33 C
Medan
Sunday, July 14, 2024

Diancam Komplotan Begal, Pria Ini Melawan, Hasilnya…

Foto: Joko Gunawan/Metro Rantau/SMG Adifian, honorer di sebuah kantor pemerintah, menjadi korban komplotan begal di Bukit Pasada Labuhan Batu, Sabtu (30/7/2016).
Foto: Joko Gunawan/Metro Rantau/SMG
Adifian, honorer di sebuah kantor pemerintah, menjadi korban komplotan begal di Bukit Pasada Labuhan Batu, Sabtu (30/7/2016).

RANTAUPRAPAT, SUMUTPOS.CO – Telapak kedua tangan Bayu Sagara Ginting (22) nyaris putus dan tubuhnya penuh luka. Luka itu akibat aksi heroik melakukan perlawanan kepada tiga pelaku begal, yang terjadi di perbukitan Bukit Pasada Rantau Utara, Labuhan Batu.

Saat ditemui di salah satu rumah sakit swasta saat dia berobat beberapa jam setelah kejadian yang terjadi Sabtu (30/7) sekira pukul 18.00 Wib, Bayu menceritakan, sore itu awalnya dia hanya ingin melihat indahnya kota Rantauprapat, dari atas lokasi perumahan Bukit Pasada Jalan Taruna Lingkungan Terminal Kelurahan Padang Bulan.

Saat warga komplek Sakura Indah Lingkungan Cut Yak Dien Kelurahan Siringo-ringo Rantau Utara itu sedang menikmati panorama, tiba-tiba tiga orang tidak dikenal mendatanginya dan bertanya apakah ada melihat dua rekan mereka. Tanpa menaruh curiga, Bayu mengatakan ketidaktahuannya.

Tenaga Honorer Dispaskeb itu melihat ketiga orang bertanya tadi berputar-putar di lokasi dan tidak menghiraukan karena dia asyik memandang ke bawah lereng bukit. Namun, tiga orang itu kembali menghampirinya. Kali ini tidak bertanya, tapi malah menodongkan parang dan pisau.

“Aku dipaksa jongkok dan dipaksa menyerahkan dompet serta kunci sepeda motor Yamaha Mio-G BK punyaku. Pelaku saat itu meletakkan parangnya di atas kepalaku dan dua lainnya mengarahkan pisaunya ke badanku,” aku Bayu.

Belakangan timbul niatnya melakukan perlawanan. Dengan berpura-pura akan mengambil dompetnya, korban meminta agar diperbolehkan berdiri. Disaat itulah Bayu memegang parang dengan kedua tangannya sekuat tenaga.

Tarik menarik sebilah parang terus terjadi. Di sela-sela itu, kedua pelaku begal mengayunkan pisau mereka ke badan korban. Tidak ingin konyol, korban kembali melakukan perlawanan dengan menendang pelaku yang dekat dengannya.

Walau badannya terasa perih di beberapa titik serta kedua telapak tangannya mengeluarkan banyak darah, tetapi Bayu terus melakukan perlawanan sekuat tenaga. Akhirnya ketiga pelaku begal itu pun pergi meninggalkannya karena korban nekat melakukan perlawanan.

Namun, saat meninggalkan korban yang terluka dan berlumuran darah, ketiga pelaku sempat berucap kepadanya akan kembali lagi dengan jumlah rekannya lebih banyak dan akan menghabisi korban.

“Waktu orang itu pergi, sempat dibilangnya mau datang lagi bawa kawan,” kenang Bayu.

Dengan tangan dan badan berlumuran darah, Bayu mengemudikan sepeda motornya meninggalkan lokasi itu untuk berobat. Seorang dokter di UGD RSU Sufina Al-Aziz, Lily ketika dikonfirmasi mengatakan, tiga jari tangan korban akan segera dioperasi untuk menyambung urat tendon yang putus.

“Karena kalau tidak dioperasi untuk disambung urat tendonnya, nanti bisa dampaknya jari tangannya tidak bisa bergerak,” sebutnya.

Salah seorang keluarga korban, Bina Ginting menjelaskan, pihaknya belum membuat laporan ke Polres Labuhanbatu karena kondisi korban masih lemah.

Foto: Joko Gunawan/Metro Rantau/SMG Adifian, honorer di sebuah kantor pemerintah, menjadi korban komplotan begal di Bukit Pasada Labuhan Batu, Sabtu (30/7/2016).
Foto: Joko Gunawan/Metro Rantau/SMG
Adifian, honorer di sebuah kantor pemerintah, menjadi korban komplotan begal di Bukit Pasada Labuhan Batu, Sabtu (30/7/2016).

RANTAUPRAPAT, SUMUTPOS.CO – Telapak kedua tangan Bayu Sagara Ginting (22) nyaris putus dan tubuhnya penuh luka. Luka itu akibat aksi heroik melakukan perlawanan kepada tiga pelaku begal, yang terjadi di perbukitan Bukit Pasada Rantau Utara, Labuhan Batu.

Saat ditemui di salah satu rumah sakit swasta saat dia berobat beberapa jam setelah kejadian yang terjadi Sabtu (30/7) sekira pukul 18.00 Wib, Bayu menceritakan, sore itu awalnya dia hanya ingin melihat indahnya kota Rantauprapat, dari atas lokasi perumahan Bukit Pasada Jalan Taruna Lingkungan Terminal Kelurahan Padang Bulan.

Saat warga komplek Sakura Indah Lingkungan Cut Yak Dien Kelurahan Siringo-ringo Rantau Utara itu sedang menikmati panorama, tiba-tiba tiga orang tidak dikenal mendatanginya dan bertanya apakah ada melihat dua rekan mereka. Tanpa menaruh curiga, Bayu mengatakan ketidaktahuannya.

Tenaga Honorer Dispaskeb itu melihat ketiga orang bertanya tadi berputar-putar di lokasi dan tidak menghiraukan karena dia asyik memandang ke bawah lereng bukit. Namun, tiga orang itu kembali menghampirinya. Kali ini tidak bertanya, tapi malah menodongkan parang dan pisau.

“Aku dipaksa jongkok dan dipaksa menyerahkan dompet serta kunci sepeda motor Yamaha Mio-G BK punyaku. Pelaku saat itu meletakkan parangnya di atas kepalaku dan dua lainnya mengarahkan pisaunya ke badanku,” aku Bayu.

Belakangan timbul niatnya melakukan perlawanan. Dengan berpura-pura akan mengambil dompetnya, korban meminta agar diperbolehkan berdiri. Disaat itulah Bayu memegang parang dengan kedua tangannya sekuat tenaga.

Tarik menarik sebilah parang terus terjadi. Di sela-sela itu, kedua pelaku begal mengayunkan pisau mereka ke badan korban. Tidak ingin konyol, korban kembali melakukan perlawanan dengan menendang pelaku yang dekat dengannya.

Walau badannya terasa perih di beberapa titik serta kedua telapak tangannya mengeluarkan banyak darah, tetapi Bayu terus melakukan perlawanan sekuat tenaga. Akhirnya ketiga pelaku begal itu pun pergi meninggalkannya karena korban nekat melakukan perlawanan.

Namun, saat meninggalkan korban yang terluka dan berlumuran darah, ketiga pelaku sempat berucap kepadanya akan kembali lagi dengan jumlah rekannya lebih banyak dan akan menghabisi korban.

“Waktu orang itu pergi, sempat dibilangnya mau datang lagi bawa kawan,” kenang Bayu.

Dengan tangan dan badan berlumuran darah, Bayu mengemudikan sepeda motornya meninggalkan lokasi itu untuk berobat. Seorang dokter di UGD RSU Sufina Al-Aziz, Lily ketika dikonfirmasi mengatakan, tiga jari tangan korban akan segera dioperasi untuk menyambung urat tendon yang putus.

“Karena kalau tidak dioperasi untuk disambung urat tendonnya, nanti bisa dampaknya jari tangannya tidak bisa bergerak,” sebutnya.

Salah seorang keluarga korban, Bina Ginting menjelaskan, pihaknya belum membuat laporan ke Polres Labuhanbatu karena kondisi korban masih lemah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/