga 25 orang, terdiri dari seluruh warga Simanindo terutama warga sekitar pelabuhan. Dananya juga dari kami,” papar Malau.

Malau bersama tim warga berharap agar ada korban hilang yang mereka temukan. “Kita akan mencari dengan konsep tradisional, dengan menggunakan jangkar, harapannya akan ada korban yang tersangkut di jangkar, ” pungkas Malau.

Magdalena Siringoringo (57) Kabag Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samosir turut membenarkan adanya pencarian yang dilakukan dengan konsep tradisional oleh warga Simanindo. Pihaknya juga telah menuruti permintaan warga untuk menempah dua unit jangkar sesuai permintaan warga. “Sesuai permintaan warga kita tempah jangkarnya,tapi dananya dari para donateur yang terdiri dari warga sekitar,” terang Magdalena. Dia juga mengapresiasi dukungan warga Simanindo dalam pencarian korban hilang KM Sinar Bangun. Relawan warga ini mulai melakukan pencarian sekira pukul 10.00 WIB.

Objek Mirip Kapal Terdeteksi

Triadi Wibowo/Sumut Pos- Keluarga Korban melihat proses pencarian di pinggir danau di dermaga tiga ras, minggu (24/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos-
Keluarga Korban melihat proses pencarian di pinggir danau di dermaga tiga ras, minggu (24/6)

SUMUTPOS.CO – Secercah harapan terbuka bagi keluarga korban hilang dalam insiden KM Sinar Bangun. Minggu (24/6), Tim SAR mendeteksi objek kapal di kedalaman 490 meter dari permukaan Danau Toba. Meski belum pasti, ada indikasi bahwa objek tersebut merupakan bangkai KM Sinar Bangun. Temuan itu langsung ditindaklanjuti untuk dianalisis oleh petugas. Bangkai KM Sinar Bangun atau bukan, masih menunggu hasil analisis tersebut.

Upaya pencarian bangkai KM Sinar Bangun oleh Tim SAR dilakukan menggunakan dua alat. Yakni Side Scan Sonar dan Multibeam Echosounder. Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (BNPP) atau Basarnas maupun Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) menurunkan alat serupa. Hanya saja, kemampuan deteksi alat yang didatangkan Basarnas lebih tinggi. Yakni sampai kedalaman 2.000 meter dari atas permukaan air.

Sedangkan alat yang didatangkan Pushdirosal hanya mampu memberi gambaran di dalam air sampai kedalaman 675 meter. Kemarin, kedua alat tersebut mampu membantu Tim SAR menemukan objek terindikasi bangkai KM Sinar Bangun. Posisinya berada pada kedalaman 490 meter dari permukaan Danau Toba. Dengan jarak sekitar 786 meter dari lokasi perkiraan awal pertama.

Berdasar data dari Basarnas, posisi itu berada kurang lebih 2 kilometer sampai 2,5 kilometer arah barat daya dari posko utama Tim SAR di Pelabuhan Tigaras. Menurut Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro, kemarin dia mendapat laporan temuan objek tersebut sekitar pukul 15.30 WIB. Namun, Unit Survei Tanggap Darurat sudah mendapat informasi temuan objek terindikasi bangkai KM Sinar Bangun menjelang siang.

Harjo menyampaikan, analisis objek terindikasi KM Sinar Bangun memang dilaksanakan bersama-sama oleh seluruh tim gabungan. ”Apakah itu kapal yang tenggelam atau yang lain. Itu perlu dicocokan nanti,” ungkap dia ketika diwawancarai Jawa Pos (grup Sumut Pos) kemarin. Dalam urusan pencarian dan penyelamatan, analisis tersebut penting. Sebab, akan turut berpengaruh terhadap langkah lanjutan yang akan diambil oleh Tim SAR.

Apalagi jika mengingat kecelakaan kapal di Danau Toba bukan kali pertama terjadi. ”Jadi, harus diidentifikasi. Tentang ukurannya, kemudian bentuknya, segala macam itu,” beber Harjo.

Hasil identifikasi tersebut, kemudian dicocokan dengan data-data KM Sinar Bangun yang ada. Apabila memang sesuai, upaya evakuasi bisa dilakukan. Bagaimana proses evakuasi? Semua bergantung kesepakatan bersama Tim SAR.

Namun demikian, dengan berbagai pertimbangan data sementara serta situasi dan kondisi yang terakhir kali dilaporkan, besar kemungkinan upaya evakuasi atau pengangkatan bangkai KM Sinar Bangun harus dilakukan menggunakan alat khusus. ”Yang kira-kira mampu untuk mengangkat kapal dari kedalaman sekitar 490 meter itu,” imbuhnya. Untuk urusan tersebut, Tim SAR tidak mungkin hanya mengandalkan penyelam.

Berdasar pengalaman evakuasi objek dari kedalaman air, sambung Harjo, Tim SAR perlu bantuan robot. Pertama untuk memastikan kondisi kapal di dalam air. Selanjutnya guna memulai proses evakuasi. Untuk kebutuhan pertama ROV atau remotely operated underwater vehicle bisa diandalkan. Sedangkan untuk proses evakuasi dibutuhkan alat lain. ”Kalau prosedur yang biasa itu dengan balon,” jelasnya.

Kondisi Danau Toba Belum Dipetakan

Triadi Wibowo/Sumut Pos POL Airud mencari korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan danau Toba di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos
POL Airud mencari korban kapal Sinar Bangun yang tenggelam di perairan danau Toba di Dermaga Tiga Ras, Kamis (21/6)

SUMUTPOS.CO – PEMERINTAH sempat tergagap-gagap dalam pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun. Peralatan yang digunakan tidak cukup andal untuk menghadapi kedalaman Danau Toba yang mencapai 500 meter. Kondisi itu tidak lepas dari belum adanya pemetaan danau terbesar di Indonesia tersebut.

Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI-AL (Kapushidrosal) Laksamana Muda Harjo Susmoro menyatakan, insiden KM Sinar Bangun menjadi pelajaran bagi instansinya. Ke depan, pemetaan Danau Toba seperti yang sudah mereka lakukan di wilayah laut Indonesia harus segera dilaksanakan. ”Kami akan petakan kontur, kedalamannya (Danau Toba, Red),” katanya kemarin.

Selama ini, Pushidrosal memang lebih berfokus memetakan laut. Padahal, menurut Harjo, perairan danau yang luas juga penting untuk dipetakan. Setidaknya terjadi 12 kecelakaan di Danau Toba. Termasuk insiden helikopter jatuh di Danau Toba pada Oktober 2015. Tim penyelamat sulit menemukan helikopter dan kru karena petunjuk yang minim tentang danau tersebut.

Karena itu, apabila operasi pencarian korban hilang dan bangkai KM Sinar Bangun sudah selesai, Pushidrosal masih akan mempertahankan personel dan peralatan di Danau Toba. ”Sehingga kami akan tahu posisi riil (Danau Toba, Red),” papar Harjo.

Untuk memetakan salah satu danau terluas di Asia Tenggara itu, Harjo memperkirakan timnya butuh waktu dua sampai tiga bulan. Namun, semua bergantung alat, situasi, dan kondisi di lapangan. ”Memang untuk memetakan itu harus dihitung secara cermat,” ujarnya. Meski fokus pekerjaan mereka saat ini memetakan laut, pemetaan Danau Toba juga bakal menjadi prioritas.

Saking luasnya Danau Toba, hampir 1.200 km persegi, ombak di sana mirip laut. Saat KM Sinar Bangun tenggelam pada 18 Juni lalu, cuaca sedang buruk karena sirkulasi siklon yang terbentuk di pantai barat Sumatera. Kondisi itu mengakibatkan ketinggian gelombang di sana mencapai 2 meter.

Nakhoda KM Sinar Bangun dan PNS Dishub Tersangka

Triadi Wibowo/Sumut Pos_ Prajurit TNI dan petugas basarnas melakukan pencarian korban tenggelamnya kapal Sinar Bangun di pinggir sekiataran danau Toba, Sabtu (23/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos_
Prajurit TNI dan petugas basarnas melakukan pencarian korban tenggelamnya kapal Sinar Bangun di pinggir sekiataran danau Toba, Sabtu (23/6)

SUMUTPOS.CO – Polda Sumut telah menetapkan nakhoda KM Sinar Bangun, Tua Sagala sebagai tersangka. Tak hanya itu, Polda Sumut juga membidik oknum PNS Dinas Perhubungan yang dinilai melakukan kelalaian. “Benar, Nakhoda kapal (Tua Sagala) sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan kepada wartawan, Minggu (24/6).

Mengenai saat ini Polda Sumut membidik oknum Dishub, Nainggolan juga membenarkan. Bahkan kata dia, Polda Sumut telah menetapkan oknum Dishub tersebut sebagai tersangka. “Sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Besok (Senin) akan dirilis oleh Kapolda langsung. Biar Kapolda saja yang ngomong,” katanya.

Sementara, mengenai kabar di media online, jika KM Sinar Bangun telah ditemukan di kedalam 450 meter, Nainggolan membantahnya. Dia menyebutkan, jika kabar tersebut adalah hoax. “Tidak benar, hoax itu. Saya sudah konfirmasi ke Basarnas masih belum ditemukan,” katanya.

Hingga hari ketujuh proses pencarian, Nainggolan menjelaskan belum ada korban KM Sinar Bangun yang kembali ditemukan. “Belum ada. Sementara ini masih 24 yang ditemukan,” pungkasnya. (adi/esa/smg/gus/mag-1)

 

Semua Korban KM Sinar Bangun Dapat Santunan Rp15 Juta

Triadi Wibowo/Sumut Pos_ Marinir di bantu Basarnas melakukan penyelaman untuk mencari korban hilang, minggu (24/6)
Triadi Wibowo/Sumut Pos_
Marinir di bantu Basarnas melakukan penyelaman untuk mencari korban hilang, minggu (24/6)

SUMUTPOS.CO – MENTERI Sosial Idrus Marham mendatangi Posko SAR Gabungan di Pelabuhan Tigaras, Kelurahan Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Minggu (24/6) sekira Pukul 13.00 WIB. Dalam kunjungan tersebut, Mensos juga menyempatkan diri untuk meninjau dapur umum, dan bahkan sempat di bagian tenda luar dapur umum, Mensos berbincang-bincang dengan para keluarga korban, yang kebanyakkan sudah di Tigarasa sejak Selasa (19/6) lalu.

Dengan isak tangis yang keluar dari para keluarga korban tersebut, Idrus mendengarkan keluhan dan harapan agar keluarga mereka dapat diketemukan. Tak cuma mendengarkan, Idrus sesekali memeluk para keluarga korban, dan sempat memberikan sekapur sirih bagi keluarga korban tersebut.

“Saya datang kemari atas perintah presiden. Hari ini kami berikan juga mobil untuk dapur umum. Untuk keluarga bisa kita urusi untuk makan dan keperluan lain,” katanya saat ditemui para awak media.

Selanjutnya, Idrus menyampaikan, setiap korban mendapatkan bantuan sebesar Rp15 juta. Ia menyampaikan dalam situasi bencana seperti ini tidak boleh lagi ada kecurigaan. Apalagi, 18 korban selamat, kata Idrus perlu diberikan pengobatan psikologis.

Bangkai KM Sinar Bangun Ditemukan di Kedalaman 450 Meter

Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos Tim SAR Gabungan mencari posisi bangkai KM Sinar Bangun di Perairan Danau Toba, Minggu (24/6).
Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos
Tim SAR Gabungan mencari posisi bangkai KM Sinar Bangun di Perairan Danau Toba, Minggu (24/6).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tim SAR gabungan yang dikoordinasi Basarnas telah menemukan dan mengidentifikasi posisi bangkai KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, Senin lalu. Posisi kapal diperkirakan pada kedalaman 450 meter di bawah permukaan air.

Dirut Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo mengatakan, Basarnas bersama “Mahakarya Geo Survey” Ikatan Alumni ITB, menemukan posisi bangkai kapal setelah mengerahkan peralatan untuk mencari KM Sinar Bangun, Minggu (24/6/2018).

Minggu siang, tepatnya pukul 11.12 WIB, tim gabungan mengidentifikasi posisi kapal, disaksikan langsung Menteri Sosial Idrus Marham.

Dari identifikasi yang dilakukan, diketahui posisi KM Sinar Bangun berada pada koordinat 2,47 derajat lintang utara dan 98,6 derajat bujur timur.

Setelah penemuan koordinat dan posisi KM Sinar Bangun tersebut, selanjutnya diserahkan ke pihak berwenang di bawah kendali Basarnas, untuk melakukan langkah-langkah strategis berikutnya.

Mengingat kondisi kedalaman yang mencapai 450 meter, Ikatan Alumni ITB mengusulkan untuk memobilisasi ROV ECA H1000 “semi work class” untuk membantu proses pengangkatan kapal.

Apalagi diperkirakan banyak korban masih terperangkap di dalam badan kapal yang melayani pelayaran dari Pelabuhan Tigaras di Kabupaten Simalungun menuju Pelabuhan Simanindo di Kabupaten Samosir itu.

Sebelumnya, KM Sinar Bangun yang mengangkut kurang lebih 200-an penumpang dilaporkan tenggelam di perairan Danau Toba, antara Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dengan Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin, sekitar pukul 17.30 WIB.

Dari proses pencarian yang dilakukan, tim gabungan telah menemukan 19 korban selamat dan tiga korban tewas. (Ant/int)

Jendela Kaca Kapal di Danau Toba Jangan Lagi Pakai Jeruji

Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos Heli Basarnas diturunkan untuk membantu pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba.
Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos
Heli Basarnas diturunkan untuk membantu pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba.

TIGARAS, SUMUTPOS.CO – Kepala Basarnas M Syaugi menjelaskan, memasuki hari keenam pencarian korban KM Sinar Bangun, sudah tidak ada lagi dari pihak keluarga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya.

“Basarnas terus berupaya melakukan pencarian korban yang hilang, walaupun dalam SOP nya hanya 15 hari tetapi kita akan terus berupaya semaksimal mungkin sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” jelasnya.

Karena itu, Syaugi berharap semua pihak baik dari Pemerintah Pusat, Pemprovsu dan Pemkab sekitar wilayah Danau Toba serta para relawan dan masyarakat terus  memberikan dukungannya.

“Memang yang menjadi kendala saat ini adalah kita tidak mengetahui berapa kedalaman Danau Toba tersebut. Kita beserta tim gabungan telah menggunakan teknologi sonar untuk mendeteksi posisi kapal di dasar danau yakni Multi Beam Echo Sounder,” katanya.

Teknologi sensor ini akan dapat mendeteksi logam yang ada di dalam air hingga kedalaman 600 meter. Tetapi ternyata sensor ini juga belum dapat mendeteksi lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun. “Sehingga diperkirakan kapal tenggelam lebih dari 600 meter. Untuk itu kami sedang menanti Beam Echo Sounder yang dapat mendeteksi hingga 2.000 meter,” ungkapnya.

Selain itu, dinginnya air Danau Toba dan visibilitas terbatas di dalam air juga membuat tim penyelam  tidak bisa berbuat banyak. “Kami akan mengerahkan semua daya dan upaya serta mempergunakan alat tercanggih yang kita punya untuk pencarian dan penyelamatan korban tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun,” ucapnya.

Hingga Sabtu (23/6), korban yang sudah ditemukan dalam kecelakaan maut tersebut berjumlah 21 orang, di mana yang selamat 18 orang. Serta yang meninggal dunia menjadi tiga orang dan sudah diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing. Sedangkan korban yang belum ditemukan diperkirakan mencapai 184 orang.

Sementara itu, Danlantamal I Belawan Laksamana Pertama TNI Ali Triswanto SE MSi, mengatakan kedepannya semua pihak wajib memperhatikan standarisasi angkutan di sungai, danau dan penyeberangan.

“Karena KM Sinar Bangun dari ukuran panjang dan lebar tidak layak bertingkat tiga, kemudian untuk jendela kapal yang terbuat dari kaca hendaknya tidak boleh dipakai terali (jeruji) lagi. Sehingga jika terjadi kecelakaan penumpang dapat segera memecahkan kaca jendela untuk penyelamatan,” katanya. (Rel)

Pj Gubsu Tinjau Lokasi Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba

Foto: Istimewa PJ Gubernur Sumatera Utara Drs. Eko Subowo, MBA meninjau langsung pencarian kapl karam KM Sinar Bangun, Sabtu (23/6/2018).
Foto: Istimewa
PJ Gubernur Sumatera Utara Drs. Eko Subowo, MBA meninjau langsung pencarian kapl karam KM Sinar Bangun, Sabtu (23/6/2018).

SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Sesuai instruksi Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri) Tjahjo Kumulo pada pelantikan Penjabat Gubernur Sumatera Utara (Pj Gubsu) kemarin, Pj Gubsu Drs Eko Subowo MBA melaksanakan tugas pertamanya meninjau langsung lokasi dan korban kapal tenggelam KM Sinar Bangun di Danau Toba.

Pj Gubsu Eko Subowo bersama Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi, Kepala KNKT Soerjanto, Danlantamal I Belawan Laksamana Pertama TNI Ali Triswanto SE MSi, Kepala Dinas Perhubungan Provsu Muhammad Zein Siregar, Kepala Dinas Kesehatan Provsu Agustama, Kepala Dinas Sosial Provsu Rajali S Sos MSP,  Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Provsu Anthony Siahaan,  Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provsu Riadil Akhir Lubis, dan Kabiro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas S Sitorus, mendatangi posko Basarnas dan Posko Pemerintah Kabupaten Simalungun di Tigaras Kabupaten Simalungun, Sabtu (23/6).

Eko Subowo menyampaikan bahwa musibah ini bukan hanya musibah pihak keluarga saja, tetapi musibah bersama, musibah masyarakat Sumut, bahkan seluruh Indonesia. “Oleh karenanya saya mengimbau agar seluruh keluarga korban dapat bersabar dan bertawakal agar korban segera ditemukan,” ujarnya.

Menurutnya, kejadian ini hendaknya menjadi pembelajaran semua pihak untuk kedepannya, agar memperbaiki sistem prosedur standar keselamatan di bidang angkutan sungai, danau dan penyeberangan. “Seperti kelaikan beroperasi, adanya manifest penumpang sehingga dapat terdata dan pelampung (life jacket). Sehingga kita dapat meminimalisir, bahkan tidak lagi terjadi kejadian seperti ini,” kata Eko.

Dikatakan juga, perlu adanya kelembagaan organisasi yang kuat, baik personel serta peralatan dan pembiayaan yang cukup dalam menunjang sistem ini. “Semoga kedatangan kami dapat menjadikan dukungan baik untuk keluarga korban maupun pemerintah  kabupaten di sekitar Danau Toba serta tim yang bekerja di sini baik  Basarnas, Kepolisian dan Kemenhub,” ujarnya.

Selanjutnya, untuk pencarian dan pertolongan telah dibentuk Pokja yang dipimpin Kepala Basarnas, dimana para personel sudah siap siaga dengan segala peralatan untuk membantu proses pertolongan  dan penyelamatan.

Pj Gubsu juga berpesan agar para tim penyelamat selalu menjaga stamina dan kesehatan, serta selalu  berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Basarnas, TNI dan Polri.

“Terimakasih atas kerjasama Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, para Tim dan relawan serta masyarakat yang selalu mempertahankan semangatnya. Kalau bisa bergiliran bertugas agar tetap mempunyai stamina yang baik,” pungkas Eko Subowo. (rel)

“Kau Bohongi Mamak Nak, Katamu ke Berastagi, Bawakan Stawberry…

Foto: Adi/Metro Siantar/SMG Farni (55) ibu yang menunggu anaknya, Yoga Alfiano (20), dipapah suaminya, Margono (54), saat berada di pelabuhan Tigaras.
Foto: Adi/Metro Siantar/SMG
Farni (55) ibu yang menunggu anaknya, Yoga Alfiano (20), dipapah suaminya, Margono (54), saat berada di pelabuhan Tigaras.

SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Suara tangisan histeris seorang wanita tua, tiba-tiba mengejutkan orang orang yang masih terus ramai di Posko SAR Gabungan Pelabuhan Tigaras.

Dengan menghempaskan diri di dinding bangunan loket Kapal Fery, Farni (55) warga Pematangsiantar, menangis sejadinya setelah melihat nama Yoga Alfiano (20), tertulis di kertas pengumuman daftar orang yang dilaporkan turut menjadi korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, Senin (18/6) lalu.

“Kemarin kau bilang, kau mau ke Berastagi, Nak. Kau bohongi Mamak. Kau bilang, mau kau bawa stroberry untuk mamak. Rupanya ke Samosir kau, Nak,” raung Farni mengenang saat-saat terakhir kalinya bertemu. Ia enangis sejadinya, seakan tidak peduli lagi dengan sekelilingnya.

Luapan kesedihan yang sangat mendalam yang ditunjukkan oleh Farni atas kehilangan putra bungsunya itu, membuat suaminya Margono (54) terus membujuk istrinya itu. Sang suami meminta sang istri gar dapat sabar dan tabah menghadapi musibah yang dialami mereka.

Kalimat membujuk istrinya terus dilontarkannya sembari memapah istrinya menuju pinggir pelabuhan Tigaras.

Walaupun sebenarnya rasa kesedihan tampak jelas di raut wajah Margono, namun ia tetap terus berupaya menenangkan istrinya yang terus menangis histeris. Saat sang istri ingin masuk ke perairan Danau Toba, dengan sigap Margono pun memeluk istrinya yang terus memaksa untuk malaksanakan keinginannya.

“Mau ke sana mamak. Mau cari anakku, di sana anakku,” kata-kata Farni keluar dari mulutnya di dalam sembari menangis dan menumpahkannya di dekapan pelukan suaminya sembari jari telunjuk tangannya menunjukkan ke arah tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Kemudian Farni pun dipapah suaminya untuk menjauh dari pinggir Pelabuhan Tigaras.

Sembari menenangkan istrinya, kepada para awak media, Margono menceritakan anaknya itu berangkat ke Samosir dengan rombongan sebuah komunitas sepedamotor melalui darat, yakni jalur Tele, Senin (18/6) pagi.

“Ia berangkat bersama delapan temannya. Lalu, pada sore hari mereka pulang melalui jalur danau yakni Simanindo-Tigaras. Berangkat ke Tele pada Senin pagi bersama rekannya delapan orang. Itu yang dibilang kawannya yang selamat,” kata Margono mengenang kembali cerita didapatnya dari salah seorang teman anaknya yang selamat dalam kejadian tersebut. (adi)

Danau Toba ‘Dielek’ melalui Gondang Batak

Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos Yusran Manik memimpin Gondang Pangelek-elekan di atas kaoal menuju TKP tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sabtu 23/6) sore.
Foto: Triadi Wibowo/Sumut Pos
Yusran Manik memimpin Gondang Pangelek-elekan di atas kaoal menuju TKP tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sabtu 23/6) sore.

SAMOSIR, SUMUTPOS.CO – Pencarian korban KM Sinar Bangun, memasuki hari keenam, Sabtu (23/6). Namun pencarian korban hilang oleh Tim SAR Gabungan belum juga membuahkan hasil. Sebanyak 184 nama korban masih hilang bersama bangkai kapal

Karenanya, selain menggunakan teknologi modern, penggunaan kapal, serta berbagai alat milik tim pencari gabungan, upaya pencarian mulai dibantu menggunakan jasa Gondang Batak.
Yusran Manik, anggota grup Gondang Batak Sahata Hita Pematang Sidamanik, mengatakan, akan memainkan Gondang Pangelek-elekan di lokasi perkiraan kapal tenggelam.
“Gondang ini untuk mangelek (membujuk, Red) Danau Toba, dengan harapan para korban ditemukan,” kata Yusran, saat diwawancarai sejumlah wartawan di Pelabuhan Tigaras, Sabtu (23/6).
Untuk ritual mangelek, pihaknya menyiapkan beberapa bahan yang akan dimasukkan ke dalam bakul. Di antaranya beras, telur, dan uang. Grup Gondang Batak ini akan dipimpin seorang paranormal.
KM Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba, dalam perjalanan dari pelabuhan Simanindo-Samosir menujuk Pelabuhan Tigaras-Simalungun, Senin (18/6) sore, dengan membawa ratusan penumpang dan puluhan sepeda motor. 19 penumpang selamat, 3 meninggal, dan 184 dlaporkan hilang.  (esa)