Home Blog Page 6345

PKS Isyaratkan agar Prabowo Tak Usah Jadi Capres

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
 Prabowo Subianto.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyiratkan pesimisme bahwa Prabowo Subianto akan maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2019. Sebab, dinamika politik yang ada bisa saja membuat Prabowo memberikan tiket pencalonan demi mengusung figur lain sebagai capres.

Menurut Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid, dinamika dalam perhelatan Pilpres 2019 masih terbuka. Hidayat mengatakan, bisa jadi Prabowo yang juga ketua umum Partai Gerindra memilih menjadi kingmaker.

“Sebelum didaftarkan, semua dinamika mungkin akan terjadi. Mungkin juga Pak Prabowo akan menyatakan, ‘ya saya menyerahkan pada yang lain’,” kata Hidayat di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (17/5).

Hidayat lantas mencontohkan pengalaman pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Kala itu, Partai Gerindra bersikukuh untuk menempatkan kadernya, Sandiaga Uno sebagai calon gubernur.

Namun, lanjut Hidayat, keputusannya justru berbalik. Partai berlambang kepala burung garuda itu mengalah dan memberikan kursi calon gubernur DKI kepada Anies Baswedan.

“Di Pilgub DKI kan jelas, Gerindra waktu itu kan keputusannya Pak Sandi untuk DKI I. Ternyata bisa berubah menjadi DKI II,” ungkapnya.

Meski demikian, Hidayat tak sepakat bila Prabowo nantinya memilih menjadi calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi). Sebab, Hidayat meyakini elektabilitas mantan Danjen Kopassus itu masih bisa menyaingi Jokowi sebagai calon presiden petahana.

Namun, Hidayat mengharapkan Prabowo mengusung figur lain ketimbang menjadi cawapres Jokowi. “Mungkin Pak Prabowo kemudian bisa menyerahkan mandat yang sudah diterima dari Gerindra untuk diberikan kepada capres yang lain yang diyakini lebih mampu,” pungkasnya.(aim/jpc/ala)

 

WNI dari Suriah Menyebar di 18 Provinsi

Foto: Ricardo/JPNN Mendagri, Tjahjo Kumolo, tetap pada keputusannya mengaktifkan Gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, setelah MA menolak memberikan fatwa.
Foto: Ricardo/JPNN
Mendagri, Tjahjo Kumolo.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengungkapkan bahwa ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang kembali dari Suriah, sudah pulang ke daerah masing-masing di 18 provinsi.

Kepulangan mereka menurut Tjahjo telah melalui pendataan dan penataran dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Nah, setelah mereka berada di kampungnya, pemerintah daerah diminta mengawasinya.

“Begitu masuk ditatar dulu oleh BNPT, pulang ke daerah tolong dikawal. Ada di 18 provinsi,” kata Tjahjo menjawab jpnn.com, di Istana Negara, Rabu (16/5).

Bicara soal pemetaan daerah yang rawan terorisme, Tjahjo menyebutkan data yang dimilikinya sama dengan Polri. Karena sumbernya dari Kesbangpol di daerah yang berkomunikasinya juga dengan kepolisian, BIN dan intelijen TNI.

Saat ditanya apakah Jawa Timur dan Riau termasuk daerah yang rawan terorisme, pihaknya menjawab diplomatis. “Saya tidak berhak untuk bicara ya, tapi jalur sutera merahnya itu. Kan sudah Anda lihatlah selama ini yang Densus tangkap-tangkap itu, kan itu-itu aja, jalurnya kan itu,” jawab Tjahjo.

Untuk itu pihaknya menekankan agar daerah meningkatkan pengawasan, salah satunya dengan menggalakkan kembali aktivitas Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan).

Sebeluuumnya, Tjahjo Kumolo berusaha menjawab kekhawatiran masyarakat soal WNI yang pulang dari Syria atau Suriah, bakal melakukan aksi teror di Indonesia.

Kekhawatiran masyarakat muncul menyusul kerusuhan narapidana teroris di Rutan Salemba cabang Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, aksi teror bom bunuh diri di Surabaya, Minggu (13/5) dan sejumlah aksi teror yang kembali terjadi Senin (14/5).

Menurut Tjahjo, para WNI yang pulang ke Indonesia tidak begitu saja dikembalikan ke tengah masyarakat. Mereka akan terlebih dahulu dididik oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Setelah itu dikembalikan ke daerah masing-masing. Nama, alamat tempat tinggal mereka itu dicatat. Kemudian kami sampaikan ke daerah lewat kesbangpol (badan Kesatuan Bangsa dan Politik),” ucapnya.

Mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan ini lebih lanjut mengatakan, data para WNI tersebut beserta anggota keluarganya sangat penting. Dengan demikian aparat bisa memantau apakah mereka benar-benar ingin kembali sebagai warga negara yang baik, atau ingin membuat kerusuhan di tanah air.

“Negara kita paling baik, mereka itu meninggalkan Indonesia, menyobek-nyobek paspor. Namun, yang namanya mereka di sana tidak kerasan (diterima kembali dengan catatan mengikuti seluruh aturan yang ada,red),” kata Tjahjo.

Saat ditanya apakah jumlah WNI yang kembali dari Suriah berjumlah 500 orang, Tjahjo membenarkan. Namun pemulangannya tidak sekaligus. Proses pemulangan dilakukan secara bertahap.

“Jadi intinya seperti yang Bapak Presiden Jokowi katakan, apa pun terorisme harus dilawan tegas. Mari mempercayakannya pada aparat kepolisian. Peran nyata masyarakat juga diperlukan untuk membantu memberikan informasi dan deteksi dini di lingkungan masing-masing,” pungkas Tjahjo. (fat/gir/jpnn)

 

DPT Pilgubsu Berkurang 2.046 Jiwa

Komisioner KPU Sumut, Nazir Salim Manik.

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut (Pilgubsu) 2018 berkurang sebanyak 2.046 jiwa. Semula dari 9.052.529 jiwa, kini menjadi 9.050.483 jiwa.

Hal tersebut sesuai rapat pleno terbuka perbaikan rekapitulasi DPT yang sudah dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Utara, pada 13 Mei 2018.

Menurut Komisioner KPU Sumut Nazir Salim Manik, perbaikan DPT tingkat provinsi ini lantaran ada jumlah DPT yang berubah pada DPT di Pilkada Langkat.

“Waktu dibacakan di Medan pada 21 April lalu, DPT Pilkada Langkat belum fix. Sehingga oleh Panwaslih Langkat kemudian dikroscek ulang dan dikoordinasikan kepada kita. Otomatis dengan berubahnya DPT Langkat berubah pula DPT tingkat provinsi,” ujarnya kepada Sumut Pos, Kamis (17/5).

Melalui berita acara KPU tentang perbaikan DPT bernomor 156/PL.03.1-BA/12/PROV/2018 ini, terdapat dua poin kesimpulan. Yakni pertama, berdasarkan Berita Acara No.89/PL.03.1-BA/1205/KPU-Kab/V/2018 tentang perubahan kedua Rekapitulasi DPT Pilgubsu serta Pilkada Langkat 2018, di mana semula jumlah pemilih laki-laki 350.185 dan pemilih perempuan 345.748 dengan total 695.933, diubah menjadi pemilih laki-laki 348.132 dan pemilih perempuan 345.755 dengan total 693.887.

“Nah, berdasarkan poin satu itu, maka rekapitulasi DPT tingkat Provinsi Sumut pada Pilgubsu dimana semula pemilih laki-laki 4.483.911 dan pemilih perempuan 4.566.572 dengan total 9.052.529 diubah menjadi pemilih laki-laki 4.483.911 dan pemilih perempuan 4.566.572 dengan total 9.050.483, tersebar di 33 kabupaten/kota, 444 kecamatan, 6.110 desa/kelurahan dan 27.478 TPS,” papar Nazir.

KPU Sumut diakui dia, sudah mengoordinasikan perubahan DPT ini kepada Bawaslu Sumut dan kedua pasangan calon Pilgubsu. “Kedua pihak juga memahami alasan perubahan rekapitulasi ini,” imbuhnya.

Diketahui sebelumnya, sesuai penetapan DPT Pilgubsu oleh KPU pada 21 April 2018,  terungkap jumlah DPT Kabupaten Tapanuli Tengah 197.367 jiwa, Tapanuli Utara 197.479 jiwa, Tapanuli Selatan 198.305 jiwa, Nias 87.798 jiwa, Langkat 695.933 jiwa, dan Karo 263.976 jiwa. Kemudian, Kabupaten Simalungun 607.181 jiwa, Asahan 488.642 jiwa, Labuhanbatu 270.164 jiwa, Dairi 174.907 jiwa, Toba Samosir 118.031 jiwa, Mandailing Natal 274.164 jiwa, Nias Selatan 180.347 jiwa, dan Humbang Hasundutan 124.149 jiwa.

Sementara Kabupaten Samosir 89.830 jiwa, Serdang Bedagai 428.841 jiwa, Batubara 280.684 jiwa, Padanglawas Utara 143.590 jiwa, Padang Lawas 156.027 jiwa, Labuhanbatu Selatan 177.587 jiwa, Labuhanbatu Utara 215.672 jiwa, dan Nias Utara 86.473 jiwa, Setelah itu, Kota Pematangsiantar 162.476 jiwa, Sibolga 60.981 jiwa, Tanjungbalai 102.860 jiwa, Binjai 170.547 jiwa, Tebingtinggi 101.736 jiwa, Padangsidimpuan 137.195 jiwa, dan Gunungsitoli 84.559 jiwa. Rekapitulasi penetapan DPT turut disaksikan perwakilan kedua paslon Pilgubsu. (prn/azw)

Ijeck Silaturhim ke Bupati Remigo

Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda (kiri) bersalaman dengan Cawagubsu Musa Rajekshah di Tiara Convention Centre Medan, Selasa (15/5).
Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda (kiri) bersalaman dengan Cawagubsu Musa Rajekshah di Tiara Convention Centre Medan, Selasa (15/5).

MEDAN, SUMUTPOS.CO -Deklarasi Dukungan Partai Demokrat ke pasangan Cagub-Cawagubsu Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas), Selasa (15/5) menyisakan banyak catatan menarik.

Satu di antaranya, saat bupati yang juga Ketua DPC Demokrat Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu bercanda hangat dengan Cawagubsu Musa Rajekshah.

Saat itu, Musa Rajekshah berjalan ke luar ruangan saat deklarasi telah usai dihelat di Tiara Convention Hall Medan.

Seperti biasa, Musa Rajekshah selalu menjadi objek untuk dimintai foto bareng setiap kali berkegiatan atau kunjungan.

Usai berfoto-foto, Remigo Berutu dari jarak yang tidak jauh menyapa Musa Rajekshah.

“Eh Bang, apa kabar abang? Lama gak jumpa. Cemana kabar keluarga semua bang? Sehat-sehatkan bang?” sapa pria yang akrab dipanggil Ijeck ke Remigo.

Remigo, pria yang ketampanannya juga tak kalah dengan Musa Rajekshah pun dengan hangat menjawab.

“Semua baik. Bang Ijeck harus menghadap kalau ke Pakpak lah. Kemarin ke sana gak sowan kita ya. Hehehehe,” canda Remigo ke Musa Rajekshah.

Musa pun mengatakan selalu siap untuk bersilaturahim dengan Bupati Pakpak Bharat.

“Sekarangkan udah resmi Demokrat dukung kita bang. Jadi gak melanggar etikalah nanti kalau saya jumpai abang di Pakpak ya kan,” sambung Musa.

Remigo pun menyatakan kesiapan waktunya ketika Musa Rajekshah bersilaturahim dengannya di Pakpak Bharat.

“Siap, Demokrat sudah ke Eramas. Kita siaplah. Yang penting kan kita gak melanggar aturan karena abang masih kepala daerah. Silaturahimkan gak disalahkan,” tegas Remigo.

Keduanya pun berpamitan dengan pelukan layaknya dua sahabat yang lama tak berjumpa. “Foto dulu kita bang,” kata Musa Rajekshah mengajak Remigo sebelum beranjak dari ruang acara deklarasi. (rel/azw)

Pengamen Jalanan Yakin Djarot-Sihar Bisa Ubah Sumut

Calon wakil gubernur Sumatera Utara, Sihar Sitorus didampingi istrinya Patricia Siahaan bernyanyi bersama pengamen saat menyambangi tempat tongkrongan anak muda di Warkop Iwan, Jalan H.Misbah, Medan, akhir pekan lalu.
Calon wakil gubernur Sumatera Utara, Sihar Sitorus didampingi istrinya Patricia Siahaan bernyanyi bersama pengamen saat menyambangi tempat tongkrongan anak muda di Warkop Iwan, Jalan H.Misbah, Medan, akhir pekan lalu.

SUMUTPOS.CO – Akhir pekan lalu, usai melaksanakan debat publik kedua Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018, Sihar Sitorus menyambangi salah satu tempat tongkrongan malam di Medan. Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumut nomor urut dua tersebut ingin menikmati suasana malam perkotaan dengan masyarakat urban yang menghabiskan waktu  di pusat jajanan di kawasan Jalan Multatuli.

Wakil dari Djarot Saiful Hidayat tersebut datang bersama istrinya, Patricia Siahaan. Tidak ada rencana atau agenda khusus terkait kedatangan Sihar ke tempat itu. Sehingga tidak ada juga persiapan protokoler dari sejumlah staf maupun pengawal pribadinya.

Kedatangan Sihar disambut pengunjung warung tongkrongan, Agam Senyum dengan kekeluargaan. Tidak ada batasan antara Sihar dan para pengunjung, termasuk sejumlah anak jalanan yang sesekali menyapanya dan berjabat tangan dengannya secara spontan.

Demikian juga dengan pengamen di kawasan Multatuli yang menyambut Sihar saat keluar dari warung. Tiba-tiba, sejumlah pengamen berkumpul membentuk satu paduan dalam menembangkan lagu “Dia” yang dipopularkan Anji. Pengamen tersebut mengganti kata dia dalam lirik lagu tersebut menjadi dua.

Salah satu pengamen yang diwawancarai wartawan adalah Baim, lelaki yang memegang gitar itu mengatakan merasa istimewa bisa menyanyikan lagu itu untuk Sihar. “Gampang yah mengubah “Dia” menjadi “Dua”, masuk lagi. Makanya kita mainkan saja. Ternyata respons Sihar sangat tinggi, bahkan ikut bernyanyi,” jelasnya.

Haposan Pakpahan yang juga ikut dengan rekannya mengatakan hal yang sama. Menurutnya, pemerhati sepakbola seperti Sihar Sitorus pantas memimpin Sumut agar lebih baik lagi. Namun setelah terpilih nanti Sihar harus memperhatikan para anak-anak jalanan, termasuk hidup, dan pengembangan sumber dayanya. “Termasuk juga Namboru saya ini, yang hidup di jalanan. Dia warga Sumut sama seperti kami yang harus diperhatikan,” terang Haposan sambil menunjuk salah seorang pengemis perempuan.

Haposan mengatakan, pemimpin selama ini terlalu banyak hidup dengan retorika. Sementara yang dibutuhkan warga adalah orang-orang yang bekerja cepat, tepat dan sesuai dengan hati nurani. Karena itu dia berharap, pasangan Djarot-Sihar yang akrab disapa Djoss menang dan mengubah Sumut agar lebih baik. “Ku sayang dua, rindu dua. Inginkan dua. Utuhkanlah rasa cinta di hatiku, hanya padanya, untuk dua,” katanya menirukan lirik lagu Dia tersebut sembari berlalu.(rel/adz)

 

Terduga Teroris Diboyong ke Mabes

SUTAN SIREGAR/SUMUT POS BERJAGA_Mobil ambulance yang membawa terduga teroris tiba di Mako Brimob Jalan Wahid hasyim Medan, Rabu (16/5) Pihak kepolisan densus 88 berhasil mengamankan 2 terduga teroris dan 1 diantaranya meninggal dunia karena melawan saat akan diamankan.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
BERJAGA_Mobil ambulance yang membawa terduga teroris tiba di Mako Brimob Jalan Wahid hasyim Medan, Rabu (16/5) Pihak kepolisan densus 88 berhasil mengamankan 2 terduga teroris dan 1 diantaranya meninggal dunia karena melawan saat akan diamankan.

SUMUTPOS.CO – Sejumlah terduga teroris yang diamankan Densu 88 Anti Teror Mabes Polri dari dua wilayah di Sumut (Tanjungbalai dan Medan) pada Selasa (15/5) lalu, telah diboyong ke Mabes Polri. Sebelumnya, terduga teroris tersebut sempat dibawa ke Mako Brimob Polda Sumut.

“Sehari saja diamankan, besoknya dibawa ke Jakarta. Densus yang menangani,” ucap Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Kamis (17/5).

Terkait jumlah terduga teroris yang diamankan, Nainggolan mengaku tak tahu. “Itu wewenang Mabes Polri,” ujarnya.

Minimnya informasi seputar jumlah terduga teroris yang diamankan tersebut, juga diakui Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan. Dia mengatakan, menyangkut hal yang berkaitan dengan teroris sepenuhnya bukan wewenang Polda Sumut. “Silakan tanya langsung Humas Mabes Polri,” tandasnya.

Informasi dihimpun, penangkapan terjadi di Tanjungbalai, Medan, dan Deliserdang. Sejumlah orang diamankan. Dua dikabarkan ditembak. Salah satunya tewas dan di bawa ke RS Bhayangkara Medan.

Di Medan dan Deliserdang, penangkapan dilakukan di kawasan Jalan Sikambing Petisah. Seorang driver ojek online yang diketahui berinisial M Yusuf Rangkuti (28). Dia adalah warga Jalan Pukat I Gang Sekolah, Kota Medan.

Sedangkan terduga teroris berinisial SL diamankan saat mengendarai sepeda motor ketika keluar dari Masjid Ulayat lahan Garapan Desa Sampali, Percut Seituan. SL belakangan diketahui tinggal di Jalan Semenanjung II, Lahan Garapan Pasar IV, Desa Sampali. Rumahnya pun juga digeledah.

Sebelumnya, saat penangkapan di Tanjungbalai, jari Kepala Lingkungan IV Hasan putus terkena sabetan senjata tajam yang dilakukan oleh orang yang ditarget oleh petugas. Penangkapan itu merupakan proses pengembangan pihak Densus 88 Antiteror atas kasus bom Surabaya. (gus/mag-1/ c5/ano/ian/prn)

 

 

 

 

Transfer Ilmu dari Mantan Kombatan

Ali Fauzi,

SUMUTPOS.CO – Sementara itu, mantan pentolan Jamaah Islamiyah (JI), Ali Fauzi, menjelaskan mengapa teroris yang menyerang Mapolda Riau memakai peralatan manual, sementara pelaku teror di Surabaya menggunakan bom.

’’Di Riau kurang bahan dan kurang skill,’’ ujar mantan kepala instruktur perakitan bom JI Jawa Timur tersebut.

Fenomena itu menunjukkan bahwa Surabaya mempunyai banyak sumber daya yang bisa mendukung aksi terorisme.

Yang pertama adalah bahan peledak. Menurut Ali, bahan peledak yang digunakan Dita Oeprianto cs dalam aksi bom tiga gereja di Surabaya lalu, sangat mudah didapatkan di Surabaya. Dalam bom yang digunakan Dita, ada tiga senyawa kimia yang dipakai. Biasanya dibeli secara terpisah untuk menghilangkan kecurigaan toko kimia yang bersangkutan.

Tiga senyawa kimia tersebut kemudian dicampur untuk menghasilkan gaya dan daya simpatetik. Mereka dicampur, lalu disaring dengan kertas saring. Hanya, senyawa itu sangat berbahaya karena high sensitive. Kena panas saja bisa meledak. Misalnya, yang terjadi di rusun tempat tinggal Anton yang menewaskan dirinya beserta istri dan seorang anaknya.

Surabaya dikenal sebagai produsen bahan kimia paling murah. Bagi kalangan kombatan, harga bahan kimia di Surabaya dikenal paling murah jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia. Menurut Ali, tentu mustahil melarang toko kimia menjual bahan tersebut. Sebab, senyawa itu banyak digunakan untuk kepentingan sehari-hari. ’’Jadi, yang bisa dilakukan adalah pengawasan,’’ tegasnya.

Ali juga mengomentari serangan di Mapolda Riau. Menurut dia, itu menunjukkan bahwa jaringan JAD di Riau gagal merekrut mantan kombatan lulusan Mindanao dan Poso. ’’Setahu saya ada banyak di sana. Sebab, saya pernah melatih mereka,’’ ungkap mantan instruktur kombatan di Poso yang pernah melatih lebih dari 3.000 orang tersebut.

Selain itu, teror di Surabaya menunjukkan sebuah fenomena yang memprihatinkan. Yakni, terjadinya transfer ilmu peracikan dan pembuatan bom dari mantan kombatan yang lebih senior. ’’Sebab, teknik peracikan dan pembuatan bom di Surabaya jauh lebih baik ketimbang serangan-serangan sebelumnya. Memang belum matang, tapi sudah tergolong bagus,’’ tegas Ali.

Manta Napiter: Kelompok Radikal Melemah

Terduga teroris yang ditembak mati setelah menyerang Markas Polda Riau.
Terduga teroris yang ditembak mati setelah menyerang Markas Polda Riau dengan menggunakan samurai.

SUMUTPOS.CO – Mengapa teroris yang menyerang Mapolda Riau menggunakan senjata tajam seperti pedang, sementara pelaku teror di Surabaya menggunakan bom? Pada malam Lebaran tahun 2017 lalu, penyerangan terduga teroris di Mapolda Sumut juga hanya menggunakan pisau. Menurut Mustapha alias Abu Annisa, mantan napi teroris asal Sumut yang ikut terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga di Medan tahun 2010 lalu, kekuatan kelompok radikal sudah melemah.

“Masa menyerang menggunakan samurai, pisau, tabrakkan mobil, dan bom berdaya ledak rendah? Mungkin mereka (terduga teroris) mendapatkan fatwa menyerang, tapi tidak mempunyai alat (bom rakitan) lagi. Dengan menyerang menggunakan peralatan apa adanya, tandanya mereka sudah tidak ada kemampuan lagi. Saya melihat eskalasi kekuatan mereka menurun,” jelas Mustapha kepada Sumut Pos di  Medan, Kamis (17/5).

Aksi teroris di Polda Riau dua hari lalu, menurutnya hanya aksi balasan terhadap polisi, karena sudah menangkap dan menembak mati rekan satu kelompok mereka. Tapi karena kelompok terduga teroris itu terjepit dengan kondisi dan stok logistik berupa material untuk merakit bom menipis, akhirnya aksi hanya berrsifat meneror, tanpa disertai ilmu militer.

“Untuk di Sumut, potensi aksi teror sangat kecil. Kita mengharapkan jangan sampai ada masalah lagilah. Apalagi ini Bulan Ramadan. Termasuk kepada media, agar memberitakan informasi yang membuat kondusif dan aman,” pinta Mustapha.

Ia juga mengajak seluruh kelompok-kelompok radikal agar tidak lagi melakukan aksi terror. Dan menjaga keamanan dan kenyamanan di Indonesia, saat bulan Ramadan dan seterusnya. “Sudah… janganlah lagi (melakukan teror), kasihan. Mereka (terduga teroris) belum merasakan penjara. Belum keluarganya menghadapi masalah. Sudah… stop aksi teror. Jalan saja hidup ini seperti biasa. Mari kita menjaga Bulan Ramadan dengan kekhusukan untuk beribadah,” katanya.

Saat ini, Pemerintah Indonesia melalui Polri dan Densus 88 Anti Teror, terus bekerja melakukan pemberantasan terduga dan pelaku terorisme di tanah air ini. Karena itu, Mustapha mengimbau masyarakat agar tidak terpancing provokasi orang-orang tidak bertanggung jawab. Ia mengajak masyarakat bersama-sama memberantas teroris dari Bumi Pertiwi ini.

“Jangan sampai masyarakat terprovokasi. Karena itu hanya merusak diri sendiri, merusak tatanan kerukanan beragama kita. Semoga Undang-undang Antiteror secepatnya disahkan,” harapnya.

Mustapha juga meyakini kalau kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, tidak akan terjadi di Sumut. Menurut dia, napi teroris yang ada di Sumut saat ini, merupakan kelompok lama dan tidak mengenal napi teroris yang membuat kerusuhan di Mako Brimob kemarin.

“Jumlah napiter di Lapas bisa dihitung dengan jari. Tapi kalau di luar, jumlahnya ada sekitar 50 orang. Namun, BNPT (Badan Nasional Penanggulan Teroris) terus melakukan pembinaan terhadap napi teroris,” ucapnya.

Mustapha adalah mantan terpidana terorisme yang bebas pada 2013 silam. Ia saat itu bertugas sebagai pencari dana untuk melakukan aksi teror di sejumlah lokasi di Indonesia, termasuk Sumut. Mustapha kini menjadi pengamat terorisme. (gus/mag-1/ c5/ano/ian/prn)

 

Polres Tebingtinggi Diperketat

Foto: Sopian/Sumut Pos AMANKAN: Pihak penjagaan di depan Mapolres Tebingtinggi melakukan pemeriksaan ketat terhadap pengunjung.
Foto: Sopian/Sumut Pos
AMANKAN: Pihak penjagaan di depan Mapolres Tebingtinggi melakukan pemeriksaan ketat terhadap pengunjung.

SUMUTPOS.CO – Terkait rentetan aksi terror di tanah air beberapa hari terakhir, jajaran Polres Tebingtinggi melakukan pengamanan ketat terhadap tamu yang akan memasuki Polres Tebingtinggi di Jalan Pahlawan.

Kasubbag Humas Polres Tebingtinggi AKP MT Sagala mengatakan, pengamanan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Personil kepolisian dari Satuan Sabhara Polres Tebingtinggi dipersenjatai lengkap. Pagar betis dilakukan di pintu gerbang Polres dengan memasang brigade dan kawat berduri.

“Semua bawaan barang pengunjung diperiksa. Pengamanan dilakukan untuk menjaga kekondusifan di Kota Tebingtinggi,” paparnya.

Kepolisian juga meminta kerjasama dari seluruh masyarakat di wilayah Polres Tebingtinggi, agar terus memberikan informasi jika ada orang tidak dikenal yang mencurigakan. “Kita menggalakkan Poskamling di wilayah hukum Polres Tebingtinggi. Pihak Kepala Lingkungan dan Kepala Lorong harus menerapkan wajib lapor dalam waktu 2×24 jam kepada warga pendatang,” tegasnya. (gus/mag-1/ c5/ano/ian/prn)

 

Del Piero Ajarkan Teknik Mengecoh Lawan

Pemain bola Juventus, Alessandro Del Piero disambut oleh Presiden Pro Duta FC Sihar Sitorus saat tiba di bandara Kualanamu, di Deli Serdang, Sumut, Kamis (17/5).
Pemain bola Juventus, Alessandro Del Piero disambut oleh Presiden Pro Duta FC Sihar Sitorus saat tiba di bandara Kualanamu, di Deli Serdang, Sumut, Kamis (17/5).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemain bola asal Italia, Alessandro Del Piero, diundang oleh calon Wagubsu yang juga penggila bola, Sihar Sitorus, ke Medan. Pemain Juventus itu disambut dengan meriah oleh ratusan warga Sumatera Utara (Sumut), di Bandara Kualanamu, Kamis (17/5) pagi di Medan.

Setiba di KNIA, Sihar Sitorus menyematkan ulos kepada kapten dan pemain yang paling difavoritkan masyarakat Turin itu. Pemain legendaris Italia tersebut  pun tersenyum dan bangga menerima kain tenun khas Sumut tersebut.

Gamaliel Sitorus Pane yang merupakan anak dari Sihar Sitorus, juga turut serta mengalungkan karangan bunga sebagai ungkapan selamat datang. “Kedatangan Del Piero ke sini untuk memberikan motivasi kepada pemain bola Sumut, yang pasti untuk kemajuan bola di Sumut,” terang Sihar dengan singkat.

Sihar Sitorus mendatangkan Del Piero ke Sumut sebagai bentuk dukungan untuk memajukan persepakbolaan Sumut. Sihar berharap kedatangan pemain dunia itu dapat menginspirasi para pemuda Sumut agar dapat menjadi pemain dunia. “Kita berharap muncul pemain-pemain sepakbola Sumut yang mendunia,” jelasnya.

Setelah beristirahat, Kamis sore sekitar pukul 15:00 WIB, Del Piero dibawa temu fans dan coaching clinic di Plaza Medan Fair. Di sana, ia  memberikan beberapa teknik bermain bola kepada anak-anak Sumut saat coaching clinic di pelataran parkir Plaza.

“Kiat bermain sepakbola bukan hanya sebatas menendang, melainkan juga berpikir tujuan dari tendangan,” katanya seraya tersenyum manis.

Selain itu, pemain sepakbola dunia yang tersebut juga mengatakan, bermain sepakbola memiliki beberapa trik untuk memenangkan pertandingan. Di antaranya mengelabui pemain lawan agar bola dapat digiring ke gawang dengan baik hingga akhirnya dijebolkan ke gawang lawan.