Home Blog Page 6273

PSMS Gelar Dua Uji Coba

Foto: Sutan Siregar/Sumut Pos Antoni Putro Nugroho turut dibawa ke Lamongan karena sudah pulih.
Foto: Sutan Siregar/Sumut Pos
Pemain PSMS melakukan latihan di Stadion Kebun Bunga Medan.

SUMUTPOS.CO – Libur yang cukup panjang hingga sebulan ke depan membuat PSMS harus menyiasati kondisi pemain. Lama kehilangan sentuhan, Legimin Raharjo dkk membutuhkan uji coba sebelum laga kontra Madura United, 8 Juli mendatang.

Pelatih PSMS, Djadjang Nurdjaman menjelaskan uji coba tersebut dilakukan pada 27 Juni dan 30 Juni 2018, mendatang. Seperti diketahui PSMS akan kembali berlatih pada 21 Juni mendatang.

Namun, juru taktik yang kerap disapa Djanur ini belum tahu pasti siapa lawan PSMS di laga uji coba. Informasi yang beredar salah satu lawan tim berjuluk Ayam Kinantan ini adalah Semen Padang FC.

“Belum tahu, tapi saya agendakan ada dua uji coba mudah-mudahan bisa terlaksana di akhir Juni. Sebab, tanggal 5 Juli sudah ke Madura,” ungkap Djanur.

Jika benar, ujicoba kontra Semen Padang bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya saat pra musim PSMS juga menghadapi Kabau Sirah. Kala itu skor imbang 1-1.

Sebelumnya demi menjaga kondisi pemain saat libur panjang, bekas pelatih Persib Bandung ini memberi pekerjaan rumah kepada seluruh penggawa PSMS. Hal itu dilakukan guna kondisi pemain tak terlalu menurun drastis.

“Sebelum liburan saya sudah kasih jadwal ke pemain program latihan dan mereka harus menyerahkan bukti berupa video latihan. Kita tanggal 21 Juni mulai latihan dan akan mulai pertandingan pada tanggal 7 Juli 2018,” beber Djanur.

Djanur juga telah menyiapkan program latihan yang akan diberikan ke para penggawa Ayam Kinantan. Termasuk fisik pemain akan digenjot guna mengembalikan kondisi pemain yang menurun saat jeda kompetisi.

“Jadi artinya ada waktu dua minggu sebelum berangkat lawan Madura, di situ akan dikembalikan kondisi fisik pemain karena kita tahu cukup lama libur meski kita kasih pekerjaan rumah pasti ada penurunan,” bebernya

“Jadi kita akan lakukan peningkatan kondisi pemain agar kembali ke level yang bagus dan siap untuk melanjutkan pertandingan,” pungkas pelatih kelahiran Malajengka ini. (don)

Polda Bakal Jemput Paksa Mantan Bupati Tapteng

Sukran Jamilan Tanjung, mantan Bupati Tapteng.
Sukran Jamilan Tanjung, mantan Bupati Tapteng.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Mantan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Sukran Jamilan Tanjung kembali mangkir pada panggilan kedua. Padahal penyidik Subdit II/Harda-Tahbang Direktorat Reskrimum Polda Sumut sudah mengirimkan surat panggilan.

Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan mengatakan, sesuai jadwal, Sukran harusnya menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dugaan penipuan dan penggelapan, pada Jumat (8/6) lalu.

“Panggilan kedua kepadanya sudah kita lakukan kemarin. Tapi ia juga tidak menghadiri,” ungkapnya kepada wartawan, Selasa (12/6).

Namun Nainggolan mengakui, dalam surat panggilan kedua tersebut, Sukran ada mengirimkan surat keberatan atas penetapannya sebagai tersangka oleh Polda Sumut.

Sedangkan terlapor lainnya, Amirsyah Tanjung yang juga merupakan kerabat Sukran, mengirimkan surat keterangan sakit. Sehingga tidak bisa menghadiri panggilan penyidik.

“Sukran merasa keberatan atas penetapan dirinya sebagai tersangka,” jelasnya.

Karenanya, Nainggolan menegaskan, pasca lebaran nanti penyidik akan kembali melayangkan panggilan ketiga terhadap keduanya. Dalam panggilan ini, sambung dia, hal itu akan disertai dengan surat untuk membawa paksa mereka ke Polda Sumut.

“Panggilan ketiga dilakukan setelah lebaran. Disitu akan disertakan dengan surat untuk membawa,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, penyidik Subdit II/Harda-Tahbang Ditreskrimum Polda Sumut telah mengajukan pencekalan terhadap mantan Bupati Tapteng ini ke pihak Imigrasi. Pencekalannya dilakukan, agar tersangka Sukran Jamilan Tanjung tidak bisa melarikan diri.

Sekedar mengingatkan, mantan Bupati Tapteng itu dilaporkan oleh Joshua Marudutua Habeahan pada 30 April 2018. Laporan korban diterima dengan nomor LP 546/IV/2018/SPKT III.

Terlapor ada dua orang. Keduanya masing-masing, Amirsyah Tanjung dan Sukran Jamilan Tanjung.

Korban dan terlapor pernah bertemu membahas soal pengerjaan proyek konstruksi senilai Rp5 miliar.

Sukran yang menjabat sebagai Bupati, memerintahkan Amirsyah untuk meminta sejumlah uang administrasi.

Uang yang diminta Sukran Tanjung melalui Amirsyah Tanjung kepada Joshua sebesar Rp450 juta rupiah. Harapannya akan diberikan sejumlah proyek, salah satunya pembangunan konstruksi. Namun, proyek yang dijanjikan tidak kunjung ada.(mag-1/ala)

 

Ibu & Anak Tewas Ditabrak Angkot

Foto: Fachril/Sumut Pos Ibu dan anak tewas ditabrak angkot di di Jalan Titi Pahlawan, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Selasa (12/6).
Foto: Fachril/Sumut Pos
Ibu dan anak tewas ditabrak angkot di di Jalan Titi Pahlawan, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Selasa (12/6).

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Dinarki Sinaga (14) bersama ibunya Lerinda br Marbun (45) tewas ditabrak angkutan kota (Angkot). Peristiwa itu terjadi di Jalan Titi Pahlawan, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Selasa (12/6) sekira pukul 05.30 WIB.

Pagi itu, kedua warga Jalan Pulau Bangka, Kecamatan Medan Labuhan mencari nasi bekas panganan untuk pakan ternak. Dinarki membawa becak bermotor (Betor) tanpa plat dengan membonceng ibunya melintas dari Marelan menuju Simpang Kantor.

Tanpa disangka, ketika betor akan menyeberang ke arah kanan, dari arah belakang angkot Mars 130 BK 1098 UC yang dikemudikan Wilprid Bona Tua Silaban menghantam kedua korban.

Akibatnya, ibu dan anak itu terpental ke badan jalan. Kecelakaan itu menghebohkan warga sekitar.

Ibu dan anak itu tewas di tempat. Petugas Unit Lalu Lintas (Lantas) Polsek Medan Labuhan datang ke lokasi melakukan olah TKP.

Kedua jenazah langsung dievakuasi ke RSU dr Pirngadi Medan. Kendaraan dan sopir angkot diamankan polisi.

“Becak itu ditabrak karena mau nyebrang. Karena tidak ada tanda lampu, makanya tertabrak,” kata warga sekitar.

Sementara itu, Kanit Lantas Polsek Medan Labuhan, Iptu AW Nasution mengaku pihaknya sudah menangani kecelakaan itu, sopir dan kendaraan telah diamankan.

“Dari keterangan yang kita terima, sopir itu tidak nampak becak itu mau nyebrang, karena tidak ada lampunya. Korban sudah kita visum untuk segera kita tindaklanjuti,” terang AW Nasution.(fac/ala)

9 Terduga Pembunuh Ismail Dibekuk

APIT: KBO Satreskrim Iptu Bringin Jaya didampingi Kanit Tipikor Iptu Agus Ariyanto mengapit para pelaku.
APIT: KBO Satreskrim Iptu Bringin Jaya didampingi Kanit Tipikor Iptu Agus Ariyanto mengapit para pelaku.

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO  – Ismail alias Iis (43) dihabisi sekelompok pemuda di kedai tuak milik Kusprianto, Jalan Pramuka, Kelurahan Pinang Mancung, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi. Maut itu dipicu rebutan nyanyi (karaoke) saat minum tuak, Sabtu (9/6) sekira pukul 23.30 WIB.

Personel Satreskrim Polres Tebingtinggi berhasil mengamankan 9 terduga pelaku penganiayaan warga Jalan Demokrasi, Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi itu.

Kasat Reskrim Polres Tebingtinggi, AKP TP Butar-Butar membenarkan anggotanya telah mengamankan sembilan orang terduga pelaku.

“Benar, ada sembilan orang yang kita amankan yakni, AGS (24), PN (20), AS (19), GM (21), CAMS (20), PS (32), KTPA (17), FM (17) dan HS (15. Semuanya merupakan warga Dusun I Tanah Putih, Desa Mariah Padang, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Sergai,” sebutnya di Mapolres Tebingtinggi, Selasa (12/6).

Dijelaskannya, setelah menerima laporan kejadian, personel Satreskrim segera melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi di TKP.

Hasilnya, Minggu (11/6) diperoleh informasi bahwa semua terduga pelaku adalah warga Dusun I Tanah Putih, Desa Mariah Padang, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Sergai.

Saksi juga menyebut salah satu pelaku berinisial PS. Menindaklanjuti informasi tersebut, personel Satreskrim diback-up personil Sat Resnarkoba, Sat Intelkam dan Sabhara langsung meluncur ke alamat pelaku.

Petugas kemudian berhasil mengamankan PS. Kepada polisi, PS menyebut identitas pelaku lainnya. Akhirnya, semua pelaku berhasil diamankan.

Dari para pelaku, turut diamankan barang bukti berupa 2 pisau dan 1 celurit. Sedangkan dari TKP diamankan barang bukti berupa sandal, baju, celana dalam, celana milik korban dan sepasang sandal yang belum diketahui siapa pemiliknya.

“Saat ini para pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif di Satreskrim untuk mendalami peran masing-masing dan untuk mengetahui motif kejadian yang sebenarnya,” jelas Butar-Butar.(ian/ala)

 

 

 

Amirullah Lebaran di Penjara

Ilustrasi
Ilustrasi

PERDAGANGAN, SUMUTPOS.CO -Amirullah (34) warga Lingkungan IV, Kelurahan Perdagangan I, Kecamatan Bandar, terpaksa harus berlebaran dibalik sel rumah tahanan polisi Polres Simalungun.

Pasalnya, ia dibekuk personel Satres Narkoba Polres Simalungun, Senin (11/6) sekira pukul 17.30 WIB. Amirullah ‘dijemput’ dari Jalan Amal, Nagori Perdagangan II, Kecamatan Bandar karena terlibat penyalahgunaan dan peredaran sabu.

Penangkapan tersangka berawal dari informasi masyarakat. Informan menyebut, Amirullah terlibat peredaran sabu.

Polisi pun langsung melakukan penyelidikan di lapangan dengan melakukan pengintaian. Begitu melihat tersangka, polisi langsung mengamankannya.

Dari tersangka, polisi mendapati 3 paket kecil sabu. Saat diinterogasi, tersangka mengakui barang haram tersebut adalah miliknya yang didapat dari pria berinsial D warga Indrapura, Kabupaten Batubara.

Polisi kemudian memburu D. Namun sayang, polisi tidak berhasil membekuk D. Diduga D mengetahui kedatangan polisi hingga berhasil melarikan.

Kasatres Narkoba Polres Simalungun AKP Juriadi Sembiring SH MH, mengatakan masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku. “Barang bukti sudah kita amankan,” katanya.(adi/esa/smg/ala)

PKB Angkutan Umum dan Barang Naik 60- 80 Persen

Ketua DPC Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Kota Medan, Mont Gomery Munthe.
Ketua DPC Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Kota Medan, Mont Gomery Munthe.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua DPC Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Kota Medan, Mont Gomery Munthe menilai, selama masa kepemimpinan Gubu Tengku Erry, dinilai meninggalkan kebijakan yang memberatkan. Kebijakan tersebut terkait pajak kendaraan bermotor (PKB) yang mengalami kenaikan hingga 80 persen. Untuk itu, Organda meminta kebijakan itu ditinjau ulang.

“Menjelang masa akhir jabatannya kira-kira pada bulan Mei yang lalu PKB mengalami kenaikan. Untuk angkutan umum naik 60 persen, sedangkan angkutan barang 80 persen.Seharusnya ketika masa jabatannya mau habis, masyarakat itu dirangkul dan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum diakomodir seperti PKB. Tapi kenapa, dari awal menjadi gubernur sampai sekarang dia itu menunjukan tidak pro kepada rakyat,” kata Gomery kepada Sumut Pos, Senin (11/6).

Diutarakan Gomery, kenaikan PKB tersebut tidak ada dilakukan sosialisasi kepada masyarakat. Bahkan, kebijakan yang dilakukan tersebut secara tiba-tiba. “Gak sosialisasi, tiba-tiba aja. Kebijakan tersebut mengacu kepada Pergub nomor 90 tahun 2017 (tentang penghitungan dasar pengenaan PKB dan bea balik nama kendaraan bermotor tahun 2017),” ujarnya tanpa menjelaskan secara detail hitung-hitungannya.

Gomery mengaku, kebijakan menaikkan PKB tersebut sangat memberatkan para pengusaha angkutan umum. Terlebih, kebijakan yang dilakukan itu tidak diketahui alasan dan tujuan yang jelas. “Kami sangat heran mengapa harus diambil kebijakan tersebut. Sebab, pemerintah pusat saja tidak demikian membuat kebijakan,” ucapnya.

Ia menuturkan, oleh karena itu pihaknya meminta agar Pergub No 90/2017 dapat ditinjau ulang dan bahkan dibatalkan. Sebab, regulasi tersebut sangat-sangat memberatkan para pelaku usaha angkutan umum. “Kami sudah diberatkan dengan adanya taksi online, hingga menyebabkan omset kami menurun drastis lantaran persaingannya tidak sehat. Anehnya, kami malah dibebani lagi dengan pajak yang memberatkan,” papar Gomery.

Dia menambahkan, apabila tetap diberlakukan kebijakan menaikkan PKB tersebut jangan sampai memberatkan pelaku usaha jasa angkutan umum. Artinya, regulasi terhadap PKB yang diberlakukan pro kepada rakyat.

Hal senada disampaikan Sekretaris DPC Organda Kota Medan, Jaya Sinaga. Menurut Jaya, kenaikan pajak terlalu tinggi dari Permendagri yang batas maksimal hanya 30 persen.

“Peraturan ini bukan hanya memberatkan para pengusaha dan supir angkutan umum, namun juga masyarakat seluruhnya di Sumut. Penetapan Pergub Sumut itu dinilai sebagai tindakan gegabah karena meningkatkan PAD. Bahkan, kebijakan itu tidak dilakukan sosialisasi,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Diketahui, dalam Pergub Sumut itu PKB naik 60 persen, BBN-KB 60 persen, PKB umum/batang 80 persen, BBN-KB umum/barang 80 persen. Semuanya, diberlakukan pada angkutan umum atau angkutan barang. (ris/ila)

 

 

Hore…Juli, ASN Gajian Double

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PNS_Beberapa orang PNS sedang menunggu jemputan usai jam selesai jam kerja di Kantor Walikota Medan, Selasa (25/7)
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
Beberapa orang ASN sedang menunggu jemputan usai jam selesai jam kerja di Kantor Walikota Medan, beberapa waktu lalu.

SUMUTPOS.CO – Dompet aparatur sipil negara (ASN) Pemko Medan sepertinya bakal tebal. Bagaimana tidak, setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji bulan Juni, para pegawai negeri sipil ini akan menerima gaji ke-13.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Medan, Irwan Ibrahim Ritonga mengatakan, awal Juli mereka sudah akan menerima pembayaran gaji ke-13. Rencananya, pembayaran gaji ke-13 akan dilakukan bersamaan dengan pembayaran gaji bulan Juli.”Kalau SPM (Surat Perintah Membayar) gaji 13 masuk bersamaan dengan SPM gaji, maka pencairannya akan bersamaan. Uangnya ditransfer pada hari yang sama,” kata Irwan, kemarin.

Irwan menyebutkan, jumlah gaji ke-13 yang diterima ASN nantinya akan lebih besar dari gaji bulan Juli. Sebab, tidak ada potongan, dimana pembayaran gaji 13 sama dengan seluruh komponen tunjangan yang mengikat di ASN. “Kalau gaji kan ada potongan seperti taspen, perumahan, pajak dan lainnya. Kalau gaji 13 hanya dipotong pajak saja. Maka dari itu, jumlahnya lebih besar,” sebut Irwan.

Diutarakan dia, selain gaji ke-13 dan gaji bulanan, para ASN juga mendapatkan tunjangan tambahan penghasilan (TPP). “TPP yang akan dibayarkan setiap bulannya berjumlah sekitar Rp40 miliar. Namun, TPP dibayar setelah ASN bekerja. Lumayan lah keuangan ASN menghadapi lebaran tahun ini, karena banyak menerima honor,” cetusnya.

Irwan membeberkan, dalam pembayaran gaji ke-13 maupun THR tidak ada dana alokasi khusus dari pemerintah pusat. Dana yang dipakai tersebut merupakan sisa-sisa dari Dana Alokasi Umum (DAU), dari total hampir Rp126 miliar dana yang ditranfer pemerintah untuk gaji.”Sama seperti THR, tidak ada alokasi anggaran khusus. DAU yang ada itu dimaksimalkan, kekurangannya ditambahi uang dari APBD,” imbuhnya.

Diketahui, THR ASN Pemko Medan telah ditransfer ke rekening masing-masing pada Senin (4/6) pekan lalu. Transfer THR yang dilakukan terhadap seluruh PNS yang tercatat di organisasi perangkat daerah (OPD) Pemko Medan. Termasuk juga, anggota DPRD Medan.

“Pembayaran THR memang agak sedikit terlambat karena tidak sama dengan pembayaran gaji bulan Juni. Hal itu disebabkan karena lambatnya tagihan pembayaran atau surat perintah membayar (SPM) dari masing-masing OPD. Sehingga, THR tidak bisa dicairkan bersamaan dengan gaji,” tutur Irwan. (ris/ila)

 

 

dr Sofyan Tan Persembahkan Dua Pantun untuk Sihar

Calon wakil gubernur Sumatera Utara, Sihar Sitorus menjelaskan program andalan Djoss dalam acara ramah tamah bersama Sofyan Tan di restaurant Lucky King, Medan, Selasa (12/6).

 

Calon wakil gubernur Sumatera Utara, Sihar Sitorus menjelaskan program andalan Djoss dalam acara ramah tamah bersama Sofyan Tan di restaurant Lucky King, Medan, Selasa (12/6).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dua pantun dilantunkan oleh anggota DPR RI dr Sofyan Tan dalam ramah tamah Sahabat Sofyan Tan dengan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut) Sihar Sitorus di satu restoran di Medan, Selasa (12/6).

“Datang bukan sembarang datang. Kita datang untuk Sumut yang lebih baik. Pulang jangan sembarang pulang. Kalau belum bisa promosikan Djarot-Sihar pilihan terbaik.”

“Terbang tinggi burung merpati. Kan pulang juga ke pasangan hati. Kalau sahabat Sofyan Tan  sudah bulatkan hati. Jangan ragu untuk meraih kemenangan di Pilgubsu nanti.”

Sofyan Tan  selanjutnya mengatakan bahwa dia sengaja membuat pantun mengingat Medan merupakan tanah Melayu. Karena itu harus mengikuti budaya yang ada agar menyatu dan membaur.

Dalam acara temu Sahabat Sofyan Tan tersebut, ratusan pemuka agama hadir dan bersilaturahim dengan Cawagub yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut.

Sofyan Tan mengatakan bahwa para pemuka agama tersebut merupakan perwakilan dari sejumlah rumah ibadah yang ada di Medan. Bagi Sofyan Tan, para pemuka agama tersebut sangat berperan untuk kemajuan Sumut, khususnya dalam membangun paradigma baru.

Sementara Sihar Sitorus yang hadir dalam acara tersebut mengaku kagum dengan Sofyan Tan yang dapat melantunkan pantun. Sihar mengatakan bahwa pertemuan tersebut sangat menarik. Pasalnya dia dapat bersilaturahim langsung dengan para tokoh tokoh pemuka agama. Peran pemuka agama sangat penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Sihar mengatakan bahwa ke depan antara pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi. Terlebih dalam membangun kesejahteraan bersama.(rel/azw)

 

 

 

Ijeck: Harus Dimulai dari Keluarga

Cawagubsu H Musa Rajekshah mengadakan dialog dengan Jaringan Perlindungan Anak Sumatera Utara, Selasa (12/6).
Cawagubsu H Musa Rajekshah mengadakan dialog dengan Jaringan Perlindungan Anak Sumatera Utara, Selasa (12/6).

SUMUTPOS.CO – Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara (Cawagubsu) nomor urut 1, H Musa Rajekshah mengadakan dialog dengan Jaringan Perlindungan Anak Sumatera Utara, Selasa (12/6). Dialog yang dihelat di Kantor Sumatera Harley Davidson Jalan S Parman itu berjalan menarik karena kuatnya komitmen bersama dalam hal perlindungan anak.

Musa Rajekshah mengatakan, di luar kontestasi Pilgub Sumut, sebenarnya dirinya pribadi berkomitmen kuat terhadap perlindungan anak. “Namun komitmen pribadi itu tak harus terekspos dan dipamerkan. Yang penting bahwa kita harus sadar bahwa anak-anak adalah generasi yang harus kita jauhi dari segala bentuk kekerasan fisik maupun psikis. Dan perlindungan anak itu harus dimulai dari keluarga,” kata Musa Rajekshah.

Jumlah anak-anak di Sumatera Utara adalah sepertiga jumlah penduduk Sumut. Pria yang karib disapa Ijeck itu menggarisbawahi, bahwa perlindungan anak menjadi salahsatu skala prioritas bagi pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas). “Jadi isu ini bukan isu yang diletakkan di urutan paling buncit. Perlindungan anak jadi bagian penting agenda pembangunan Eramas ke depan,” kata Ijeck.

Sementara itu Kordinator Jaringan Perlindungan Anak Sumut, Misran Lubis mengatakan, ada 35 organisasi yang berada di JPA Sumut. “Semuanya bergerak pada persoalan perlindungan anak. Yakni anak berkebutuhan khusus, anak berurusan dengan hukum dan sebagainya,” kata Misran.

Menurut Misran, sudah sangat lama Sumatera Utara tertinggal jauh dalam urusan perlindungan anak. “Jikapun ada kabupaten/kota yang layak anak, itu masih di tingkat dasar. Bahkan dengan provinsi tetangga di Sumatera pun kita masih tertinggal,” tegas Misran.Ditambahkan Misran, kasus kekerasan terhadap anak masih cukup tinggi. “Masih banyak kasus paparan pornografi, paparan kekerasan pada anak. Kekerasan bukan cuma fisik, tapi psikis,” kata Misran.

Untuk itu, sambung Misran, dibutuhkan komitmen kuat dari pemimpin Sumut ke depan. “Alhamdulillah hari ini kelihatan bahwa Bang Ijeck punya komitmen kuat. Bahkan Eramas sudah mempersiapkan agenda perlindungan anak sebagai salahsatu agenda utama mereka dan dijadikan isu seksi,” kata Misran.

Bahkan kata Misran, pihaknya turut mengapresiasi karena Ijeck secara pribadi jadi bagian Jaringan Perlindungan anak Sumatera Utara. “Dan Bang Ijeck menegaskan bahwa harus ada sinergi antara Eramas dengan jaringan perlindungan anak. Sebagai mitra ke depan, harus menjalankan agenda perlindungan anak secara lebih berkesinambungan lagi,” kata Misran. (rel)

Hanya Djoss yang Jujur Masalah Suku

Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Syaiful Hidayat- Sihar Sitorus saat acara wawancara khusus dengan salah satu televisi swasta di Medan, belum lama ini.
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Djarot Syaiful Hidayat- Sihar Sitorus saat acara wawancara khusus dengan salah satu televisi swasta di Medan, belum lama ini.

SUMUTPOS.CO – Polemik tentang suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) yang kerap mewarnai pertarungan politik, selalu menjadi warna dalam perjalanan demokrasi. Ketidakdewasaan pelaku politik sering merugikan masyarakat umum. Masyarakat diharapkan dapat memilih dengan cerdas dan melihat siapa calon yang jujur dari berbagai hal, termasuk identitas suku dan agama.

Hal tersebut disampaikan tokoh Muslim di Sumut, H Imran Napitupulu, pengurus salah satu organisasi Islam. Ia mengaku sangat kecewa melihat keberadaan politisi yang kerap menggadaikan identitas demi mendulang suara.

“Kadang mengaku Jawa, kadang mengaku Aceh, kadang mengaku Batak. Untuk apa seperti itu? Toh juga masyarakat pandai dan akan memilih dengan bijak. Pilih yang jujur sajalah, yang benar-benar Jawa dan yang benar-benar Batak. Bukan yang mengaku-ngaku Jawa, Melayu ataupun Batak. Malu kita memilih calon tanpa jati diri,” katanya.

Imran juga mengatakan bahwa kebohongan sering dilakukan para politisi untuk mengelabui masyarakat. Termasuk di Sumatera Utara (Sumut). Keragaman budaya dan golongan di provinsi yang berbhinneka tersebut selalu dibenturkan dengan isu-isu SARA. Namun hal itu tidak akan membuat warga Sumut terkecoh. Mereka akan memilih pemimpin yang jujur.

“Kalau berpikir rasional, yang jujur dengan identitas hanya Haji Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus. Djarot tidak mau dibumbui marga karena dia memang Jawa, serta tegas mengatakan bahwa dia Jawa, Islam dan mengabdi untuk Sumut. Bahkan di balik ketegasannya dia diterima masyarakat Sumut termasuk non Muslim,” tegasnya.

Itu menurut Imran suatu ketegasan, bahwa Djarot tidak mau mengobral identitas dan jati diri hanya karena kepentingan politik. Sementara Sihar Sitorus yang sudah dikenal masyarakat Sumut juga melakukan hal yang sama. Dia tidak pernah berpura-pura jadi orang lain hanya untuk mengelabui masyarakat. Dia jujur sebagai putra Sumut, serta tegas menolak manipulasi identitas.

“Dia tetap konsisten sebagai Batak, karena itu identitas aslinya sebagai putra Sumut. Jadi kalau kita bicara dari aspek identitas maka yang tepat dan jujur hanya Djoss. Tidak menjadi siluman yang mengganti warna atau wujud hanya untuk membohongi warga,” jelasnya.(rel)