Santri Baitul Mustagfirin Raih Medali Perak pada Bali International Science Fair

Santri Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir membuktikan bahwa pondok pesantren bukan saja tempat menuntut ilmu, khususnya ilmu keagamaan Islam. Baru-baru ini, santri Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir dari Deliserdang ini berhasil meraih prestasi di bidang science.

Para santri mendapatkan medali perak kompetisi sains bergengsi tingkat dunia yang diikuti 111 tim dari 13 negara yang hadir di Bali ditambah 200 lebih tim yang berkompetisi secara online

Pada even Bali International Science Fair 2026, santri Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir berhasil membawa pulang silver medal di ajang sains bergengsi tingkat dunia tersebut. Para santri membuktikan pesantren bukan hanya tempat mengaji. Tapi juga melahirkan inovasi sains kelas dunia.

Silver medal diraih berkat DALIcious. Sebuah inovasi pangan yang lahir dari kegelisahan dimana Indonesia tiap tahun mengimpor 28.500 ton keju bernilai 132 juta dolar.

Padahal nusantara punya dali ni horbo ‘ ‘keju Batak’ warisan leluhur dari Sumut yang kaya protein 12,5 gram, kalsium 145 mg dan probiotik alami. Sayangnya, hanya 23 persen anak muda yang masih mengonsumsi karena rasa asam yang terlalu kuat untuk lidah Gen Z.

Berangkat dari nilai pesantren ‘melestarikan tradisi dengan inovasi’, tim santri menyulap dali ni horbo menjadi kroket modern. Keju impor diganti dengan susu kerbau fermentasi lokal. Hasilnya bukan sekadar makanan, tapi solusi yang diakui dunia.

Uji ke-30 siswa menghasilkan skor 4,43 dari 5 dengan kategori suka. Saat dipasarkan di kantin pondok, 150 buah ludes 100 persen dalam lima hari, dengan minat beli ulang mencapai 4,7 dari 5.

Dengan harga Rp.5.000, produk ini balik modal hanya dalam 15 buah. Bukti nyata bahwa riset santri feasible, scalable dan layak meraih silver medal. Raihan silver medal ini menegaskan pesan DALIcious untuk dunia.

Pertama, menjawab dengan menawarkan sumber protein kalsium lokal untuk cegah stunting yang jadi masalah global. Kedua, mendukung dengan membuktikan bahwa diversifikasi pangan lokal bisa mengurangi ketergantungan impor yang dialami banyak negara.

Ketiga menyelamatkan budaya ditengah data Unesco bahwa satu budaya punah tiap dua minggu. Para santri memodernisasi warisan 100 tahun agar diterima Gen Z global.

Dihadapan 111 tim hebat dari berbagai benua, Silver medal untuk DALIcious adalah bukti bahwa santri bisa jadi saintis. Kearifan lokal bisa jadi solusi global dan inovasi halal adalah bahasa universal.

Dari pesantren di Indonesia, mereka akan melangkah ke tahap selanjutnya uji lab, sertifikasi halal internasional dan pengemasan yang lebih baik agar DALIcious bisa ke meja makan dunia.

Bagi Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir, silver medal di Bali International Science Fair 2026 bukan akhir, tapi awal. Ini bukti bahwa dari balik dinding pesantren, lahir gagasan berprestasi yang siap menjawab tantangan dunia seperti malnutrisi, krisis pangan dan punahnya budaya. Piala boleh perak, tapi dampaknya emas. (dmp)

Santri Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir membuktikan bahwa pondok pesantren bukan saja tempat menuntut ilmu, khususnya ilmu keagamaan Islam. Baru-baru ini, santri Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir dari Deliserdang ini berhasil meraih prestasi di bidang science.

Para santri mendapatkan medali perak kompetisi sains bergengsi tingkat dunia yang diikuti 111 tim dari 13 negara yang hadir di Bali ditambah 200 lebih tim yang berkompetisi secara online

Pada even Bali International Science Fair 2026, santri Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir berhasil membawa pulang silver medal di ajang sains bergengsi tingkat dunia tersebut. Para santri membuktikan pesantren bukan hanya tempat mengaji. Tapi juga melahirkan inovasi sains kelas dunia.

Silver medal diraih berkat DALIcious. Sebuah inovasi pangan yang lahir dari kegelisahan dimana Indonesia tiap tahun mengimpor 28.500 ton keju bernilai 132 juta dolar.

Padahal nusantara punya dali ni horbo ‘ ‘keju Batak’ warisan leluhur dari Sumut yang kaya protein 12,5 gram, kalsium 145 mg dan probiotik alami. Sayangnya, hanya 23 persen anak muda yang masih mengonsumsi karena rasa asam yang terlalu kuat untuk lidah Gen Z.

Berangkat dari nilai pesantren ‘melestarikan tradisi dengan inovasi’, tim santri menyulap dali ni horbo menjadi kroket modern. Keju impor diganti dengan susu kerbau fermentasi lokal. Hasilnya bukan sekadar makanan, tapi solusi yang diakui dunia.

Uji ke-30 siswa menghasilkan skor 4,43 dari 5 dengan kategori suka. Saat dipasarkan di kantin pondok, 150 buah ludes 100 persen dalam lima hari, dengan minat beli ulang mencapai 4,7 dari 5.

Dengan harga Rp.5.000, produk ini balik modal hanya dalam 15 buah. Bukti nyata bahwa riset santri feasible, scalable dan layak meraih silver medal. Raihan silver medal ini menegaskan pesan DALIcious untuk dunia.

Pertama, menjawab dengan menawarkan sumber protein kalsium lokal untuk cegah stunting yang jadi masalah global. Kedua, mendukung dengan membuktikan bahwa diversifikasi pangan lokal bisa mengurangi ketergantungan impor yang dialami banyak negara.

Ketiga menyelamatkan budaya ditengah data Unesco bahwa satu budaya punah tiap dua minggu. Para santri memodernisasi warisan 100 tahun agar diterima Gen Z global.

Dihadapan 111 tim hebat dari berbagai benua, Silver medal untuk DALIcious adalah bukti bahwa santri bisa jadi saintis. Kearifan lokal bisa jadi solusi global dan inovasi halal adalah bahasa universal.

Dari pesantren di Indonesia, mereka akan melangkah ke tahap selanjutnya uji lab, sertifikasi halal internasional dan pengemasan yang lebih baik agar DALIcious bisa ke meja makan dunia.

Bagi Pondok Pesantren Baitul Mustaghfirin Al Amir, silver medal di Bali International Science Fair 2026 bukan akhir, tapi awal. Ini bukti bahwa dari balik dinding pesantren, lahir gagasan berprestasi yang siap menjawab tantangan dunia seperti malnutrisi, krisis pangan dan punahnya budaya. Piala boleh perak, tapi dampaknya emas. (dmp)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru