Medan – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum penting untuk kembali menegaskan komitmen bersama dalam memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak untuk tumbuh, berkembang, dan mendapatkan pengasuhan terbaik sejak usia dini.
Masa usia dini, khususnya periode 0–6 tahun, merupakan fase fundamental yang menentukan perkembangan anak di masa mendatang. Pada periode ini, dukungan keluarga, lingkungan sekitar, serta layanan publik yang terintegrasi memiliki peran besar dalam membangun fondasi kemampuan kognitif, sosial, emosional, dan karakter anak.
Karena itu, penguatan kebijakan pengasuhan dan stimulasi anak usia dini tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), keluarga, masyarakat, serta mitra pembangunan.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat komitmen tersebut pada Hari Anak Nasional 2026, pemerintah daerah bersama Tanoto Foundation mendorong penguatan kapasitas pemangku kepentingan melalui ‘Workshop Advokasi Kebijakan Pengasuhan dan Stimulasi Anak Usia Dini di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Karo’.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan strategi bagi pemerintah daerah dalam menyelaraskan kebijakan, program, dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.
Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva, menyampaikan bahwa intervensi pada masa awal kehidupan anak merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas generasi mendatang.
Menurutnya, investasi pada anak usia dini tidak selalu memberikan dampak yang langsung terlihat, tetapi menjadi langkah strategis yang menentukan kapasitas anak dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
” Usia dini adalah periode yang sangat penting karena perkembangan anak berlangsung sangat cepat. Apa yang diberikan kepada anak hari ini akan menjadi fondasi bagi kualitas sumber daya manusia beberapa tahun mendatang,” ujarnya.
Selain kebijakan pemerintah, keluarga menjadi aktor utama dalam memastikan anak memperoleh lingkungan tumbuh yang aman dan mendukung.
Ketua TP-PKK Kabupaten Karo, Roswitha Bukit SE MSi Ak CA menekankan pentingnya pola pengasuhan orangtua yang responsif dan stimulatif sebagai bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak.
Ia mendorong agar pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat menghadirkan program yang lebih dekat dengan keluarga, sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Pengasuhan dan stimulasi anak usia dini merupakan bagian integral dari konsep Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), yang menempatkan anak sebagai pusat dari berbagai layanan pembangunan. Pendekatan ini menegaskan bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor pendidikan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari sektor kesehatan, perlindungan anak, kesejahteraan sosial, serta pemberdayaan keluarga.
Natasha Sheir, ECED Ecosystem Development Coordinator Tanoto Foundation menjelaskan bahwa penguatan PAUD HI membutuhkan keterhubungan antaraktor dan layanan agar setiap anak mendapatkan dukungan yang komprehensif. Dengan mengacu pada Rencana Aksi Nasional (RAN) PAUD HI 2025–2029, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan kebijakan dan layanan dapat berjalan secara terintegrasi.
Sementara itu, Lia Toriana, Policy Advocacy Lead Tanoto Foundation menekankan pentingnya inovasi kebijakan yang sesuai dengan konteks lokal. Menurutnya, setiap daerah memiliki tantangan dan potensi yang berbeda sehingga strategi penguatan pengasuhan perlu dirancang melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Pematangsiantar, Sofie Megawary Saragih, menyampaikan bahwa penguatan pembangunan manusia telah menjadi bagian dari arah pembangunan daerah. Namun, diperlukan penguatan koordinasi dan integrasi agar berbagai program yang telah berjalan dapat memberikan dampak yang lebih optimal bagi anak dan keluarga.
Menjelang Hari Anak Nasional 2026, penguatan pengasuhan dan stimulasi anak usia dini menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak anak membutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memastikan kebijakan tidak berhenti pada dokumen perencanaan, tetapi diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi keluarga.
“Generasi Emas 2045 ditentukan dari bagaimana anak usia dini kita tumbuh dan berkembang hari ini. Karena itu, pemerintah perlu hadir untuk memberikan pelayanan terbaik bagi keluarga, orang tua, dan anak-anak sebagai fondasi pembangunan manusia ke depan,” ujar Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kota Pematangsiantar, Dra. Happy Oikumenis Daely.
Hal senada disampaikan Bupati Kabupaten Karo, Brigjen Pol (Purn) Dr dr Antonius Ginting SpOG MKes melalui Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Karo, Dr Drs Eddi Surianta Surbakti MPd yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dengan tetap mempertimbangkan nilai budaya dan konteks lokal masyarakat.
“Dibutuhkan kolaborasi sinergis lintas sektor untuk menghadirkan kebijakan dan program pengasuhan serta stimulasi dini yang memberikan dampak nyata. Upaya tersebut juga perlu memperhatikan nilai-nilai budaya lokal agar implementasinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Melalui penguatan komitmen bersama antara pemerintah daerah, keluarga, masyarakat, dan mitra pembangunan, momentum Hari Anak Nasional 2026 diharapkan dapat menjadi penggerak untuk memperkuat ekosistem pengasuhan anak usia dini di Sumatera Utara. (sih)

