26.8 C
Medan
Tuesday, May 21, 2024

Menpar Arief Yahya: Ramadan, Saatnya Berwisata Religi

Wisata Religi Wali Songo di Jawa Timur

Homestay Desa Wisata, yang sudah dikupas tuntas di arena Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II/2017 di Hotel Bidakara, 18-19 Mei 2017 lalu, prinsipnya sama. Sharing Economy, kamar rumah yang tidak dipakai itu di-share untuk disewa travellers dengan harga yang terjangkau.

“Sama dengan Grab, Uber dan Gojek, yang memanfaatkan tempat duduk mobil dan motor Anda yang kosong itu untuk orang yang mau nebeng! Bayarnya tidak full, namanya juga nebeng?” tutur Arief.

“Ini semua bisa dilakukan dengan fair, mudah, terstandarisasi, terhitung, terbuka, melalui teknologi digital. Dengan aplikasi, semua menjadi begitu mudah. Di transportasi sedang terjadi, di telecommunication sudah lama banting membanting harga, di tourism ini masih belum terasa. Tapi, ini sebuah keniscayaan, cepat atau lambat akan terjadi,” kata Arief Yahya yang mempertegas hokum “Disruption”-nya Prof Dr Rhenal Kasali.

Indonesia tergolong cepat mengantisipasi. Yakni dengan membuat Digital Market Place yang bernama ITX –Indonesia Tourism Xchange, yang mempertemukan buyers dan sellers dalam satu platform digital. Seluruh industry diminta bergabung di ITX, free of charge, dan sudah mendapatkan web commerce, booking system dan payment engine. “Tinggal mempromosikan saja, yang itu juga akan dikerjakan bersama-sama,” ungkap dia.

Pola ini, saat dipresentasikan Arief Yahya ke Sekjen UNWTO –United Nation World Tourism Organization– Taleb Rifai, konsep ini mendapat acungan jempol. UNWTO juga sedang menghadapi “tekanan” dari pemilik-pemilik hotel konvensional, yang dikelola dengan cara-cara standart. Pertumbuhan AirBnB misalnya, sudah jauh melesat dengan angka yang spektakuler.

Di Prancis 62% orang sudah menggunakan jasa Online Travel Agent (OTA). Di Spanyol yang 4 tahun silam masih 12%, saat ini sudah mencapai 75% search and share, booking, dan payment menggunakan OTA.

Homestay Desa Wisata mungkin akan menemukan momentumnya saat ini. Pariwisata sedang heboh, bukan hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Platform bisnis kepariwisataan juga sudah mulai berubah, kea rah digital. Kebiasaan anak-anak muda sekarang tidak semua suka berwisata dengan cara-cara lama, tetapi explore dengan gaya baru yang lebih advanture, bersentuhan dengan adat istiadat dan budaya lokal.

“Itu semua terjawab dengan Homestay Desa Wisata. Benchmark-nya banyak di hampir semua negara saat ini, model people to people connections seperti ini jauh lebih menantang. Dan anak-anak muda sekarang, suka tantangan baru,” paparnya. (rel)

Wisata Religi Wali Songo di Jawa Timur

Homestay Desa Wisata, yang sudah dikupas tuntas di arena Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II/2017 di Hotel Bidakara, 18-19 Mei 2017 lalu, prinsipnya sama. Sharing Economy, kamar rumah yang tidak dipakai itu di-share untuk disewa travellers dengan harga yang terjangkau.

“Sama dengan Grab, Uber dan Gojek, yang memanfaatkan tempat duduk mobil dan motor Anda yang kosong itu untuk orang yang mau nebeng! Bayarnya tidak full, namanya juga nebeng?” tutur Arief.

“Ini semua bisa dilakukan dengan fair, mudah, terstandarisasi, terhitung, terbuka, melalui teknologi digital. Dengan aplikasi, semua menjadi begitu mudah. Di transportasi sedang terjadi, di telecommunication sudah lama banting membanting harga, di tourism ini masih belum terasa. Tapi, ini sebuah keniscayaan, cepat atau lambat akan terjadi,” kata Arief Yahya yang mempertegas hokum “Disruption”-nya Prof Dr Rhenal Kasali.

Indonesia tergolong cepat mengantisipasi. Yakni dengan membuat Digital Market Place yang bernama ITX –Indonesia Tourism Xchange, yang mempertemukan buyers dan sellers dalam satu platform digital. Seluruh industry diminta bergabung di ITX, free of charge, dan sudah mendapatkan web commerce, booking system dan payment engine. “Tinggal mempromosikan saja, yang itu juga akan dikerjakan bersama-sama,” ungkap dia.

Pola ini, saat dipresentasikan Arief Yahya ke Sekjen UNWTO –United Nation World Tourism Organization– Taleb Rifai, konsep ini mendapat acungan jempol. UNWTO juga sedang menghadapi “tekanan” dari pemilik-pemilik hotel konvensional, yang dikelola dengan cara-cara standart. Pertumbuhan AirBnB misalnya, sudah jauh melesat dengan angka yang spektakuler.

Di Prancis 62% orang sudah menggunakan jasa Online Travel Agent (OTA). Di Spanyol yang 4 tahun silam masih 12%, saat ini sudah mencapai 75% search and share, booking, dan payment menggunakan OTA.

Homestay Desa Wisata mungkin akan menemukan momentumnya saat ini. Pariwisata sedang heboh, bukan hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Platform bisnis kepariwisataan juga sudah mulai berubah, kea rah digital. Kebiasaan anak-anak muda sekarang tidak semua suka berwisata dengan cara-cara lama, tetapi explore dengan gaya baru yang lebih advanture, bersentuhan dengan adat istiadat dan budaya lokal.

“Itu semua terjawab dengan Homestay Desa Wisata. Benchmark-nya banyak di hampir semua negara saat ini, model people to people connections seperti ini jauh lebih menantang. Dan anak-anak muda sekarang, suka tantangan baru,” paparnya. (rel)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/