28 C
Medan
Tuesday, July 23, 2024

Takut Anak Sekolah

Azrul Ananda
Azrul Ananda

SAYA takut ruang sempit, tikus, hiu, dan semakin terpisah-pisahnya anak sekolah zaman sekarang.
***
Saat masih kecil, kita mungkin paling takut dimarahi orang tua atau guru. Atau mungkin juga tidak. Ayah saya termasuk jarang marah langsung, dan selalu membiarkan ‘kenakalan-kenakalan’ terjadi.

“Biar merasakan sendiri akibatnya,” katanya.

Kalau ketahuan paling dimarahi. Dan dimarahi kan tidak bikin mati? katanya di lain kesempatan.

Ketika remaja, dan mulai pacaran, mungkin paling takut ditinggal pacar. Tapi, ini fase pendek, sangat cepat berlalu. Percayalah, jangan pernah takut soal yang ini. Ditinggal? Ya cari lagi.

Ketika usia terus bertambah, dan punya anak, mulai deh ada ketakutan yang lain.

Saya punya kesimpulan bahwa ada dua ketakutan utama manusia di dunia ini. Semua akan merasakan ketika usia bertambah dan kalau punya anak.

Satu, takut soal kesehatan. Tidak semua rela menjaga makan, berolahraga cukup, atau merawat badan, tapi semua pasti tidak ingin sakit.

Aneh, karena hidup ini kan sebab-akibat wkwkwkwk…. Tidak mau sakit, tapi makan sembarangan, malas olahraga, dan suka cari jalan pintas!
Dua, takut anaknya tidak pintar.

Hampir semua pasti ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya. Apa pun kemampuan ekonominya. Mungkin karena itulah dulu orang tua saya bekerja keras supaya saya bisa sekolah di luar negeri. Dan kesempatan harus diambil. Mumpung mampu, katanya
Bagi yang tidak bisa ke luar negeri, tentu segala upaya dikerahkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Biaya sekolah pun bisa mengalahkan cicilan rumah, mengalahkan kebutuhan-kebutuhan lain.

Memilih sekolah? Ampun pusingnya. Apalagi kalau harus menentukan jalan sampai lulus SMA. Seperti yang istri saya alami baru-baru ini (karena dia yang pusing ngurusi anak wkwkwkwk….

Saat memilih-milih, benar-benar tidak ada yang ideal. Semua ada komprominya. Kalau ke sini begini tapi begitu, kalau ke sana begini tapi begitu. Akhirnya pilihan bukanlah karena itu yang dianggap terbaik, tapi itu dianggap kompromi terbaik.

Rasanya kok simpel sekolah zaman saya dulu ya? Masuk SD negeri. Beres.

Sekarang? Masuk negeri, khawatir ini-itu. Masuk sekolah Islam, khawatir ini-itu. Masuk sekolah internasional, khawatir ini-itu.

Azrul Ananda
Azrul Ananda

SAYA takut ruang sempit, tikus, hiu, dan semakin terpisah-pisahnya anak sekolah zaman sekarang.
***
Saat masih kecil, kita mungkin paling takut dimarahi orang tua atau guru. Atau mungkin juga tidak. Ayah saya termasuk jarang marah langsung, dan selalu membiarkan ‘kenakalan-kenakalan’ terjadi.

“Biar merasakan sendiri akibatnya,” katanya.

Kalau ketahuan paling dimarahi. Dan dimarahi kan tidak bikin mati? katanya di lain kesempatan.

Ketika remaja, dan mulai pacaran, mungkin paling takut ditinggal pacar. Tapi, ini fase pendek, sangat cepat berlalu. Percayalah, jangan pernah takut soal yang ini. Ditinggal? Ya cari lagi.

Ketika usia terus bertambah, dan punya anak, mulai deh ada ketakutan yang lain.

Saya punya kesimpulan bahwa ada dua ketakutan utama manusia di dunia ini. Semua akan merasakan ketika usia bertambah dan kalau punya anak.

Satu, takut soal kesehatan. Tidak semua rela menjaga makan, berolahraga cukup, atau merawat badan, tapi semua pasti tidak ingin sakit.

Aneh, karena hidup ini kan sebab-akibat wkwkwkwk…. Tidak mau sakit, tapi makan sembarangan, malas olahraga, dan suka cari jalan pintas!
Dua, takut anaknya tidak pintar.

Hampir semua pasti ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya. Apa pun kemampuan ekonominya. Mungkin karena itulah dulu orang tua saya bekerja keras supaya saya bisa sekolah di luar negeri. Dan kesempatan harus diambil. Mumpung mampu, katanya
Bagi yang tidak bisa ke luar negeri, tentu segala upaya dikerahkan agar anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Biaya sekolah pun bisa mengalahkan cicilan rumah, mengalahkan kebutuhan-kebutuhan lain.

Memilih sekolah? Ampun pusingnya. Apalagi kalau harus menentukan jalan sampai lulus SMA. Seperti yang istri saya alami baru-baru ini (karena dia yang pusing ngurusi anak wkwkwkwk….

Saat memilih-milih, benar-benar tidak ada yang ideal. Semua ada komprominya. Kalau ke sini begini tapi begitu, kalau ke sana begini tapi begitu. Akhirnya pilihan bukanlah karena itu yang dianggap terbaik, tapi itu dianggap kompromi terbaik.

Rasanya kok simpel sekolah zaman saya dulu ya? Masuk SD negeri. Beres.

Sekarang? Masuk negeri, khawatir ini-itu. Masuk sekolah Islam, khawatir ini-itu. Masuk sekolah internasional, khawatir ini-itu.

Artikel Terkait

Wayan di New York

Trump Kecele Lagi

Terpopuler

Artikel Terbaru

/