STAI Panca Budi Gelar Wisuda Sarjana: Tranformasi Intelektual Muslim yang Inovatif

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Panca Budi menggelar wisuda sarjana ke-IX, Sabtu (1/8). Wisuda dihadiri Yasmin Siti Khadijah (ketua Yayasan Pendidikan Prof. DR. H. Kadirun Yahya), Ketua STAI Panca Budi Perdagangan Dr. Herry Syahbannuddin Nasution, M.E.I beserta seluruh anggota senat, dosen dan sivitas akademika STAI Panca Budi serta keluarga wisudawan.

Wisuda dilaksanakan di Kota Pematangsiantar ini dihadiri Sekretaris Kopertais Wilayah IX Dr. Syawaluddin Nasution, M.Ag, Asisten III Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Pematangsiantar Dedi Tunasto Setiawan, S.H, M.H, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar Ki Drajat Purba, M.A dan undangan lainnya.

“Alhamdulillah. Hari ini kita dapat berkumpul bersama untuk menyaksikan momentum yang sangat berharga. Lahirnya para sarjana baru yang siap melangkah dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pencapaian yang kalian raih hari ini adalah bukti nyata dari kerja keras, ketabahan, kesabaran serta untaian doa tulus yang tak pernah putus dari orangtua,” ujar Yasmin Siti Khadijah.

Ketua yayasan mengutarakan bahwa bangsa Indonesia sedang bergerak menuju cita-cita besar Indonesia Emas. Untuk mencapainya, lanjut ketua yayasan, tidak hanya membutuhkan lulusan yang sekadar memegang
selembar ijazah berketerampilan tinggi. “Kita membutuhkan sebuah gerakan nyata. Yaitu tranformasi intelektual muslim yang inovatif,” tegasnya.

Apa sesungguhnya esensi dari tema besar ini? Yasmin Siti Khadijah meminta wisudawan sebagai intelektual yang tidak hanya menyandang gelar akademik di belakang nama. Tetapi harus memiliki kedalaman ilmu keIslaman, kekuatan etika, adab dan wawasan global yang luas.

Inovatif berarti kalian dituntut mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perkembangan teknologi serta lihai melahirkan solusi baru demi menggerakkan
perekonomian dan kemaslahatan umat. “Semangat transformasi inilah yang menjadi ruh utama dari visi besar kampus kita. Yaitu menjadi perguruan tinggi Islam terkemuka menghasilkan sarjana yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Oleh karena itu, jadikanlah ilmu yang kalian sandang hari ini sebagai cermin kebaikan almamater, sekaligus motor penggerak perubahan positif ditengah masyarakat,” pesan ketua yayasan.

Yasmin Siti Khadijah mengingatkan bahwa alumni STAI Panca Budi tidak dibentuk untuk menjadi rapuh. ‘Kita ditempa dengan mentalitas yang tangguh dan niat yang lurus. Kegagalan tidak boleh menimbulkan duka cita yang  berlarut-larut, tetapi sebagai kesempatan untuk bangkit lagi dan berjuang kembali,” harapnya.

Pada kesempatan ini, ketua yayasan mengapresiasi dan berterima kasih kepada Kopertais Wilayah IX, ketua dan seluruh pimpinan STAI Panca Budi, dosen dan staf
atas dedikasi, keikhlasan dan kesabaran dalam mendidik para mahasiswa. “Bapak dan ibu orangtua/wali terima kasih atas kepercayaan besar yang telah didelegasikan kepada kami untuk mendidik putra-putrinya,” sebut Yasmin Siti Khadijah.

Dalam wisuda ini juga disampaikan orasi ilmiah oleh Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A (ketua PW Pemuda Muslimin Indonesia Sumut yang jugacdosen UIN Sumatera Utara) tentang transfornasi intelektual muslim inovatif menuju Indonesia Emas. Urgensi Indonesia Emas 2045 adalah target besar megatren global, lepas dari jebakan pendapatan menengah dan memanfaatkan puncak bonus demografi. Indonesia Emas membutuhkan lompatan paradigma yang radikal dan bukan sekadar melanjutkan tren saat ini.

Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A merinci lima pilar transformasi inovatif. Ekonomi digital (membangun kedaulatan teknologi nasional), hilirisasi industri (mengolah komoditas menjadi produk bernilai tinggi) dan energi hijau (transisi berkeadilan menuju emisi nol bersih). Selanjutnya riset terapan (mengubah ruang kelas menjadi laboratorium solusi) dan kemandirian pangan (memperkuat ketahanan pangan berbasis teknologi lokal).

Untuk itu diperlukan peran krusial para wisudawan menjadi arsitek inovasi disruptif, mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi, mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam industri, menjaga etika dan humanisme teknologi sertaemimpin kolaborasi lintas sektor.

Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A juga menjelaskan lima karakter pemimpin masa depan. Yakni memiliki ketahanan mental yang tinggi dan berpikir kritis menghadapi disinformasi global. Kemudian tangkas beradaptasi dengan perubahan cepat, berintegritas moral tanpa kompromi serta berorientasi pada dampak sosial berkelanjutan. “Indonesia Emas 2045 bukan sekadar ramalan statistik diatas kertas. Masa depan tersebut adalah takdir yang harus Anda lukis dengan karya, inovasi dan dedikasi mulai hari ini,” ungkapnya.

Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A menegaskan bahwa jauh sebelum kemerdekaan, HOS Cokroaminoto menanamkan kepada anak bangsa dengan trilogi yaitu sebersih- bersih tauhid, setinggi-tinggi pengetahuan dan sepandai-pandai siasah. Lalu dapat kita kerucutkan dalam bentuk yang kekinian yaitu Skill, Network dan God (SNG). “Kepribadian, sikap dan tindakan semua wisudawan wajib merujuk dan berlandaskan trilogi dan SNG. Selamat berjuang. Jadilah motor penggerak transformasi dan bawalah Indonesia menuju puncak kejayaannya,” harapnya. (dmp)

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Panca Budi menggelar wisuda sarjana ke-IX, Sabtu (1/8). Wisuda dihadiri Yasmin Siti Khadijah (ketua Yayasan Pendidikan Prof. DR. H. Kadirun Yahya), Ketua STAI Panca Budi Perdagangan Dr. Herry Syahbannuddin Nasution, M.E.I beserta seluruh anggota senat, dosen dan sivitas akademika STAI Panca Budi serta keluarga wisudawan.

Wisuda dilaksanakan di Kota Pematangsiantar ini dihadiri Sekretaris Kopertais Wilayah IX Dr. Syawaluddin Nasution, M.Ag, Asisten III Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Pematangsiantar Dedi Tunasto Setiawan, S.H, M.H, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar Ki Drajat Purba, M.A dan undangan lainnya.

“Alhamdulillah. Hari ini kita dapat berkumpul bersama untuk menyaksikan momentum yang sangat berharga. Lahirnya para sarjana baru yang siap melangkah dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pencapaian yang kalian raih hari ini adalah bukti nyata dari kerja keras, ketabahan, kesabaran serta untaian doa tulus yang tak pernah putus dari orangtua,” ujar Yasmin Siti Khadijah.

Ketua yayasan mengutarakan bahwa bangsa Indonesia sedang bergerak menuju cita-cita besar Indonesia Emas. Untuk mencapainya, lanjut ketua yayasan, tidak hanya membutuhkan lulusan yang sekadar memegang
selembar ijazah berketerampilan tinggi. “Kita membutuhkan sebuah gerakan nyata. Yaitu tranformasi intelektual muslim yang inovatif,” tegasnya.

Apa sesungguhnya esensi dari tema besar ini? Yasmin Siti Khadijah meminta wisudawan sebagai intelektual yang tidak hanya menyandang gelar akademik di belakang nama. Tetapi harus memiliki kedalaman ilmu keIslaman, kekuatan etika, adab dan wawasan global yang luas.

Inovatif berarti kalian dituntut mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perkembangan teknologi serta lihai melahirkan solusi baru demi menggerakkan
perekonomian dan kemaslahatan umat. “Semangat transformasi inilah yang menjadi ruh utama dari visi besar kampus kita. Yaitu menjadi perguruan tinggi Islam terkemuka menghasilkan sarjana yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Oleh karena itu, jadikanlah ilmu yang kalian sandang hari ini sebagai cermin kebaikan almamater, sekaligus motor penggerak perubahan positif ditengah masyarakat,” pesan ketua yayasan.

Yasmin Siti Khadijah mengingatkan bahwa alumni STAI Panca Budi tidak dibentuk untuk menjadi rapuh. ‘Kita ditempa dengan mentalitas yang tangguh dan niat yang lurus. Kegagalan tidak boleh menimbulkan duka cita yang  berlarut-larut, tetapi sebagai kesempatan untuk bangkit lagi dan berjuang kembali,” harapnya.

Pada kesempatan ini, ketua yayasan mengapresiasi dan berterima kasih kepada Kopertais Wilayah IX, ketua dan seluruh pimpinan STAI Panca Budi, dosen dan staf
atas dedikasi, keikhlasan dan kesabaran dalam mendidik para mahasiswa. “Bapak dan ibu orangtua/wali terima kasih atas kepercayaan besar yang telah didelegasikan kepada kami untuk mendidik putra-putrinya,” sebut Yasmin Siti Khadijah.

Dalam wisuda ini juga disampaikan orasi ilmiah oleh Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A (ketua PW Pemuda Muslimin Indonesia Sumut yang jugacdosen UIN Sumatera Utara) tentang transfornasi intelektual muslim inovatif menuju Indonesia Emas. Urgensi Indonesia Emas 2045 adalah target besar megatren global, lepas dari jebakan pendapatan menengah dan memanfaatkan puncak bonus demografi. Indonesia Emas membutuhkan lompatan paradigma yang radikal dan bukan sekadar melanjutkan tren saat ini.

Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A merinci lima pilar transformasi inovatif. Ekonomi digital (membangun kedaulatan teknologi nasional), hilirisasi industri (mengolah komoditas menjadi produk bernilai tinggi) dan energi hijau (transisi berkeadilan menuju emisi nol bersih). Selanjutnya riset terapan (mengubah ruang kelas menjadi laboratorium solusi) dan kemandirian pangan (memperkuat ketahanan pangan berbasis teknologi lokal).

Untuk itu diperlukan peran krusial para wisudawan menjadi arsitek inovasi disruptif, mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi, mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam industri, menjaga etika dan humanisme teknologi sertaemimpin kolaborasi lintas sektor.

Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A juga menjelaskan lima karakter pemimpin masa depan. Yakni memiliki ketahanan mental yang tinggi dan berpikir kritis menghadapi disinformasi global. Kemudian tangkas beradaptasi dengan perubahan cepat, berintegritas moral tanpa kompromi serta berorientasi pada dampak sosial berkelanjutan. “Indonesia Emas 2045 bukan sekadar ramalan statistik diatas kertas. Masa depan tersebut adalah takdir yang harus Anda lukis dengan karya, inovasi dan dedikasi mulai hari ini,” ungkapnya.

Dr. Suasana Nikmat Ginting, M.A menegaskan bahwa jauh sebelum kemerdekaan, HOS Cokroaminoto menanamkan kepada anak bangsa dengan trilogi yaitu sebersih- bersih tauhid, setinggi-tinggi pengetahuan dan sepandai-pandai siasah. Lalu dapat kita kerucutkan dalam bentuk yang kekinian yaitu Skill, Network dan God (SNG). “Kepribadian, sikap dan tindakan semua wisudawan wajib merujuk dan berlandaskan trilogi dan SNG. Selamat berjuang. Jadilah motor penggerak transformasi dan bawalah Indonesia menuju puncak kejayaannya,” harapnya. (dmp)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru