Home Blog Page 5857

Paket Wonderful Huta Toba Jadi Andalan

TRIADI WIBOWO/SUMUT POS WISATA: Keindahan panorama Danau Toba difoto dari Hotel Inna Parapat, beberapa waktu lalu. Untuk menarik wisatawan mancanegara, khususnya Malaysia dan Singapura, Kemenpar menawarkan paket Wonderful Huta Toba.
TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
WISATA: Keindahan panorama Danau Toba difoto dari Hotel Inna Parapat, beberapa waktu lalu. Untuk menarik wisatawan mancanegara, khususnya Malaysia dan Singapura, Kemenpar menawarkan paket Wonderful Huta Toba.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tak henti-hentinya membuat trobosan untuk menggenjot jumlah wisatawan ke Danau Toba. Teranyar, paket Wonderful Huta Toba untuk 4 hari 3 malam disiapkan. ‘Huta Toba’ singkatan dari Humbang Hasundutan-Tapanuli Utara-Toba Samosir Yang dibidik, market mancanegara dari Singapura dan Malaysia.

Wisman yang membeli paket wisata ini bisa menjelajahi destinasi baru di tiga kabupaten (Humbahas, Taput dan Toba Samosir) yang akan menjadi diversifikasi produk dari paket wisata Danau Toba yang sudah ada selama ini . “Kita tidak boleh lelet. Peta persaingan ke depan adalah yang cepat menyalip yang lelet, bukan yang besar menginjak yang kecil. Muaranya harus bergerak cepat, agresif, terus bergerak, menciptakan quick wins, dengan cara-cara cerdas,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/10).

Dia menjelaskan, penyiapan paket baru ini telah digas sejak Minggu (14/10), dengan menggandeng Tourism Consultant Mian Simanjuntak yang ikut mengembangkan wisata Raja Ampat dan Tolikara. Mian Simanjuntak mengaku banyak menemukan warna baru yang menarik untuk di eksplorasi. “Daerah tropis tapi dingin. Ada kabut. Unik, kaya cerita, dan sangat berbeda,” katanya.

Tim Percepatan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Budaya Kemenpar pun ikut terlibat. Selain itu, pihaknya juga menggandeng Kepala Dinas Pariwisata setempat untuk diajak berkolaborasi dengan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar.

Untuk lokasi target wisatanya mulai dari Huta Ginjang, Sipiltik Homestay, perkebunan nanas Onanrunggu Sipahutar, rumah makan Gorga, hingga air panas Sipoholon di Tapanuli Utara. Sementara di Humbang Hasundutan ada industri pembuatan kacang, Desa Sitampurung, Bakkara, Batu Gaja Restaurat, Sisingamangaraja Palace Tour sampai Sipinsur Geo Site Park.

Selain itu ada pula Desa Meat, Lumban Silintong dan Hauma Bange Vilage, Balige Market Tradisional Balerong, Lumban Bulbul, hingga Desa Pagar Batu.

“Wisata Toba itu tidak hanya melihat danau ada banyak sisi lain yang bisa dieksplorasi. Alam, agrowisata, sejarah, religi, budaya dan kulinernya banyak yang keren,” ucap Kasubbid Destinasi Area I B-Asdep Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar, Andhy Marpaung.

Sementara itu menurut Kepala Dinas Pariwisata Tapanuli Utara Binhot Aritonang, skema baru ini adalah salah satu bentuk promosi destinasi yang efektif. Ia mengatakan jika disentuh dengan cara yang pas, dia meyakini bakal punya ‘daya ledak’ yang luar biasa.

“Ada prinsip seeing is believing! Ketika sudah melihat, merasakan sensasinya, baru bisa disusun paket yang menarik untuk market mancanegara. Ini terobosan keren,” papar Aritonang. (mle/egp)

Yahyar: Kami Sedang Baca Takhtim di Kelas

istimewa for sumut pos ORANGTUA KORBAN: Para orangtua pelajar yang tewas diterjang banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal saat acara tahlilan malam ketiga, Senin (15/10) malam.
istimewa for sumut pos
ORANGTUA KORBAN: Para orangtua pelajar yang tewas diterjang banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal saat acara tahlilan malam ketiga, Senin (15/10) malam.

MADINA, SUMUTPOS.CO – Jarak bongkahan batang kayu yang menggelinding dari hulu sungai, hanya sekitar beberapa menit saja dari lokasi tempat mereka belajar-mengajar. Sesaat sebelum kejadian, Yahyar Nasution, seorang guru madrasah di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut Madina, tengah membaca takhtim bersama muridnya.

DI lokasi pengungsian, Desa Huta Godang kecamatan yang sama, Yahyar menceritakan bagaimana kejadian banjir bandang, Jumat (12/10) lalu sekitar Pukul 16.30 WIB itu menimpa sekolah mereka. Suara gelondongan kayu bergemuruh menjadi tanda darurat baginya dan anak murid untuk menyelamatkan diri. Waktu sekitar satu menit di jarak puluhan meter saja, seketika itu pula dirinya harus berlari mencari tempat berlindung.

Guru madrasah berusia 33 tahun ini pun mengaku dalam waktu singkat, harus mengarahkan anak-anak didiknya berlari ke belakang sekolah untuk berlindung dari hantaman bongkahan kayu besar yang menggelinding mengikuti alur sungai kecil yang tidak jauh dari sekolah.

“Jam belajar waktu itu. Kami pas (sedang) membaca takhtim. Tiba-tiba saya dengar suara kayu seperti gemuruh. Sempat saya lihat ke bawah (hilir), kemudian saya lihat ke atas (hulu) sudah datang air memutar batang pohon yang menggelinding,” cerita Yahyar dalam bahasa Mandailing.

Melihat itu, ayah dua anak ini pun seketika menginstruksikan muridnya untuk berlari keluar kelas, ke belakang sekolah atau ke tempat yang tinggi agar tidak tertimpa gelondongan kayu. Sejumlah anak pun mengikutinya, kemudian yang lainnya ada yang berlari ke jalan atau berlari ke gedung sekolah di bagian lain di atas.

“Sebagian lagi tidak sempat lari, karena jaraknya (bongkahan kayu) 10 meter lagi sampai di sekolah. Makanya ada juga yang mengikuti saya,” katamya.

Kebun coklat di bagian atas sekolah, menjadi tempat bagi Yahyar untuk menyelamatkan diri. Berpegangan di batang pohon coklat bersama anak-anak itu, membuat dirinya kemudian selamat dari terjangan air bercampur lumpur membawa gelondongan kayu beserta akarnya ke arah Sungai Pungkut, sungai besar di Kecamatan itu.

Kurang lebih satu menit kejadian itu berlangsung kata Yahyar, ia yang berhasil lolos dari maut, langsung memeriksa anak didiknya di sekitar sekolah. Beberapa orang yang berada di luar sekolah, ia temukan tertimbun atap seng, kayu dan lumpur. Tak pikir panjang, dirinya langsung mencari satu persatu anak-anak asuhnya sebelum beberapa menit kemudian, warga kampung pun yang bahkan kehilangan rumahnya, berlari ke sekolah untuk memastikan kondisi sang anak.

Sayangnya kata Yahyar, anak-anak yang tidak sempat keluar dari ruang kelas terumbu reruntuhan tembok sekolah, bersama bongkahan kayu yang menghantam keras. Namun sesaat setelah kejadian, ia mengaku tak sempat berfikir sedih atau menangis. Hanya upaya pencarian baginya terpenting saat itu.

“Setelah itu saya lihat ke bawah, sudah rata (rumah warga). Saya temukan ada yang tertimbun lumpur, ada juga yang selamat di gedung sekolah yang di atas,” kata Yahyar yang saat itu mengajar sendiri karena sang istri yang juga guru di sana, ia minta pulang melihat rumah sebelum kejadian.

Tidak lama berselang, dia pun melihat warga desa datang berlari ke lokasi sekolah, membantu menemukan anak-anak, korban banjir bandang Madina yang menewaskan 12 orang muridnya di dalam kelas, dan tak sempat melarikan diri. Tak peduli anak siapa, Yahyar terus saja mencari sebelum bantuan pemerintah setempat datang tidak lama setelah kejadian.

Hingga kini, rasa trauma masih terus membayangi Yahyar. Bahkan sepeda motor miliknya yang rusak dihantam banjir, tak tega ia pandangi. Ia pun masih enggan melihat bagaimana kondisi sekolah dan pemukiman di Desa Muara Saladi, lokasi terparah terdampak banjir bandang. Hanya doa dan harapan, agar dirinya bersama istri bisa kembali mengajar setelah peristiwa itu, walaupun sedih bercampur takut masih kuat melekat di ingatannya.

Baginya, meskipun bukan anak kandung, murid-murid, korban banjir bandang adalah anak didiknya, yang saat itu mengaji bersama, mengajarkan takhtim untuk bekal pendidikan agama di usia sekolah dasar. Sambil bercerita, terselip harapan semoga anak-anak yang selamat, segera bisa mendapatkan pendidikan lagi, dengan bantuan pemerintah agar proses belajar mengajar bisa dilanjutkan. (bersambung)

R-APBD 2019 Kota Medan, RP 1,7 T Bangun Infrastruktur

Sutan Siregar BERLUBANG: Median jalan berlubang di Jalan Putri Hijau Medan. Pemko Medan mengalokasikan Rp1,7 triliun untuk pembangunan jalan, drainase dan sejumlah infrastruktur lainnya.
Sutan Siregar
BERLUBANG: Median jalan berlubang di Jalan Putri Hijau Medan. Pemko Medan mengalokasikan Rp1,7 triliun untuk pembangunan jalan, drainase dan sejumlah infrastruktur lainnya.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kota (Pemko) Medan mengalokasikan Anggaran Belanja Pembangunan Daerah (APBD) tahun 2019 sebesar Rp1,7 triliun untuk pembangunan dan perawatan infrastruktur di Kota Medan Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution mengatakan, dari perencanaan anggaran sebesar Rp1,7 triliun, sebanyak Rp675,8 dialokasikan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk perawatan, pembangunan jalan dan drainase.

Sementara untuk Dinas Perumahan dan Pemukiman, anggaran yang direncanakan sebesar Rp546,5 miliar serta Dinas Kebersihan dan Pertamanan Rp568,4 miliar.”Total anggaran yang dialokasikan untuk infrastruktur sekitar Rp1,7 triliun dari total anggaran belanja langsung Rp3,87 triliun,” ujarnya, Selasa (16/10).

Pemko Medan, katanya, pada tahun depan untuk mengatasi banjir masih melakukan normalisasi drainase yang sudah puluhan tahun tidak terawat. “Tahun depan kita fokuskan terhadap normalisasi drainase. Sudah puluhan tahun tidak dirawat. Normalisasi dilakukan dari parit-parit yang sudah ada, menyambungkan antar drainase supaya mengalir,” tuturnya saat diwawancarai wartawan di ruang kerjanya.

Untuk pembangunan jalan, sambung Akhyar, pada tahun depan juga selain mengatasi banjir juga difokuskan ke jalan-jalan kecil. “Banjir merupakan kasus mikro dan makro. Jadi, banjir bukan hanya urusan Pemko Medan tetapi melibatkan Balai Wilayah Sungai (BWS). Untuk itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) bersama BWS dalam mengatasi banjir,” sebutnya.

Selain itu, lanjut dia, untuk mengatasi banjir dibutuhkan peran serta masyarakat. Salah satunya, dengan membangun tempat serapan atau resapan air di rumah. Menurut dia, penanganan banjir ini bisa dilakukan dengan banyak cara seperti lewat biopori (membuat lubang resapan air ke dalam tanah). Makanya, diharapkan setiap rumah tangga ada biopori dan juga taman-taman.

“Kita meminta kepada masyarakat paling tidak halaman rumahnya jangan dibeton atau disemen, biarkanlah dalam kondisi tanah terbuka. Sehingga, ketika hujan turun airnya bisa terserap ke dalam tanah,” kata Akhyar.

Namun, lanjut Akhyar, saat ini semua rumah rata-rata ditutup dengan semen halamannya. Akibatnya, air tidak bisa terserap ke dalam tanah dan masuk ke dalam parit atau drainase hingga meluap. “Makanya, kita berharap kepada warga Kota Medan mari sama-sama kita atasi persoalan banjir ini karena banyak cara untuk mengatasinya. Harus secara bersama-sama dan bukan hanya Pemko Medan saja melainkan masyarakatnya juga,” ucapnya.

Akhyar mengimbau, bagi yang membangun ruko diminta membuat flying garden sebagai kompensasi. Misalnya, di atas ruko dibangun taman dan itu bisa menampung air. Atau, membangun halaman dan mempasang pot bunga atau menanam pohon. “Ini semua bisa menahan air atau menyerap ketika hujan turun. Dengan begitu, ketika turun hujan air tidak langsung mengalir ke parit karena sudah terserap lebih dulu,” tuturnya.

Cara lain mengatasi banjir, sambung Akhyar, membuat waduk yang dibangun di suatu tempat seperti pada bagian selatan kawasan Kota Medan. Sebab, di tengah kota tidak ada lagi lahan yang menjadi kendala utama.

Pengamat tata kota dari Universitas Pancabudi Medan Bhakti Alamsyah mengatakan, banjir bukanlah merupakan isu baru. Pemko Medan, katanya, sudah melakukan penanganan banjir secara parsial. Meski demikian, harus ada penanganan berkelanjutan, tidak hanya sampai pada pendalaman pada drainase saja.”Pengorekan parit yang dalam dibuat, apakah yang dibuat sudah sejalan dengan mapping? Kemana aliran air ke drainase itu dibuang setelah itu? Itu yang harus diselesaikan,” ujarnya.

Ia mengatakan, penanganan banjir bisa mengoptimalkan fungsi dari kanal dan gorong-gorong yang besar. “Coba lihat kanal di Marindal, apakah sudah berfungsi. Selain itu, bisa juga mencari danau buatan sebagai tempat penampungan atau pengaliran air sementara,” katanya.

Artinya, lanjut Bakti, pembangunan kota tidak bisa dilihat secara per sektor. Katanya, harus dibanangun berdasar mapping. “Mana daerah yang paling rendah, dibangun pompa kalau di daerah yang tidak mengalir,” ujarnya.

Pemko, katanya, juga harus mengeluarkan kebijakan untuk daerah yang menjadi serapan air. Misalnya seperti kebijakan perumahan dan taman betapa pentingnya serapan air. (ris/ila)

Pelamar CASN di Sumut 137.371 Orang

Ilustrasi
Ilustrasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jumlah pelamar calon aparatur sipil negara (CASN) 2018 pada 32 instansi daerah di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 137.371 orang. Sementara total akun pelamar yang tercatat ada sebanyak 145.582 akun, dimana melebihi dari jumlah pelamar yang telah menyelesaikan pendaftaran hingga masa perpanjangan pendaftaran 15 Oktober kemarin.

Hal itu diketahui berdasarkan data yang diperoleh Sumut Pos dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) pada Selasa (16/10). Sayangnya, secara lebih rinci tidak terlihat jelas data jumlah pelamar per kabupaten/kota di Sumut.

Kepala BKN Regional VI Medan, English Nainggolan mengungkapkan pihaknya sudah mendapat data pelamar CASN per kabupaten/kota di Sumut setelah masa pendaftaran Senin kemarin. “Datanya ada, cuma kebetulan saya lagi diluar. Hanya bisa diakses dari komputer. Besok saja ya untuk lebih rinci,” katanya menjawab Sumut Pos, kemarin.

Pihaknya tidak mengetahui ihwal formasi paling diminati pelamar terkhusus 32 instansi daerah di Sumut. Sebab hal itu hanya bisa diakses oleh BKN Pusat selaku Panitia Seleksi Nasional CPNS. “Iya betul, kalau untuk itu kami tidak punya akses,” ujarnya.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Setdaprovsu, Kaiman Turnip juga mengaku belum mengetahui pasti jumlah pelamar usai masa pendaftaran ditutup. Menurutnya untuk pelamar di instansi Pemprovsu jumlahnya masih sekitar 5.000-an. “Nanti terlebih dahulu akan kita verifikasi lagi berapa jumlah pelamarnya. Apalagi verifikasinya itu kan online, jadi nanti bisa dilihat,” katanya.

Secara lebih rinci, terang dia, melalui portal SSCN.bkn.go.id akan tertera jumlah pelamar setelah diverifikasi seluruhnya oleh BKN Pusat. “Verifikasinya itu akan online semua di situs SSCN. Jadi akan terlihat nanti dengan jelas melalui situs itu,” pungkasnya.

Seperti diketahui, hingga pukul 16.00 WIB, Senin (15/10), BKN merilis total akun pelamar CASN 2018 sebanyak 4.410.228 orang. Dimana dari total tersebut, terdapat jumlah pelamar yang telah selesai mendaftar sebanyak 3.470.567 orang sesuai yang tertera di portal Sistem Seleksi CPNS Nasional (SSCN).

Meski begitu, Hubungan Masyarakat BKN Muhammad Ridwan menyebutkan belum mengetahui ihwal jumlah formasi dengan peminat tertinggi pelamar tahun ini. Termasuk untuk jumlah peserta atau pendaftar khusus di Pemprov Sumut, secara rinci belum diperolehnya.

“Datanya kebetulan tidak sama saya. Untuk sementara data yang bisa diberikan cuma itu sesuai update harian kami pukul 16.00 WIB. Pendaftaran sendiri akan ditutup hari ini sampai pukul 23.59 WIB,” katanya.

Ia mengatakan, sesuai tahapan pihaknya akan melakukan verifikasi atas jumlah pelamar di semua instansi dalam waktu lima hari ke depan. “Artinya sampai 21 Oktober adalah masa verifikasi,” pungkasnya.

Guru Bidang Study Paling Diminati di Deliserdang

Sampai batas terakhir pendaftaran melalui online, sebanyak 13.941 pelamar CASNdi Deliserdang. Meski pendaftaran sudah ditutup pada Senin (15/10) lalu, namun menurut Sekdakab Deliserdang Darwin Zein melalui Kabid Mutasi BKD Pemkab Deliserdang Syahrul, penyerahan berkas pendaftaran masih dapat dilakukan hingga sampai hari ini, Rabu (17/10).

Kemudian besok, Kamis (18/10), BKD melakukan akan verifikasi faktual terhadap data yang masuk secara online. Bila verifikasi faktual selesai dilakukan, maka hasilnya akan diumumkan siapa yang berhak lulus hasil seleksi administrasi. “Kemudian setelah vertifikasi faktual dan lihat hasilnya, baru lihat SSCN apa yang diupload pelamar diuji dengan bukti fisiknya, benar apa tidak? Kalau oke, berarti lulus administrasi dan kalo tidak lulus apa verifikatornya dengan menyebut keterangannya,” kata Syahrul.

Disebutkannya, tingginya minat masyarakat memilih Kabupaten Deliserdang sebagai tujuan tempat melamar CPNS merupakan sebuah kerhormatan bagi Pemkab Deliserdang. Namun, tidak semua formasi yang diminati oleh pelamar.

Terbukti untuk formasi yang banyak diminati adalah formasi untuk guru bidang study, sedang formasi yang minim peminatnya adalah dokter spesialisasi, selanjutnya diikuti formasi entnomusikologi ahli pertama SKM. “Saya tidak tau kenapa peminatnya minim. Tasdpi hanya seorang yang mendaftar formasi entnomusikologi ahli pertama SKM,”jelasnya. (prn/btr)

2 Bayi Laki-Laki Ditinggal di RSU H Adam Malik, Kondisinya Sudah Sehat

ISTIMEWA/sumut pos DITINGGAL ORANGTUA: Dua bayi laki-laki yang ditinggal di RSU P H Adam Malik Medan, hingga kini belum dijemput orangtuanya.
ISTIMEWA/sumut pos
DITINGGAL ORANGTUA: Dua bayi laki-laki yang ditinggal di RSU P H Adam Malik Medan, hingga kini belum dijemput orangtuanya.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dua bayi laki-laki yang ditinggal orangtua mereka di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik hingga kini belum juga dijemput. Sebelumnya kondisi kedua bayi tersebut sangat memprihatinkan, tapi kini kondisinya sudah sehat dan membaik.

Awalnya, bayi laki-laki milik Seriana Br Sinulingga lahir di RSUP H Adam Malik. Namun, kondisi bayinya kurang sehat, berat badannya rendah. Bayi itu lalu dirawat secara intensif. Saat itu, si ibu bayi yang terdaftar sebagai pasien BPJS, pulang setelah kondisinya baik.

“Namun setelah pulang, ibu bayi itu tidak kembali lagi mengambil bayinya. Kita datangi alamatnya di Durin Jangak, tidak ada lagi di situ,” ujar Kasubag Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, Selasa (16/10) siang.

Sedangkan k bayi laki-laki milik Syafrida, rujukan dari Rumah Sakit Umum Sinar Husni. Saat diantar ke RSUP Adam Malik oleh pihak RSU Sinar Husni, didampingi ayahn
bayi itu bernama Agus Sianturi. Namun setelah diantar itu, orangtua bayi itu tidak muncul-muncul. “Ketika dihubungi pihak RSU Sinar Husni juga mengaku tidak mengetahui pasti alamat orangtua bayi itu.

Kami telepon nomor orangtuanya, tidak pernah diangkat. Pernah sempat diangkatnya dan kami bilang kalau masalah biaya, bisa dicarikan solusinya, namun tidak datang juga. Kami datangi ke alamatnya di Pasar I Marelan, sudah tidak tinggal di sana,” ujar Ocha.

Dikatakan Ocha, sejauh ini pihaknya menggunakan dana operasional rumah sakit untuk merawat bayi tersebut. Mulai dari susu hingga pampers serta keperluan bayi lainnya, ditanggung oleh rumah sakit dengan menggunakan dana operasional rumah sakit. Sementara untuk biaya perawatan kedua bayi itu, keduanya berstatus pasien umum.”Kita sudah koordinasi dengan Dinas Sosial. Kita diminta buat MoU. Namun, sudah 1 bulan belum juga dijawab surat kita,” bilang pungkas.(ain)

Jalan Aksara Dilarang Bagi Pedagang

.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sumateta Utara menjadi tuan rumah Musabaqoh Ttilawatil Quran Nasional (MTQN) XVII/2018. Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang, menjadi tempat perhelatan akbar itu. Oleh karena itu, sejumlah kawasan di Kota Medan dibersihkan dan ditata rapi.

Termasuk kawasan Jalan Aksara yang sebelumnya trotoar dan badan jalan dipadati oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) eks pasar Aksara, dikembalikan kepada fungsinya sebagai jalan raya. Bahkan, trotoar pembatas jalan dan pot bunga besar di atasnya, tampak dicat dengan warna hijau-kuning.

Meski perhelatan MTQ N XVII sudah selesai digelar, Sabtu (13/10), kawasan Jalan Aksara terlihat masih bersih dari PKL. Seperti pengamatan Sumut Pos, Senin (15/10) arus lalu lintas yang sebelumnya sangat macet, kini lancar. Pemandangan yang biasanya terbatas karena adanya kios-kios, terlihat indah dan terang.

Camat Medan Tembung, Barli Nasution ketika dikonfirmasi mengatakan, kondisi Jalan Akasara akan tetap seperti itu. Tidak boleh ada lagi PKL berjualan di atas trotoar sehingga menutup badan jalan. Disebutnya, para PKL itu sudah ditempatkan di terminal dan diberi solusi oleh PD Pasar, mengisi di tempat kosong di pasar-pasar.”Jadi mereka tidak boleh jualan di situ lagi. Kalau begitu kan lebih indah serta arus lalu lintas lancar, “ ujarnya singkat.

Sementara itu, seorang pengendara, Anggi saat ditanya Sumut Pos, mengaku merasa lebih nyaman melintasi Jalan Aksara. Disebutnya, dirinya rutin lewat Jalan Aksara karena dia tinggal di Jalan Denai dan bekerja di kawasan Jalan HM Yamin. Oleh karena itu, disebutnya dia biasanya memilih jalan alternatif, yakni melalui Jalan Kaatria lalu keluar dari Jalan Pahlawan ke Jalan HM Yamin.”Kalau dipaksain lewat Jalan Aksara, bisa lama. Jadi, mending lewat Jalan Ksatria saja, walau jalannya rusak dan padat karena orang banyak lewat dari sana, “ ujarnya. (ain/ila)

Utang DBH Pemprovsu ke Pemko Medan Rp564 Miliar Belum juga Dibayar

.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hingga memasuki triwulan empat tahun 2018, utang dana bagi hasil (DBH) dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) tahun 2017 belum juga dibayar. Bahkan, DBH tahun berjalan atau tahun ini belum dipenuhi.

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Medan Irwan Ibrahim Ritonga mengatakan, diperkirakan utang DBH Pemprovsu sampai akhir tahun mencapai Rp564 miliar. Sebab, hingga saat ini Pemprovsu baru menyalurkan sebesar Rp364 miliar terhitung 24 September 2018.

“Dari total utang sekitar Rp900 miliar lebih, baru dibayar Rp364 miliar untuk utang tahun 2017 dan penyaluran 2018. Jadi, sisa utang yang belum dibayar baik itu penyaluran 2018 dan utang 2017 totalnya sekitar Rp564 miliar lebih,” ungkap Irwan, kemarin.

Irwan mengaku sampai hari ini belum diketahui kapan direalisasikan pembayarannya. Padahal, sebelumnya ada informasi bahwa Pemprovsu menargetkan dapat mengumpulkan anggaran sebesar Rp1,7 triliun untuk membayar utang DBH seluruh kabupaten/kota yang belum dilunasi dan tahun berjalan. Kabarnya, sudah terkumpul sebesar Rp1,2 triliun.

“Belum tahu berapa yang dialokasikan Pemprovsu untuk membayar DBH di P-APBD 2018 mereka. Kalau tidak ada lagi pembayaran maka total hutang DBH sampai akhir tahun mencapai Rp564 miliar,” kata dia.

Ia berharap, Pemprovsu bisa membayar utang DBH secepatnya. Sebab, Pemko Medan membutuhkan uang untuk membiayai kegiatan yang sudah dianggarkan.

Menurut Irwan, utang DBH Pemprovsu dikarenakan perhitungan tahun berjalan ditutup pada 30 September setiap tahunnya. Sehingga, realisasi penerimaan periode Oktober, November dan Desember akan menjadi utang dan dibayarkan tahun berikutnya. Padahal, provinsi lain seperti Banten dan Jawa Barat menutup perhitungan pajak pada 15 Desember setiap tahun. Oleh karenanya, jumlah utang ke kabupaten/kota tidak begitu besar.

“Ini yang kita tidak tahu, kenapa begitu perhitungan dari Pemprovsu. Di daerah lain tidak demikian, cut off atau penghentian perhitungan pajak diatur di dalam sebuah Pergub terhitung 15 Desember, sedangkan di Sumut belum ada seperti itu,” bebernya.

Irwan mengatakan, akibat tertunggaknya DBH maka berimbas kepada program yang telah dianggarkan oleh dinas-dinas. Dampaknya, mau tidak mau menunggak pembayaran pekerjaan yang telah terselesaikan kepada pihak ketiga.

“Tahun 2018 Pemko membayar utang dengan total Rp187 miliar kepada pihak ketiga terhadap pekerjaan yang telah selesai tahun 2017. Untuk tahun ini kemungkinan diprediksi sama akan terjadi lagi tahun ini. Bahkan, utang kepada pihak ketiga kemungkinan lebih besar mencapai Rp200 miliar,” pungkasnya. (ris/ila)

Kapoldasu Diminta Tindak Mafia Mangrove

BAMBANG/SUMUT POS SERAHKAN: Irwasda Poldasu Kombes Pol Lilik Arga Tjahjana menyerahkan bibit kepada personel Polres Langkat dalam kegiatan penanaman 50 ribu pohon mangrove di Desa Lubuk Kertang, Langkat.

BAMBANG/SUMUT POS
SERAHKAN: Irwasda Poldasu Kombes Pol Lilik Arga Tjahjana menyerahkan bibit kepada personel Polres Langkat dalam kegiatan penanaman 50 ribu pohon mangrove di Desa Lubuk Kertang, Langkat.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Penanaman ribuan batang Mangrove di lima Kabupaten/ Kota oleh Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto hingga mendapat rekor MURI, mendapatkan pujian dan kritikan. Terlebih penanaman yang dilakukan di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Berandan Barat, Kabupaten Langkat, melibatkan masyarakat dari kelompok tani hutan, pelajar dan pramuka.

“Penanaman mangrove sangat saya apresiasi. Karena selain untuk melestarikan alam, penanaman ribuan batang Mangrove juga bermanfaat untuk kehidupan manusia dan perkembangbiakan Biota Laut,” kata Direktur Eksekutif Rumah Bahari, Azhar, Selasa (16/10).

Menurutnya, Hutan Mangrove juga bisa menahan Abrasi serta hempasan gelombang. Semakin banyak tumbuh Mangrove, bisa menahan hempasan ombak yang sangat kuat. “Hari ini kita apresiasi kegiatan yg dilakukan oleh Kapoldasu, yaitu melakukan penanaman di beberapa tempat termasuk Langkat di Lubuk Kertang,” ucap Azhar.

Azhar mengungkapkan, masih ada sekitar 400 Hektare lagi kawasan hutan khususnya di Desa Lubuk Kertang yang masih dikuasai mafia. Lahan mangrove diahlifungsikan dengan menanam sawit.

Untuk itu, sambung Azhar, sebagai Direktur Eksekutif Rumah Bahari, dirinya mendorong Kapolda Sumatera Utara melalui kegiatan ini sebagai pintu masuk untuk mendorong penegakan hukum atas kawasan tersebut. Terlebih, terlihat jelas kalau lokasi penanaman tepat berada di sebelah sawit yang tumbuh subur.

“Sangat terlihat jelas di seputaran kegiatan masih tumbuh sawit yang berada di kawasan Hutan Produksi dengan tumbuhan sebelumnya merupakan kawasan yang ditumbuhi Mangrove,” beber Azhar.

Tidak hanya itu, sebagai Direktur Eksekutif Rumah Bahari dan sebagai pelaku, Azhar merupakan salah seorang yang terlibat langsung dari awal dalam pengambil alihan kawasan tersebut. “Kita harapkan penegakan hukum kepada Mafia mangrove dapat ditegakkan. Sehingga tidak lagi perambahan hutan mangrove yang dapat mengganggu ekosistem alam,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Peduli pelestarian alam, Polda Sumatera Utara tanam 50 ribu batang Mangrove di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Senin (15/10).

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto diwakili Irwasda Kombes Pol Lilik Arga Tjahjana, mengajak masyarakat untuk melestarikan mangrove, karena sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia dan perkembangbiakan Biota laut. Hutan mangrove juga sebagai hutan penyangga untuk menahan abrasi dan hempasan gelombang laut, sehingga masyarakat dapat terhindar dari bencana.

“Intinya kita mau melestarikan lingkungan dan hutan Mangrove di wilayah pesisir, karena banyak manfaatnya bagi manusia, secara ekologis dan juga secara ekonomis dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, selain itu juga kita berharap nanti bisa menjadi hutan wisata,” katanya.

Hadir dalam penanaman Mangrove tersebut Karo Rena Kombes Pol Mangantas Tambunan, Dir Lantas Kombes Pol. Agus Susanto, Dir Pam Ovit Kombes Pol Heri Subiansauri, Ka. Labfor Kombes Pol Wahyu Marsudi, Kapolres Langkat AKBP Dedy Indriyanto, Kaden A Brimob Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto, Wakapolres langkat Kompol Hendrawan, Asisten I Setdakab Langkat Abdul Karim, Anggota DPRD Langkat Kirana Sitepu, Kepala UPT KPH Wilayah I Stabat Bustami, perwakilan dari Kodim 0203/Langkat dan dari Yonif -8 Marinir Tangkahan Lagan. (bam/han)

Perusahaan Wajib Daftarkan Karyawan ke BPJS

ilustrasi

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Bagi perusahaan yang tidak memberikan fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan (TK) bagi karyawannya dikenai sanksi pidana penjara 8 tahun dan denda Rp1 miliar. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No.85 dan 89.

Demikian kesimpulan dari tatap muka BPJS TK Cabang Binjai yang bertajuk Coffee Morning dengan wartawan di Massa Kok Tong, Kota Binjai, Selasa (16/10) pagi.

“Pentahapan peserta BPJS TK ini wajib karena sudah diatur dalam Perpres Nomor 109,” ujar Kepala Cabang (Kacab) BPJS-TK Binjai TM Sabri Sinar, didampingi PIC Komunikasi dan Kehumasan Farid Nur Iman serta Petugas Pengawas dan Pemeriksa (Wasrik) Adri Hariadi.

Sabri menerangkan, kegiatan tatap muka dilakukan sebagai upaya meningkatkan hubungan silaturahim, dan kemitraan antara BPJS cabang Binjai dengan awak media. Pertemuan ini sekaligus wadah dialog membahas segala isu terkait masalah ketenagakerjaan di Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kecamatan Sunggal dan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang.

“Pada dasarnya, tujuan pertemuan kita hari ini tidak lain untuk meningkatkan hubungan kemitraan dan kerja sama secara berkelanjutan dengan rekan-rekan media masa,” ungkapnya.

Menurut Sabri, terdapat beberapa hal yang melandasi kegiatan tatap muka bersama media masa. Di antaranya, peningkatan kerja sama terkait sosialisasi dan publikasi program serta kegiatan BPJS-TK Cabang Binjai, hingga rencana pelaksanaan workshop BPJS-TK kepada wartawan.

Dia berharap, pertemuan dimanfaatkan sebagai wadah kerja sama dan pertukaran informasi. Terutama dalam mengoptimalkan peran BPJS-TK sebagai lembaga yang mengakomodir hak dan perlindungan para pekerja di daerah. (ted/han)

Pajak Air Permukaan Paling Minim

.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Realisasi pajak daerah yang berhasil dihimpun Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Provinsi Sumatera Utara hingga September 2018, berkisar 70,81 persen atau Rp3,69 triliun dari total target APBD sebesar Rp5,21 triliun. Jumlah pajak daerah itu terdiri dari lima jenis penerimaan, yakni Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan (PAP) dan Pajak Rokok.

Data yang diperoleh dari BPPRD Sumut, adapun realiasi penerimaan jenis PKB berkisar 80,42 persen atau Rp1,40 triliun dari target Rp1,75 triliun, BBNKB sekitar 91,59 persen atau Rp1,08 triliun dari target Rp1,18 triliun, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 83,56 persen atau Rp656 miliar dari target Rp785 miliar.

Selanjutnya untuk jenis PAP realisasinya hanya baru 4,81 persen atau Rp27 juta dari target Rp577 miliar, dan jenis Pajak Rokok mencapai 56,10 persen atau Rp514 miliar dari target Rp916 miliar. “Ya, khusus PKB karena memang itu bidang saya, di triwulan III tahun anggaran 2018 (sampai 30 September) sudah mencapai Rp1.407.957.663.185 dari target APBD Rp1.750.758.714.765 atau 80,42 persen,” kata Kepala Bidang PKB pada BPPRD Sumut, Victor Lumbanraja menjawab Sumut Pos, Selasa (16/10).

Pihaknya optimis target PKB tersebut dapat tercapai di akhir tahun anggaran. Apalagi jika melihat tren dari tahun-tahun sebelumnya, bahwa capaian realisasi pada jenis penerimaan pajak daerah itu selalu melampaui target yang ditetapkan di APBD. “Seperti tahun lalu (2017) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun ini, realisasi kita justru mengalami peningkatan. Jadi memang trennya meningkat setiap tahun,” katanya.

Menurut Victor, masyarakat Sumut sudah sadar akan kewajiban pajak daerah. Terlebih sebagai wajib pajak yang setiap tahun memiliki kewajiban atas pajak daerah yang dikutip pemerintah. “Terutama masyarakat yang berada di daerah-berada, mereka juga sudah sadar kewajiban membayar pajak. Disamping itu kita memudahkan pelayanan kepada masyarakat dimana telah meluncurkan gerai-gerai pajak yang dekat dengan mereka,” katanya.

Realisasi penerimaan PKB juga didukung dari razia yang dilakukan karena lebih efektif dibandingkan program keringanan denda pajak. “Seperti di kampung-kampung setiap ada razia mereka langsung membayar,” ujarnya.

Untuk pengefektifan razia, sambung Victor, pihaknya juga telah mempersiapkan instrumen untuk razia terpadu dan datang langsung ke lokasi pemilik kendaraan sesuai data sensus yang telah dilakukan. “Kita akan terus lakukan upaya agar masyarakat mau membayar pajak kendaraannya. Kalau untuk program keringanan pajak kembali, kami tidak tahu kapan dilaksanakan lagi. Hal itu sesuai perintah gubernur yang dituang dalam peraturan gubernur,” katanya.

Diakui pihaknya bahwa program keringanan pembayaran denda beberapa waktu lalu, memang sangat membantu masyarakat dalam membayar pajak kendaraannya. “Apalagi keringanan PKB dan BBNKB tersebut tidak hanya untuk pribadi, juga diberlakukan untuk kendaraan plat kuning dan plat merah,” pungkasnya. (prn)