Prof. Stella Christie, Ph.D Apresiasi Universitas Satya Terra Bhinneka sebagai Kampus dengan Referensi Global

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Stella Christie, Ph.D mengapresiasi langkah Universitas Satya Terra Bhinneka yang dinilainya memiliki ambisi besar untuk menjadi perguruan tinggi berkualitas dengan referensi global dan punya kesaman dengan Harvard University dalam hal mewajibkan mahasiswanya untuk menulis.

“Yang saya lihat dari Universitas Satya Terra Bhinneka, ada ambisi untuk menjadi bagus dengan referensi global dan dunia. Ini sangat luar biasa dan penting,” ujar wakil menteri pada pembekalan mahasiswa baru Universitas Satya Terra Bhinneka.

Prof. Stella Christie, Ph.D yang merupakan kelahiran Medan hadir dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Satya Terra Bhinneka di Medan, Selasa (8/9). PKKMB mengambil tema: Dalam Kebhinnekaan Berdampak Secara Berkelanjutan.

Dihadapan ribuan mahasiswa baru, guru besar lulusan Harvard University dan Tsinghua University itu menekankan pentingnya memiliki ambisi serta memanfaatkan masa perkuliahan secara maksimal. Menurutnya, masa kuliah selama empat tahun adalah momen langka ketika seseorang memiliki kebebasan penuh untuk fokus mengembangkan potensi dan kualitas diri.

“Kuliah itu adalah satu-satunya masa yang paling maksimal bagi kalian untuk menguasai segalanya berdasarkan keinginan dan kemampuan diri sendiri. Jangan setengah-setengah waktu kuliah (time to live maximally). Jangan hanya mengambil kelas atau tugas yang paling gampang, agar tidak menyesal di kemudian hari,” tegasnya.

Prof. Stella Christie, Ph.D mengungkapkan satu hal yang sama antara Universitas Satya Terra Bhinneka dengan Harvard University yakni mengutamakan kelas menulis dengan beragam buku sebagai referensinya. Dengan kebiasaan menulis tersebut akan menjadi modal besar dalam menghadapi kuatnya pengaruh artificial intelligent atau kecerdasan buatan ke depannya.

“Saya cuma mau kasih tahu bahwa bukan saja Pak Sofyan Tan yang berpikir demikian (pentingnya menulis), tetapi Harvard University pun berpikir demikian. Jadi, di Satya Terra Bhinneka (kelas menulis) ini patut dilakukan. Supaya jadi kayak Harvard,” ungkapnya.

Wakil menteri dalam kesempatan itu membagikan kisah perjalanannya dari latar belakang sekolah biasa di Indonesia hingga berhasil meraih beasiswa dan menembus kampus-kampus papan atas dunia. Berbagi pengalaman saat jadi pembersih toilet hingga jadi guru besar di Tiongkok dan Wamen Diktisaintek kepada mahasiswa baru Universitas Satya Terra Bhinneka.

Prof. Stella Christie, Ph.D mengingatkan para mahasiswa bahwa kesempatan berkuliah harus disyukuri, mengingat angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia saat ini masih berada di kisaran 37 persen. Ia pun berpesan agar para mahasiswa baru memanfaatkan seluruh fasilitas dan peluang akademik yang disediakan oleh pihak kampus dengan sebaik-baiknya.

“Negara dan kampus terus berjuang menghadirkan kesempatan serta beasiswa. Tugas kalian adalah menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menempa diri agar siap bersaing ditingkat global,” ujar guru besar yang lahir dan menghabiskan waktu kecilnya di Medan itu.

Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) dr. Sofyan Tan mengatakan pendirian Universitas Satya Terra Bhinneka berangkat dari pengalaman panjang membangun pendidikan sebagai jalan memutus rantai kemiskinan.

“Cita-cita saya adalah mengangkat kehidupan keluarga kurang mampu, agar menjadi lebih baik karena pendidikannya menjadi lebih baik,” kata Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Dari cita-cita itu, dr. Sofyan Tan mendirikan YPSIM 39 tahun lalu. Berawal hanya tujuh lokal, lembaga pendidikan tersebut kini berkembang menjadi ratusan ruang belajar, dengan sekitar 12 ribu siswa dan mahasiswa serta 550 tenaga pendidik.

Menurut dr. Sofyan Tan, semakin besar lembaga pendidikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk melahirkan prestasi dan lulusan berkualitas. Ia ingin lulusan YPSIM, termasuk Universitas Satya Terra Bhinneka memiliki kompetensi, kemampuan dan masa depan yang baik sehingga mampu ikut membangun Indonesia.

Karena itu, Universitas Satya Terra Bhinneka dirancang bukan sekadar sebagai kampus. Tetapi sebagai bagian dari solusi menghadapi persoalan bangsa. Program studi pendidikan, kebidanan, agrobisnis, agroteknologi, bisnis digital, informatika, kewirausahaan hingga manajemen kehutanan dipilih untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan masa depan. “Universitas Satya Terra Bhinneka ingin membangun masa depan generasi muda menjadi Generasi Emas pada tahun 2045,” ujarnya.

dr. Sofyan Tan juga menekankan pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Makna Satya Terra Bhinneka, katanya, adalah kesetiaan kepada bumi dan keberagaman agar kehidupan dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Sementara itu, Rektor Universitas Satya Terra Bhinneka Bobby Christian Halim mengatakan kampusnya tengah memperkuat jejaring nasional dan internasional. Menurutnya, mahasiswa harus mampu belajar dari Medan, tetapi memiliki cara berpikir yang dapat berdialog dengan dunia.

Rektor menegaskan internasionalisasi bukan sekadar mendatangkan profesor dari luar negeri. Melainkan membuka ruang kolaborasi dan pengalaman global bagi mahasiswa. Ia juga menekankan pentingnya menjaga sisi kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. “Teknologi harus memperkuat manusia, bukan menggantikan nilai kemanusiaan,” katanya.

Karena itu, Universitas Satya Terra Bhinneka menargetkan lahirnya excellent human beings. Yakni lulusan yang kompeten, kritis, menguasai teknologi, berkarakter, memiliki empati dan mampu menciptakan solusi. “Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan solusi,” tegasnya.

Hadir dalam kegiatan, Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih, Kepala LLDikti Wilayah I Prof. Saiful Anwar Matondang, MA, Ph.D, Anggota Dewan Pembina YPSIM Felix Iskandar Harjatanaya, Ketua YPSIM Finche Kosmanto dan civitas akademika Universitas Satya Terra Bhinneka. (dmp)

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Stella Christie, Ph.D mengapresiasi langkah Universitas Satya Terra Bhinneka yang dinilainya memiliki ambisi besar untuk menjadi perguruan tinggi berkualitas dengan referensi global dan punya kesaman dengan Harvard University dalam hal mewajibkan mahasiswanya untuk menulis.

“Yang saya lihat dari Universitas Satya Terra Bhinneka, ada ambisi untuk menjadi bagus dengan referensi global dan dunia. Ini sangat luar biasa dan penting,” ujar wakil menteri pada pembekalan mahasiswa baru Universitas Satya Terra Bhinneka.

Prof. Stella Christie, Ph.D yang merupakan kelahiran Medan hadir dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Satya Terra Bhinneka di Medan, Selasa (8/9). PKKMB mengambil tema: Dalam Kebhinnekaan Berdampak Secara Berkelanjutan.

Dihadapan ribuan mahasiswa baru, guru besar lulusan Harvard University dan Tsinghua University itu menekankan pentingnya memiliki ambisi serta memanfaatkan masa perkuliahan secara maksimal. Menurutnya, masa kuliah selama empat tahun adalah momen langka ketika seseorang memiliki kebebasan penuh untuk fokus mengembangkan potensi dan kualitas diri.

“Kuliah itu adalah satu-satunya masa yang paling maksimal bagi kalian untuk menguasai segalanya berdasarkan keinginan dan kemampuan diri sendiri. Jangan setengah-setengah waktu kuliah (time to live maximally). Jangan hanya mengambil kelas atau tugas yang paling gampang, agar tidak menyesal di kemudian hari,” tegasnya.

Prof. Stella Christie, Ph.D mengungkapkan satu hal yang sama antara Universitas Satya Terra Bhinneka dengan Harvard University yakni mengutamakan kelas menulis dengan beragam buku sebagai referensinya. Dengan kebiasaan menulis tersebut akan menjadi modal besar dalam menghadapi kuatnya pengaruh artificial intelligent atau kecerdasan buatan ke depannya.

“Saya cuma mau kasih tahu bahwa bukan saja Pak Sofyan Tan yang berpikir demikian (pentingnya menulis), tetapi Harvard University pun berpikir demikian. Jadi, di Satya Terra Bhinneka (kelas menulis) ini patut dilakukan. Supaya jadi kayak Harvard,” ungkapnya.

Wakil menteri dalam kesempatan itu membagikan kisah perjalanannya dari latar belakang sekolah biasa di Indonesia hingga berhasil meraih beasiswa dan menembus kampus-kampus papan atas dunia. Berbagi pengalaman saat jadi pembersih toilet hingga jadi guru besar di Tiongkok dan Wamen Diktisaintek kepada mahasiswa baru Universitas Satya Terra Bhinneka.

Prof. Stella Christie, Ph.D mengingatkan para mahasiswa bahwa kesempatan berkuliah harus disyukuri, mengingat angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia saat ini masih berada di kisaran 37 persen. Ia pun berpesan agar para mahasiswa baru memanfaatkan seluruh fasilitas dan peluang akademik yang disediakan oleh pihak kampus dengan sebaik-baiknya.

“Negara dan kampus terus berjuang menghadirkan kesempatan serta beasiswa. Tugas kalian adalah menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menempa diri agar siap bersaing ditingkat global,” ujar guru besar yang lahir dan menghabiskan waktu kecilnya di Medan itu.

Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) dr. Sofyan Tan mengatakan pendirian Universitas Satya Terra Bhinneka berangkat dari pengalaman panjang membangun pendidikan sebagai jalan memutus rantai kemiskinan.

“Cita-cita saya adalah mengangkat kehidupan keluarga kurang mampu, agar menjadi lebih baik karena pendidikannya menjadi lebih baik,” kata Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Dari cita-cita itu, dr. Sofyan Tan mendirikan YPSIM 39 tahun lalu. Berawal hanya tujuh lokal, lembaga pendidikan tersebut kini berkembang menjadi ratusan ruang belajar, dengan sekitar 12 ribu siswa dan mahasiswa serta 550 tenaga pendidik.

Menurut dr. Sofyan Tan, semakin besar lembaga pendidikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk melahirkan prestasi dan lulusan berkualitas. Ia ingin lulusan YPSIM, termasuk Universitas Satya Terra Bhinneka memiliki kompetensi, kemampuan dan masa depan yang baik sehingga mampu ikut membangun Indonesia.

Karena itu, Universitas Satya Terra Bhinneka dirancang bukan sekadar sebagai kampus. Tetapi sebagai bagian dari solusi menghadapi persoalan bangsa. Program studi pendidikan, kebidanan, agrobisnis, agroteknologi, bisnis digital, informatika, kewirausahaan hingga manajemen kehutanan dipilih untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan masa depan. “Universitas Satya Terra Bhinneka ingin membangun masa depan generasi muda menjadi Generasi Emas pada tahun 2045,” ujarnya.

dr. Sofyan Tan juga menekankan pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Makna Satya Terra Bhinneka, katanya, adalah kesetiaan kepada bumi dan keberagaman agar kehidupan dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Sementara itu, Rektor Universitas Satya Terra Bhinneka Bobby Christian Halim mengatakan kampusnya tengah memperkuat jejaring nasional dan internasional. Menurutnya, mahasiswa harus mampu belajar dari Medan, tetapi memiliki cara berpikir yang dapat berdialog dengan dunia.

Rektor menegaskan internasionalisasi bukan sekadar mendatangkan profesor dari luar negeri. Melainkan membuka ruang kolaborasi dan pengalaman global bagi mahasiswa. Ia juga menekankan pentingnya menjaga sisi kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. “Teknologi harus memperkuat manusia, bukan menggantikan nilai kemanusiaan,” katanya.

Karena itu, Universitas Satya Terra Bhinneka menargetkan lahirnya excellent human beings. Yakni lulusan yang kompeten, kritis, menguasai teknologi, berkarakter, memiliki empati dan mampu menciptakan solusi. “Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan solusi,” tegasnya.

Hadir dalam kegiatan, Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih, Kepala LLDikti Wilayah I Prof. Saiful Anwar Matondang, MA, Ph.D, Anggota Dewan Pembina YPSIM Felix Iskandar Harjatanaya, Ketua YPSIM Finche Kosmanto dan civitas akademika Universitas Satya Terra Bhinneka. (dmp)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru