MoU Ekosistem Syariah: USM Indonesia Dukung Gerakan Tobat Ekologis

Universitas Sari Mutiara Indonesia (USM) Indonesia menegaskan komitmen dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, penguatan ekonomi syariah dan pelestarian lingkungan melalui kerja sama Memorandum of Understanding (MoU) Ekosistem Syariah: Inisiasi Wakaf Hijau dan Pengembangan Ekosistem Halal Sumut menuju Indonesia Emas 2045, Sabtu (5/9).

Penandatanganan kerja sama dilakukan Rektor USM Indonesia Prof. Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes diwakili Dekan Komunikasi dan Perpustakaan USM Indonesia Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak dengan Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup/Sekretaris Utama Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Rosa Vivien, S.H, M.S.D disaksikan Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua Yayasan Sari Mutiara Medan Dr. Parlindungan Purba, M.M. Kehadiran ketua yayasan sekaligus menunjukkan dukungan kelembagaan terhadap penguatan kolaborasi USM-Indonesia dalam pembangunan masyarakat, pengembangan ekonomi yang berkelanjutan serta kepedulian terhadap lingkungan.

Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak menyampaikan bahwa keterlibatan USM Indonesia dalam pengembangan Ekosistem Syariah dan Wakaf Hijau sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga harus hadir memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat dan lingkungan. Wakaf Hijau menjadi momentum untuk mengintegrasikan nilai ekonomi syariah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujar Heri.

Menurutnya, Wakaf Hijau dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang memberikan manfaat jangka panjang, antara lain penghijauan, konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, pemeliharaan ruang hijau, efisiensi penggunaan sumber daya, serta pemberdayaan UMKM halal dan ramah lingkungan.

Usai penandatanganan MoU, kegiatan dilanjutkan dengan seminar nasional yang menghadirkan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat.

Dalam seminar tersebut, Menteri Lingkungan Hidup menekankan bahwa peran perguruan tinggi sangat diharapkan dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Kampus memiliki posisi strategis karena menjadi pusat pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, inovasi, sekaligus tempat pembentukan karakter generasi muda.

Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya membicarakan persoalan lingkungan dalam perspektif akademik, tetapi juga mampu melahirkan aksi dan solusi nyata. Dosen, mahasiswa, peneliti, dan seluruh sivitas akademika dapat menjadi penggerak perubahan perilaku masyarakat untuk semakin peduli terhadap keberlanjutan bumi.

Pesan menteri tersebut juga menegaskan pentingnya Gerakan Tobat Ekologis yaitu kesadaran untuk mengoreksi perilaku manusia yang selama ini merusak alam, berkomitmen untuk tidak mengulanginya, serta melakukan langkah-langkah perbaikan dan pemulihan lingkungan secara nyata.

Gerakan Tobat Ekologis mengandung pesan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan hanya melalui regulasi maupun teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan cara berpikir, perubahan perilaku, dan kesadaran kolektif manusia dalam memperlakukan alam.

Perguruan tinggi menjadi salah satu kekuatan penting dalam gerakan tersebut karena memiliki kemampuan untuk mengubah kesadaran menjadi ilmu pengetahuan, penelitian menjadi inovasi serta gagasan menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.

Ia menilai pesan menteri lingkungan hidup tersebut sangat sejalan dengan kebijakan Rektor USM-Indonesia Prof. Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes yang secara konsisten mendorong terciptanya lingkungan kampus yang hijau, bersih, sehat, nyaman dan berkelanjutan.

Kebijakan rektor tidak hanya berorientasi pada pemeliharaan fisik lingkungan kampus, tetapi juga diarahkan untuk membangun budaya peduli lingkungan bagi seluruh sivitas akademika USM Indonesia.

“Apa yang disampaikan Bapak Menteri sangat sejalan dengan kebijakan Ibu Rektor Prof. Dr. Ivan Elisabeth Purba. USM Indonesia terus didorong menjadi kampus yang hijau, bersih dan sehat. Namun yang paling penting adalah bagaimana seluruh sivitas akademika memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk bersama-sama menjaga lingkungan,” ujar Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak.

Ia mengutarakan bahwa lingkungan kampus yang hijau bukan hanya ditandai banyaknya pohon dan ruang terbuka hijau. Kampus hijau harus tercermin dari perilaku dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan dalam menjaga kebersihan, mengurangi sampah, menggunakan air dan energi secara bijaksana, serta merawat lingkungan.

Komitmen tersebut diperkuat melalui kerja sama yang telah dibangun antara USM Indonesia dengan Kementerian Lingkungan Hidup, sehingga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai aksi nyata pelestarian lingkungan.

Menanggapi pesan Menteri Lingkungan Hidup, Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak menyatakan bahwa USM Indonesia mendukung semangat Gerakan Tobat Ekologis dan siap menerjemahkannya dalam kehidupan akademik serta aktivitas sivitas akademika.

“Tobat Ekologis harus dimulai dari diri kita sendiri. Bagi sivitas akademika, kampus adalah salah satu tempat terbaik untuk memulainya. Kita harus mengubah kepedulian menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi gerakan bersama untuk menjaga lingkungan,” katanya.

Semangat Tobat Ekologis juga dapat diintegrasikan ke dalam tridharma perguruan tinggi melalui pembelajaran yang berwawasan lingkungan, penelitian yang menghasilkan solusi terhadap persoalan ekologis serta pengabdian kepada masyarakat yang mendorong perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan tersebut, lanjut Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak, USM Indonesia mendukung kebijakan pemerintah di bidang lingkungan sekaligus mengimplementasikan kebijakan rektor dalam mewujudkan kampus yang hijau, bersih, sehat, nyaman, berkelanjutan dan memiliki sivitas akademika yang peduli terhadap lingkungan.

Kolaborasi Ekosistem Syariah, Wakaf Hijau, dan Gerakan Tobat Ekologis diharapkan menjadi bagian dari kontribusi nyata USM Indonesia untuk mewujudkan Sumut yang hijau, sehat, halal, produktif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. (dmp)

Universitas Sari Mutiara Indonesia (USM) Indonesia menegaskan komitmen dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, penguatan ekonomi syariah dan pelestarian lingkungan melalui kerja sama Memorandum of Understanding (MoU) Ekosistem Syariah: Inisiasi Wakaf Hijau dan Pengembangan Ekosistem Halal Sumut menuju Indonesia Emas 2045, Sabtu (5/9).

Penandatanganan kerja sama dilakukan Rektor USM Indonesia Prof. Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes diwakili Dekan Komunikasi dan Perpustakaan USM Indonesia Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak dengan Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup/Sekretaris Utama Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Rosa Vivien, S.H, M.S.D disaksikan Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ketua Yayasan Sari Mutiara Medan Dr. Parlindungan Purba, M.M. Kehadiran ketua yayasan sekaligus menunjukkan dukungan kelembagaan terhadap penguatan kolaborasi USM-Indonesia dalam pembangunan masyarakat, pengembangan ekonomi yang berkelanjutan serta kepedulian terhadap lingkungan.

Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak menyampaikan bahwa keterlibatan USM Indonesia dalam pengembangan Ekosistem Syariah dan Wakaf Hijau sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga harus hadir memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat dan lingkungan. Wakaf Hijau menjadi momentum untuk mengintegrasikan nilai ekonomi syariah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujar Heri.

Menurutnya, Wakaf Hijau dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang memberikan manfaat jangka panjang, antara lain penghijauan, konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, pemeliharaan ruang hijau, efisiensi penggunaan sumber daya, serta pemberdayaan UMKM halal dan ramah lingkungan.

Usai penandatanganan MoU, kegiatan dilanjutkan dengan seminar nasional yang menghadirkan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat.

Dalam seminar tersebut, Menteri Lingkungan Hidup menekankan bahwa peran perguruan tinggi sangat diharapkan dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Kampus memiliki posisi strategis karena menjadi pusat pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, inovasi, sekaligus tempat pembentukan karakter generasi muda.

Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya membicarakan persoalan lingkungan dalam perspektif akademik, tetapi juga mampu melahirkan aksi dan solusi nyata. Dosen, mahasiswa, peneliti, dan seluruh sivitas akademika dapat menjadi penggerak perubahan perilaku masyarakat untuk semakin peduli terhadap keberlanjutan bumi.

Pesan menteri tersebut juga menegaskan pentingnya Gerakan Tobat Ekologis yaitu kesadaran untuk mengoreksi perilaku manusia yang selama ini merusak alam, berkomitmen untuk tidak mengulanginya, serta melakukan langkah-langkah perbaikan dan pemulihan lingkungan secara nyata.

Gerakan Tobat Ekologis mengandung pesan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan hanya melalui regulasi maupun teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan cara berpikir, perubahan perilaku, dan kesadaran kolektif manusia dalam memperlakukan alam.

Perguruan tinggi menjadi salah satu kekuatan penting dalam gerakan tersebut karena memiliki kemampuan untuk mengubah kesadaran menjadi ilmu pengetahuan, penelitian menjadi inovasi serta gagasan menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.

Ia menilai pesan menteri lingkungan hidup tersebut sangat sejalan dengan kebijakan Rektor USM-Indonesia Prof. Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes yang secara konsisten mendorong terciptanya lingkungan kampus yang hijau, bersih, sehat, nyaman dan berkelanjutan.

Kebijakan rektor tidak hanya berorientasi pada pemeliharaan fisik lingkungan kampus, tetapi juga diarahkan untuk membangun budaya peduli lingkungan bagi seluruh sivitas akademika USM Indonesia.

“Apa yang disampaikan Bapak Menteri sangat sejalan dengan kebijakan Ibu Rektor Prof. Dr. Ivan Elisabeth Purba. USM Indonesia terus didorong menjadi kampus yang hijau, bersih dan sehat. Namun yang paling penting adalah bagaimana seluruh sivitas akademika memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk bersama-sama menjaga lingkungan,” ujar Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak.

Ia mengutarakan bahwa lingkungan kampus yang hijau bukan hanya ditandai banyaknya pohon dan ruang terbuka hijau. Kampus hijau harus tercermin dari perilaku dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan dalam menjaga kebersihan, mengurangi sampah, menggunakan air dan energi secara bijaksana, serta merawat lingkungan.

Komitmen tersebut diperkuat melalui kerja sama yang telah dibangun antara USM Indonesia dengan Kementerian Lingkungan Hidup, sehingga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai aksi nyata pelestarian lingkungan.

Menanggapi pesan Menteri Lingkungan Hidup, Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak menyatakan bahwa USM Indonesia mendukung semangat Gerakan Tobat Ekologis dan siap menerjemahkannya dalam kehidupan akademik serta aktivitas sivitas akademika.

“Tobat Ekologis harus dimulai dari diri kita sendiri. Bagi sivitas akademika, kampus adalah salah satu tempat terbaik untuk memulainya. Kita harus mengubah kepedulian menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi gerakan bersama untuk menjaga lingkungan,” katanya.

Semangat Tobat Ekologis juga dapat diintegrasikan ke dalam tridharma perguruan tinggi melalui pembelajaran yang berwawasan lingkungan, penelitian yang menghasilkan solusi terhadap persoalan ekologis serta pengabdian kepada masyarakat yang mendorong perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan tersebut, lanjut Heri Enjang Syahputra, S.E, M.Ak, USM Indonesia mendukung kebijakan pemerintah di bidang lingkungan sekaligus mengimplementasikan kebijakan rektor dalam mewujudkan kampus yang hijau, bersih, sehat, nyaman, berkelanjutan dan memiliki sivitas akademika yang peduli terhadap lingkungan.

Kolaborasi Ekosistem Syariah, Wakaf Hijau, dan Gerakan Tobat Ekologis diharapkan menjadi bagian dari kontribusi nyata USM Indonesia untuk mewujudkan Sumut yang hijau, sehat, halal, produktif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. (dmp)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru