Festival Cipta Lagu Pakpak, 30 Peserta Sumut-Aceh Adu Kreativitas

DAIRI — Upaya melestarikan seni dan budaya Pakpak terus digelorakan. Salah satunya melalui Festival Lomba Cipta Lagu Pakpak 2026 yang digelar Pengurus Besar Lembaga Kebudayaan Pakpak (PB-LKP) Kabupaten Dairi.

Festival yang memperebutkan Piala Bupati Dairi tersebut resmi dibuka Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala didampingi Ketua LKP Zuhri Bintang di Gedung Nasional Djauli Manik Sidikalang, Sabtu (5/9).

Menariknya, festival tahun ini diikuti 30 peserta yang berasal dari lima kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh. Para peserta datang dari Kabupaten Dairi, Pakpak Bharat, Aceh Singkil, Subulussalam dan Humbang Hasundutan.

Ketua PB-LKP Zuhri Bintang mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari upaya menggali potensi sekaligus melestarikan budaya Pakpak, khususnya melalui seni musik dan lagu daerah.

Menurutnya, kegiatan tersebut penting digelar mengingat keberadaan lagu-lagu Pakpak mulai tergerus perkembangan zaman. Karena itu, festival diharapkan mampu mendorong lahirnya lebih banyak karya lagu Pakpak.

“Acara ini sangat penting, mengingat lagu Pakpak yang sudah mulai terkikis. Sehingga kita harapkan melalui kegiatan ini semakin banyak tercipta lagu Pakpak,” ujar Zuhri.

Selain melahirkan karya seni, Zuhri berharap festival tersebut dapat menjadi ruang untuk menyatukan adat, budaya dan berbagai lembaga yang ada, sehingga tercipta suasana yang kondusif di Kabupaten Dairi. “Kami mengajak kepada kita semua untuk bersama-sama membangun Dairi yang kita cintai ini,” katanya.

Zuhri menambahkan, sebelum pelaksanaan festival, PB-LKP telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi. Dukungan tersebut dinilai penting agar kegiatan pelestarian budaya Pakpak dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala menyambut baik dan mengapresiasi PB-LKP yang telah menginisiasi festival tersebut.

Menurut Wahyu, antusiasme para seniman dari berbagai wilayah di Sumatera Utara dan Aceh menunjukkan bahwa kecintaan terhadap seni budaya Pakpak tidak terbatas pada satu wilayah.

“Melihat antusias seniman yang datang dari berbagai wilayah di Sumut dan Aceh mengikuti festival ini menunjukkan kecintaan terhadap seni budaya Pakpak tidak terbatas pada satu wilayah saja, melainkan menggema luas dan menjadi milik kita bersama,” kata Wahyu.

Dia menilai kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa kebudayaan Pakpak masih hidup dan terus berkembang. “Semangat para peserta dari berbagai daerah ini adalah bukti nyata bahwa kebudayaan Pakpak terus hidup dan berkembang,” ungkapnya.

Wahyu menyebut pelaksanaan festival juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan merupakan identitas bangsa yang harus terus dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan.

“Musik dan lagu daerah adalah salah satu media paling efektif untuk menjaga kelestarian bahasa, adat istiadat serta kearifan lokal suku Pakpak agar tetap hidup dan dicintai oleh generasi muda di tengah arus modernisasi,” ujarnya.

Dia menegaskan, sesuai tema festival, “Mari Berlomba Berkarya demi Merajut Persaudaraan yang Beradab dan Berbudaya”, kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi ajang mencari pemenang.

Festival, lanjutnya, merupakan wadah untuk menggali potensi seniman lokal, mempererat silaturahmi sekaligus mempromosikan warisan budaya Pakpak agar semakin dikenal luas.

“Seni bukan sekadar ajang kompetisi mencari pemenang, melainkan wadah untuk menggali potensi seniman lokal, mempererat silaturahmi serta mempromosikan warisan budaya dengan menjadikan musik Pakpak sebagai bagian dari kekayaan seni yang mampu bersaing dan dikenal luas,” katanya.

Wahyu pun mengajak seluruh peserta menuangkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya Pakpak melalui karya terbaik. “Selamat berkarya dan bertanding. Tuangkanlah kreativitas, rasa cinta dan semangat kebudayaan kalian ke dalam setiap bait syair dan nada lagu yang diciptakan. Tunjukkan karya terbaik dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan dan persaudaraan,” pungkas Wahyu Daniel Sagala.

Turut mendampingi Wakil Bupati Dairi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Desi Sianturi dan Camat Sidikalang Mawardi Tumangger. (rud/ila)

DAIRI — Upaya melestarikan seni dan budaya Pakpak terus digelorakan. Salah satunya melalui Festival Lomba Cipta Lagu Pakpak 2026 yang digelar Pengurus Besar Lembaga Kebudayaan Pakpak (PB-LKP) Kabupaten Dairi.

Festival yang memperebutkan Piala Bupati Dairi tersebut resmi dibuka Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala didampingi Ketua LKP Zuhri Bintang di Gedung Nasional Djauli Manik Sidikalang, Sabtu (5/9).

Menariknya, festival tahun ini diikuti 30 peserta yang berasal dari lima kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh. Para peserta datang dari Kabupaten Dairi, Pakpak Bharat, Aceh Singkil, Subulussalam dan Humbang Hasundutan.

Ketua PB-LKP Zuhri Bintang mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari upaya menggali potensi sekaligus melestarikan budaya Pakpak, khususnya melalui seni musik dan lagu daerah.

Menurutnya, kegiatan tersebut penting digelar mengingat keberadaan lagu-lagu Pakpak mulai tergerus perkembangan zaman. Karena itu, festival diharapkan mampu mendorong lahirnya lebih banyak karya lagu Pakpak.

“Acara ini sangat penting, mengingat lagu Pakpak yang sudah mulai terkikis. Sehingga kita harapkan melalui kegiatan ini semakin banyak tercipta lagu Pakpak,” ujar Zuhri.

Selain melahirkan karya seni, Zuhri berharap festival tersebut dapat menjadi ruang untuk menyatukan adat, budaya dan berbagai lembaga yang ada, sehingga tercipta suasana yang kondusif di Kabupaten Dairi. “Kami mengajak kepada kita semua untuk bersama-sama membangun Dairi yang kita cintai ini,” katanya.

Zuhri menambahkan, sebelum pelaksanaan festival, PB-LKP telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi. Dukungan tersebut dinilai penting agar kegiatan pelestarian budaya Pakpak dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala menyambut baik dan mengapresiasi PB-LKP yang telah menginisiasi festival tersebut.

Menurut Wahyu, antusiasme para seniman dari berbagai wilayah di Sumatera Utara dan Aceh menunjukkan bahwa kecintaan terhadap seni budaya Pakpak tidak terbatas pada satu wilayah.

“Melihat antusias seniman yang datang dari berbagai wilayah di Sumut dan Aceh mengikuti festival ini menunjukkan kecintaan terhadap seni budaya Pakpak tidak terbatas pada satu wilayah saja, melainkan menggema luas dan menjadi milik kita bersama,” kata Wahyu.

Dia menilai kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa kebudayaan Pakpak masih hidup dan terus berkembang. “Semangat para peserta dari berbagai daerah ini adalah bukti nyata bahwa kebudayaan Pakpak terus hidup dan berkembang,” ungkapnya.

Wahyu menyebut pelaksanaan festival juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan merupakan identitas bangsa yang harus terus dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan.

“Musik dan lagu daerah adalah salah satu media paling efektif untuk menjaga kelestarian bahasa, adat istiadat serta kearifan lokal suku Pakpak agar tetap hidup dan dicintai oleh generasi muda di tengah arus modernisasi,” ujarnya.

Dia menegaskan, sesuai tema festival, “Mari Berlomba Berkarya demi Merajut Persaudaraan yang Beradab dan Berbudaya”, kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi ajang mencari pemenang.

Festival, lanjutnya, merupakan wadah untuk menggali potensi seniman lokal, mempererat silaturahmi sekaligus mempromosikan warisan budaya Pakpak agar semakin dikenal luas.

“Seni bukan sekadar ajang kompetisi mencari pemenang, melainkan wadah untuk menggali potensi seniman lokal, mempererat silaturahmi serta mempromosikan warisan budaya dengan menjadikan musik Pakpak sebagai bagian dari kekayaan seni yang mampu bersaing dan dikenal luas,” katanya.

Wahyu pun mengajak seluruh peserta menuangkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya Pakpak melalui karya terbaik. “Selamat berkarya dan bertanding. Tuangkanlah kreativitas, rasa cinta dan semangat kebudayaan kalian ke dalam setiap bait syair dan nada lagu yang diciptakan. Tunjukkan karya terbaik dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan dan persaudaraan,” pungkas Wahyu Daniel Sagala.

Turut mendampingi Wakil Bupati Dairi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Desi Sianturi dan Camat Sidikalang Mawardi Tumangger. (rud/ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru