Kota Medan tengah mengalami cuaca panas dengan suhu udara mencapai 33 hingga 35 derajat Celsius dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung beberapa hari ke depan seiring puncak musim kemarau yang mulai melanda sebagian wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak suhu tinggi, terutama risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heatstroke bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Prakirawan BBMKG Wilayah I Medan, Budi Prasetyo, menjelaskan cuaca terik yang terjadi bukan merupakan fenomena luar biasa, melainkan dipengaruhi posisi matahari yang sepanjang Agustus berada di belahan bumi utara. Pada periode ini, lintasan semu matahari melintas dekat di atas Pulau Sumatera sehingga intensitas radiasi matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih besar.
“Selain faktor posisi matahari, minimnya tutupan awan akibat massa udara yang relatif kering turut mendukung terjadinya cuaca panas pada siang hari,” kata Budi kepada Sumut Pos, Senin (10/8).
Kondisi tersebut juga sejalan dengan prakiraan BMKG secara nasional yang menyebutkan Agustus menjadi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk sejumlah daerah di Sumatera. Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibanding kondisi normal akibat pengaruh fenomena El Nino yang mulai berkembang.
Meski suhu udara terasa menyengat pada siang hari, BMKG memastikan peluang hujan masih tetap ada. Namun hujan diperkirakan hanya bersifat lokal dengan durasi singkat sehingga belum mampu mengakhiri cuaca panas secara menyeluruh.
“Umumnya suhu panas masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan di Kota Medan dan sekitarnya. Akan tetapi, peluang hujan bersifat lokal dan singkat masih dapat terjadi yang menurunkan suhu panas dalam satu atau dua hari,” ujarnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB, saat intensitas radiasi matahari berada pada puncaknya.
Bagi warga yang tetap harus bekerja atau beraktivitas di luar ruangan, disarankan menggunakan tabir surya (sunscreen), topi, payung, pakaian berlengan panjang yang nyaman, serta menghindari paparan sinar matahari secara langsung dalam waktu lama.
Selain itu, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih meski belum merasa haus untuk mencegah tubuh kehilangan cairan. Mengonsumsi buah-buahan yang kaya kandungan air seperti semangka, melon, jeruk, dan pepaya juga dianjurkan guna membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Menurut Budi, suhu udara yang tinggi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan apabila masyarakat mengabaikan kondisi tubuh. “Imbauan ini penting mengingat suhu tinggi dapat memicu gangguan kesehatan seperti kelelahan, kram panas, hingga heatstroke jika tidak diantisipasi dengan baik,” tegasnya.
Bukan Heatwave
BMKG juga menegaskan kondisi panas yang terjadi di Medan bukan merupakan fenomena heatwave atau gelombang panas seperti yang terjadi di kawasan subtropis. Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa umumnya tidak mengalami heatwave karena karakteristik atmosfernya berbeda.
Cuaca panas saat ini lebih dipengaruhi kombinasi posisi matahari, minimnya tutupan awan, serta kondisi udara yang kering selama musim kemarau. Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut Indonesia sedang mengalami heatwave berkepanjangan tanpa mengacu pada informasi resmi BMKG.
BMKG meminta masyarakat terus memantau perkembangan prakiraan cuaca melalui kanal resmi agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari, terutama bagi pekerja lapangan, pelajar, lansia, serta anak-anak yang lebih rentan terhadap dampak suhu tinggi.
Dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan, kewaspadaan dan penerapan pola hidup sehat dinilai menjadi langkah sederhana namun penting untuk menghindari dampak buruk cuaca panas. (dwi/ila)

