MEDAN, SUMUT POS– Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Medan menggelar program pengabdian masyarakat berbasis Pengembangan Desa Mitra (PPDM) untuk menekan angka penularan Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Senin hingga Selasa (29–30 Juni 2026), ini dipusatkan di Aula Puskesmas Glugur Darat, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.
Mengangkat tema “TB Resisten Obat dan Akses Layanan Program Manajemen Terpadu TB Resisten Obat (PMDT)”, edukasi ini menyasar 10 kader kesehatan dan 15 anggota keluarga penderita TB. Langkah ini diambil sebagai respons nyata atas rendahnya tingkat keberhasilan pengobatan TB RO di Indonesia yang baru menyentuh angka 55 persen pada tahun 2022, masih jauh di bawah target nasional sebesar 80 persen.
Informan kegiatan sekaligus perwakilan tim pengabdian, Dr. Dame Evalina Simangunsong, SKM., M.Kes., mengungkapkan bahwa ketidakpatuhan pasien menjadi pemicu utama melonjaknya kasus TB RO. “Studi menunjukkan bahwa 96,2 persen pasien TB RO memiliki riwayat pengobatan TB yang tidak tuntas. Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun benteng pertahanan di tingkat keluarga dan komunitas melalui deteksi dini yang sistematis menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) serta pendampingan ketat oleh kader,” ujar Dr. Dame dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2026).

Pada hari pertama, peserta dibekali materi teoretis mendalam terkait PMDT yang disampaikan oleh dr. Sri Widya Ningsih. Selanjutnya, tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Medan, Marlisa, memaparkan pengenalan klinis TB RO serta peran strategis kader. Sesi hari pertama ditutup oleh Dr. Dame Evalina yang mengulas teknik komunikasi efektif dalam pendampingan serta tata cara Pengawasan Minum Obat (PMO) yang ketat pada pasien TB RO.
Hari kedua difokuskan pada penguatan aspek praktis. Peserta dilatih mengenai teknik pencegahan penularan di lingkungan rumah, manajemen kunjungan rumah, serta sistem pencatatan dan pelaporan sederhana bagi kader.
Tidak hanya itu, simulasi komunikasi terapeutik dengan penderita TB serta praktik langsung penampungan dahak (sputum) yang aman juga diperagakan oleh tim pengabdi. Evaluasi berbasis post-test di akhir sesi menunjukkan adanya lonjakan signifikan pada skor pengetahuan dan keterampilan praktis para peserta.
Peningkatan ini mencakup pemahaman gejala penyakit, pengawasan obat berbasis keluarga, hingga keterampilan sanitasi rumah seperti pengaturan ventilasi, optimalisasi sinar matahari, penggunaan masker, dan pembuangan dahak yang higienis. Untuk menjaga keberlanjutan program, tim pengabdi membagikan buku saku panduan TB RO secara gratis kepada seluruh peserta sebagai materi rujukan di lapangan.
Pihak manajemen Puskesmas Glugur Darat dan tim pengabdi menaruh harapan besar agar 11 kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Glugur Darat dapat menerapkan lingkungan rumah sehat secara mandiri. Ke depan, para anggota keluarga berisiko yang telah teredukasi ini diproyeksikan untuk direkrut menjadi Kader TB baru demi memperluas jangkauan deteksi dini dan memutus rantai penularan di tingkat akar rumput. (adz)

