MEDAN, SUMUTPOS- Anggota DPRD Kota Medan, Dodi Robert Simangunsong, S.H., menggelar agenda Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan dengan tema “Pancasila Bagi Generasi Z dan Post Z”. Agenda ini dilaksanakan di Jalan Sisingamangaraja, Gang Pulau Harapan, Kelurahan Sitirejo I, Kecamatan Medan Kota, Minggu (12/7/2026), guna membentengi moral Gen Z di era digital.
Sosialisasi ini menghadirkan narasumber Pendeta Rijen Lumbantoruan dan Rebeca Hutahaean. Acara dirancang guna memberikan pemahaman komprehensif bagi Generasi Z dan Post Z mengenai urgensi pengamalan Pancasila di tengah gempuran teknologi informasi.
Dodi Robert Simangunsong menjelaskan, Gen Z wajib memahami arti dan nilai-nilai luhur Pancasila agar memiliki arah hidup yang jelas. Pancasila dinilai harus menjadi pusat dan acuan utama dari seluruh perilaku sehari-hari.
“Generasi Z dan Post Z hari ini dihadapkan pada tantangan zaman yang sangat kompleks. Oleh karena itu, adik-adik sekalian harus memahami betul arti dan nilai-nilai Pancasila. Implementasi ideologi ini bukan lagi sekadar hafalan, melainkan tameng utama agar adik-adik kita tidak kehilangan arah di tengah arus modernisasi,” ujar Dodi Robert Simangunsong saat memberikan arahan pembuka.
Pendeta Rijen Sihombing memaparkan fenomena ketergantungan gawai yang melekat pada pemuda saat ini. “Bagi Gen Z, handphone (HP) sangat vital hingga memicu dilema; saat lapar dan baterai sisa satu persen, mana yang diisi duluan? Pasti HP kan? Anak-anak sekarang, tanpa HP hidup terasa hampa,” ujarnya.
“Atas dasar itu, Pancasila harus hadir sebagai instrumen pembentuk perilaku sekaligus benteng moral,” imbuhnya.
Rijen menjelaskan, negara menjamin kebebasan Gen Z untuk menentukan masa depan. Namun, kebebasan itu dibatasi norma kemanusiaan sesuai sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Dia juga mengingatkan, agar para Gen Z dalam menggunakan media sosial tidak mengunggah konten melanggar kemanusiaan, menyinggung SARA, serta menyebarkan hoaks demi menghindari pelanggaran UU ITE. “Setiap informasi wajib dikroscek kebenarannya sebelum dibagikan,” tegasnya.
Dalam sesi dialog, Johan seorang peserta menanyakan strategi agar Pancasila tetap dipertahankan di tengah maraknya hoaks dan tidak sekadar menjadi hafalan belaka. Merespons hal tersebut, Rijen menganalogikan Pancasila sebagai kompas bagi pelaut yang berfungsi menjadi petunjuk arah mencapai cita-cita.
Ia menegaskan, nilai ideologi ini harus ditanamkan dari rumah melalui kepatuhan pada nasihat orang tua. Menurutnya, pengamalan etika generasi dahulu dan sekarang sudah jauh berbeda.
Sebagai penutup, Rijen memberikan ilustrasi tentang pekerja bangunan katedral. Alih-alih hanya melihat teknis menyusun batu, semen, atau besi, pemuda harus meniru pekerja visioner yang sadar bahwa mereka sedang mendirikan bangunan megah bagi masyarakat luas. “Gen Z bukan lagi sekadar generasi penerus, melainkan generasi penentu kemajuan bangsa ini,” pungkas Rijen. (adz)

