Foto: Fb Dhev Bakkara
Tim SAR yang mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba melibatkan 350 personil, menggunakan speedboat dan kapal-kapal penumpang, Selasa (19/6).
Foto: Fb Dhev Bakkara Tim SAR yang mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba melibatkan 350 personil, menggunakan speedboat dan kapal-kapal penumpang, Selasa (19/6).
SUMUTPOS.CO – Tiga warga Kota Tebingtinggi yang ikut tenggelam dalam tragedi KM Sinar Bangun di Danau Toba, ternyata belum ditemukan. Ketiganya yakni Ramli Simbolon (57), dan anaknya Piter Simbolon, warga Jalan Suprapto, Pasar Gambir, Kota Tebingtinggi, serta Rusmadi, warga Kompleks BP7, Jalan Gunung Lauser, Kecamatan Rambutan, Kota Tebingtinggi.
Ramli Simbolon diketahui pedagang sayuran dan cabai di Pasar Gambir, Kota Tebingtinggi. Menurut teman korban, O Silalahi, Ramli Simbolon pernah bercerita bahwa dirinya takut dengan kedalam air karena tidak pandai berenang.
“Kita terkejut mendengar adanya nama Ramli Simbolon jadi korban KM Sinar Bangun. Kita berharap jasad korban bisa ditemukan. Sedangkan istrinya, Hotma br Sinaga tidak berada di rumah sedang berada di Tigaras menantikan jasad suami dan anaknya ditemukan,” bilangnya.
Sedangkan korban lain, Rusmadi, warga Kompleks BP7, Jalan Gunung Lauser, Kecamatan Rambutan, Kota Tebingtinggi diketahui sehari-hari bekerja sebagai guru di salah satu SMP Negeri di Kota Tebingtinggi. Jasadnya juga belum ditemukan, sedangkan pihak keluarga sedang berada di Tigaras menunggu penemuan korban.(mag-1/ted/ian)
Foto: Teddy Akbari/Sumut Pos
Erwin, keluarga korban menunjukkan foto Fahrianti sekeluarga yang jadi korban.
Foto: Teddy Akbari/Sumut Pos Erwin, keluarga korban menunjukkan foto Fahriyanti sekeluarga yang jadi korban.
SUMUTPOS.CO – Jenazah Fahriyanti (47), ibu dari Maya Oktaviyanti (17), warga Jalan Gunung Bendahara, Lingkungan I, Kelurahan Pujidadi, Binjai Selatan, yang baru ditemukan tim gabungan Basarnas, Rabu (20/6) pagi, akhirnya dibawa ke rumah duka di Binjai. Awalnya, ada rencana jaenazah Fahriyanti akan dimakamkan di Sibolga. Namun akhirnya, keluarga memutuskan untuk dimakamkan di Binjai.
Proses pemulangan jasad korban ke Kota Rambutan pun dibantu tim BPBD Kota Binjai yang sudah terjun ke Posko Pelabuhan Tigaras pada Selasa (19/6) dinihari. “Korban dibawa ke Binjai. Tadi awalnya mau ke Sibolga dari pihak keluarga. Jadi anak yang putuskan dibawa ke Binjai naik ambulans Dinkes Binjai. Dari pihak saudara-saudara almarhum, anak yang putuskan setelah siap dimandikan dibawa ke Binjai seluruhnya,” kata Kepala BPBD Kota Binjai, Ahmad Yani ketika dihubungi dari sambungan telepon.
Diketahui, Fahrianti pergi ke Danau Toba bersama suaminya Burhanudin (48), dan anak-anaknya yakni Dedek Handrian (23), Neneng Nur Ainun (19), Maya Oktaviyanti (17), Dika Ferdian (9) dan menantunya Yani (20).
Erwin menjelaskan, Burhanudin kesehariannya berjualan sate berkeliling. Dia mengaku, sudah mendapat kabar soal jenazah Fahriyanti yang ditemukan oleh Tim Basarnas. “Komunikasi terakhir, jenazah dibawa ke Sibolga. Jika memang di Binjai, kami siap bantu untuk fardhu kifayahnya,” katanya.
Menurut, Burhanudin memiliki lima orang anak. Empat orang ikut dalam kecelakaan KM Sinar Bangun di Danau Toba. Sedangkan si sulung, Rian Afandi (25), selamat dari tragedi maut tersebut lantaran tinggal di Sibolga.
Saat dihubungi wartawan, Rian Afandi tak kuasa menahan tangis. Dia mengaku, terakhir berkomunikasi melalui telepon selular dengan ayah dan ibunya ketika 1 Syawal 1439 Hijriah. “Enggak ada firasat yang ganjil,” ujarnya.
Selama ini, pria yang akrab disapa Fandi itu terpaksa jauh dari keluarganya. Dia merantau ke Sibolga seorang diri, bekerja sebagai nelayan ikan yang ikut bersama keluarga dari ibunya. Suaranya sengau saat mengungkapkan tragedi itu. Sejauh ini baru jenazah ibunya, Fahriyanti yang ditemukan di pinggiran Danau Toba. Ia masih berharap mukjizat, saudaranya yang lain ditemukan selamat.
“Baru jenazah ibu yang ditemukan. Mudah-mudahan yang lain juga bisa segera. Hari ini ibu sudah dibawa ke Binjai untuk disalatkan,” ujarnya seraya memastikan, semua anggota keluarganya akan dibawa ke Binjai ketika jasadnya ditemukan.(mag-1/ted/ian)
Foto: Istimewa
Tim SAR yang mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba melibatkan 350 personil, menggunakan speedboat dan kapal-kapal penumpang, Selasa (19/6).
Foto: Istimewa Tim SAR yang mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba melibatkan 350 personil, menggunakan speedboat dan kapal-kapal penumpang, Selasa (19/6).
SUMUTPOS.CO – PROSES pencarian korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Senin (18/6) sore lalu, terus dilakukan. Terbaru, tim gabungan menemukan dua jasad perempuan, diduga penumpang kapal tersebut, Rabu (20/6).
“Tadi pagi sekitar pukul 07.00 WIB, jasad seorang korban diduga penumpang kapal, ditemukan tim gabungan di pinggir danau, persisnya di pantai PT Japfa. Jenis kelaminnya perempuan, diperkirakan umur 35 tahun,” ungkap Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan.
Jasad korban kedua ditemukan pukul 10.30 WIB di pinggir danau di daerah Sumbul, juga jenis kelamin perempuan. “Ciri-cirinya rambut pirang, baju hitam, mengenakan jacket jeans, celana jeans warna biru, diperkirakan berumur 23 tahun,” sebut Nainggolan.
Setelah korban dievakuasi ke pelabuhan Tigaras, kantong berisi jenazah dimasukkan ke mobil ambulans dan langsung dibawa ke rumah sakit umum Rohandahaim Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, untuk identifikasi. Salah seorang di antaranya diketahui atas nama Fahriyanti, warga Binjai. Fahriyanti masuk daftar orang hilang yang terdaftar di posko Dinas Kominfo Samosir.
Kadis Kominfo Samosir, Tombor Simbolon saat dikonfirmasi membenarkan temuan dua mayat tersebut, satu atas nama Fahrianti, warga Binjai. “Satu jenazah lagi belum teridentifikasi,” katanya.
Hingga hari ketiga proses pencarian, korban yang ditemukan berjumlah 21 orang. “Sebanyak 18 orang di antaranya selamat, dan 3 orang meninggal dunia.
Kembali ke AKBP MP Nainggolan, menurutnya proses pencarian terhadap korban akan terus dilakukan selama 7 hari sejak peristiwa terjadi. Apabila diperlukan, proses pencarian dapat diperpanjang hingga 3 hari berikutnya.
Sebanyak 350 personel terdiri dari Basarnas, TNI/Polri, dan relawan terlibat untuk melakukan proses pencarian para korban. “Tim juga menggunakan alat ROV (Robot Observasi Vinekel). Robot ini nantinya akan melakukan observasi jarak 200 meter ke bawah air,” urai Nainggolan.
Berdasarkan data dari posko pengaduan, hingga hari ketiga peristiwa tenggelamnya kapal, sebanyak 180 orang dilaporkan hilang oleh keluarganya. Ke-180 nama itu diduga ikut menumpang KM Sinar Bangun dari pelabuhan Simanindo-Samosir, sebelum kapal tenggelam di perairan Danau Toba menuju Tigaras, Simalungun, Senin (18/6) sore.
“Berdasarkan keterangan Posman Sijabat, pihak keluarga yang sebelumnya melaporkan korban atas nama Hotbin Sitanggang dan Farel Sitanggang, yang sempat dilaporkan ikut naik kapal Sinar Bangun, setelah crosscheck data, ternyata kedua orang tersebut tidak jadi ikut menaiki kapal yang tenggelam,” pungkas Nainggolan.(mag-1/ted/ian)
Foto: Batara/Sumut Pos
Ando saat disambut haru keluarga setelah selamat dari tenggelamnya KM Sinar Bangun.
Foto: Batara/Sumut Pos Ando saat disambut haru keluarga setelah selamat dari tenggelamnya KM Sinar Bangun.
SUMUTPOS.CO – Kisah lain diutarakan Erwando Lingga alias Ando (24), warga Dusun 1 Desa Perdamaian Kecamatan Tanjung Morawa, Deliserdang, Sumatera Utara. Ando salah seorang korban selamat dari musibah KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba. Ia mengatakan, sempat terombang-ambing di perairan sebelum akhirnya diselamatkan kapal yang lewat.
Ditemui di rumahnya di Tanjungmorawa, pria lajang anak kedua dari empat bersaudara itu, mengisahkan detik-detik peristiwa karamnya kapal kayu kelebihan muatan itu. “Pada Sabtu (16/6), saya minta izin ke ibu saya Hosnia Br Purba, untuk jalan-jalan ke Danau Toba. Saya bersama tiga teman, Dedy Setiawan, Sandri Sianturi, dan Jonatan Tampubolon. Berempat kami , mengendarai dua sepeda motor dengan cara berboncengan,” katanya.
Mereka naik kapal dari pelabuhan Simanindo sekitar pukul 17.00 WIB. Saat di kapal, kondisi cuaca angin kencang dan ombak besar. Kapal kayu tiga lantai itu dipadati penumpang. Lantai satu kapal dipenuhi sepedamotor milik para penumpang kapal. “Perkiraanku, ada 80 kereta (sepeda motor, Red). Kami di bawah, penumpang lainnya di lantai dua dan lantai tiga,” katanya.
Awalnya, Ando sempat memberi pelampung pada ketiga kawannya. “Tapi aku diejek. Pelampung dibuang dan tak dipakai,” terangnya. Ia pun tak jadi mengenakan pelampung.
Saat di kapal, menurutnya, sebagian penumpang di lantai dua ada yang minum-minum tuak. Lantunan musik dari alat pengeras di kapal diputar dengan volume besar. “Ada yang bercanda, ada yang ketawa,” katanya.
Tiba-tiba ombak besar menghempas kapal. Dalam hitungan detik, kapal terbalik. Ando bersama ketiga temannya yang tak pernah menduga peristiwa itu, ikut tenggelam bersama kapal.
“Tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku pasrah dan berdoa memanggil nama Tuhan. ‘Tuhan Yesus’ teriakku dari dalam hati yang paling dalam. Tiba-tiba, ada cahaya kulihat. Karena kami semua terjebak di dalam kapal, dengan meraba-raba aku berhasil keluar dan sampai ke permukaan,” tuturnya.
Setelah berada di permukaan air, Ando masih sempat bertemu ketiga temannya. Namun ombak tinggi menghantam mereka hingga keempatnya terpisah.
Heri Nainggolan, korban selamat tenggelamnya KM Sinar Bangun.
Heri Nainggolan, korban selamat tenggelamnya KM Sinar Bangun.
SUMUTPOS.CO – Kisah tenggelamnya kapal penumpang KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Senin (18/6) sekitar pukul 17.15 WIB lalu, mirip sedikit dengan kisah tenggelamnya kapal Titanic di Laut Samudra Atlantik Utara pada 15 April 1912 lalu. Kapal menabrak sesuatu, mesin mati, kapal oleng dan terbalik, penumpang berlompatan ke air, dan berjuang untuk hidup. Horror!
Namanya Heri Nainggolan, umur 23 tahun. Pemuda ini salahsatu dari 18 korban yang berhasil selamat dari kapal yang tenggelam di Danau Toba, dalam pelayaran dari Pelabuhan Simanindo-Samosir ke Pelabuhan Tigaras-Simalungun, Senin sore lalu.
Ditemui di rumahnya di Panei Tonga, Kabupaten Simalungun, Rabu (20/6), pemuda yang baru diwisuda Desember lalu dari Fakultas Teknik Universitas Simalungun (USI) ini ini mengisahkan kronologis tenggelamnya KM Sinar Bangun, pada sore kelabu itu.
“Saat kejadian, saya sedang duduk di atas sepedamotor yang diparkirkan di bagian lambung sebelah kiri. Saya bersama Roy Sirait, kawan saya sekampung,” katanya memulai cerita.
Sejak awal kapal meninggalkan Pelabuhan Simanindo, dirinya sudah cemas. Soalnya penumpang sangat ramai, dan sepedamotor juga sangat banyak di dalam kapal. Apalagi, kondisi cuaca buruk, ditandai dengan gelombang yang besar.
“Sepedamotor dijejer di lambung kiri dan kanan kapal. Sebagian di dalam kapal di lantai satu,” tuturnya. Ia memperkirakan, sepedamotor yang ada di kapal lebih dari 60 unit. Sementara penumpang, selain di lantai satu dan lambung kapal, juga penuh di lantai dua dan lantai tiga. “Kami naik ke kapal karena hari sudah sore dan cuaca mendung. Kami takut tidak ada lagi kapal untuk pulang,” katanya sedih.
Setelah kira-kira 15 menit kapal meninggalkan pelabuhan, cuaca tiba-tiba semakin buruk. Di tengah danau, tiba-tiba terdengar suara seakan kapal menabrak sesuatu. Detik itu juga, mesin kapal mati. “Hanya hitungan detik, ombak besar menghantam kapal dari arah lambung kiri. Akibatnya kapal oleng dengan cepat ke kanan. Saat itu saya dan Roy berada di sebelah lambung kiri. Kami diuntungkan karena lambung kapal sebelah kiri naik. Kami berdua segera melompat dari kapal ke air,” ungkapnya.
Ternyata sebagian penumpang sebelumnya sudah melompat atau terlempar ke danau. Beberapa di antara penumpang memegang tubuh dan baju keduanya. Karena terasa berat, keduanya bersusah payah melepaskan diri dari pegangan penumpang lain yang berjuang mencari pegangan untuk menyelamatkan diri.
Foto: Edi Saragih/Metrosiantar
Para Keluarga korban KM Sinar Bangun saat menunggu di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Rabu (20/6).
Foto: Edi Saragih/Metrosiantar Para Keluarga korban KM Sinar Bangun saat menunggu di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Rabu (20/6).
SUMUTPOS.CO – Pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba terus dilakukan. Kepala Basarnas Muhammad Syaugi melaporkan hingga kemarin telah ditemukan 22 orang korban. Dari jumlah tersebut, 18 korban selamat. Sementara sisanya 4 orang meninggal dunia. Sementara, laporan warga yang merasa keluarganya hilang dan berada di kapal berjumlah 189 laporan.
Kepala Basarnas Muhammad Syaugi mengatakan, petugas akan all out dalam melakukan pencarian. Saat ini telah disiagakan 70 orang penyelam. Dilengkapi dengan peralatan propeller pinggang. Penyelaman dilakukan 25 hingga 50 meter. Sementara alat Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV) milik Basarnas hanya bisa menjangkau kedalaman hingga 300 meter dari kedalaman Danau Toba yang bisa mencapai 400 sampai 500 meter. “Sebenarnya kami punya yang lebih besar. Tapi yang bawa harus kapal besar juga. Nggak mungkin dibawa ke Danau Toba,” katanya.
Syaugi menambahkan, pencarian akan terus dilakukan pagi siang hingga sore selama 7 hari kedepan. “Setelah 7 hari, kita evaluasi kemungkinan, kalau masih memungkinkan ditemukan, ya diperpanjang 3 hari jadi 10 hari,” katanya.
Mulai kemarin, Tim SAR Marinir yang Bawah Kendali Operasi (BKO) ke Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (BNPP) atau Basarnas langsung bergerak. Mereka turut menyelam bersama special group Basarnas dan tim dari Polairud dalam pencarian korban hilang kapal motor nahas tersebut. ”Langsung bergabung dengan yang lainnya,” kata dia.
Menurut Kadispen Kormar Letkol Mar Ali Sumbogo, pencarian korban hilang sudah mulai berjalan sejak pukul 07.00 WIB. Berbeda dengan dua hari lalu (19/6), kemarin petugas menyebar sampai radius dua kilometer dari lokasi kejadian. Upaya itu dilakukan lantaran para korban berpotensi terbawa arus. Sehingga menjauh dari lokasi karamnya kapal tersebut. ”Tim akan terus berupaya secara optimal agar korban dapat ditemukan lagi,” bebernya.
SUMUTPOS.CO – Mengenai proses hukum, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan jika terbukti ada unsur pidana dalam insiden tersebut, maka KUHP Pasal 359 akan dijatuhkan pada siapapun yang lalai/alpa. Bisa pada nakhoda dalam proses pelayaran, atau pada operator yang mengabaikan kelaikan kapal, bisa juga pada regulator, Dishub setempat jika memang terbukti lalai. “Jangankan sengaja, lupa aja kena pidana. Ancamannya 5 tahun penjara,” jelas Budi.
Sementara Kabagpensat Divhumas Polri Kombespol Yusri Yunus menjelaskan, Polri berupaya untuk bisa memastikan apakah ada unsur pidana dalam tenggelamnya kapal tersebut. Memang situasi di lapangan, banyak muncul kapal tidak resemi. ”Nanti kita evaluasi,” jelasnya.
Namun begitu, Polri juga perlu untuk mempertimbangkan situasi dan kondisi. Saat ini masih dalam proses evakuasi. ”Lihat situsi ini, pencarian dulu,” ujar polisi dengan tiga melati di pundaknya tersebut.
Sementara, Pemprov Sumut sudah sering memberi peringatan dan imbauan untuk tidak mengangkut kendaraan pada kapal penumpang dan selalu mempersyaratkan safety equipment seperti pelampung, life jacket, Apar dan lainnya dalam pemeriksaan kelaikan berlayar. “Sosialisasi dan pemberian lifet jacket ini juga rutin kita laksanakan bersama BPTD Kemenhub,” kata Kepala Bidang Perkeretaapian dan Pengembangan Dinas Perhubungan Sumut, Agustinus Panjaitan kepada Sumut Pos, Rabu (20/6).
“Pada prinsipnya dari kejadian itu kita akan lebih tingkatkan pengawasan,” kata dia.
KM Sinar Bangun yang mengalami musibah dalam pelayaran dari Simanindo ke Tigaras, Senin (18/6).
KM Sinar Bangun yang mengalami musibah dalam pelayaran dari Simanindo ke Tigaras, Senin (18/6).
SUMUTPOS.CO – MERESPONS tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di Danau Toba pada Senin (18/6) sore, Kemenhub menyetop operasional kapal penyeberangan non-ferry di seluruh Danau Toba. Penhentian operasi itu dilakukan efektif mulai Rabu (20/6), hingga seluruh operator lolos audit keselamatan.
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, alasan penyetopan itu karena dugaan ada beberapa pelanggaran yang dilakukan dalam layanan KM Sinar Bangun. Namun, ia belum mau berspekulasi karena penyelidikan sedang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Kalau melihat dari tidak adanya manifest, Surat Izin Berlayar (SIB) juga tidak ada, ya ada indikasi kecurangan,” kata Budi di Jakarta, kemarin.
Apalagi, dengan kapasitas kapal maksimum 43 orang kemudian mengangkut penumpang ratusan orang. Selain itu, hanya ada 45 jaket keselamatan yang ditemukan di atas kapal. Menurut Budi itu adalah indikasi pelanggaran yang cukup kuat. “Kalau 80 orang (penumpang, Red) masih mungkin, tapi kalau sampai 200 jelas nggak cukup,” jelasnya.
Budi memaparkan, KM Sinar Bangun berukuran 35 Gross Tonase (GT). Kapasitas maksimum kapal adalah 43 orang. Dengan 40 penumpang dan 3 orang kru. Budi kemudian mengungkapkan, presiden sudah menginstruksikan untuk mereformasi seluruh sistem pengawasan safety kapal.
Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi menjelaskan, pihaknya telah sepakat dengan unsur kepolisian untuk menghentikan seluruh operasional kapal penyeberangan dari 5 dermaga di Danau Toba. Penghentian ini, kata Budi, selain untuk memberikan keleluasaan bagi operasi penyelamatan dan pencarian korban oleh Basarnas, juga memberi kesempatan bagi Kemenhub untuk melakukan audit keselamatan bagi seluruh kapal-kapal yang beroperasi di Danau Toba. “Kita audit misalnya ketersediaan life jacket, pelampung, komunikasi dan sebagainya,” jelas Budi.
Budi mengatakan, Direktur Angkutan Multimoda Kemenhub Cucu Mulyana telah mengumpulkan 40 operator kapal penyeberangan yang beroperasi di seluruh Danau toba. Budi memastikan semuanya sudah sepakat untuk meningkatkan aspek keselamatan. “Kalau sudah lolos audit ya silahkan berlayar lagi,” jelas Budi.
Tim SAR melakukan pencarian korban maupun bangkai kapal KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba Simanindo-Tigaras, Selasa (19/6).
Tim SAR melakukan pencarian korban maupun bangkai kapal KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba Simanindo-Tigaras, Selasa (19/6).
BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 24 prajurit dari Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan I) Belawan dan Lantamal I Belawan dikerahkan, untuk melakukan pencarian korban hilang dalam musibah KM Sinar Bangun di Danau Toba, Senin (18/6) lalu,
Danyonmarhanlan I, Letkol Marinir Abdi Zunanda Tambunan, Rabu (20/6), mengatakan ke-24 prajurit yang dilibatkan merupakan tim gabungan dari sembilan prajurit Yonmarhanlan I, delapan prajurit Denma Lantamal I, lima prajurit dari Rumkit Lantamal I, dan dua prajurit Pomal Lantamal I.
Tim yang diberangkatkan dipimpin Lettu Marinir Lontung Rumapea, dengan anggota yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Prajurit yang diberangkatkan dilengkapi dengan peralatan 1 unit mobil ambulans, 6 set alat selam, 19 swimfest, serta peralatan pendukung lainnya.
“Metode pencarian untuk korban akan dilakukan dengan cara proses penyisiran menggunakan perahu karet dan sea rider, serta metode penyelaman,” kata Abdi Zunanda.
Dijelaskan orang nomor satu di Yonmarhanlan I ini, proses pencarian akan dilakukan dalam metode waktu yang telah diterapkan, yakni proses pencarian dengan jangka waktu 7 hari, kemudian dilanjutkan 3 hari jika dianggap diperlukan.
Proses akan dikerjakan tim gabungan melibatkan Tim SAR Marinir. “Dengan demikian, titik proses pencarian dapat dilakukan secara maksimal,” katanya.
Pencarian korban akan difokuskan di titik lokasi tenggelamnya kapal. “Harapannya seluruh korban hilang dapat kita evakuasi,” terang Abdi Zunanda.
Disinggung kendala yang dihadapi, perwira berpangkat dua bunga melati emas ini mengaku, perbedaan air tawar dengan kondisi air laut. Di mana air tawar semakin diselami, akan menimbulkan keruh dan gelap pada kedalaman air.
“Tapi mudah-mudahan prajurit yang kita libatkan mampu mengatasi kendala ini,” sebut Abdi Zunanda. (fac)
Foto: Repro
Reynold dan tunangannya Juliana, hilang dalam peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Senin (18/6). Juliana pulang ke Siantar dari Depok untuk menemui kekasihnya.
Foto: Repro Reynold dan tunangannya Juliana, hilang dalam peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Senin (18/6). Juliana pulang ke Siantar dari Depok untuk menemui kekasihnya.
SINAKSAK, SUMUTPOS.CO – Beragam kisah sedih mewarnai tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun tujuan rute Simanindo-Tigaras di Danau Toba, Senin (18/6) sore lalu. Kecelakaan itu mengakibatkan rencana pernikahan antara Chrisman Reynold Simarmata dengan tunangannya Juliana, terancam batal.
Reynold, warga Jalan Puan Gunung Purba, Sinaksak, Kabupaten Simalungun ini menjadi salah satu penumpang yang belum ditemukan hingga, Rabu (20/6). Pria kelahiran 19 Desember 27 tahun silam itu hilang bersama kekasihnya, Juliana Suraida, beserta ratusan orang lainnya yang menumpang kapal tersebut.
Sampai H+2 pencarian, petugas gabungan dari Tim Basarnas dan Kepolisian serta Dinas Perhubungan, belum menemukan keduanya. Sejak saat itu pula, Lasmaria boru Rumapea, ibunda dari Reynold, tak dapat membendung air matanya. Tangisannya semakin menjadi mengingat Reynold dan Juliana berencana akan melangsungkan pernikahan tahun depan.
“Amaaang… anakku tu Simanindo dohot si Juli,” teriak ibunda Reynold, saat mendapat kabar buruk itu.
Jon Clinton, adik Reynold menceritakan, pasangan Reynold-Juliana menjalani hubungan jarak jauh, meskipun rumah mereka hanya berjarak sekitar 500 meter di Siantar. Pasalnya, Reynold bekerja di PT STTC, Pematangsiantar sedangkan Juliana bekerja di salah satu bank di Kota Depok.
Libur Lebaran kemarin, Juliana pulang ke Pematangsiantar. Memanfaatkan libur kerja, keduanya berangkat ke Pulau Samosir untuk sekedar jalan-jalan membuang penat. Saat berangkat, abangnya mengenakan baju perpaduan warna biru dan abu-abu, jacket jeans, dan sepatu boot coklat. Mereka berangkat pada Senin pagi. Reynold mengendarai sepeda motor Yamaha Scorpio Z, membonceng Juliana menuju Kabupaten Toba Samosir.
Rupanya perjalanan itu menjadi perjalanan terakhir keduanya, karena kapal yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Danau Toba.
Kabar buruk itu diterima keluarga dari tetangga mereka yang juga ketua RT setempat. Anak dari ketua RT tersebut kebetulan berada di Samosir, dan berencana akan menyeberang dengan menaiki kapal ferry. Namun batal karena mendapat kabar adanya kapal motor yang tenggelam.
“Jadi dia mengabari bapaknya di sini. Dibilang biar dikasih tahu sama tetangga, mana tahu ada keluarga yang menyeberang naik kapal itu,” terangnya.
Mendapat kabar itu, Lasmaria langsung teringat dengan Reynold, anaknya. Usaha untuk menghubungi anak ke 2 dari 3 bersaudara itu pun dilakukan. Namun tak membuahkan hasil, membuat keluarga semakin khawatir.
Jerit tangis kontan memecah ruah di dalam rumah orang tua Reynold.
“Kau bilang janji datang hari Selasa. Kutunggu-tunggu tidak ada. Pulangkan si Juli itu,” tangis ibunda Reynold saat itu.
Jeritan itu karena pada Selasa, Reynold akan membawa Juliana ke kediaman mereka. Hal itu bertujuan untuk membahas rencana pernikahan mereka tahun depan. “Sudah 4 tahun mereka berpacaran,” kata adik Reynold.
Sampai akhirnya, J Simarmata –ayahanda Reynold– dan keluarga lainnya berangkat menuju Tigaras, Kabupaten Simalungun berharap mendapat kabar kepastian nasib anak dan calon menantunya. Pada kedatangan berikutnya, ayahanda Reynold membawa jas dan sepatu, untuk persiapan jika tubuh anaknya ditemukan.
“Memang bukan kita inginkan kejadian ini Bang. Tapi kalaupun abang meninggal, ya mudah-mudahan jasadnya ditemukan. Tadi pagi bapak sama abang kesana uda bawa jas sama sepatu abang,” pungkas Jon dengan tatapan kosong.
Sejak kejadian naas itu juga, rumah berlantai keramik itu dipadati sanak saudara dan tetangga yang silih berganti datang ke rumah untuk menemani keluarga korban yang khawatir dengan kabar Reynold. Mereka bergantian menghibur Lasmaria Boru Rumapea yang menangis.
Sampai saat ini, keluarga masih menunggu kabar dari Reynold dan Juliana. Ditemukan masih bernyawa ataupun tidak, keluarga sudah pasrah. Paling tidak, mereka berharap jenazah korban dapat ditemukan jika memang sudah meninggal. (gid/esa)